BAB IV PENYAJIAN DATA
IV.2. Deskripsi Variabel Penelitian
Berikut ini adalah hasil data mengenai variabel penelitian melalui kuesioner yang diperoleh selama penelitian yang disajikan dalam bentuk tabel frekuensi.
1. Motivasi Kerja Pegawai Kelurahan Titi Rantai, Variabel (X).
Untuk mengukur variabel motivasi kerja pegawai digunakan 8 indikator yang sebelumnya diubah menjadi pertanyaan. Pada setiap pertanyaan diberikan lima alternatif jawaban dan kepada responden diminta untuk memilih salah satu dari kelima alternatif yang tersedia.
Berdasarkan jawaban responden dari kuesioner yang disebarkan yang berisi pertanyaan Variabel X (Motivasi Kerja Pegawai), maka diperoleh hasil sebagai berikut :
1.1. Semangat Kerja Pegawai Untuk Memperlihatkan Prestasi Yang Baik.
Dengan adanya keinginan dari pegawai untuk bekerja lebih semangat maka motivasi kerja dapat terlaksana dengan maksimal serta kualitas pelayanan dapat tercapai, untuk mengetahui tingkat keinginan pegawai bekerja lebih semagat kita lihat pada tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Semangat Kerja Untuk Memperlihatkan Prestasi Yang Baik.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Selalu Semangat 1 20,0 2 Semangat 3 60,0 3 Jarang Semangat - 4 Biasa Saja 1 20,0 5 Tidak Peduli - Jumlah 5 100 Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan semangat untuk memperlihatkan prestasi kerja yang baik, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan selalu semangat untuk memperlihatkan prestasi kerja yang baik dan 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan biasa saja dengan bekerja apa adanya tanpa pernah berusaha untuk memperlihatkan prestasi kerja yang baik.
Dengan adanya semangat untuk memperlihatkan prestasi kerja yang baik diharapakan dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat.
1.2. Kepuasan Pegawai Terhadap Kepedulian Rekan Sekerja.
Suasana kepedulian rekan sekerja di kantor Kelurahan Kecamatan Medan BAru Kota Medan dapat dikatakan cukup puas yaitu 3 orang pegawai menyatakan demikian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut ini :
Tabel 4.10.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Kepuasan Pegawai Terhadap Kepedulian Rekan Sekerja.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Puas - - 2 Puas 1 20,0 3 Cukup Puas 3 60,00 4 Kurang Puas 1 20,0 5 Tidak Puas - Jumlah 5 100 Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan cukup puas dengan kepedulian rekan sekerja dimana pegawai hanya peduli dengan pegawai lain jika dilibatkan dalam suatu kerja sama, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan puas dimana ada sebahagian pegawai yang tidak peduli dengan pegawai lainnya, dan 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan kurang puas dimana sesama pegawai saling bertegur sapa tetapi tidak saling peduli dengan keadaan pegawai lain.
Pada dasarnya manusia hidup secara berdampingan dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan aktivitas pegawai dimana dengan bekerjasama dalam menjalankan tugas diharapkan silaturahmi sesama pegawai terjalin dengan baik dan kualitas kerja dapat terlaksana dengan baik. Kepedulian rekan kerja diharapkan akan menimbulkan
rasa nyaman dan senang selama bekerja, dengan adanya kepedulian tersebut, pekerjaan dapat terlaksanakan dengan maksimal dan berkualitas.
1.3. Hasil Kerja Untuk Memuaskan Atasan Dan Untuk Mendapat Pujian. Untuk memuskan atasan dan untuk mendapatkan pujian yang diberikan atasan atas hasil kerja yang dilakukan, semua pegawai menyatakan bahwa hasil pekerjaanya memuaskan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini :
Tabel 4.11.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Hasil Kerja Untuk Memuaskan Atasan Dan Untuk Mendapat Pujian.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Memuaskan - -
2 Selalu Memuaskan - -
3 Memuaskan 5 100,0
4 Kurang Memuaskan - -
5 Tidak Pernah Memuaskan - -
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 5 orang atau 100,0% pegawai menyatakan bahwa hasil kerja memuaskan dan kadang-kadang mendapatkan pujian dari atasan.
Pemberian pujian atas pekerjaan pegawai yang memuaskan akan semakin mendorong pegawai tersebut untuk lebih meningkatkan prestasi kerja sehingga diharapkan dengan hal tersebut akan mendorong pegawai untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
1.4. Kepuasan Dengan Ruang Tempat Bekerja.
Situasi dan kondisi ruang tempat bekerja akan mendukung kegiatan pegawai dalam memberikan pelayanan public yang baik. Untuk mengetahui kepuasan pegawai akan ruang tempat bekerja pada kantor Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru Kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut ini:
Tabel 4.12.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Kepuasan Dengan Ruang Tempat Bekerja.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Puas - - 2 Puas - - 3 Cukup Puas 3 60,0 4 Kurang Puas 2 40,0 5 Tidak Puas - - Jumlah 5 100 Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan cukup puas dengan ruang kerja namun ruang kerja tidak dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung pekerjaan pegawai, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan kurang puas dengan ruang kerja dimana ruang kerja tidak nyaman dan tidak dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung pekerjaan pegawai.
Dengan adanya rasa puas akan ruang tempat kerja diharapkan dapat membuat pegawai bekerja secara maksimal dan bekerja secara sungguh-sungguh sehingga pelayanan publik terlaksana dengan baik.
1.5. Perlakuan Buruk Dari Rekan Kerja yang Ada di Lingkungan Kerja.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa tidak pernah sama sekali terjadi perlakuan buruk dari rekan sekerja. Untuk mengetahui perlakuan buruk dari rekan kerja pada kantor Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru Kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut ini:
Tabel 4.13.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Perlakuan Buruk Dari Rekan Kerja Yang Ada Di Lingkungan Kerja.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Tidak Pernah 3 60,0 2 Kadang-Kadang 2 40,0 3 Cukup Sering - - 4 Sering - - 5 Selalu - - Jumlah 5 100 Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan tidak pernah sama sekali mendapat perlakuan buruk, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan kadang-kadang diperlakukan kurang baik.
Perlakuan buruk dari rekan kerja akan mempengaruhi suasana hati dalam melakukan pekerjaan. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pelayanan yang akan diberikan kepada masyarakat.
1.6. Jaminan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja.
Jaminan kesehatan dan selamatan kerja merupakan hak dari setiap pegawai. Dari hasil penelitian diketahui bahwa semua pegawai kantor Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru Kota Medan menyatakan menerima asuransi kesehatan dan keselamatan kerja seprti dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut ini:
Tabel 4.14.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Jaminan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Semua Pegawai 5 100,0
2 Pegawai Dengan Golongan Tertentu - -
3 Pegawai Dengan Penyakit Parah - -
4 Tidak Direalisasikan - -
5 Tidak Ada Jaminan Kesehatan - -
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 5 orang atau 100,0% pegawai menyatakan menerima asuransi kesehatan dan keselamatan kerja.
Jaminan kesehatan dan keselamatan kerja merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan pelayanan dari pegawai, dimana dengan adanya jaminan ini diharapkan pikiran pegawai akan semakin fokus dengan pekerjaannya.
1.7. Aman Dalam Melaksanakan Tugas.
Kebutuhan rasa aman mempengaruhi seseorang untuk bekerja dengan baik. Adanya rasa aman yan baik akan dapat meningkatkan motivasi pegawai dalam bekerja dengan lebih baik sehingga kualitas pelayanan yang diberikan kepada publik akan semakin memuaskan. Pernyataan pegawai akan rasa aman dalam melaksanakan pekerjaan dapat dilihat pada tabel 4.15 dibawah ini :
Tabel 4.15.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Rasa Aman Dalam Melaksanakan Tugas.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Aman - - 2 Aman 2 40,0 3 Cukup Aman 3 60,0 4 Kurang Aman - - 5 Tidak Aman - - Jumlah 5 100 Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan cukup aman dalam melaksanakan tugas namun karena tidak mempunyai pengalaman jadi selalu merasa was-was, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan aman dalam melaksanakan tugas meskipun tidak mempunyai system pegamanan tapi keamanan dan kenyamanan kerja selalu tercipta.
Situasi dan kondisi kantor yang aman akan mendukung kegiatan pegawai. Dengan adanya rasa aman dalam melaksanakan pekerjaan diharapkan kualitas kerja dapat dicapai dengan baik.
1.8. Penghargaan Atasan Kepada Pegawai.
Pemberian penghargaan dari atasan adalah merupakan suatu prastice atas prestasi kerja yang baik yang telah dilakukannya serta sebuah motivasi agar pegawai dapat melakukannya kembali dan bahkan lebih meningkat, tabel 4.16 berikut memperlihatkan pernyataan pegawai tentang penghargaan atasan kepada pegawai yang memperlihatkan prestasi kerja yang baik.
Tabel 4.16.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Penghargaan Atasan Kepada Pegawai Yang Memperlihatkan Prestasi Kerja Yang Baik.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Selalu Memberi Penghargaan - -
2 Sering Memberi Penghargaan - -
3 Kadang-Kadang Memberi Penghargaan 3 60,0
4 Jarang Memberi Penghargaan 2 40,0
5 Tidak Pernah Memberi Penghargaan - -
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan kadang-kadang menerima penghargaan dari atasan, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan jarang menerima penghargaan dari atasan.
Penghargaan atas prestasi yang ditunjukkan oleh pegawai dari atasan sangatlah penting, dimana dengan adanya penghargaan tersebut diharapkan semangat pegawai akan bertambah sehingga pelayanan yang diberikan juga akan semakin meningkat.
1.9. Kesesuaian Waktu Proses Kenaikan Pangkat.
Kenaikan pangkat merupakan suatu jenjang prestasi atau penghargaan yang diberikan atas kinerja yang dilakukan pegawai dengan kurun waktu 4 tahun setiap kenikan pangkat atau golongan. Untuk mengetahui kesesuaian waktu proses kenaikan pangkat dengan waktu yang telah ditetapkan pada Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru Kota Medan dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut ini:
Tabel 4.17.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Kesesuaian Waktu Proses Kenaikan Pangkat Dengan Waktu Yang Telah Ditetapkan.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Selalu Sesuai - -
2 Sering Sesuai 1 20,0
3 Hanya Jika Diizinkan Oleh Atasan 2 40,0
4 Kurang Sesuai 2 40,0
5 Tidak Pernah Sesuai - -
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan proses kenaikan pangkat hanya jika diizinkan oleh atasan, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan proses kenaikan pangkat kurang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, dan 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan proses kenaikan pangkat sering sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Kenaikan pangkat merupakan suatu jenjang prestasi atau penghargaan yang diberikan atas kinerja yang dilakukan pegawai dengan kurun waktu 4 tahun
setiap kenaikan pangkat atau golongan. Tingkat ketepatan waktu dalam hal kenaikan pangkat dinyatakan rendah, disini diperlukan adanya ketepatan waktu dan konsisten sehingga dengan adanya kenaikan pangkat dapat memacu pegawai dalam bekerja lebih giat.
1.10. Dorongan Pegawai Untuk Memperlihatkan Prestasi Kerja.
Salah satu motivasi yang dapat melatar belakangi seseorang untuk bekerja dengan lebih baik adalah adanya penghargaan berupa imbalan yang memuaskan. Imbalan dapat berupa gaji yang diterima secara berkala. Untuk mengetahui dorongan yang ada dalam diri pegawai untuk memperlihatkan prestasi kerja yang baik kepada atasan untuk mendapat tambahan gaji dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut ini:
Tabel 4.18.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Dorongan Yang Ada Dalam Diri Pegawai Untuk Memperlihatkan Prestasi Kerja Yang Baik Kepada Atasan
Untuk Mendapat Tambahan Gaji.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Kuat 1 20,0
2 Kuat 1 20,0
3 Cukup Kuat 2 40,0
4 Tidak Ada Keinginan - -
5 Tidak Peduli 1 20,0
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan mempunyai dorongan yang kuat untuk memperlihatkan prestasi kerja kepada atasan untuk mendapatkan tambahan gaji karena gaji yang diterima kurang cukup sehingga berusaha untuk mendapat tambahan gaji, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan mempunyai dorongan yang sangat kuat untuk memperlihatkan prestasi kerja kepada atasan meskipun tidak mendapat tambahan
gaji, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan mempunyai dorongan yang kuat untuk memperlihatkan prestasi kerja kepada atasan untuk mendapatkan tambahan gaji, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan tidak peduli karena tidak ada tambahan gaji jika memperlihatkan prestasi kerja yang baik kepada atasan.
Dalam menjalankan aktivitas kantor, seorang pegawai harus memiliki tanggung jawab terhadap tugas yang dikerjakannya sebagai salah satu sikap kepribadian pegawai yang baik, setelah dengan tercapinya target dari hasil kerja yang diinginkan maka akan terbuka peluang untuk meningkatkan karier pegawai serta mendapatkan imbalan berupa gaji dari pekerjaan yang dilakukannya.
1.11. Hukuman Yang Diberlakukan Di Kantor.
Setiap aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas harus dapat bertanggung jawab. Setiap kesalahan yang terjadi sudah sepatutnya mendapat hukuman untuk menghindari kejadian berulang kembali, namun dalam pemberian hukuman harus memperhatikan sisi adilnya. Tabel 4.19 berikut ini memperlihatkan adilnya hukuman yang diberlakukan di kantor Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru Kota Medan.
Tabel 4.19.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Adilnya Hukuman Yang Diberlakukan Di Kantor.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Adil - -
2 Adil - -
3 Kadang-kadang Adil - -
4 Sering Tidak Adil 4 80,0
5 Tidak Pernah Adil 1 20,0
Jumlah 5 100
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 4 orang atau 80,0% pegawai menyatakan hukuman yang diberlakukan di kantor sering tidak adil, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan hukuman yang diberlakukan di kantor tidak adil karena hanya orang tertentu yang mendapat hukuman.
Pemberian hukuman kepada pegawai berpengaruh terhadap kegiatan atau aktivitas kantor, dimana dengan adanya pemberian hukuman kesalahan tersebut tidak lagi terjadi, tetapi yang harus dihindari adalah efek jera dari pemberian sanksi kepada pegawai dapat menimbulkan rasa takut yang dapat mempengaruhi mental pegawai karena tidak lagi didasari rasa senang dalam bekerja. Pimpinan harus dapat memberikan sanksi yang proporsional dan tidak terlalu berlebihan yang dapat menimbulkan efek negatif pada pegawai.
1.12. Upah Yang Diterima.
Upah yang adil dengan pekerjaan yang dilakukan adalah suatu hal yang perlu diperhatikan atasan sehingga motivasi pegawai dalam bekerja dapat meningkat. Meningkatnya motivasi pegawai dalam bekerja akan mempengaruhi kualitas pelayanan yang diberikannya. Pada tabel 4.20 dibawah ini dapat dilihat adilnya upah yang diterima dengan pekerjaaan yang dilakukan.
Tabel 4.20.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Adilnya Upah Yang Diterima Dengan Pekerjaaan Yang Dilakukan.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Adil - - 2 Adil - - 3 Cukup Adil - - 4 Kurang Adil 4 80,0 5 Tidak Adil 1 20,0 Jumlah 5 100 Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 4 orang atau 80,0% pegawai menyatakan upah yang diterima sekarang kurang adil dengan pekerjaan yang dilakukan karena tidak seimbang dengan pekerjaan yang dilakukan, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan upah yang diterima sekarang tidak adil dengan pekerjaan yang dilakukan karena untuk menutupi kebutuhan hidup kurang.
Dengan adanya gaji yang seimbang diberikan kepada pegawai diharapkan dapat meningkatkan hasil kerjanya serta memberikan kepuasan atas apa yang telah dikerjakan oleh setiap pegawai karena mendapatkan imbalan berupa upah.
1.13. Pelayanan Kepada Masyarakat.
Pelayanan yang baik dan memadai adalah dambaan setiap orang dari pihak birokrasi yang melayani kebutuhan mereka akan layanan publik. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan pernah bekerja lembur jika masyarakat mendesak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.21 berikut ini :
Tabel 4.21.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Pelayanan Kepada Masyarakat Diutamakan Meskipun Untuk Itu Pegawai Harus Bekerja Lembur.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Penting - -
2 Sering Lembur 1 20,0
3 Kadang-Kadang Lembur 1 20,0
4 Pernah Bekerja Lembur 2 40,0
5 Tidak Pernah Bekerja Lembur 1 20,0
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan pernah bekerja lembur jika masyarakat mendesak, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan sering lembur untuk melayani masyarakat, 1 orang
atau 20,0% pegawai menyatakan kadang-kadang bekerja lembur jika ada masyarakat yang terburu-buru, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan tidak pernah bekerja lembur meskipun ada masyarakat yang mendesak.
Dengan adanya keinginan dari pegawai bekerja lebih maka kualitas kerja dapat terlaksana dengan maksimal serta kualitas pelayanan publik dapat tercapai.
1.14. Obyektivitas Hukuman Di Tempat Bekerja.
Salah satu resiko yang diterima oleh pegawai atas kesalahan dari perbuatan yang dilakukan oleh adalah sanksi atau hukuman yang bermaksud memberikan efek jera agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dalam pemberian hukuman, setiap atasan harus mampu menerapkannya dengan seobjektif mungkin. Dari tabel 4.22 berikut ini dapat kita lihat pernyataan responden tentang pemberlakuan hukuman di tempat bekerja.
Tabel 4.22.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Pemberlakuan Hukuman Di Tempat Bekerja Sudah Diterapkan Dengan Seobyektif Mungkin Tanpa MElihat
Status Pegawai.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Sangat Obyektif - -
2 Cukup Adil dan Obyektif - -
3 Cukup Adil Tetapi Kadang Kurang Obyektif 3 60,0
4 Kadang Kurang Adil dan Obyektif 2 40,0
5 Tidak Adil - -
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 3 orang atau 60,0% pegawai menyatakan bahwa perlakukan hukuman ditempat bekerja cukup adil tetapi kadang kurang obyektif, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan bahwa perlakukan hukuman ditempat bekerja kadang-kadang kurang adil dan kurang obyektif.
Setiap aparatur pemerintah dalam menjalankan tugasnya harus dapat bertanggung jawab atas tugas dan kesalahan yang timbul akibat kelalaiannya. Disini dapat diketahui bahwa kesalahan yang dilakukan oleh pegawai tidak secara langsung diberikan hukuman/sanksi tetapi terlebih dahulu dibimbing dan dinasehati dan pada tahap berikutnya jika mengulang kesalahan yang sama baru diberikan sanksi.
1.15. Ketepatan Waktu Dalam Menyelesaikan Pekerjaan.
Kemampuan pegawai di kantor Kelurahan Titi Rantai Kecamatan Medan Baru Kota Medan dalam hal ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberi atasan masih rendah. Untuk lebih jelasnya, hal ini dapat dilihat pada tabel 4.23 berikut.
Tabel 4.23.
Distribusi Jawaban Pegawai Tentang Ketepatan Waktu Dalam
Menyelesaikan Pekerjaan Yang Diberi Atasan Dan Dengan Hasil Yang Baik.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Selalu Tepat Waktu - -
2 Sering Tepat Waktu 2 40,0
3 Kadang-Kadang Tepat Waktu 2 40,0
4 Sering Tidak Tepat Waktu 1 20,0
5 Tidak Pernah Tepat Waktu - -
Jumlah 5 100
Sumber : Kuesioner 2008
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan sering tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberi atasan walau kadang dengan hasil yang kurang baik, 2 orang atau 40,0% pegawai menyatakan kadang-kadang tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberi atasan dan dengan hasil yang kadang kurang baik, 1 orang atau 20,0% pegawai menyatakan sering tidak tepat waktu dengan hasil yang kurang baik.
Ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan adalah merupakan faktor agar tercapainya kualitas kerja yang baik.
2. Kualitas Pelayanan Publik Kelurahan Titi Rantai, Variabel (Y).
Untuk mengukur variabel kualitas pelayanan publik digunakan 3 indikator yaitu sikap melayani, efisiensi pelayanan, dan efektivitas pelayanan yang seluruhnya diubah menjadi pertanyaan. Pada setiap pertanyaan diberikan lima alternatif jawaban dan kepada responden diminta untuk memilih salah satu dari lima alternatif yang tersedia.
Berdasarkan jawaban responden dari kuesioner yang disebarkan, maka diperleh hasil sebagai berikut :
1.1. Pelayanan Aparat Kelurahan Mengikuti Petunjuk Yang Berlaku.
Seorang pegawai di lembaga pemerintahan diharapkan dapat melakukan tugasnya sesuai dengan petunjuk dan prosedur yang berlaku. Ada 39 orang atau 48,8% responden menyatakan pelayanan aparat kelurahan sering tidak sesuai dengan petunjuk dan prosedur yang berlaku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.24 berikut ini :
Tabel 4.24.
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pelayanan Aparat Kelurahan Telah Mengikuti Petunjuk Prosedur Yang Berlaku.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Selalu Sesuai 2 2,5
2 Sering Sesuai 6 7,5
3 Kadang-kadang Sesuai 20 25,0
4 Sering Tidak Sesuai 39 48,8
5 Tidak Ada Petunjuk dan Prosedur Yang Diberikan 13 16,2
Jumlah 80 100
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 39 orang atau 48,8% responden menyatakan pelayanan aparat kelurahan sering tidak sesuai dengan petunjuk dan prosedur yang berlaku, 20 orang atau 25,0% responden menyatakan pelayanan aparat kelurahan kadang-kadang sesuai dengan petunjuk dan prosedur yang berlaku, 13 orang atau 16,2% responden menyatakan pelayanan aparat kelurahan tidak ada petunjuk dan prosedur yang diberikan, 6 orang atau 7,5% responden menyatakan pelayanan aparat kelurahan sering sesuai dengan petunjuk dan prosedur yang berlaku, 2 orang atau 2,5% responden menyatakan pelayanan aparat kelurahan selalu sesuai dengan petunjuk dan prosedur yang berlaku.
Pelayanan yang tidak sesuai dengan petunjuk dan prosedur sering menimbulkan kebingungan bagi masyarakat. Aparat seharusnya memberikan petunjuk yang jelas sehingga masyarakat dapat merasa puas.
1.2. Pelayanan KTP Yang Lancar Dan Tidak Berbelit-belit.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada 34 orang atau 42,5% responden menyatakan aparat kelurahan kadang-kadang lancar dan kadang berbelit-belit dalam memberikan pelayanan KTP. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.25 berikut ini :
Tabel 4.25.
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pelayanan KTP Yang Lancar Dan Tidak Berbelit-belit Oleh Aparat Kelurahan.
No Kategori Frekuensi Persentase
1 Selalu Lancar dan Tidak Berbelit-belit 2 2,5
2 Sering Lancar walau Berbelit-belit 9 11,3
3 Kadang Lancar dan Kadang Berbelit-belit 34 42,5
4 Sering Tidak Lancar dan Berbelit-belit 28 35,0
5 Tidak Pernah Lancar dan Berbelit-belit 7 8,7
Jumlah 80 100
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 34 orang atau 42,5% responden menyatakan aparat kelurahan kadang-kadang lancar dan kadang dengan proses yang berbelit-belit dalam memberikan pelayanan KTP, 28 orang atau 35,0% responden menyatakan aparat kelurahan sering tidak lancar dan berbelit-belit dalam memberikan pelayanan KTP, 9 orang atau 11,3% responden menyatakan aparat kelurahan sering lancar walau kadang berbelit-belit dalam memberikan pelayanan KTP, 7 orang atau 8,7% responden menyatakan aparat kelurahan tidak pernah lancar dan selalu berbelit-belit dalam memberikan pelayanan KTP, 2 orang atau 2,5% responden menyatakan aparat kelurahan selalu lancar dan tidak berbelit-belit dalam memberikan pelayanan KTP.
Dalam menjalankan aktivitas kantor, seorang pegawai harus memiliki tanggung jawab terhadap tugas yang dikerjakannya sebagai salah satu sikap kepribadian pegawai yang baik.
1.3. Keberadaan Aparat Kelurahan Di Kantor.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa 39 orang atau 48,8% responden menyatakan aparat kelurahan kadang-kadang tidak ada ditempat pada waktu jam kerja. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.26 berikut ini :
Tabel 4.26.