• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paris Agreement yang disetujui pada Desember 2015

mengajak seluruh negara dunia untuk membatasi kenaikan temperatur global tidak melebihi 2C, dan berusaha untuk menjaga temperature pada 1,5 derajat C, serta untuk mencapai emisi agregat nol (net-zero emission) pada pertengahan abad ini. Melalui kesepakatan ini negara-negara anggota UNFCCC (negara-negara pihak) juga menyepakati untuk meningkatkan kemampuan untuk menghadapi dampak perubahan iklim, meningkatkan ketangguhan (resilience), dan pembangunan rendah karbon.

NDC yang dimulai sebagai Intended Nationally

Determined Contribution (INDC), yang kemudian berubah menjadi NDC setelah

negara-negara meratifikasi Paris Agreement. Periode pertama NDC mencakup tahun 2020 – 2030. Informasi yang dikumpulkan dari NDC berbagai negara Pihak yang dilaporkan kepada UNFCCC akan diolah untuk menentukan apakah aksi-aksi yang yang akan dilakukan oleh negara-negara tersebut telah cukup untuk mencapai target Paris Agreement. Walaupun demikian tidak saja target penurunan emisi yang dihasilkan dari aksi-aksi yang direncanakan yang mendapatkan perhatian, melainkan juga tenggat terjadinya puncak emisi (peak

emission) dan laju penurunan emisinya.

“Nationally Determined Contribution (NDC) adalah

komitmen strategi dan rencana aksi mitigasi (dan adaptasi) sebuah negara sebagai bentuk

kontribusinya dalam rangka mencapai target

Paris Agreement. Nationally Determined Contribution (NDC) adalah

instrumen penting untuk mengukur upaya mitigasi dan adaptasi paska 2020 untuk tujuan dan target yang ditetapkan oleh

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 9 Sebagaimana telah disebutkan pada bab sebelumnya bahwa target penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia periode 2020-2030 yang tertuang dalam dokumen

Nationally Determined Contribution (NDC) sebesar 29% dari scenario business as usual (BAU) dengan upaya sendiri sampai 41 % (-38%) dengan bantuan

internasional (conditional).

Untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca tersebut, Pemerintah Indonesia telah menyusun sembilan (9) strategi, yaitu mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Membangun rasa memiliki dan komitmen pemerintah pusat dan aktor non pemerintah pusat

2. Membangun kerangka implementasi dan jejaring komunikasi untuk koordinasi dan membangun sinergi, memperkokoh kelembagaan dan meningkatkan peran serta aktor non pemerintah pusat

3. Membangun kondisi pemungkin dalam bentuk kebijakan dan peraturan serta perencanaan

4. Meningkatkan kapasitas SDM dan kelembagaan 5. Kebijakan Satu Data GRK

6. Menyusun kebijakan, perencanaan dan program intervensi

7. Menyusun pedoman implementasi NDC 8. Mengimplementasikan NDC

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 10

Sektor Kontribusi Terbesar dalam Target Penurunan

Emisi Gas Rumah Kaca dan Pendanaannya

Berdasarkan skenario BAU, pada 2030 emisi GRK dari lima sektor ekonomi diperkirakan mencapai 2.898 MtCO2e. Berdasarkan skenario BAU tersebut, dua sektor terbesar yaitu sektor energi sebanyak 1.669 MtCO2e (58%), dan sektor kehutanan dan lahan sebesar 714 MtCO2e (24,8%) dari keseluruhan emisi (tabel 1). Terdapat dua skenario penurunan emisi yaitu Counter Measure 1 (CM1) dan

Counter Measure 2 (CM2). Dari dua pendekatan tersebut didapatkan penurunan

emisi sebesar 0,834 GtCO2e atau 29% , dan 1.08 GtCO2e atau 38% dari total emisi BAU. Sektor energi menyumbang penurunan 11% dengan CM1 dan 14% dengan CM2. Adapun kehutanan dan lahan menghasilkan penurunan 17,2% dengan CM1 dan 23% dengan CM2.

 Sektor Kehutanan

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa tingkat emisi gas rumah kaca secara Business As Usual (BAU) untuk sektor kehutanan sebesar 647 MTon CO2e pada tahun 2010 kemudian meningkat menjadi 714 MTon CO2e pada tahun 2030 dengan pertambahan tiap tahun sebesar 0,5%. Peningkatan emisi gas rumah kaca tersebut terjadi jika tidak dilakukan aksi mitigasi sampai tahun 2030 (Gambar 1).

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 11 Pada tahun 2030, Indonesia mentargetkan dapat menurunkan emisinya sampai 217 MTon CO2e dengan upaya sendiri, atau 64 MTon CO2e dengan bantuan luar negeri. Dengan tingkat emisi BAU sebesar 714 MTon CO2e, maka sektor kehutanan ditargetkan mampu menurunkan emisinya sebesar 70% dengan upaya sendiri atau 91% dengan bantuan luar negeri.

Ini merupakan target yang sangat ambisius mengingat pembangunan sektor kehutanan juga masih memerlukan upaya-upaya pemanfaatan hasil hutan terutama kayu dan kegiatan pembangunan lainnya yang berpotensi untuk melepaskan emisi karbon ke atmosfer. Dengan demikian diperlukan strategi penurunan emisi yang komprehensif dan mampu dicapai serta mobilisasi sumber daya, terutama dana, untuk melaksanakan strategi tersebut.

647 672 714 50 150 250 350 450 550 650 750 Ti n gk at Em isi ( M tC O 2 e ) Tahun

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 12 Strategi utama sektor kehutanan dalam mencapai target penurunan emisi gas rumah kacanya, yaitu:

 Menahan laju deforestasi agar tidak melebihi: o 450.000 ha/tahun pada periode 2011 – 2020 o 325.000 ha/tahun pada periode 2021 – 2030

 Meningkatkan penerapan prinsip pengelolaan hutan berkelanjutan, baik di hutan alam maupun di hutan tanaman.

 Merehabilitasi 12 juta ha lahan terdegradasi pada tahun 2030 atau 800.000 ha/tahun dengan survival rates sebesar 90%.

 Merestorasi 2 juta ha gambut pada tahun 2030 dengan tingkat kesuksesan sebesar 90%.

Untuk dapat mencapai target NDC di sektor kehutanan, maka empat strategi utama pencapaian NDC tersebut perlu didetilkan ke dalam target tahunan. Penetapan target tahunan ini diperlukan untuk memberikan pedoman dalam penghitungan penurunan emisi per kegiatan per tahun dan memberikan basis bagi penghitungan biaya kegiatan penurunan emisi tersebut.

a. Kebutuhan Pendanaan Penurunan Laju Deforestasi dan Degradasi

Dengan menggunakan data dari FREL dan target yang telah ditentukan dalam strategi penurunan laju deforestasi, maka dapat dibangun skenario penurunan emisi mulai tahun 2018 hingga 2030 sebagaimana dipaparkan pada Tabel 2. Angka 450.000 ha/tahun dan 325.000 ha/tahun ini juga telah mempertimbangkan aspek degradasi sebesar 507.000 ha/tahun. Dengan demikian upaya mencegah degradasi dari hutan primer menjadi hutan sekunder telah dicakup dalam target kuantitatif tersebut. “Laju deforestasi Indonesia berdasarkan FREL adalah 920.000 ha/tahun. Laju deforestasi berdasarkan strategi NDC adalah 450.000 ha/tahun pada periode 2011 – 2020 dan 325.000 ha/tahun pada periode 2021 – 2030”

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 13 Tabel 2 Target Penurunan Emisi per tahun dari Upaya Mencegah Deforestasi dan

Degradasi 2018 – 2030

Tahun ke- Tahun Target NDC (Juta Ha) BAU (Juta Ha)*

Target Penurunan Luasan (Juta Ha) Emisi

(MtCO2e)** 1 2018 0,450 0,919 0,469 149,6 2 2019 0,450 0,919 0,469 149,6 3 2020 0,450 0,919 0,469 149,6 4 2021 0,325 0,919 0,594 189,5 5 2022 0,325 0,919 0,594 189,5 6 2023 0,325 0,919 0,594 189,5 7 2024 0,325 0,919 0,594 189,5 8 2025 0,325 0,919 0,594 189,5 9 2026 0,325 0,919 0,594 189,5 10 2027 0,325 0,919 0,594 189,5 11 2028 0,325 0,919 0,594 189,5 12 2029 0,325 0,919 0,594 189,5 13 2030 0,325 0,919 0,594 189,5 Keterangan:

* Dari FREL ** diturunkan dari Emisi BAU (FREL) --- 0,919 juta ha ≈ 293,2 MtCO2e

Kegiatan yang diidentifikasi terkait dengan upaya penurunan emisi dalam bentuk penurunan laju deforestasi antara lain adalah:

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 14 Pembangunan HTI diharapkan dapat menekan konsumsi kayu dari hutan alam. Dengan demikian tekanan terhadap hutan alam menjadi berkurang. Pada akhirnya peningkatan produksi kayu dari HTI akan mencegah deforestasi di hutan alam. Biaya penurunan deforestasi dan degradasi dapat didekati dari beberapa kegiatan sebagai berikut:

(1) Pembangunan KPH; (2) Pengamanan Hutan;

(3) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan; (4) Pembangunan HTI dan HTR;

(5) Restorasi Ekosistem di Kawasan Konservasi; dan (6) Perhutanan Sosial.

Penundaan Konversi Hutan Produski ke penggunaan lain

•Peningkatan Produktivitas HTI

Peningkatan Pembangunan HTI

•Pembangunan HTR •Pembangunan HKm •Pembangunan Hutan Desa •Pembangunan Hutan Adat

Perhutanan Sosial

Penerapan Reduced Impact Logging (RIL) di IUPHHK-HA:

•di hutan produksi dengan membentuk KPHP •di hutan lindung dengan membentuk KPHL •di hutan konservasi dengan melakukan

Pencegahan perambahan dan pembalakan liar :

•Melakukan patroli terpadu di hutan produksi •Membentuk KPHL di hutan lindung

•Melakukan patroli di kawasan konservasi

Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 15 Khusus untuk kegiatan pembangunan HTI/HTR dan kegiatan penerapan reduced

impact logging (RIL), keduanya memiliki komponen biaya yang dikeluarkan oleh

para pemegang izin. Dengan demikian perlu memisahkan antara biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui APBN dengan biaya yang dikeluarkan oleh swasta melalui investasi dan kegiatan operasional perusahaan. Hasil pemilahan data APBN KLHK (termasuk Kementerian Kehutanan) terkait dengan kegiatan-kegiatan tersebut di atas dipaparkan pada Tabel 3.

Tabel 3 Penghitungan/ Pemilahan Anggaran KLHK Terkait Upaya Pencegahan Deforestasi dan Degradasi Hutan

Kegiatan Alokasi Anggaran (Rp Juta)

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Pembangunan KPH 13.201 28.173 94.282 205.781 145.527 281.588 231.2267 197.895 Pengamanan Hutan 63.973 55.686 117.937 64.485 27.769 122.884 82.124 91.798 Pengendalian Kebakaran 189.583 99.287 97.7556 118.075 52.805 50.2567 22.813 60.091 Pengendalian dan Pemantauan Pembangunan HTI dan HTR 39.735 18.240 7.785 13.661 4.651 8.795 40.160 818 Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi 2.254 3.003 2.762 880 4.705 16.328 Perhutanan Sosial 23.598 60.115 44.344 42.331 33.720 37.387 12.882 8.115 Hutan Desa 24.964 17.866 16.809 12.908 2.987 3.820 1.963 HKm 35.150 26.478 25.523 20.812 28.142 2.883 4.392 Hutan Adat 6.258 6.180 1.759 Total 330.091 263.755 365.107 447.095 265.350 505.614 405.534 358.717

Tabel 3 tersebut kemudian dibandingkan dengan laju deforestasi pada tahun yang sama. Namun demikian, karena keterbatasan data, maka hanya diperoleh

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 16 informasi angka deforestasi pada tahun 2011 – 2014, dengan demikian maka anggaran yang dibandingkan dengan angka laju deforestasi adalah pada periode 2011 – 2014. Dengan membandingkan kedua data tersebut, maka diperoleh basis estimasi biaya yang dialokasikan melalui APBN untuk penurunan deforestasi secara nasional sebagaimana dipaparkan pada Tabel 4.

Tabel 4 Penghitungan Biaya Penurunan Laju Deforestasi dan Degradasi Hutan No

.

Komponen Penghitungan Tahun

2011 2012 2013 2014

A Anggaran terkait Pengendalian Deforestasi dan Degradasi Hutan (Rp Juta)

263.755 365.107 447.095 265.350

B Luas Deforestasi (ha) 450.000 610.000 727.981 170.626 C Rata-rata deforestasi 1990 –

2012* (ha)

920.000 920.000 920.000 920.000 D Penurunan laju deforestasi**

(ha)

470.000 310.000 192.019 749.374 E Biaya penurunan laju

deforestasi*** (Rp/ha)

561.181 1.177.766 2.328.392 354.096 Keterangan:* Dari FREL Nasional; ** D = C – B; *** E = A/D

Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa alokasi anggaran penurunan laju deforestasi dan degradasi hutan yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui mekanisme APBN adalah sekitar Rp 1,1 juta/ha. Jika angka ini dimasukkan ke dalam target NDC dan dengan mempertimbangkan rata-rata inflasi 10 tahun terakhir (2008 – 2017) yang sebesar 5,71%, maka diperoleh gambaran sebagaimana dipaparkan pada Tabel 5.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 17 Tabel 5 Penghitungan Pembiayaan Penurunan Emisi dari Penurunan Laju Deforestasi yang dialokasikan ABN berdasarkan rata-rata tahun 2011 - 2014

Tahun Target Penurunan Deforestasi

(Ha)

Biaya (Rp Milyar) Peningkatan Stok Karbon (MtCO2e) 2018 0,469 545 149,6 2019 0,469 576 149,6 2020 0,469 609 149,6 2021 0,594 644 189,5 2022 0,594 681 189,5 2023 0,594 720 189,5 2024 0,594 761 189,5 2025 0,594 804 189,5 2026 0,594 850 189,5 2027 0,594 899 189,5 2028 0,594 950 189,5 2029 0,594 1.004 189,5 2030 0,594 1.062 189,5 Total 10.107 2.344

Dengan demikian, dengan menggunakan basis data alokasi anggaran 2011 – 2014, maka selama periode 2018 – 2030 diperlukan dana sekitar Rp 10,1 Trilyun untuk mempertahankan laju deforestasi sebesar 450.000 ha/tahun hingga 2020 dan 325.000 ha/tahun dari 2021 sampai 2030. Namun demikian, penghitungan ini baru berdasarkan alokasi anggaran, belum mencerimankan/kebutuhan dana yang sebenarnya karena beberapa komponen untuk kegiatan tersebut belum masuk dalam alokasi yang mampu disediakan oleh Pemerintah. Diharapkan upaya ini dapat mengurangi emisi sebesar 2,3 GTon CO2e. Dengan kata lain, pembiayaan

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 18 penurunan emisi dari penurunan laju deforestasi yang hanya sekitar Rp 4.310/tCO2e.

Selanjutnya, untuk memperoleh gambaran lebih lengkap terkait besarnya biaya untuk memastikan bahwa kegiatan penurunan laju deforestasi dapat dicapai, perlu memasukkan biaya pembangunan HTI dan biaya penerapan RIL yang dikeluarkan oleh swasta serta biaya-biaya lain yang terkait penciptaan kondisi pemungkin (enabling environment). Namun karena keterbatasan informasi, biaya penerapan RIL tidak dapat diperoleh, sehingga tidak dimasukkan ke dalam perhitungan dan RIL juga dikeluarkan dari perhitungan potensi penurunan emisi dari upaya mencegah degradasi hutan.

Biaya pembangunan HTI dapat didekati dari standar biaya pembangunan HTI sebagaimana telah ditetapkan melalui Permenhut No. 64/Menhut-II/2009 tentang Standard Biaya Pembangunan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat. Dalam Permenhut tersebut disebutkan bahwa rentang standar biaya pembangunan HTI berkisar antara Rp. 12 – 16 juta/ha, atau dengan nilai tengah Rp. 14 juta/ha. Dengan melakukan penyesuaian menggunakan indeks harga

Asumsi Penghitungan Pembiayaan NDC Sektor Kehutanan

Alokasi anggaran ABPN untuk kegiatan-kegiatan terkait perubahan iklim yang sejalan dengan strategi implementasi NDC sektor kehutanan diasumsikan sebagai pembiayaan penurunan emisi gas rumah kaca. Alokasi anggaran APBN tersebut belum merefleksikan kebutuhan pembiayaan kegiatan-kegiatan perubahan iklim secara ideal karena mungkin belum/tidak memasukkan komponen pembiayaan untuk menciptakan/menjaga kondisi pemungkin (enabling condition), komponen-komponen intangible yang belum divaluasikan ataupun modal yang sudah dimiliki dan tidak dimasukkan kembali dalam penghitungan.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 19 produsen (BPS, 2017), maka untuk tahun 2017 diperkirakan biaya pembangunan HTI adalah sekitar Rp. 19,5 juta/ha.

Dengan asumsi bahwa target pembangunan HTI per tahun adalah 300.000 ha, maka pada periode 2018 – 2030 akan dibangun sekitar 3,9 juta ha HTI. Dengan demikian diperlukan dana sekitar Rp. 76 triliun belum termasuk dana yang diperlukan untuk penciptaan/ menjaga enabling condition. Dana sebesar ini diperlukan untuk memastikan bahwa upaya menjaga tingkat deforestasi sebesar 450.000 ha/tahun hingga tahun 2020 dan 325.000 ha/tahun setelah 2020 hingga 2030.

b. Kebutuhan Pendanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Strategi utama NDC terkait dengan rehabilitasi hutan dan lahan adalah dengan menargetkan untuk merehabilitasi areal seluas 800.000 ha/tahun dengan target total adalah 12 juta ha hingga tahun 2030 dengan rata-rata tingkat hidup sebesar 90%.. Dalam periode 6 tahun, data realisasi rehabilitasi hutan dan lahan (termasuk kegiatan reboisasi) pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 menunjukkan bahwa rata-rata capaian rehabilitasi lahan dan hutan mencapai 490.000 ha per tahun (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015; 2016).

Dengan mengacu pada target NDC dan rata-rata realisasi RHL tersebut, maka dapat disusun skenario penurunan emisi dari kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan sebagaimana

dipaparkan pada Tabel 6. Dalam hal ini angka rata-rata realisasi RHL dianggap sebagai Business As Usual (BAU). Skenario ini juga mengasumsikan terjadinya kenaikan survival rate secara incremental dari 30% pada tahun 2018 hingga mencapai 90% di tahun 2030.

“Rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan,

memertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga”

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 20 Tabel 6 Simulasi Penurunan Emisi dari Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Tahun ke-

Tahun Target NDC (Juta Ha) BAU (Juta Ha) Target Peningkatan Penanaman Penanaman Survival Rate* Luas Efektif Penanaman Survival Rate* Luas Efektif Luasan Efektif (Juta Ha) Peningkatan Stok Karbon** (MtCO2e) 1 2018 0,80 30% 0,24 0,49 30% 0,15 0,09 10,64 2 2019 0,80 35% 0,28 0,49 30% 0,15 0,13 15,21 3 2020 0,80 40% 0,32 0,49 30% 0,15 0,17 19,79 4 2021 0,80 45% 0,36 0,49 30% 0,15 0,21 24,37 5 2022 0,80 50% 0,40 0,49 30% 0,15 0,25 28,94 6 2023 0,80 55% 0,44 0,49 30% 0,15 0,29 33,52 7 2024 0,80 60% 0,48 0,49 30% 0,15 0,33 38,09 8 2025 0,80 65% 0,52 0,49 30% 0,15 0,37 42,67 9 2026 0,80 70% 0,56 0,49 30% 0,15 0,41 47,25 10 2027 0,80 75% 0,60 0,49 30% 0,15 0,45 51,82 11 2028 0,80 80% 0,64 0,49 30% 0,15 0,49 56,40 12 2029 0,80 85% 0,68 0,49 30% 0,15 0,53 60,97 13 2030 0,80 90% 0,72 0,49 30% 0,15 0,57 65,55 Total 10,40 6,24 6,37 1,91 4,33 495,23

* Asumsi ** Diturunkan dari nilai emisi degradasi hutan (FREL) --- 0,507 juta ha ≈ 58,0 MtCO2e

Penghitungan biaya untuk mencapai NDC dengan strategi rehabilitasi hutan dan lahan dapat didekati dari pengeluaran pemerintah (KLHK) dalam melaksanakan kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan (termasuk reboisasi). Tabel 7 memaparkan capaian rehabilitasi lahan dan hutan serta pengeluaran KLHK (terutama Ditjen RLPS/PDASPS/PDASHL) dari tahun 2010 – 2015.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 21 Tabel 7 Capaian Rehabilitasi Hutan dan Lahan serta Reboisasi 2010 - 2015

Tahun Luas RHL+ RB (Ha) Pembiayaan APBN (Rp.)

2010 271.152 1.037.457.241.000 2011 590.185 332.030.283.000 2012 610.510 197.230.376.000 2013 769.723 235.134.862.000 2014 475.792 91.126.208.000 2015 224.658 134.452.953.000 Total 2.942.020 2.027.431.923.000

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2015), (2016)

Berdasarkan Tabel 7 di atas terlihat bahwa pada tahun 2010 dana untuk rehabilitasi yang disediakan oleh APBN jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sesudahnya, yaitu sekitar Rp. 1 triliun. Pada tahun 2010, program yang digalakkan oleh Kementerian Kehutanan terkait dengan rehabilitasi melalui Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) adalah Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumberdaya Alam yang dilakukan dengan dua kegiatan pokok yaitu perencanaan dan pembinaan rehabilitasi, dan rehabilitasi lahan kritis DAS prioritas. Sementara pada tahun 2011, RLPS berganti nama menjadi Ditjen Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial (BPDASPS) dan programnya pun berubah menjadi Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS Berbasis Pemberdayaan Masyarakat. Sesuai dengan namanya, dalam program ini kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi poin penting dalam kegiatan rehabilitasi. Keterlibatan dan peran aktif masyarakat turut menjadi perhatian pemerintah pusat yang diharapkan dapat mendongkrak tingkat keberhasilan kegiatan rehabilitasi dengan meningkatnya areal tanaman hasil rehabilitasi lahan kritis pada DAS prioritas. Dalam program Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, kegiatan yang dilakukan lebih fokus pada pembangunan perencanaan, penyelenggaraan RHL, pengembangan kelembagaan dan evaluasi daerah aliran sungai dan penyelenggaraan pelatihan baik untuk aparatur

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 22 Kementerian Kehutanan maupun untuk pemerintah tingkat daerah dan masyarakat. Terkait dengan hal tersebut, hampir sekitar 60% dari alokasi dana APBN tahun 2010 diperuntukkan untuk komponen kegiatan pendukung rehabilitasi seperti: inventarisasi dan identifikasi sosial ekonomi budaya pada lokasi, membangun kelembagaan di tingkat pusat dan daerah, membentuk kelompok tani rehabilitasi, pembinaan kelembagaan, fasilitasi pengembangan kelembagaan, sosialisasi penanaman, bimbingan teknis dan monitoring evaluasi penanaman rehabilitasi, pendampingan kelompok tani, dan pengadaan barang/jasa bangunan konservasi. Sementara di atas tahun 2010 kegiatan lebih difokuskan pada kegiatan penanaman/reboisasi pada lahan sangat kritis dan kritis. Dengan demikian dapat difahami bahwa anggaran pada tahun 2010 jauh melebihi anggaran-anggaran tahun-tahun setelahnya.

Dengan membagi total anggaran 2010 – 2015 dengan capaian luas lahan yang direhabilitasi pada periode 2010 – 2015, maka diperoleh angka rata-rata pembiayaan rehabilitasi hutan dan lahan, yaitu sekitar Rp 689.129/ha. Jika angka ini dimasukkan ke dalam target NDC dan dengan mempertimbangkan rata-rata inflasi 10 tahun terakhir (2008 – 2017) yang sebesar 5,71%, maka diperoleh gambaran sebagaimana dipaparkan pada Tabel 8.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 23 Tabel 8 Penghitungan pembiayaan Penurunan Emisi dari Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Tahun Penanaman (Ha) Biaya (Rp Milyar) Peningkatan Stok Karbon (MtCO2e)

2018 800.000 584 10,64 2019 800.000 617 15,21 2020 800.000 652 19,79 2021 800.000 689 24,37 2022 800.000 729 28,94 2023 800.000 770 33,52 2024 800.000 814 38,09 2025 800.000 861 42,67 2026 800.000 910 47,25 2027 800.000 962 51,82 2028 800.000 1.017 56,40 2029 800.000 1.075 60,97 2030 800.000 1.136 65,55 Total 10.400.000 10.815 495,23

Dengan demikian apabila menggunakan asumsi alokasi anggaran tahun 2010 – 2015, maka selama periode 2018 – 2030 diperlukan pendanaan ABPN sekitar Rp 10,8 Trilyun untuk merehabilitasi lahan seluas 10,4 juta ha yang dapat mengurangi emisi sebesar 495,23 MTon CO2e apabila enabling condition yang diperlukan telah tercipta. Dengan kata lain, pembiayaan penurunan emisi dari rehabilitasi lahan dan hutan hanya sekitar Rp 21.837/tCO2e.

c. Kebutuhanan Pendanaan Restorasi Lahan Gambut

Strategi utama NDC terkait dengan restorasi lahan gambut adalah dengan menargetkan untuk merestorasi areal seluas 2 juta ha hingga tahun 2030 dengan tingkat kesuksesan sebesar 90%. Skenario penurunan emisi dari upaya restorasi gambut dipaparkan pada Tabel 9.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 24 Tabel 9 Skenario Penurunan Emisi dari Restorasi Lahan Gambut

Tahun ke- Tahun

Target NDC (Juta Ha) Luas Restorasi Tingkat

Kesuksesan Luas Efektif*

Pengurangan Emisi** (MtCO2e) 1 2018 0,15 90% 0,135 79,25 2 2019 0,15 90% 0,135 79,25 3 2020 0,15 90% 0,135 79,25 4 2021 0,15 90% 0,135 79,25 5 2022 0,15 90% 0,135 79,25 6 2023 0,15 90% 0,135 79,25 7 2024 0,15 90% 0,135 79,25 8 2025 0,15 90% 0,135 79,25 9 2026 0,15 90% 0,135 79,25 10 2027 0,15 90% 0,135 79,25 11 2028 0,15 90% 0,135 79,25 12 2029 0,15 90% 0,135 79,25 13 2030 0,15 90% 0,135 79,25 Total 1,95 1,755 1.030,19

*Asumsi BAU = 0** Sekitar 160 t C atau 587 t CO2/ha akan teremisi dalam proses pembukaan hutan gambut (Agus dan Subiksa, 2008)

Menurut Badan Restorasi Gambut (BRG), biaya restorasi gambut mencapai Rp 12 juta/hektar (Antaranews.com, 2016). Dengan demikian, kebutuhan dana restorasi 2 juta hektar lahan gambut untuk mencapai NDC, dengan mempertimbangkan rata-rata inflasi 10 tahun terakhir (2008 – 2017) yang sebesar 5,71%, hingga tahun 2030 mencapai Rp 36 Triliun. Dengan estimasi total emisi yang dapat dikurangi sekitar 1 GTon CO2e, maka biaya penurunan emisi dari restorasi lahan gambut mencapai Rp 36.000/ton CO2e.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 25

d. Kesenjangan Pendanaan Upaya Pencapaian NDC Sektor Kehutanan

Berdasarkan perhitungan biaya penurunan emisi di sektor kehutanan sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, total biaya (pencegahan deforestasi, rehabilitasi hutan, dan restorasi gambut) yang diperlukan untuk mencapai taget NDC sektor kehutanan pada periode 2018 – 2030 mencapai Rp 57,1 Trilyun, atau rata-rata Rp 4,39 Trilyun/tahun. Faktanya, dana yang tersedia untuk kegiatan yang terkait erat, baik langsung maupun tidak langsung, dengan kegiatan penurunan emisi di sektor kehutanan belum mencukupi kebutuhan tersebut. Tabel 10 memaparkan ketersediaan dana APBN untuk kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penurunan emisi di sektor kehutanan.

Tabel 10 Ketersediaan Dana APBN untuk Kegiatan Penurunan Emisi di Sektor Kehutanan

Tahun Ketersediaan Dana (Rp.)

Penurunan Deforestasi Rehabilitasi Lahan Total

2010 330.090.624.000 1.037.457.241.000 1.367.547.865.000 2011 263.754.948.000 332.030.283.000 595.785.231.000 2012 365.107.442.000 197.230.376.000 562.337.818.000 2013 447.095.002.000 235.134.862.000 682.229.864.000 2014 265.350.004.000 91.126.208.000 356.476.212.000 2015 505.614.424.000 134.452.953.000 640.067.377.000 Tabel 10 menunjukkan bahwa ketersediaan dana untuk kegiatan penurunan emisi dalam mencapai NDC adalah sekitar Rp 700 milyar/tahun atau Rp 0,7 trilyun/tahun. Masih ada gap sekitar Rp 3,69 Trilyun per tahun jika dibandingkan dengan kebutuhan dana untuk melaksanakan NDC. Lebih lanjut, dana tersebut masih di luar dana investasi swasta untuk membangun HTI, melaksanakan RIL atau melakukan restorasi ekosistem di hutan produksi.

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 26  Sektor Energi

Sumber emisi GRK di sektor energi mencakup emisi GRK dari pembakaran energi primer dan proses transformasi energi pada sub-sektor pembangkit listrik, sub-sektor transportasi, dan pemanfaatan energi pada sub-sektor industri, dan penggunaan energi di sektor-sektor komersial, perumahan, serta fasilitas minyak dan gas. Emisi GRK dari sektor pembangkitan listrik, transportasi, dan industri, mendominasi hampir 95% dari total emisi sektor energi. Penurunan emisi GRK dalam NDC sektor energi 2020 – 2030 diimplementasikan dengan melanjutkan serangkaian strategi dan aksi mitigasi yang telah dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan Perpres No. 61/2011 tentang Rencana Akasi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. Sejumlah aksi mitigasi tersebut mencakup, antara lain:

a. Penerapan manajemen energi untuk pengguna padat energi b. Penerapan program kemitraan konservasi energi

c. Peningkatan efisiensi peralatan rumah tangga

d. Penyediaan dan pengelolaan energi terbarukan dan konservasi energi, diantaranya: PLTP, PLTMH, PLTM, PLTS, PLTB, PLT Biomassa, PLT Hybrid, DME e. Pemanfaatan biogas

f. Penggunaan gas sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan g. Pengingkatan jumlah sambungan rumah tangga yang teraliri gas pipa h. Reklamasi lahan paska tambang

Aksi mitigasi tersebut, ditambah lagi dengan sejumlah aksi mitigasi lainnya yang telah dilaksanakan, yaitu:

a. Pemanfaatan biodiesel

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 27 c. Aksi mitigasi di sektor ketenagalistrikan: pembangunan PLTA, penggunaan clean coal technology untuk pembangkit listrik, penggunaan co-generation pada pembangkit listrik.

d. Program konversi minyak tanah ke LPG

e. Pembangunan penerangan jalan umum cerdas (PJU): pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya, dan retrofitting lampu LED.

Rencana aksi mitigasi dan pencapaiannya dalam rangka pelaksanaan Perpres No. 61/2011 dan kegiatan-kegiatan tambahan diklaim oleh Kementerian ESDM hingga 2016 mencapai 33 MtCO2e (tabel 11).

Menuju Operasionalisasi Pendanaan Iklim Page 28 Tabel 11 Rencana Aksi Mitigasi Sektor Energi berdasarkan Perpres No. 61/2011

NO AKSI MITIGASI (RAN/RAD-GRK)

PROGRAM/KEG IATAN (DIPA/DIPDA)

Sampai dengan Tahun 2016 Capaian Kegiatan (Jumlah &

Unit)

Realisasi Penurunan Emisi (Ton CO2e)

1 Penerapan mandatori manajemen energi untuk pengguna padat energi

DIPA 120,000

Perusahaan 3.428.916,51 2 Penerapan program kemitraan konservasi energy DIPA 10,000 Obyek 0,05 3 Peningkatan efisiensi peralatan rumah tangga

(label/standar)

DIPA 2.752,540

GWh 6.277.094,50 4 Penyediaan dan Pengelolaan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi

- PLTP Swasta 128,000 MW 621.718,72 - PLTMH DIPA 6,330 MW 34.706,49 - PLTM Swasta 20,000 MW 88.529,44 - PLTS DIPA 24,745 MW 7.374,27 - PLT Bayu DIPA 0,000 MW 0,00 - PLT Hybrid DIPA 3,673 MW 1.803,60 - PLT Biomassa Swasta 138,600 MW 654.319,00 - Desa Mandiri Energi (DME) DIPA 0,000 Desa 31.096,00 5 Pemanfaatan Biogas DIPA 8.206.488,000 m3 11.814,00 6 Penggunaan gas alam sebagai bahan

bakarangkutan umum perkotaan

DIPA 3,380 MMSCFD 132.896,00 7 Peningkatansambunganrumahyangteraliri gasbumi melaluipipa DIPA 88.915,000 SR 42.135,00 8 Reklamasi lahan pasca tambang Swasta 6.876,720 Ha 1.959.615,40 Total Mitigasi GRK Sesuai Perpres No. 61/2011 13.292.018,98 9 Pemanfaatan Biodiesel Swasta 3.007.522,00 Kilo Liter 4.480.005,00 10 Penerapan Inpres No. 13 Tahun

Dokumen terkait