• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG SUBPOENA POWER DALAM

A. Kerangka Konseptual

3. Dewan Perwakilan Rakyat

Dewan Perwakilan Rakyat merupakan salah satu lembaga legislatif yanga ada di Indonesia, legislatif menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah berwenang membuat Undang-Undang atau dewan yang berwenang membuat Undang-Undang. Lembaga Legislatif jika mengacu pada Teori dari Monstesquie dalam bukunya yang berjudul L’Espirit des lois (The Spirit of Laws) yang membagi 3 cabang kekuasaan yaitu Eksekutif yang berfungsi menjalankan pemerintahan, Legislatif yang berfungsi membuat Undang-Undang, dan Yudikatif sebagai lembaga penegak hukum dan keadilan di dalam suatu pemerintahan , dan salah satu cabang kekuasaaan yang berfungsi untuk membuat Undang-Undang adalah lembaga legislatif. Dalam hal konteks negara Indonesia bahwa Lembaga yang berwenang dalam fungsi legislatif adalah Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Dalam Pasal 20A ayat (1) UUD Tahun 1945 berbunyi bahwa “Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan”. Ternyata didalam lembaga legislatif di Indonesia mempunyai 3 fungsi pokok yang diatur lamgsung di dalam konstitusi, yaitu fungsi legislasi, fungsi pengawasan, dan fungsi anggaran.

1. Fungsi Legislasi

Fungsi legislasi adalah fungsi yang dimiliki oleh lembaga legislatif (DPR) dalam membuat suatu rancangan Undang-Undang. Pada hakikatnya fungsi pertama yang dimiliki oleh lemabaga legislatif ini adalah fungsli legislasi yang bentuk konkretnya adalah fungsi pembentukan Undang-Undang (wetgevende functie atau law making function). Di Indonesia, Undang-Undang dibuat kerjasama antara Presiden dan Dewan Perwakilan

18

Rakyat. Dalam Pasal 20 ayat (1) UUD Tahun 1945 berbunyi bahwa “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan untuk membentuk Undang-Undang” dan juga pada Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan berbunyi

“Penyusunan Prolegnas dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah dan juga pada Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 yang berbunyi “Pembahasan Rancangan Undang-Undang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Presiden atau menteri yang ditugasi”.

Selain Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kewenangan dalam fungsi legislasi juga dimiliki oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) walaupun hanya diberikan untuk ikut dalam pembahasan dan pertimbangan mengenai Rancangan Undang-Undang yang diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) (semi-legislasi). Dalam Pasal 65 ayat (2) huruf e Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan berbunyi “perimbangan kekuasaan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutsertakan DPD” dan juga Pasal 65 ayat (3) berbunyi

“Keikutsertaan DPD dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan hanya pada pembicaraan tingkat I”.

Menurut Jimly8 bahwa pertimbangan yang dilakukan DPD tak ubahnya seperti pertimbangan Dewan Pertimbangan Agung dimasa lalu.

Kedudukan DPR menurutnya hanya bersifat penunjang atau auxiliry terhadap fungsi DPR. Namun setelah munculnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 79/PUU-XII/2014 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) terhadap UUD Tahun 1945 menyatakan bahwa DPD berwenang dalam hal pengajuan dan pembahasan

8 Jimly Assdiqqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Pasca Reformasi, (Jakarta : Buana Imu Populer, 2007), h. 190.

RUU dengan sebuah naskah akademik berkenaan dengan otonomi daerah, pembentukan/pemekaran, pengelolaan sumber daya alam dan kemandirian anggaran DPD. Dalam fungsi legislasi ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) didukung oleh Hak Inisiatif. Hak Inisiatif adalah hak untuk memprakarsai pembuatan Undang dengan mengusulkan Rancangan Undang-Undang.

2. Fungsi Anggaran

Fungsi Anggaran adalah Fungsi yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam hal yang berhubungan dengan pengelolaan keuangan negara dalam hal APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Dewan Perwakilan Rakyat memberikan persetujuan atas RUU (Rancangan Undang-Undang) tentang APBN yang diajukan oleh Presiden, selain itu Dewan Perwakilan Rakyat juga memperhatikan pertimbangan DPD atas RUU tentang APBN, pajak, pendidikan, dan agama. Dalam fungsi anggaran, Dewan Perwakilan Rakyat didukung hak budget. Hak budget adalah Hak Dewan Perwakilan Rakat untuk mengesahkan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

Hal ini diatur dalam konstitusi kita Pasal 23 ayat (3) UUD Tahun 1945 yang berbunyi bahwa “Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun lalu” dan juga dalam Pasal 71 huruf e Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2018 yang berbunyi “ membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan persetujuan atas rancangan Undang-Undang tentang APBN yang diajukan oleh Preisden”.

3. Fungsi Pengawasan

Fungsi pengawasan adalah fungsi yang dimiliki Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam hal pengawasan terhadap pelaksanaan suatu Undang-Undang dan pengejawatan anggaran. Menurut Jimly9 Fungsi Pengawasan

9 Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2013), h. 304.

20

yang dilakukan oleh lembaga legislatif lebih diutamakan dari fungsi lainnya karena pada hakikatnya konsep awal dalam lembaga legislatif merupakan sebagai lembaga perwakilan rakyat (representation) yang bertugas mendengar aspirasi rakyat itu didengar dan memperjuangkannya menjadi kebijakan dalam suatu peraturan (regeling) yang bersifat umum, strrategis dan berdampak luas kepada rakyat. Hal itu juga senada dengan pendapat dari George B Galloway, seorang politikus dari Inggris yang terkenal, ia mengatakan bahwa10 “Not Legislation but control of administration is becoming primary function of the modern congress.” Harold Joseph Laski , seorang ahli teori politik dari Inggris juga mengatakan bahwa “The Function of a parliamentary system is not to legislate, it is natove to expect that 615 men and women can hope to arrive at a coherent polity”.

Selanjutnya Jilmy dalam bukunya menjabarkan secara teoritis fungsi-funfsi pegawasan oleh parlemen atau lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan rakyat dapat dibedakan sebagai berikut :

1) Pengawasan terhadap penentuan kebijakan ( control of policy making) 2) Pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan ( control of policy

executing)

3) Pengawasan terhadap penganggaran dan belanja negara ( control of budgeting)

4) Pengawasan terhadap pelaknsaan anggaran dan belanja negara ( control of budget implementation)

5) Pengawasan terhadap kinerja pemerintahan ( control of goverment performances)

6) Pengawasan terhadap pengangkatan pejabat publik ( control of political appointment of publik officials)

Untuk mendukung dalam Fungsi Pengawasan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dilengkapi dengan serangkaian hak-hak yaitu11 : Hak

10 Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar Demokrasi, Cetakan Ke-2, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012), h. 38.

11 Jimly Asshiddiqie, Format Kelembagaan Negara Dan Pergeseran Kekuasaan Dalam UUD 1945, (Yogyakarta: FH UII Pers, 2002), h. 168.

Interpelasi dan pertanyaan, hak penyelidikan(hak angket) terhadap kasus-kasus dugaan pelanggaran oleh Pemerintah, hak resolusi atau pernyataan pendapat yang mana akan dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut :

a) Hak Interpelasi

Hak Interpelasi adalah hak yang dimiliki Dewan Perwakilan Rakyat untuk memintai keterangan mengenai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah. Dalam Undang Nomor 17 Tahun 2014 juncto Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 mengatur tata cara penggunaan hak ini.

Penggunaan hak ini harus diusulkan paling sedikit 25 orang dan lebih dari 1 fraksi. Usulan tersebut memuat kebijakan yang akan dimintai keterangannya.

Usulan tersebut dapat menjadi interpelasi apabila disetujui dalam rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari setengah jumlah anggota DPR dan disetujui lebih dari setengah jumlah anggota yang hadir. Apabila DPR menerima penjelasan dari Presiden atau pimpinan lembaga berkenaan dengan materi interpelasi, usul hak interpelasi dinyatakan selesai dan materi interpelasi tersebut tidak dapat diaajukan kembali. Apabila DPR menolak penjelasan dari Presiden atau pimpinan lembaga berkenaan dengan materi interpelasi, maka DPR dapat menggunakan hak DPR lainnya.

b) Hak Angket

Menurut KBBI12, Hak Angket adalah Penyelidikan oleh lembaga perwakilan rakyat terhadap kegiatan pemerintah. Hak Angket pertama kali dikenal di Inggris pada pertengahan abad ke-14 dan bermula dari right to investigate and chastice the abuses of administration (hak untuk menyelidiki dan menghukum penyelewenengan-penyelewenangan dalam administrasi pemerintahan) yang kemudial disebut dengan right of impeachment (hak untuk menuntut seorang pejabat karena melakukan pelanggaran jabatan).

Secara historis, Hak Angket dalam lembaga perwakilan di atur secara ekplisit

12 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia : Edisi 4, (Jakarta : Gramedia Pustaka Umum, 2005), h. 69.

22

dalam Ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1950 Pasal 70 tentang Perubahan Konstitusi Republik Indonesia Menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia yang berbunyi “ Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak menyelidiki (enquete), menurut aturan-aturan yang ditetapkan dengan Undang-Undang” Hak ini pertama kali digunakkan oleh Parlemen Inggris pada tahun 1376 yang mengakibatkan pemecatan beberapa pejabat istana karena melakukan penyelewengan keuangan. Sekarang Hak Angket di Inggris dilakukan oleh sebuah komisi hukum khusus yang bertugas menyelidiki kegiatan pemerintahan dan administrasi.13

Dan selanjutnya dalam mengenai Hak Angket diperjelas dalam bagian menimbang (konsideran) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat “bahwa Hak Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengadakan penyelidikan (angket) perlu diatur dengan Undang-Undang”. Menurut Bagir Manan14, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat ini dibentuk saat Indonesia menganut sistem demokrasi parlementer.

Hak Angket ini sangat dibutuhkan oleh lembaga legislatif dalam hal pengawasan terhadap kebijakan pemerintah di bidang eksekutif, sehingga prinsip checks and balances dalam sistem ketatanegaraan Indonesia bisa berjalan lancar. Karena pada dasarnya bahwa lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan rakyat yang mana rakyat yang berdaulat penuh sesuai dengan amanat dari Pasal 1 ayat (3) UUD Tahun 1945. Disini lembaga legislatif melakukan fungsi pengawasan agar kebijakan dan pelaksanaan suatu Undang-Undang yang dibuat untuk kehendak rakyat dan keingiann rakyat yang berdampak luas bagi kehidupan rakyat berjalan dengan baik.

Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan sebagian dari fungsi penegakkan hukum (pro justicia) seperti melakukan pemanggilan paksa dan penyanderaan terhadap pejabat publik yang menolak untuk memberikan keterangan.

13 Arifin Sari Surungganlan Tambunan, Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Menurut UUD 1945, Suatu Studi Analisis Mengenai Pengaturannya Tahun 1966-1997, (Jakarta : Sekolah Tinggi Hukum Militer, 1998), h. 158.

14 Bagir Manan, Membedah UUD 1945, (Malang : UB Press, 2012), h. 86.

c) Hak Menyatakan Pendapat

Hak menyatakan pendapat adalah hak yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyatakan pendapat mengenai kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional, selain itu juga mengenai tindak lanjut dari pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket serta menyatakan pendapat mengenai dugaan bahwa Presiden dan atau Wakil Preisden melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, dan tindak pidana berat lainnya maupun perbuatan tercela Presiden dan atau Wakil Presiden .

Dokumen terkait