DAFTAR PUSTAKA
Lampiran 9 Deskriptif untuk Data Indepth-Interview
Keluarga lengkap dengan anak lebih dari 3 dan anak kurang dari 3
Berdasarkan analisis wawancara mendalam pada keluarga lengkap yang memiliki anak lebih dari 3 orang dan yang memiliki anak kurang dari 3 orang, dapat diketahui bahwa kesulitan hidup yang sering menjadi pemicu konflik dalam keluarga adalah masalah jajan anak. Hal ini terkait dengan keterbatasan uang yang dimiliki keluarga menurut penuturan ibu Eni (keluarga lengkap dengan anak kurang dua) beliau suka kesal karena anaknya belum bisa diberi pengertian sehingga terkadang uang yang seharusnya digunakan untuk membeli bahan pangan teralokasikan untuk membeli mainan. Sedangkan untuk pekerjaan suami tidak pernah menjadi sumber pertengkaran keluarga karena memang dari awal pernikahan contoh paham sekali dengan kondisi suaminya. Mereka hanya pasrah saja dan mensyukuri semua yang diberikan Tuhan. Ketika contoh merasa terbebani atau stress dengan segala kondisi yang membelitnya biasanya mereka melakukan beberapa cara ibu eni memilih untuk berkunjung ke rumah saudara atau orangtua sedangkan ibu Titin (keluarga lengkap dengan anak lebih dari 3) memilih untuk membaca buku. Suami contoh pada kedua keluarga ini tidak memiliki pekerjaan yang tetap dan pendapatan kotor yang diterima setiap bulannya sebesar Rp.600.000,- sampai dengan Rp.900.000,-. Dengan penghasilan keluarga yang rendah suami/isteri harus menanggung beban hidup yang cukup besar. Beban hidup yang ditanggung dalam keluarga khususnya dalam hal keuangan kesehariannya keluarga mengandalkan hutang perorangan dan menurut penuturan ibu Titin selain hutang perorangan beliau biasa juga berhutang ke koperasi. Selain itu, karena ibu titin memiliki pekerjaan sampingan, yaitu berdagang hasil keuntungan dari sinilah menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selain pendapatan dari suami.
Dukungan sosial dari tetangga maupun keluarga besar/saudara menjadi asupan tersendiri bagi keluarga contoh seperti ibu Eni menegaskan bahwa ketika tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari biasanya beliau berhutang atau terkadang meminta ke orangtuanya. Sama halnya dengan ibu Titin beliau tidak
pernah meminta bantuan atau mendapatkan bantuan dari tetangga hanya keluarga besar yang terkadang membantunya dalam hal keuangan.
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari dipenuhi dengan dilakukannya pengurangan kebutuhan-kebutuhan baik pangan, kesehatan, pendidikan dan keuangan, diantaranya (a) memilih jenis makanan yang murah, (b) mengganti makanan protein hewani menjadi protein nabati, (c) mengurangi uang jajan disekolah, (d) memilih tempat berobat yang murah. Sedangkan dalam menghadapi krisis ekonomi kedua keluarga ini melakukan strategi penambahan pendapatan keluarga diantaranya adalah; (a) ibu bekerja untuk mencari tambahan keluarga, (b) adanya anggota keluarga lain yang membantu keuangan keluarga dan ditambah lagi untuk ibu Titin dengan cara berdagang. Baik sebelum dan setelah mendapatkan PKH contoh memiliki kecenderungan yang sama dalam melakukan cara untuk bisa bertahan hidup. Menurut contoh setelah mendapatkan PKH pemenuhan kebutuhan untuk keperluan sekolah menjadi tidak terlalu berat lagi. Dengan adanya PKH keluarga contoh merasa bahwa beban hidup yang dihadapi berkurang khususnya dalam hal keuangan sehingga meningkatkan ketenangan batin contoh.
Keluarga Janda dengan anak kurang dari 3 dan anak lebih dari 3
Berdasarkan hasil analisa wawancara mendalam diketahui bahwa beban hidup yang dirasakan oleh keluarga janda sangatlah besar baik itu yang memiliki anak kurang dari 3 maupun pada keluarga yang memiliki anak lebih dari 3. Status dalam keluarga yang tergantikan menjadi kepala keluarga menjadi beban tersendiri bagi contoh. Ditambah lagi, contoh tidak memiliki pekerjaan sehingga untuk hidup sehari- hari hanya bisa mengandalkan pemberian dari warga sekitar. Pada keluarga janda dengan anak kurang dari 3, contoh mengakui setelah tidak lagi menjadi kuli ngoret beliau menumpang hidup dari anaknya yang sudah menikah. Masalah keluarga yang sering dihadapi pada kedua keluarga ini, yaitu masalah keuangan keluarga dan ketika anak meminta jajan. Hutang perorangan menjadi andalan ketika memang dalam kondisi yang sulit mereka membutuhkan uang. Dukungan sosial baik dari tetangga
ataupun keluarga besar yang diterima pada kedua keluarga sangat tinggi sehingga sedikit mengurangi beban mereka.
Baik sebelum dan setelah mendapatkan PKH, cara contoh memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam kondisi keuangan yang serba kekurangan dengan melakukan strategi penghematan diantaranya; (a) mengurangi pembelian kebutuhan pokok, (b) mengganti bahan makanan protein hewani menjadi protein nabati, (c) mengurangi uang saku anak, (d) terkadang anak terpaksa membolos karena memang tidak ada ongkos untuk transport. Selain itu, contoh pada kedua keluarga ini melakukan strategi menambah pendapatan dengan cara; (a) mendapat bantuan keuangan dari anggota keluarga lain, (b) berhutang ke warung untuk membeli kebutuhan pangan sehari-hari, (c) pada keluarga janda yang memiliki anak lebih dari tiga beliau mengusahakan beasiswa untuk anak-anaknya. Pada kedua keluarga janda baik yang memiliki anak lebih dari tiga maupun yang memiliki anak kurang dari tiga menegaskan bahwa kesejahteraan subyektif yang dirasakan antara sebelum dan setelah PKH sama bahkan semakin menurun. Untuk keluarga ibu titi sumarti (janda dengan anak lebih dari 3) beliau menuturkan bahwa setelah suaminya meninggal tepatnya enam bulan lalu kesejahteraan subyektif keluarga khususnya dalam hal materi sangat menurun.
Keluarga lengkap dengan suami bekerja dan tidak bekerja
Berdasarkan hasil wawancara mendalam diketahui bahwa keluarga dengan suami bekerja dan tidak bekerja memberikan efek yang sangat berbeda dengan kondisi keuangan keluarga. Pada keluarga dengan suami bekerja, pencari nafkah keluarga tetap pada suami sebagai kepala keluarga. Sedangkan pada keluarga dengan suami tidak bekerja isteri beralih fungsi menjadi pencari nafkah keluarga. Jenis pekerjaan yang dijalani contoh pun akan mempengaruhi pendapatan yang diterima. Pada keluarga dengan suami bekerja setiap bulannya isteri menerima Rp.900.000,- sedangkan untuk keluarga dengan suami tidak bekerja pendapatan yang diterima setiap bulannya Rp.300.000,-. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara jumlah pendapatan antara kedua keluarga ini. Kedua keluarga ini mengaku sangat
sulit mengatur uang agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Salah satu solusi ketika mereka terhimpit kebutuhan, yaitu berhutang perorangan kepada saudara atau teman terdekat. Dukungan sosial baik dari tetangga maupun dari keluarga besar yang diterima kedua keluarga sangat rendah. Mereka mengaku bahwa mereka tidak pernah menerima bantuan dalam bentuk apapun dari tetangga sekitar.
Permasalahan yang sering dihadapi oleh kedua keluarga ini, yaitu masalah keuangan dan masalah kenakalan anak. Contoh mengaku suka pusing ketika anak meminta uang jajan yang terbilang besar setiap harinya. Ketika contoh merasa stress kegiatan yang biasa dilakukan adalah main kerumah saudara menurut penuturan salah satu contoh yang penting keluar dari rumah. Dalam mengatasi krisis keuangan kedua keluarga cenderung memiliki cara yang sama baik yang dilakukan sebelum maupun setelah mendapatkan PKH diantaranya; melakukan pengurangan pembelian kebutuhan pangan, mengganti bahan makanan protein hewani dengan protein nabati. Selain itu, keluarga melakukan strategi menambah pendapatan diantaranya pada keluarga dengan suami bekerja memilih berdagang untuk menambah pendapatan keluarga dan kedua keluarga biasa berhutang ke warung terlebih dahulu ketika tidak mempunyai uang untuk belanja. Bahkan untuk keluarga ibu juju (keluarga dengan suami tidak bekerja) setiap harinya beliau harus berhutang ke warung untuk makan anggota keluarga dan dibayarnya ketika beliau mendapat gaji sebulan sekali. Dalam kesehariannya kedua keluarga sering mengurangi uang saku anak ketika tidak memiliki uang. Kedua keluarga menegaskan bahwa setelah mendapat PKH kesejahteraan keluarga semakin meningkat khusunya dalam hal ekonomi. Dengan adanya PKH sangat membantu contoh dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari baik itu dalam hal pendidikan, keuangan, dan kesehatan keluarga.