• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

G. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan Diabetes Melitus yang ditandai oleh gangguan pada sekresi serta kerja insulin dan paling sering ditemukan. Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 biasanya menderita obesitas dan pada usia dewasa. Faktor etiologi meliputi faktor genetik, usia, obesitas dan kurangnya aktivitas fisik (Gibney, Margetts, Kearney, dan Arab, 2009).

2. Etiologi

Menurut Kaku (2010), Diabetes Melitus Tipe 2 disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan faktor lingkungan. Pada faktor genetik yang berhubungan dengan gangguan sekresi insulin dan rensistensi insulin sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang sering menyebabkan terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2, antara lain obesitas, makan yang berlebih, kurang olah raga, kurang aktivitas fisik dan stress.

3. Faktor risiko

Menurut Perkeni (2011), Faktor risiko pada Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu :

a. Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi adalah 1) Ras dan etnik

2) Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes) 3) Umur. Usia > 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM

4) Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.

b. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi 1) Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2). 2) Kurangnya aktivitas fisik.

3) Hipertensi (>140/90 mmHg).

4) Dislipidemia (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida (> 250 mg/dL). 5) Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi gula dan rendah serat

akan meningkatkan risiko menderita prediabetes/intoleransi glukosa dan Diabetes Melitus Tipe 2.

4. Gejala

Gejala Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu poliuria (kehilangan natrium dan air dalam jumlah besar pada urine), polifagia (makan karena lapar terus), polidipsia (rasa haus dan konsumsi air berlebihan), nokturia (berkemih dua kali atau lebih di malam hari), letargi (terjadi penurunan kesadaran dan pemusatan perhatian serta kesiagaan), penurunan berat badan secara signifikan jarang terjadi. Pada Diabetes Melitus Tipe 2 seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 biasanya sulit sembuh dari luka, lebih mudah terkena infeksi, daya penglihatan semakin buruk, dan umumnya juga menderita hiperlipidemia, hipertensi,

obesitas, dan komplikasi pada pembuluh darah dan syaraf (Sukandar, Andrajati, Sigit, Adnyana, Setiadi, dan Kusnandar, 2009).

5. Patofisiologi

Patofisiologi Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu ditandai melalui dua defek metabolik yaitu (1) berkurangnya kemampuan jaringan perifer berespon

terhadap insulin (resisntesi insulin) dan (2) disfungsi sel β yang bermanifestasi

sebagai kurang adekuatnya sekresi insulin dalam menghadapi resistensi insulin dan hiperglikemia. Resistensi insulin menyebabkan berkurangnya penyerapan glukosa di otot dan jaringan lemak dan ketidakmampuan hormon menekan glukoneogenesis di hati. Disfungsi sel β pada diabetes melitus tipe 2 menyebabkan ketidakmampuan sel-sel beradaptasi terhadap kebutuhan jangka panjang resistensi insulin perifer dan peningkatan sekresi insulin (Kumar, Abbas, dan Fausto, 2010).

6. Pencegahan

Pencegahan untuk Diabetes Melitus Tipe 2 dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya yaitu

a. Pemeriksaan tekanan darah

Bagi masyarakat yang belum pernah mengukur tekanan darah maka dianjurkan melakukan pemeriksaan secara berkala untuk mengukur tekanan darahnya sedikitnya dua tahun sekali (Greenberg, 2014).

b. Pemeriksaan mata

Pada orang dewasa, The American Optometric Association merekomendasikan pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan setidaknya

setiap dua tahun sekali. Hal ini penting dilakukan sekalipun tidak ada keluhan penglihatan apapun (Anonim, 2013).

c. Pemeriksaan test urin

Pemeriksaan test urin kreatinin/rasio albumin serta serum keratin bagi orang dewasa perlu dilakukan secara rutin setiap satu tahun sekali (Harkins, 2008).

d. Pemeriksaan kadar gula darah

Kadar Gula darah pada orang dewasa perlu diperiksa secara rutin berkala setiap satu sampai dua tahun sekali walaupun orang tersebut tidak terkena penyakit diabetes melitus (Harkins, 2008).

e. Gaya hidup olah raga

Olah raga dapat dilakukan secara teratur sekitar 3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit. Olah raga dapat dilakukan dengan bersepeda, berjalan kaki, berenang dan hal tersebut merupakan olah raga yang baik (Perkeni, 2010).

f. Program diet

Diet sehat dianjurkan pada setiap orang dan jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal (Perkeni, 2011).

g. Menghitung kalori makanan

Pada makanan dapat menghitung kalori dengan cara mengalikan jumlah berat (gram) makanan yang dikonsumsi karbohidrat, lemak, dan protein dengan masing-masing faktor pengali, yaitu 4 kcal/gram untuk

karbohidrat, 9 kcal/gram untuk lemak, dan 4 kcal/gram untuk protein (Insel, Ross, McMahon, Bernstein, 2014).

h. Menjaga pola makan

Pola makan perlu dijaga dengan meminimalkan konsumsi gorengan, minuman dan makanan yang mengandung gula yang tinggi seperti kue dan minuman yang manis serta makanan lain yang tinggi lemak dan gula seperti makanan cepat saji (NICE, 2011).

Menurut Perkeni (2010), Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 dibagi menjadi 3 yaitu :

a. Pencegahan primer

Pencegahan primer merupakan upaya untuk seseorang yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk menderita Diabetes Melitus. Pencegahan primer terdiri dari tindakan penyuluhan dan pengelolaan yang ditunjukan untuk kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi terkena Diabetes Melitus.

b. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder merupakan upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyakit komplikasi pada pasien yang telah menderita Diabetes Melitus. Salah satu penyakit komplikasi diabetes melitus yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular, yang merupakan penyebab utama kematian pada penyandang diabetes melitus. Dalam upaya pencegahan sekunder program penyuluhan memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat. Untuk pencegahan sekunder ditujukan terutama pada pasien baru. Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada setiap kesempatan pertemuan berikutnya. c. Pencegahan tersier

Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes melitus yang telah mengalami penyakit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.

7. Komplikasi

Komplikasi Diabetes Melitus dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu komplikasi mikrovaskular seperti gagal ginjal, retinopati, hipertensi, dislipidemia,obesitas dan komplikasi makrovaskular seperti gagal jantung, stroke, peripheral arterial disease, ulser kaki, polyneuropathies (Rios and Fuentes, 2010).

8. Penatalaksanaan

Tujuan utama dari manajemen terapi Diabetes Melitus adalah untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler, untuk memperbaiki gejala, mengurangi angka kematian, dan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Langkah pertama dalam penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 adalah penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. Namun jika belum tercapai maka dapat dilakukan terapi farmakologi berupa insulin atau obat hipoglikemik oral, atau kombinasi keduanya (Brooker, 2009 dan Triplitt, Reasner, and Isley, 2009).

H. Metode CBIA

Metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) adalah metode kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dapat digunakan untuk pengobatan mandiri. Metode ini dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk para ibu rumah tangga agar lebih aktif dalam mencari informasi tentang obat. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh para ibu rumah tangga saja, namun dapat diikuti oleh semua kalangan, seperti bapak-bapak dan para pemuda/pemudi/karang taruna (Suryawati, 2003).

Metode CBIA dilaksanakan dalam diskusi kelompok kecil yang terdiri dari sekitar 6-8 orang. Dalam diskusi kelompok kecil ini terdapat tutor yang bertugas untuk mendampingi dalam diskusi dan terdapat narasumber yang bertugas untuk menjawab masalah yang tidak dapat dijawab dalam kelompok diskusi kecil (Suryawati, 2003).

I. Landasan Teori

Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia dimana Diabetes Melitus tipe 2 dapat dicegah dengan menjaga pola makan sehari-hari harus seimbang dan tidak berlebihan, olah raga secara teratur dan tidak banyak berdiam diri, usahakan berat badan dalam batas normal, dan hindari obat-obatan yang dapat menimbulkan Diabetes Melitus. Tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, dan tindakan dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku.

Pencegahan dan pengelolaan terhadap penyakit Diabetes Melitus dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan melalui edukasi kesehatan. Salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat adalah metode CBIA. Pengukuran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner atau dengan wawancara.

J. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah adanya edukasi dengan metode CBIA mengenai Diabetes Melitus Tipe 2 dapat terjadi peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita dewasa di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan wanita dewasa di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan wanita dewasa di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta Edukasi dengan metode CBIA tentang Diabetes Melitus Tipe 2

K. Hipotesis

Adanya edukasi kesehatan yang dilakukan menggunakan metode CBIA dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan wanita dewasa di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta tentang Diabetes Melitus.

Dokumen terkait