Untuk menjamin kelancaran kegiatan dan tujuan-tujuan pada Usaha Konveksi UD.Amiruddin di Kota Pinrang membuat pembagian tugas dan wewenang serta tanggung jawab dari masing-masing bagian, sebagaimana penjabaran dari struktur tersebut.
1. Pimpinan
Pimpinan pada Usaha Konveksi UD.Amiruddin merupakan pemilik usaha yang biasa juga disebut sebagai manajer. Mengontrol jalannya atau beroperasinya perusahaan, mengeluarkan kebijakan dan tanggung jawab atas segala aktivitas dan kemajuan perusahaan, melalui strategi manajemen dengan melakukan koordinasi dan konsolidasi kepada seluruh anggota perusahaan agar perusahaan dapat berjalan dengan baik, sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai.
2. Pengurus Harian Perusahaan
Pengurus harian perusahaan merupakan orang kedua yang mengelolah perusahaan secara penuh dengan tetap selalu mengkoordinasikan perkembangan perusahaan kepada pimpinan atau pemilik perusahaan, dan mengontrol aktivitas kerja bagian-bagian lain yang ada dibawahnya.
3. Bagian Administrasi
Keuangan Adalah mereka yang mencatat semua penerimaan dan pengeluaran kas, melakukukan pembayaran atas pengeluaran-pengeluaran kas perusahaan, dan bertanggung jawab untuk
merampungkan tagihan piutang serta menyusun laporan keuangan perusahaan.
Gudang Adalah mereka yang mengatur semua perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan digudang, disamping itu juga menjaga dan mengawasi keluar masuknya barang-barang.
4. Bagian Teknis
Percetakan, Bagian percetakan adalah mereka yang dipercayakan untuk melaksanakan tugas percetakan atau penyablonan baju yang sudah disorder atau yang akan dipasarkan.
Penjahitan, Bagian penjahitan adalah mereka yang menjahit kain-kain yang telah diukur dan digunting, bagian penjahitan merupakan pekerja inti dala perusahaan ini karena diperlukan kecakapan khusus untuk melakukan tugas ini.
Pengemasan Adalah mereka yang bertugas dalam rangka mempercantik tampilan hasil produksi yang dihasilkan oleh Usaha Konveksi UD. Amiruddin guna mendapatkan nilai jual yang lebih.
47
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Proses Pengelolaan dan Komponen Bahan Baku
Pengelolaan bahan baku merupakan kegiatan yang sangat penting mengingat hal tersebut berpengaruh langsung tehadap kelancaran dan mutu produk. Akan sangat disayangkan jika karena kehabisan bahan baku atau mutunya rendah mengakibatkan produksinya terhambat atau bermutu rendah.
Kegiatan pengelolaan fasilitas dan bahan baku ini di mulai dari pengadaan sampai pengendaliannya.
Sebagaimana kita ketahui, perbekalan proses produksi meliputi semua barang dan bahan bahan baku yang dimiliki perusahaan dan digunakan proses produksi. Adapun yag di maksud dengan bahan adalah unsur yang melekat dan secara langsung terlibat pada produk yang bersangkutan. Bahan dapat dibedakan atas bahan baku dan bahan pembantu. Bahan baku adalah bahan utama yang diolah atau diproses menjadi produk jadi, sedangkan produk pembantu adalah bahan yang ditmbahkan dan sifatnya melengkapi.
Berikut pengadaan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan:
a. Bahan baku untuk proses produksi b. Bahan baku setengah jadi
c. Bahan pembanu untuk proses produksi d. Bahan pengemas produk
Sedangkan aspek-aspek didalam pengadaan bahan baku, yaitu sebagai berikut:
47
a. Sumber air dan listrik
b. Sumber tenaga kerja dan bahan baku c. Jalan dan transportasi
d. Sumber penunjang lainnya
Ketersedian bahan baku (kain) merupakan hal yang cukup viral dalam pelaksanaan proses produksi, Karena kain merupakan salah satu bahan pembuatan pakaian atau seragam yang diproduksi oleh usaha Konveksi UD.
Amiruddin di kabupaten Pinrang. Oleh karena itu jika bahan tersebut tidak tersedia maka proses produksi telah dipastikan tidak dapat dijalankan.
Sebaliknya ketersedian Kain juga tidak boleh terlalu banyak karena yang mengakibatkan perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan seperti Carryng Cost (biaya penyimpanan), maupun Reorde point (pemesanan kembali).
Jika terjadi pengeluaran tambahan terhadap persedian yang dibeli, maka hal ini menunjukkan bahwa proses pembelian kain tersebut sudah tidak efektif lagi. Dan hal ini jelas akan berpengaruh terhadap nilai efesien penggunaan keuangan perusahaan yang dapat berpengaruh terhadap keuntungan yang akan diperoleh perusahaan.
B. Prosedur dan Sistem Pengendalian Bahan Baku
Ketersediaan dan pengendalian bahan baku merupakan hal yang sangat penting bagi wirausaha yang mengelola perusahaan. Dapat di bayangkan jika bahan baku tidak ada maka kegiatan produksi akan terhenti.oleh karena itu kecukupan persediaan bahan baku sangat diperlukan oleh perusahaan.
49
Akan tetapi jika ketersediaan bahan baku terlalu banyak bukan berarti menguntungkan perusahaan, sebab hal itu akan semakin menambah biaya biaya persediaan yang harus ditanggung oleh perusahaan yang bersangkutan.
Perhitungan standar deviasi dapat dilihat pada table berikut : Table 5.1
Sumber : Perusahaan Konvekri UD. Amiruddin
Л = = = 10,88 = 11 roll (dibulatkan)
SD =
∑
( – Л)SD =
SD = 1,125 SD = 1,0606
a. Biaya Pemesanan merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya pemesanan bahan baku dari penjual atau supplier.
Table 5.2 Biaya Pemesanan
No Keterangan Jumlah
1 Biaya Telepon Rp.
3.000,-2 Biaya Pengiriman Fax Rp.
3.000,-3 Biaya Administrasi Rp.
1.000.000,-Jumlah Rp.
1.006.000,-sumber : Perusahaan Konveksi UD. Amiruddin
Berdasarkan tabel di tersebut, maka untuk biaya pemesanan yang menjadi tanggungan perusahaan setiap kali memesan bahan baku adalah sebesar Rp. 1.006.000,-.
b. Biaya Penyimpanan merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan karena perusahaan melakukan penyimpanan dalam persediaan bahan baku dalam jangka waktu tertentu. Biaya penyimpanan yang ditanggung oleh UD. Amiruddin.
Table 5.3 Biaya Penyimpanan
No Keterangan Jumlah
1 Biaya Listrik Rp.
200.000,-2 Biaya Karyawan Bagian Gudang Rp.
1.500.000,-3 Biaya Asuransi Rp.
100.000,-Jumlah Rp.
1.800.000,-Sumber : Perusahaan Konveksi UD. Amiruddin
Berdasarkan tabel di atas, maka untuk biaya penyimpanan yang menjadi tanggungan perusahaan adalah sebesar Rp. 1.800.000,-.
PerhitunganBiaya Pesan dan Biaya Simpan : Biaya Pemesanan Setiap kali Pesan (S)
= Total Biaya Pesan X Frekuensi Pemesanan Frekuensi Pemesanan
= 1.006.000 X 8 = Rp. 1.006.000 8
51
Biaya Penyimpanan per Satuan Bahan baku (H)
= Total Biaya Simpan X 1 tahun Total Kebutuhan Bahan Baku
= 1.800.000 X 12 = Rp. 248.275,86 87
C. Analisis Pengendalian Bahan Baku
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian bahan baku seperti perkiraan pemakaian bahan baku, kebijakan pembelian, serta biaya-biaya persediaan seperti penyimpanan, perawatan ndan penjagaan bahan baku.
Kebijakan Perusahaan UD. Amiruddin selama ini melakukan pemesanan bahan baku 8 kali dalam setahun.
1. Pembelian rata-rata bahan baku (Q) dapat diperhitungkan berdasarkan kebijakan perusahaan sebagai berikut :
= Total Kebutuhan bahan Baku Frekuensi Pemesanan
= 87 8
= 10,87 roll
= 11 (dibulatkan)
Jadi, besarnya jumlah pembelian rata-rata bahan baku setiap kali pemesanan adalah 11 roll.
2. Total Biaya Persediaan untuk memperhitungkan total biaya persediaan, telah diketahui:
Total kebutuhan bahan baku 87 roll Pembelian rata-rata bahan baku 11 roll Biaya pesan sekali pesan Rp 1.006.000 Biaya simpan per Roll Rp 248.275,86
Perhitungan total biaya persediaan sebagai berikut : TC
=
S + HTC = 1.006.000+ 248.275,86
TC = Rp. 7.956.545,45 + Rp. 1.365.517,23 TC = Rp. 9.322.062,68
Jadi, Total Biaya Persediaan yang harus ditanggung oleh UD.
Amiruddin adalah Rp. 9.322.062,68
D. Penyajian dan Hasil Pengendalian Bahan Baku
Salah satu hal yang perlu diperhatikan suatu perusahaan dalam memperoleh keuntungan adalah cara mengendalikan bahan baku.
Pengendalian bahan baku yang ekonomis dapat dilakukan dengan metode EOQ (Economic Order Quantity). Langkah-langkah dalam perhitungan dengan menggunakan metode Economic Order Quantity ( EOQ) adalah sebagai berikut:
1. Pembelian bahan baku yang ekonomis Dengan berdasarkan pada:
Total kebutuhan bahan baku 87 roll Biaya pesan sekali pesan Rp. 1.006.000 Biaya simpan per roll Rp. 248.275,86
53
Maka besarnya pembelian bahan baku yang ekonomis dapat diperhitungkan dengan metode EOQ sebagai berikut :
Q* = . .
Q* = .( ).( . . )
. ,
Q* = 7 5,04 Q* = 26,55
Q* = 27 roll (dibulatkan)
Jadi, jumlah pembelian bahan baku yang ekonomis adalah sebesar 27 roll.
2. Frekuensi pembelian bahan baku
Jumlah pemesanan bahan baku yang ekonomis menurut metode EOQ sudah diketahui, maka frekuensi pemesanan (F) menurut metode ini dapat diperhitungkan dengan cara sebagai berikut :
F = ∗
F =
F = 3,22 kali
F = 3 kali (dibulatkan)
Jadi, frekuensi pemesanan bahan baku dilakukan 3 kali pemesanan dalam 1 tahun.
3. Total biaya persediaan
Untuk memperhitungkan total biaya persediaan, telah diketahui:
Total kebutuhan bahan baku 87 roll Biaya pesan sekali pesan Rp. 1.006.000 Biaya simpan per roll Rp. 248.275,86
Pembelian bahan baku yang ekonomis 27 roll
Perhitungan total biaya persediaan adalah sebagaiberikut:
TC = ∗S + ∗H
TC =
1.006.000
+ 248.275,86TC = Rp. 3.241.555,56 + Rp. 3.351.724,11 TC = Rp. 6.593.279,67
Jadi, total biaya persediaan yang telah diperhitungkan dengan menggunakan metode EOQ adalah sebesar Rp. 6.593.279,67.
4. Penentuan persediaan pengaman (Safety Stock)
Persediaan pengaman atau sering disebut Safety Stock, sangat diperlukan dalam sebuah perushaan karena berfungsi untuk menghindari terjadinya kekurangan bahan baku sehingga memperlancar kegiatan proses produksi.
Dalam memperhitungkan persediaan pengaman digunakan metode statistic dengan membandingkan rata-rata bahan baku dengan pemakaian bahan baku yang sesungguhnya kemudian dicari penyimpangannya.
Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, bahwa dengan asumsi manajemen perusahaan memilih standar penyimpangan 5%
55
sehingga diperoleh Z dengan tabel standard deviasi sebesar 0,8749 (dapat dilihat dalam tabel kurva normal).
Safety stock = SD x Z
= 1,1 X 0,8749
= 0,96
= 1 (dibulatkan)
Jadi, persediaan bahan baku yang harus disediakan perusahaan sebagai pengaman adalah sebesar 1 roll.
5. Titik pemesanan kembali Reorder Point (ROP)
Waktu tunggu atau Lead Time yang diperlukan oleh UD.
Amiruddin dalam menunggu datangnya bahan baku yang dipesan rata-rata adalah 7 hari, dengan rata-rata-rata-rata jumlah hari kerja (t) 365 hari dalam setahun. Sebelum menghitung besarnya ROP maka terlebih dahulu dicari tingkat penggunaan bahan baku perhari dengan cara sebagai berikut :
d =
=
= 0,24 roll
Maka titik pemesanan kembali (ROP) adalah : ROP = (d x L) + SS
= (0,24 x 7) + 1
= 2,68
= 3 (dibulatkan)
Adapun penggunaan bahan baku selama Lead Time adalah 0,24 x 7 = 1,68 roll.
Jadi, perusahan harus melakukan pemesanan bahan baku kembali pada saat bahan baku berada pada tingkat jumlah sebesar 3 roll, sedangkan penggunaan bahan baku selama Lead Time adalah 1,68 roll.
E. Manfaat Hasil Analisis Pengendalian Bahan Baku
1. Perbandingan
Hasil perhitungan dengan menggunakan kebijakan perusahaan dan dengan menggunakan metode EOQ telah diketahui, maka perbandingan dapat dilakukan untuk memperoleh hasil yang paling efisien.
Table 5.4
Perbandingan Kebijakan Perusahaan Dengan Metode EOQ
No Keterangan Kebijakan
Perusahaan Metode EOQ
1 Pembelian rata-rata bahan baku 11 roll 27 roll 2 Total biaya persediaan Rp. 9.322.062,68 Rp. 6.593.279,67
3 Frekuensi pemesanan 8 kali 3 kali
4 Safety Stock - 1 roll
5 Reorder Point - 3 Roll
Sumber : Perusahaan Konveksi UD. Amiruddin
1) Pembelian rata-rata bahan baku dengan metode EOQ lebih efisien dengan jumlah 27 roll dengan 3 kali pemesanan dalam waktu satu tahun dan hanya menghabiskan biaya persediaan sebesar Rp.
6.593.279,67. Jika dibandingkan dengan kebijakan perusahaan yang melakukan pemesanan sebanyak 8 kali dalam setahun dengan
57
jumlah 11 roll yang mengeluarkan biaya persediaan sampai Rp.
9.322.062,68. Maka dengan menggunakan metode EOQ, perusahaan dapat menghemat biaya persediaan Rp. 2.728.783,01.
2) UD. Amiruddin tidak menetapkan adanya persediaan pengaman dalam kebijakannya. Sedangkan dalam metode EOQ, perusahaan harus mengadakan persediaan pengaman untuk memperlancar proses produksi dalam jumlah sebesar 1 roll.
3) Adanya titik pemesanan kembali (ROP) dalam metode EOQ untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman bahan baku. Menurut metode EOQ, perusahaan harus melakukan pemesanan bahan baku kembali saat persediaan bahan baku berada pada tingkat jumlah sebesar 3 roll.
2. Pengendalian bahan baku berpengaruh dalam kelancaran proses produksi pada usaha Konveksi UD. Amiruddin Di Kabupaten Pinrang.
Persediaan bahan baku merupakan faktor utama dalam perusahaan untuk menunjang kelancaran proses produksi, baik dalam perusahaan besar maupun kecil. Kesalahan menentukan besarnya investasi dalam mengontrol bahan baku yang terlalu besar dibandingkan kebutuhan perusahaan akan menambah beban bunga, biaya pemeliharaan dan penyimpanan dalam gudang, serta kemungkinan terjadinya penyusutan dan kualitas yang tidak bisa dipertahankan, sehingga semuanya ini akan mengurangi keuntungan perusahaan. Demikian pula sebaliknya, persediaan bahan baku yang terlau
kecil dalam perusahaan akan mengakibatkan kemacetan dalam produksi, sehingga perusahaan akan mengalami kerugian juga.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persediaan bahan bakumerupakan unsur yang sangat menentukan dalam kelancaran kegiatan produksidi setiap perusahaan. Jumlah bahan baku sangat menentukan seberapa efisien dann efektifkah perusahaan tersebut dalam mengelolah produk yang telah direncanakan. Apabila jumlah bahan baku yang digunakan jumlahnya tepat untukdapat memenuhi sejumlah produk yang harus diproduksi, maka biaya persediaanyang dikeluarkan oleh perusahaan juga dapat ditekan seekonomis mungkin.
Tujuan persediaan secara terperinci dapat dinyatakan sebagai berikut yaitu untuk menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya produksi, menjaga agar supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar dan menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karna ini akan mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar. Dengan perencanaan dan pengendalian yang baik akan berpengaruh terhadap kualitas bahan baku tersebut, sehingga diharapkan tidak ada lagi bahan baku yang disimpan terlalu lama digudang, hal ini juga menjadi pembelanjaan yang tidak efektif, karna investasi yang tertanam pada persediaan yang ada di gudang.
Kekurangan persediaan seperti mahalnya harga karna membeli dalam partai kecil, terganggunya proses produksi dan tidak tersedianya produk untuk
59
pelanggan, akibat dari ini semua akan berpengaruh terhadap pemasaran produk tersebut. Apabila perusahaan tidak memiliki persediaan produk yang memadai, akibat dari kekurangan bahan baku akan berdampak negatif yaitu konsumen akan membeli dari pesaing, hal ini akan menimbulkan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan selama peersediaan tidak ada.
Kemudian loyalitas pelanggan hilang, dan ini yang paling bermasalah. Jika pelanggan membeli dari pesaing dan terus berpindah menjadi pelanggan tetap pesaing, artinya perusahaan akan kehilngan konsumen dalam jangka waktu yang lama.
Hasil penelitian ini sesuai dan sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu yaitu : (Dewi Rosa Indah, 2017) yang menyatakan bahwa dengan menerapkan metodeEOQ akan menghasilkan biaya yang lebih murah jika dibandingkan dengan metode yang selama ini diterapkan oleh perusahaan.
(Juliana, 2013) menyatakanbahwa dari metode EOQ, POQ dan metode perusahaan didapatkan hasil bahwa perhitungan persediaan bahan baku dengan metode EOQ diperoleh biaya lebihkecil. (Atdri Rakia, 2015) hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa menggunakan metode EOQ lebih efisien untuk menghitung bahan baku.Pengelolahan persediaan bahan baku kain yang dilakukan oleh Primed Konveksi selama ini belum optimal.Hal ini terjadi karna adanya persediaan yangminim di dalam gudang dan pemasok bahan baku yang tidak ada di Samarindasehingga harus memesan dari luar kota sehingga kebutuhan bahan baku selama inibelum terpenuhi dengan baik.
Pengendalian persediaan bahan baku kain juagabelum efisien dari segi biaya
persediaan bahan baku. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya biaya persediaan yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Pengeloloaan persediaan oleh Primed Konveksi berusaha mencapaikeseimbangan antara kekurangan dan kelebihan persediaan bahan baku dalamsuatu periode perencanaan yang mengandung resiko atau ketidakpastian. Dalam hasil penelitian tersebut di usaha Konveksi UD. Amiruddin di kabupaten Pinrang biasa mengalami kendala terlambatnya persediaan bahan baku namun dengan manajemen dan pengelolahan yang baik perusahaan tersebut mampu mengatasi dengan baik. Namun kekurangan bahan baku dapat menghambat produksi atau merubah jadwal produksi, sedangkan kelebihan persediaan bahan baku menyebabkan peningkatan biaya dan penurunan laba. Maka dalam usaha konveksi tersebut diutamakan adalah persediaan bahan baku.
Dalam penyimpanan bahan baku kendala yang dialami oleh usaha konveksi UD. Amiruddin di kabupaten Pinrang yaitu kondisi gudang yang belum maksimal sehingga perusahaan harus berbenah gudang agar dapat menampung bahan baku kain, memperhatikan sekitaran gudang agar tetap terlihat bersih dan memperhatikan umur teknis penyimpanan kain yang masih layak untuk diproduksi yang tidak mimiliki catat seperti kain yang akan diproduksi ada noda ataupun robek hal ini yang harus dihindari saat menyimpan persediaan di gudang. Berdasarkan perhitungan dalam analisis sebelumnya dapat diketuhai bahwa jumlah pesanan yang paling ekonomis (sesuai dengan economic order quantity) dari bahan baku kain selama ini
61
adalah 27 rolldengan 3 kali pemesanan dalam waktu satu tahun dan hanya menghabiskan biaya persediaan sebesar Rp. 6.593.279,67. Jika dibandingkan dengan kebijakan perusahaan yang melakukan pemesanan sebanyak 8 kali dalam setahun dengan jumlah 11 roll yang mengeluarkan biaya persediaan sampai Rp. 9.322.062,68Maka dengan menggunakan metode EOQ, perusahaan dapat menghemat biaya persediaan Rp.
2.728.783,01.artinya biaya persediaan yang dikeluarkan oleh perusahaan lebih besar dari biaya persediaan menurut perhitungan EOQ. Walaupun selama ini perusahaan dapat memenuhi kebutuhan para konsumen, akan tetapi biaya persediaan yang dikeluarkan oleh Primed Konveksi belum ekonomis. Apabila perusahaan menerapkan metode Economic Order Quantity maka perusahaan dapat menghemat pengeluaran biaya persediaan, dalam rangka pengendalian biaya persediaan bahan baku kain tersebut.
BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
1. Berdasarkan perhitungan dalam analisis sebelumnya dapat diketuhai bahwa jumlah pesanan yang paling ekonomis (sesuai dengan Economic Order Quantity) dari bahan baku kain selama ini adalah 27 roll dengan 3 kali pemesanan dalam waktu satu tahun dan hanya menghabiskan biaya persediaan sebesar Rp. 6.593.279,67. Jika dibandingkan dengan kebijakan perusahaan yang melakukan pemesanan sebanyak 8 kali dalam setahun dengan jumlah 11 roll yang mengeluarkan biaya persediaan sampai Rp.
9.322.062,68. Maka dengan menggunakan metode EOQ, perusahaan dapat menghemat biaya persediaan Rp. 2.728.783,01. Artinya biaya persediaan yang dikeluarkan oleh perusahaan lebih besar dari biaya persediaan menurut perhitungan EOQ. Bahan baku dalam usaha konveksi itu sangatlah berpengaruh terhadap banyaknya produksi karena kurangnya pemasokan bahan baku dapat mempengaruhi produksi konveksi tersebut.
2. Persediaan bahan baku merupakan unsur yang sangat menentukan dalam kelancaran kegiatan produksi setiap perusahaan karena jumlah bahan baku sangat menentukan seberapa efesien dan efektifkah perusahaan tersebut dalam mengelola produk yang telah direncanakan, apa bila jumlah bahan baku yang digunakan jumlahnya tepat untuk dapat memenuhi sejumlah produk yang harus diproduksi maka biaya persediaan yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat ditekan seekonomi mungkin.
62
63
B. Saran
Berdasarka kesimpulan diatas kiranya penulis dapat memberikan masukan berupa saran sebagai berikut:
1. Sebaiknya perusahaan menggunakan metode EOQ agar kiranya mendapatkan jumlah pesanan yang ekonomis, jika dibandingkan dengan kebijakan perusahaan yang melakukan pemesana mengeluarkan biaya banyak sedangkan dengan menggunakan metode EOQ perusahaan dapat menghemat biaya yang dikeluarkan.
2. Dalam melakukan pembelian sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan produksi yang dihasilkan sehingga tidak menimbulkan adanya tambahan biaya pemesanan kembali yang dapat merugikan perusahaan.
60
64
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Syafarudin, 2007. Alat-alat Analisis dalam Pembelanjaan, Andi offset Yogyakarta
Assauri, Softjan, 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Assaury, Sjofyan, (2006), Manajemen Produksi Dan Operasi, Edisi revisi, FEUI Heckert, Jakarta.
Assauri, Sofyan, 2008. Manajemen Produksi dan Operasi. Lembaga Fakultas Ekonomi UI. Jakarta..
Gitosudarmo, I dan , Basri (2008) Manajemen Keuangan, Edisi 2, BPFE, Yogyakarta.
Gitosudarmo, Indrio. 2002. Manajemen Keuanagan Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.
Hecker, J. B (2006) Controllership, Edisi III, Erlangga, Jakarta.
Heizer, Jay, Barry Rander, 2001. Prinsip-prinsip Manajemen Operasi. Selemba Empat. Jakarta.
Heizer, Jay dan Barry Render, 2011. Manajemen Operasi. Edisi 9 Buku 1. Salemba Empat. Jakarta.
Herjanto, Eddy, 2008. Manajemen Operasi. Edisi Ketiga. Grasindo. Jakarta.
Herjanto, E. 2007. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi kedua. Jakarta : Grasindo
Indah, D, R dan Risasti, E, Y. 2017. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT.Tri Agro Palma Tamiang. Jurnal Samudra Ekonomi dan Bisnis.
Vol.8 No.2 Juli 2017.
Ishak, Aulia (2010). Manajenem Operasi. Yogyakarta : Graha Ilmu.
66
Mulyadi (2007) Akuntansi Biaya, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta (2007) Akuntani biaya, penentuan harga pokok dan pengendalian biaya Edisi 3, BPFE, Yogyakarta.
Muslich, M (2007) manajemen keuangan modern (analisis perencanaan dan kebijaksanaan), Bumi Aksara, Jakarta.
Machfoedz, M (2006) Akuntansi Manajemen, BPFE, Yogyakarta
Naibaho, A,T. 2013. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Terhadap Efektifitas Pengelolaan Persediaan Bahan Baku. Jurnal EMBA. Vol.1 No.3 Juni 2013, Hal. 67-70
Puspita, J dan Anita, D 2013 Inventory Control dan Perencanaa Persediaan Bahan Baku Produksi Roti Pada Pabrik Roti Bobo Pekanbaru. Jurnal Ekonomi. Vol.
21, No. 3 september 2013
Rakian, A. 2015. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Tepung Terigu Menggunakan Metode EOQ pada Pabrik Mie Musbar Pekan Baru. Jurnal Jom Fekon. Vol.2 No.1 Februari 2015
Rangkuti, Fredi (2009) Manajemen Persediaan : Aplikasi di Bidang Bisnins, PT Raja Grafindo Persada, jakarta
Rangkuti, Freddy, 2007. Manajemen persediaan Aplikasi dibidang bisnis. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Ristono, Agus, 2009. Manajemen Persediaan Edisi 1. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Riyanto, Barhnaring (2007) dasar-dasar pembelanjaan perusahaan, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta.
Sundjaja, Ridwan S dan Inge Berlian, 2003. Manajemen keuangan 2. Edisi Keempat, Literata Lintas Media. Yogyakarta.
Sutrisno, H (2005) Manajemen Keuangan (Teori Konsep dan aplikasi) Edisi Revisi, Ekonosia FEUII, Yogyakarta.
Supriyono, A.R (2008) Akuntasi Biaya(Pengumpulan Biaya dan Penentuan harga pokok), Edisi 2, BPFE, Yogyakarta.
Suwandi, N, W, P., Meitriana, M, A dan Tripalupi, L, E. 2014. Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada Prusahaan Tempe Tahu Cap Malang Desa Petiga Tahun 2011-2012. Vol.4 No.1 Tahun 2014.
Soemitha, R (2007) Akunting Biaya dan Harga Pokok (Perencanaan dan Pengendalian), Jilid 1, A2B, Bandung.
Winartha, I Made, 2006. Metedologi Penelitian Sosial Ekonomi. Andi Offset.
Yogyakarta.
xvii
L A M
P
I
R
A
N
panggilan sehari-hari adalah Dela. Penulis lahir dari orang tua Ayah Alex dan Ibu sarniwati sebagai anak pertama dari lima bersudara.
Penulis dilahirkan di Kabupaten Pinrang pada tanggal 28 januari 1996. Penulis menempuh pendidikan dimulai dari SDN 127 Patampanua (lulus tahun 2008), SMP Negeri 7 Mimika (lulus tahun 2011), Madrasa Aliyah Negeri Pinrang (lulus tahun 2014), hingga akhirnya bisa menempuh masa kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi pada Universitas Muhammadiyah Makassar. Sampai dengan saat ini penulisan masih terdaftar sebagai mahasiswi Program S1 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.