• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Diagnosa Diabetes Mellitus

Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan konsentrasi glukosa

darah. Untuk memastikan diagnosa DM, pemeriksaan glukosa darah dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya (Purnamasari, 2007). Guna penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (wholeblood), vena, ataupun angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer (Perkeni, 2011).

Diagnosis dapat ditegakkan melalui tiga cara . Pertama, jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM.

12

pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktik sangat jarang dilakukan. Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (Gula Darah Puasa Terganggu) tergantung dari hasil yang diperoleh.

Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa plasma setelah diberikan beban glukosa 75 gr adalah antara 140-199 mg/dL. Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100-125 mg/dL (Perkeni, 2011).

TTGO dilakukan untuk mendiagnosis diabetes mellitus pada seseorang yang memiliki kadar gula darah dalam batas normal-tinggi atau sedikit meningkat. Uji ini dapat diindikasikan jika terdapat riwayat diabetes dalam keluarga dan memiliki masalah kegemukan (Kee, 2008).

Seseorang dapat dikatakan DM bila didiagnosis dengan kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa yaitu kadar glukosa darah sewaktu (plasma

vena) ≥ 200 mg/dl, kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/dl, kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada Test

2.5 Epidemiologi Diabetes Mellitus 2.5.1 Distribusi dan Frekuensi a. Menurut Orang

Saat ini diperkirakan lebih dari 9% penduduk dunia umur dewasa diatas 18

tahun memiliki penyakit DM ( WHO, 2015). Lebih dari 44,9 % kematian akibat DM terjadi pada usia dibawah usia 60 tahun. Sebanyak 320,5 juta jiwa penduduk umur produktif (20-64 tahun) menderita diabetes dan 94, 2 juta jiwa berusia 65-79 tahun. Penderita DM berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2015 lebih tinggi paada laki- laki. Sebanyak 215, 2 juta jiwa laki-laki menderita DM dan 199, 5 juta jiwa pada perempuan. Pada tahun 2040 diproyeksikan 313, 3 juta jiwa penderita DM berjenis kelamin perempuan dan 328,3 juta jiwa penderita DM laki-laki (IDF, 2015).

Angka kematian akibat DM di Indonesia pada tahun 2012 adalah 61,7 % pada perempuan dan pada laki-laki 71,9 % (WHO, 2014). Proporsi penderita DM berdasarkan Riskesdas (2013) meningkat seiring meningkatnya umur. Proporsi tertinggi pada kelompok usia 65-74 tahun (13,30%), jenis kelamin perempuan 7,7% dan laki-laki 5,6% (Kemenkes, 2014).

Hasil penelitian Riris (2015) di Rumah Sakit Martha Friska menunjukkan proporsi penderita DM dengan komplikasi tertinggi pada kelompok umur 61-70

14

Penderita DM berdasarkan tempat tinggal menurut data Diabetes Atlas menunjukkan angka lebih tinggi di daerah perkotaan (269, 7 jiwa) dibandingkan di daerah pedesaan (145, 1 jiwa). Negara- negara dengan pendapatan menengah kebawah menggambarkan angka kejadian penyakit diabetes di daerah pedesaan adalah 126,7 juta jiwa sedangkan di daerah perkotaan adalah 186,2 juta jiwa. Peningkatan jumlah penderita DM akan diproyeksikan menjadi 477,9 juta di daerah perkotaan dan 163, 9 juta di daerah pedesaan tahun 2040 (IDF, 2015).

c. Menurut Waktu

Menurut WHO (2014) lebih dari 350 juta penduduk dunia menderita DM pada tahun 2012. Penyakit ini menjadi penyebab langsung kematian 1,5 juta penduduk, dengan lebih dari 80% diantaranya terjadi di negara berkembang.

Berdasarkan hasil penelitian Diabetes Atlas 2015 perkiraan jumlah penduduk dewasa diseluruh dunia yang menderita diabetes tahun 2015 terdata 415 juta penduduk di seluruh dunia yang menderita penyakit diabetes mellitus. Jumlah ini akan mengalami peningkatan pada tahun 2040 menjadi 642 juta penduduk (IDF, 2015).

2.5.2 Determinan Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 a. Genetik

Hasil penelitian menunjukkan penderita DM yang diketahui saat remaja memiliki setidaknya ada satu orang tua yang menderita DM atau riwayat penyakit DM dalam keluaga yang diturunkan 45-80% kepada anaknya. Penyakit DM yang diturunkan pada anak penderita DM 74-100% merupakan DM tipe 2 (Ali, 2015).

b. Umur

Manusia umumnya mengalami penurunan fisiologis yang menurun sangat

cepat setelah umur 40 tahun. Penurunan ini yang akan berisiko untuk penurunan fungsi endokrin pankreas untuk memproduksi hormon insulin. Diabetes sering muncul setelah seseorang memasuki umur 45 tahun terlebih pada orang dengan kelebihan berat badan (Riyadi dan Sukarmin, 2008).

c. Gaya Hidup dan Pola Makan

Pola makan di kota-kota telah bergeser dari pola makan tradisional yang

mengandung banyak karbohidrat dan serat dari sayuran, ke pola makan ke barat-baratan, dengan protein, lemak, gula, garam, dan mengandung sedikit serat. Komposisi makanan seperti terutama terdapat pada makanan siap santa yang akhir-akhir ini sangat digemari terutama oleh anak-anak muda (Suyono ,2009).

Pola makan yang tidak teratur dan cenderung terlambat juga akan berperan pada ketidakstabilan kerja pankreas. Pola makan yang menyebabkan kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan risiko terkena diabetes. Malnutrisi dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas meningkatkan gangguan kerja atau resistensi insulin (Riyadi dan Sukarmin, 2008).

Disamping itu cara hidup yang sangat sibuk dengan pekerjaan dari pagi sampai sore hari bahkan kadang-kadang sampai malam hari duduk di belakang

16

d. Obesitas

Diabetes mellitus sangat berkaitan dengan obesitas. Sebagian besar pasein DM tipe 2 adalah obes, dan obesitas itu menyebabkan resistensi insulin. Obesitas mengakibatkan sel-sel beta pankreas mengalami hipertropi yang akan berpengaruh terhadap penurunan produksi insulin (Riyadi dan Sukarmin, 2008). Obesitas menyebabkan penurunan jumlah reseptor insulin sehingga menyebabkan resistensi insulin ( Guntur, 2008).

Obesitas akan mempercepat progresivitas perjalanan penyakit. Gangguan metabolisme glukosa akan berlanjut pada gangguan metabolisme lemak dan protein serta kerusakan berbagai jaringan tubuh (Manaf, 2009). Cara menentukan derajat obesitas ada;ah dengan menggunakan ukuran Body Mass Index atau BMI. Kita menyebutnya IMT (Indeks Massa Tubuh) (Tandra, 2014). Cara menghitung IMT adalah:

Seseorang dapat dikatakan obesitas apabila IMT 25-30 kg/m2 dan berat badan lebih dengan IMT 23-24,9 kg/ m2. Obesitas dapat disebabkan oleh banyak hal. Berat badan dipengaruhi lingkungan, kebiasaan makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kemiskinan. Obesitas pada perempuan berakar pada obesitas masa kecil dan pada laki-laki setelah umur 30 tahun (Sugondo, 2009).

Pada obesitas, jumlah lemak tubuh lebih banyak. Insulin mempunyai peran penting karena berpengaruh baik pada penyimpanan lemak dan sintesis lemak dalam jaringan adiposa. Insulin merangsang lipogenesis pada jaringan arterial dan jaringan adiposa melalui peningkatan produksi acetyl- CoA, meningkatkan

asupan trigliserida dan glukosa. Resistensi insulin dapat menyebabkan terganggunya proses penyimpanan lemak maupun sintesis lmak (Sugondo, 2009). Tahun 2010 proporsi penduduk orang dewasa AS (19,9% ) memiliki kecenderungan diabetes dengan faktor resiko obesitas 84,7%, dan 36,1% dilaporkan tidak aktif secara fisik. Pada tahun 2009 proporsi penduduk 57,1% orang dewasa AS dengan diabetes dilaporkan memiliki hipertensi, merokok sebesar 56,9%, dan 58,4% melaporkan bahwa kolesterol mereka tinggi (CDC, 2009). Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi obesitas penduduk > 18 tahun di Indonesia sebesar 11,7%, sebesar 7,8% pada laki-laki dan 15,5% pada perempuan (Depkes, 2008).

Prinsip penatalaksanaan DM dengan obesitas adalah menurunkan berat badan dengan diet DM. Pilihan obat untuk penderita DM dengan obesitas tidak dengan insulin karena selain mempunyai efek menaikkan berat badan dapat menyebabkan hiperinsulinme. Sebaiknya digunakan obat hipoglikemi oral (Guntur, 2008).

Diet menjadi kunci utama penurunan berat badan. Para ahli mengakui bahwa dengan diet yang benar Anda dapat mengurangi kandungan lemak dalam tubuh. Diet rendah kalori dan tinggi serat perlu dilakukan bersamaan dengan olahraga setiap hari, sehingga tercapai keseimbangan negatif, dimana pembakaran

18

Dokumen terkait