• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

D. Konsep Kepariwisataan

4. Destinasi Pariwisata

Menurut Damanik dan Teguh (2013: 6) destinasi merupakan salah satu unsur penting dalam pariwisata sebab menjadi wadah bagi sebagian besar fasilitas dan aktivitas pariwisata untuk saling berinteraksi. Hu and Ritchie dalam Damanik dan Teguh (2013: 6) mengartikan destinasi pariwisata sebagai berikut :

“ a package of tourism facilities and services, which like any other consumer produsct, is composed of a number of multi-dimensional attributes”. penekanan mereka terletak pada keragaman unsur fasilitas dan jasa pariwisata dalam suatu kesatuan yang utuh bersifat multidimensional, yang ditandai oleh banyaknya atribut yang melekat pada destinasi tersebut.

Buhalis dalam Damanik dan Teguh (2013:6) mendefinisikan destinasi pariwisata sebagai kumpulan berbagai produk pariwisata yang menawarkan pengalaman terpadu kepada wisatawan (amalga,s of tourism produscts, offering an integrated experience to consumers). Sedangkan

untuk tujuan pengembangan destinasi di indonesia, definisi yang lebih operasional dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan BAB 1 Pasal 1, yakni kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

Sedangkan Yoeti (1996: 1780) menjelaskan, ada unsur wajib yang harus dimiliki suatu daerah agar dapat menjadikan daerah tujuan wisata : a) Daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai “something

to see”, artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan

atraksi yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.

b) Daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut “something to do”, artinya di tempat tersebut harus disediakan fasilitas rekreasi yang dapat membuat mereka betah tinggal lama di tempat tersebut.

c) Daerah tersebut harus bersedia pula apa yang disebut istilah

“something to buy”, artinya di tempat tersebut tersedia fasilitas untuk berbelanja, terutama barang-barang souvenir dan kerjinan

rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-masing.

Dapat disimpulkan bahwa potensi dapat diartikan sebagai kemampuan yang dapat diaktifkan dalam pembangunan. Terkait dengan penelitian ini maka pengembangan kawasan wisata tidak bisa berjalan dengan optimal tanpa dukungan dan kerjasama dengan pihak lain terutama investor yang berminat mengeluarkan modalnya di bidang jasa kepariwisataan.

55

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Metode penelitian merupakan tata cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Menurut Sugiyono (2015: 2) metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu harus didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

Penelitian yang dilakukan peneliti dalam menyusun skripsi menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yakni mengambarkan dan menguraikan keadaan yang sebenarnya mengenai fakta-fakta antara fenomena yang diselidiki dan berusaha untuk memecahkan permasalahan yang ada. Menurut Bogdan & Taylor yang dikutip oleh Sugiyono (2015: 4) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Menurut Moleong (2005: 11) penelitian deskriptif merupakan “data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan karena adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang akan dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti”.

Pemilihan penggunaan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dikarenakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang digunakan untuk

meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrument kunci.

Penelitian kualitatif yang akan dilaksanakan oleh peneliti lebih sering berada di lapangan dengan memperhatikan fenomena yang sebenarnya terjadi. Peneliti menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian bertujuan untuk membatasi penelitian. Berdasarkan dengan ditentukannya fokus penelitian, peneliti akan mengetahui data mana saja dan data apa saja yang akan digunakan sesuai dengan relevansi penelitian.

Berkaitan dengan Bab II Tinjauan Pustaka, fokus penelitian ini antara lain mengamati tentang :

1. Perencanaan partisipatif pengelolaan Kampung Wisata 3 Dimensi Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang meliputi:

a. Permasalahan prioritas pada masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

b. Potensi dan kendala yang dihadapi oleh Masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

c. Kebutuhan kelompok masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

d. Rencana program pembangunan swadaya masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

e. Lokakarya pada masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang membahas tentang implemetasi program

2. Partisipasi masyarakat dalam fungsi manajemen pengelolaan Kampung Wisata 3 Dimensi Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang meliputi:

a. Perencanaan yang dilakukan oleh masyarakat RW 12 dalam pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi

b. Organisasi yang dibentuk oleh masyarakat RW 12 untuk pelaksanaan pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi

c. Implementasi pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi yang dilakukan oleh masyarakat RW 12

d. Pengendalian yang dilakukan oleh masyarakat RW 12 dalam pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi

3. Faktor Pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi

a. Faktor Pendukung 1) Faktor Internal :

a) Sarana dan Prasarana

b) Koordinasi dari masing-masing aktor pelaksana yang baik

2) Faktor Eksternal :

a) Kepedulian antar sesama masyarakat semakin tinggi

b) Profesional yang tinggi

b. Faktor Penghambat

a) Partisipasi masyarakat rendah b) Keterbatasan dana

c) Sumber daya masyarakat rendah C. Lokasi Penelitian dan Situs Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian dan juga merupakan salah satu jenis sumber data yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti (Sutopo, 2002: 52).

Berdasarkan pengertian di atas, diketahui bahwa lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melaksanakan penelitian, sehingga peneliti memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan tema, masalah, dan fokus penelitian yang ditetapkan. Sedangkan situs penelitian adalah tempat dimana peneliti akan memperoleh validitas data dan aktualisasi data yang berhubungan dengan penelitian. Lokasi penelitian akan dilaksanakan pada RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang. Alasan pemilihan pada RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang karena kawasan tersebut merupakan kampung yang dahulunya kumuh, kotor, padat penduduk, serta tidak memiliki potensi yang letaknya juga dilewati oleh arus sungai brantas kini telah berubah fungsi menjadi tempat wisata.

Situs penelitian akan dilaksanakan pada Kampung Wisata 3 Dimensi di Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang. Alasan pemilihan tempat tersebut karena Kampung Wisata 3 Dimensi merupakan kampung warna yang bukan hanya sekedar warna-warni yang dilukis, namun menghadirkan konsep

lukisan 3 Dimensi dengan lukisan realis atau gambar-gambar hidup yang belum ada sebelumnya di Kota Malang.

D. Jenis dan Sumber Data

Menurut Moleong (2000: 130) sumber data adalah tempat orang atau benda dimana peneliti dapat mengamati, bertanya atau membaca tentang hal-hal yang berkenaan dengan variable yang diteliti. Jenis data pada penelitian kualitatif berupa kata-kata, tindakan, dan data tambahan seperti dokumen, dan lain-lain.

Peneliti menggunakan sumber data yaitu dari:

1. Informan

Infroman yaitu seseorang yang dimanfaatkan memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian. Sedangkan menurut Andi (2010: 147) informan yaitu orang yang diperkirakan menguasai dan memahami data, informasi, ataupun fakta dari suatu objek penelitian. Sehingga pada penelitian ini, informannya yaitu:

1. Ketua Paguyuban Kampung Wisata 3 Dimensi RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang yaitu Bapak Imam Santoso.

2. Ketua Karang Taruna Kampung Wisata 3 Dimensi RW 12 Keluarahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang yaitu Mas Dio.

3. Pelukis Kampung Wisata 3 Dimensi RW 12 Keluarahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang yaitu Bapak Edi.

4. Warga RW 12 kampung wisata 3 Dimensi Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang yaitu Ibu Nurul.

5. Sekretaris Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang yaitu Bapak Subandi.

2. Peristiwa

Data atau informasi dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap peristiwa atau yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

Peristiwa dapat digunakan untuk mengetahui proses bagaimana sesuatu terjadi secara lebih pasti karena dapat menyaksikan langsung.

3. Dokumen

Dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2013: 240).

Pendapat lain menurut Suharsaputra (2014: 215) dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang tertulis atau dicetak mereka dapat berupa catatan, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen. Sehingga pada penelitian ini, dokumennya yaitu:

1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman

2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 200 tentang Kepariwisataan

3. Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 11 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan

4. Peraturan Walikota Malang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah

Selain itu data dapat diperoleh dari:

1. Arsip yang dimiliki oleh Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

2. Buku, Koran, Surat Kabar, Jurnal, dan Internet

Menurut Lofland dalam Moleong (2005: 157), sumber data utama pada penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selanjutnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Jenis data yang akan digunakan terdiri dari dua macam yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2012: 139). Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan peneliti. Peristiwa yang akan diamati oleh peneliti amati ketika melakukan observasi terkait dengan perencanaan partisipatif yang dilakukan oleh masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang dalam pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi.

Data primer dalam penelitian ini yaitu:

1. Perencanaan partisipatif pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi di Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

a. Permasalahan prioritas pada masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

b. Potensi dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

c. Kebutuhan kelompok masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

d. Rencana program pembangunan swadaya masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

e. Lokakarya pada masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

2. Partisipasi masyarakat sebagai fungsi manajemen pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang meliputi:

a. Perencanaan yang dilakukan oleh masyarakat RW 12 dalam pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi

b. Organisasi yang dibentuk oleh masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang

c. Implementasi pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi yang dilakukan oleh masyarakat RW 12

d. Pengendalian yang dilakukan oleh masyarakat RW 12 dalam pengelolaan kampung wisata 3 Dimensi

3. Faktor pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pengelolan kampung wisata 3 Dimensi

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari, dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku-buku, serta dokumen perusahaan (Sugiyono, 2012: 141). Data sekunder dapat diambil dari arsip yang dimiliki oleh Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang, dan Kampung Wisata 3 Dimensi yang ada relevansimya dengan penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2014: 224).

Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Observasi/ Pengamatan

Observasi adalah metode pengumpulan data secara sistematis melalui pengamatan dan pencatatan terhadap fenomena yang diteliti.

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistemtis terhadap suatu gejala yang tampak pada objek penelitian (Hadi dalam Andi (2010: 27)). Dimana dalam peneliti ini, peneliti melaksanakan sebuah pengamatan dengan datang secara langsung dan mengunjungi objek penelitian yaitu Kampung Wisata 3 Dimensi di Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang di Jalan

Temenggungan Ledok Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang. Observasi yang dilakukan yaitu observasi partisipan, yaitu peneliti ikut dalam kehidupan/ kegiatan yang akan diobservasi.

Hal ini dilakukan peneliti yaitu pada bulan April – Mei dimana peneliti memberikan contoh tata cara mengajukan sponsorship serta mengamati kegiatan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang.

2. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Wawancara dalam penelitian kualitatif tidak hanya sebatas bicara atau percakapan biasa, walaupun keduanya berupa interaksi verbal.

Wawancara diperlukan kemampuan mengajukan pertanyaan yang dirumuskan secara tajam, halus, dan tepat. Serta diperlukan kemampuan untuk menangkap pemikiran orang lain dengan cepat dan tepat (Nasution, 2011: 116).

Wawancara dalam penelitian ini diperlukan data primer yaitu dengan mewawancarai pihak dari Paguyuban Kampung Wisata 3 Dimensi di Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang, Karang taruna RW 12, dan Masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian Kecamatan Blimbing Kota Malang. Jenis wawancara yang digunakan yaitu wawancara semi terstruktur, yaitu karena peneliti mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan pedoman wawancara

yang ada, akan tetapi kemudian pertanyaannya berkembang menjadi pertanyaan yang baru sesuai dengan jawaban dari informan.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlaku.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode obseravasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2014: 24). Teknik dokumentasi dalam penelitian ini adalah pengumpulan data dengan mencatat dan memanfaatkan data-data yang telah ada yang berkaitan penelitian ini.

F. Instrumen Penelitian

Arikunto (1998: 151) mendefinisikan instrumen penelitian adalah “alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah”. Agar mudah pengumpulan dan memperoleh data yang digunakan instrumen penelitian. Adapun instrument penelitian berupa:

1. Peneliti sendiri

Salah satu ciri dari penelitian kualitatif adalah memasukkan unsur manusia atau peneliti sendiri sebagai alat pengumpulan data utama dalam penelitian terutama yang berpengaruh dalam proses wawancara dan analisis data. Dengan cara menyaksikan dan mengamati secara langsung peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek penelitian.

Fungsinya adalah untuk menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan terhadap hasil penelitiannya (Sugiyono, 2014: 222).

2. Pedoman wawancara atau interview guide

Pedoman wawancara digunakan untuk membantu peneliti ketika akan mewawancarai informan agar pertanyaan yang akan disampaikan merupakan pertanyaan yang berfokus terhadap objek penelitian. Selain itu dengan adanya pedoman wawancara maka data yang akan dicari dapat diperoleh dengan maksimal.

3. Catatan lapangan atau field note

Catatan lapangan berfungsi sebagai alat perantara yaitu antara apa saja yang di dengar, dilihat, dialami, dan diperkirakan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi data dalam menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan. Sehingga dapat dikatakan bahwa catatan lapangan merupakan “jantung” dalam penelitian kualitatif (Moloeng, 2005: 208).

4. Dokumentasi

Pada instrumen penelitian dokumentasi ini peneliti dapat mencari bukti-bukti sejarah, landasan hukum, dan peraturan-peraturan yang pernah berlaku. Subjek penelitiannya dapat berupa buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, bahkan benda-benda bersejarah.

G. Teknik Analisis Data

Pada analisis penelitian ini, peneliti menggunakan model analisis data interaktif dari Miles, Huberman dan Saldana (2014:13). Alasannya dalam menggunakan analisis data ini dikarenakan alur serta proses dalam analisis data ini lebih mudah dipahami. Analisis data penelitian dapat menggunakan model analisa interaktif, yang terdiri dari 4 tahapan yaitu sebagai berikut:

Gambar 1. Model Analisis Data Model Interaktif Sumber : Miles, Huberman dan Saldana (2014: 14)

Berikut merupakan penjelasan dari analisis data model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014: 11-14)

1. Kondensasi Data (Data Condensation)

Kondensasi data merujuk pada proses memilih, menyederhanakan, mengabstrakan, dan atau mentransormasikan data yang mendekati keseluruhan bagian dari catatan-catatan lapangan secara tertulis, transkip wawancara, dokumen-dokumen, dan matri-materi empiris lainnya.

2. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data adalah sebuah pengorganisasian, penyatuan dari informasi yang memungkinkan penyimpulan dan aksi. Penyajian data membantu dalam memahami apa yang terjadi dan untuk melakukan sesuatu, termasuk analisis yang lebih mendalam atau mengambil aksi berdasarkan pemahaman.

3. Penarikan kesimpulan/ verifikasi (Comclusion Drawing/Verifying) Kegiatan analisis ketiga yan paling penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi, kesimpulan.

H. Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbarui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realibilitas) menurut versi “positivisme”

disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, kriteria, dan paradigmanya sendiri (Moelong, 2014: 321).

Dalam menetapkan keabsahan data diperlukan adanya teknik pemeriksaan.

Pelaksaaan teknik pemeriksaan dapat didasarkan atas beberapa kriteria tertentu.

Menurut Moleng, (2014: 324) terdapat empat kriteria yang digunakan dalam melakukan keabsahan data, yaitu:

a) Kriterium Derajat Kepercayaan (credibility)

Kriterium ini berfungsi melakukan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat tercapai. Kedua mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang diteliti.

b) Kriterium Keteralihan (transferability)

Generalisasi suatu penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua konteks dalam populasi yang sama atas dasar penemuan yang diperoleh pada sampel yang secara representative mewakili populasi itu.

c) Kriterium Kebergantungan (dependability)

Merupakan substitusi istilah reliabilitas dalam penelitian yang non kualitatif. Konsep kebergantngan lebih luas daripasa reliabilitas. Hal ini disebabkan oleh peninjauannya dari segi bahwa konsep itu memperhitungkan segala-galanya yaitu pada reliabilitas itu sendiri ditambah faktor-faktor yang terkait.

d) Kriterium Kepastian (confirmability)

Berasal dari konsep objektivitas nonkualitatif, dalam hal ini sesuatu dikaitkan objektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, atau penemuan seseorang.

70 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Kota Malang a. Sejarah Kota Malang

Kota Malang seperti kota-kota lain di Indonesia pada umumnya baru tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah colonial Belanda. Fasilitas umum di rencanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminasi itu masih berbekas hingga sekarang. Misalnya Ijen Boulevard kawasan sekitarnya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang bagai monument yang menyimpang misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.

Pada Tahun 1879, di Kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak di Kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali.

Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbnissi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan miningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakbat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perekampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya.

Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandianya masalah itu diabaikan.

b. Visi dan Misi Kota Malang

Suatu daerah dalam mencapai tujuannya diperlukan adanya perencanaan yang pasti tentng tujuan yang akan dicapainya. Sehingga diperlukan adanya sebuah visi dari suatu daerah dalm mencapai tujuan yang telah ditetpkan. Visi yang dirumuskan adalah yang disesuaikan dengan kondisi daerah tersebut yang merupakan hasil dari pembangunan di tahun-tahun sebelumnya. Visi Kota Malang tercantum dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Malang Tahun 2013-2018. Dimana dalam jangka waktu 5 tahun tersebut, visi yang telah dicantumkan dalam

RPJMD Tahun 2013-2018 menjadi acuan dalam mencapai tujuan dari Kota Malang yang diharapkan dapat dicapai diakhir tahun 2018.

Adapun visi dari Kota Malang pada periode tahun 2013-2018 adalah:

“TERWUJUDNYA KOTA MALANG SEBAGAI KOTA BERMARTABAT”.

Visi Kota Malang tersebut juga diikuti dengan semboyan “Peduli Wong Cilik” yang dianggap sebagai semboyan semangat dalam pembangunan Kota Malang periode tahun 2013-2018. Hal ini dimaksudkan bahw seluruh program dan kegiatan pembangunan yang dilakukan haruslah selalu mengutamakan kepentingan wong cilik di Kota Malang.

BERMARTABAT merupakan singkatan dari poin-poin penting yang akan diwujudkan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut, yang terdiri dari: BERsih, Makmur, Adil, Religius-toleran, Terkemuka, Aman, Berbudaya, Asri, dan Terdidik (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Malang 2013-2018).

Penjelasan dari singkatan BERMARTABAT adalah sebagai berikut:

1. Bersih

Kota Malang yang bersih adalah lingkungan kota yang bebas dari tumpukan sampah dan limbah. Selai itu, bersih juga harus menjadi ciri dari penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintahan yang bersih (clean

governance) harus diciptakan agar kepentingan masyarakat dapat

terlayani dengan sebaik-baiknya.

2. Makmur

Masyarakat yang makmur dapat tercapai jika seluruh masyarakat Kota Malang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara layak sesuai dengan strata sosial masing-masing. Dalam hal ini, kemandirian

Masyarakat yang makmur dapat tercapai jika seluruh masyarakat Kota Malang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara layak sesuai dengan strata sosial masing-masing. Dalam hal ini, kemandirian

Dokumen terkait