• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagnosa Keperawatan

Dalam dokumen ASKEP Meningitis (Halaman 26-39)

a. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK ditandai dengan penurunan kesadaran, sakit kepala, kaku kuduk, kejang, TD meningkat, gelisah.

b. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan suhu tubuh > 37,5°C, sakit kepala, kelemahan.

c. Risiko cedera berhubungan dengan perubahan fungsi serebral sekunder akibat meningitis.

d. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peningkatan TIK ditandai dngan sakit kepala, nyeri sendi, RR meningkat, TD meningkat, nadi meningkat, wajah meringis kesakitan, skala nyeri >0.

e. Gangguan rasa nyaman (mual) berhubungan dengan peningkatan TIK ditandai dengan mual, muntah, nafsu makan menurun.

f. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat gangguan neuromuskular ditandai dengan tonus otot menurun, kekuatan menangis melemah.

27 3. Rencana Keperawatan

No Diagnosa keperawatan

Tujuan dan

Kreteria Hasil Intervensi Rasional

1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK ditandai dengan penurunan kesadaran sakit kepala, kaku kuduk, kejang, TD meningkat, gelisah. Setelah diberikan askep selama (…x…) jam diharapkan perfusi jaringan serebral adekuat, dengan out come :

 Tingkat kesadaran membaik (GCS: E4 M6 V5).

 Klien tidak sakit kepala.

 Klien tidak kaku kuduk.  Tidak terjadi kejang.  TD dalam batas normal (bayi Mandiri

- Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dlakukan pungsi lumbal.

- Pantau/catat status neurologis, seperti GCS.

- Pantau tanda vital, seperti tekanan darah.

Mandiri

- Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya risiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis segera.

- Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran/luasnya dan perkembangan dari kerusakan serebral.

- Normalnya autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan konstan sebagai dampak adanya fluktuasi pada tekanan darah sistemik.

28 85/54 mmHg, toddler 95/65 mmHg, sekolah 105-165 mmHg, remaja 110/65 mmHg).  Klien tidak gelisah.

- Pantau frekuensi/irama jantung.

- Pantau pernapasan, catat pola dan irama pernapasan.

- Pantau suhu dan juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan.

- Berikan waktu istiahat antara aktivitas perawatan dan batasi lamanya tindakan tersebut.

Kolaborasi :

- Tinggikan kepala tempat tidur sekitar 15-45 derajat sesuai indikasi. Jaga kepala pasien tetap

- Perubahan pada frekuensi dan disritmia dapat terjadi, yang mencerminkan trauma batang otak pada tidak adanya penyakit jantung yang mendasari.

- Tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena.

- Peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen (terutama dengan menggigil), dapat meningkatkan TIK.

- Mencegah kelelahan berlebihan. Aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dapat meningkatkan TIK.

Kolaborasi

- Peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK.

29

berada pada posisi netral.

- Berikan cairan IV dengan alat control khusus.

- Pantau GDA. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.

- Berikan obat sesuai indikasi seperti:

 Steroid; deksametason, metilprednison (medrol).

 Klorpomasin (thorazine).

 Asetaminofen (Tylenol)

- Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK.

- Terjadinya asidosis dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel yang memperburuk iskemia serebral.

 Dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral, dapat juga menurunkan risiko terjadinya “fenomena rebound” ketika menggunakan manitol.

 Obat pilihan dalam mengatasi kelainan postur tubuh atau menggigil yang dapat meningkatkan TIK.

 Menurunkan metabolism selular/ menurunkan konsumsi oksigen dan risiko kejang.

30 2 Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan suhu tubuh > 37,5°C, sakit kepala, kelemahan. Setelah diberikan askep selama (...x…) jam diharapkan suhu tubuh kembali normal dengan out come :

 Suhu tubuh 36-37,5°C

 Klien tidak sakit kepala

 Klien merasa lebih bertenaga

Mandiri

- Monitor temperatur anak setiap 1 sampai 2 jam bila terjadi peningkatan secara tiba-tiba.

- Berikan kompres hangat.

- Pantau asupan dan haluaran cairan.

- Anjurkan orang tua untuk memberikan anak banyak minum.

Kolaborasi

- Berikan obat penurun panas sesuai indikasi.

- Berikan antibiotik, jika disarankan.

Mandiri

- Peningkatan temperatur secara tiba-tiba akan mengakibatkan kejang-kejang.

- Kompres air efektif menyebabkan tubuh menjadi dingin melalui peristiwa konduksi.

- Haluaran cairan yang berlebihan akibat penguapan dapat menyebabkan dehidrasi.

- Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan.

Kolaborasi

- Membantu menurunkan suhu tubuh.

- Antibiotik sesuai dengan petunjuk guna mengobati organisme penyebab. 3 Risiko cedera

berhubungan dengan perubahan

Setelah diberikan askep selama (...x…) jam diharapkan tidak

Mandiri

- Gunakan tempat tidur yang rendah, dengan pagar tempat tidur

Mandiri

- Untuk menghindari cedera saat jatuh dari tempat tidur.

31 fungsi serebral

sekunder akibat meningitis.

terjadi cedera. terpasang.

- Longgarkan pakaian bila ketat. - Gunakan matras pada lantai.

- Diskusikan dengan orang tua perlunya pemantauan konstan terhadap anak kecil.

Kolaborasi

- Berikan terapi antikonvulsan.

- Untuk menghindari sesak saat kejang. - Penggunaan matras pada lantai dapat

meminimalisasi cedera bila terjatuh, misalnya dari tempat tidur.

- Pemantauan yang konstan dibutuhkan untuk menghindari anak dari kecelakaan yang dapat menyebabkan anak cedera.

Kolaborasi

- Untuk mengatasi kejang. 4 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peningkatan TIK ditandai dengan sakit kepala, nyeri

sendi RR meningkat, TD meningkat, nadi meningkat, wajah Setelah diberikan askep selama 3x24 jam diharapkan nyeri teratasi dengan out come :

 Klien tidak sakit kepala  Nadi, RR, dan TD dalam batas normal (Nadi: bayi 120-Mandiri

- Pantau TTV terutama Nadi, RR, dan TD.

- Beri posisi yang nyaman.

- Tingkatkan tirah baring, bantu kebutuhan perawatan diri yang penting.

- Berikan latihan rentang gerak secara tepat dan masase otot.

Mandiri

- Peningkatan TTV mengindikasikan nyeri.

- Posisi yang nyaman membantu mengurangi nyeri.

- Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.

- Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman

32 meringis kesakitan, skala nyeri >0 160x/mnt, toddler 90-140x/mnt, prasekolah 80-110 x/mnt, sekolah 75-100x/mnt, remaja 60-90x/mnt; RR: bayi 35-40 x/mnt, toddler 25-32x/mnt, anak-anak 20-30 x/mnt, remaja 16-19 x/mnt; TD: bayi 85/54 mmHg, toddler 95/65 mmHg, sekolah 105-165 mmHg, remaja 110/65 mmHg).  Wajah tidak meringis kesakitan  Skala nyeri 0

- Ajarkan teknik manajemen nyeri (distraksi).

Kolaborasi

- Berikan analgetik sesuai indikasi.

tersebut.

- Membantu mengurangi nyeri.

Kolaborasi

33 5 Gangguan rasa nyaman (mual) berhubungan dengan peningkatan TIK ditandai dengan mual, muntah, nafsu makan menurun. Setelah diberikan askep selama (...x…) jam diharapkan mual teratasi, dengan outcome:

 Tidak ada mual

 Tidak ada muntah

 Nafsu makan meningkat

Mandiri

- Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering.

- Sajikan makanan dalam keadaan hangat.

- Beri dorongan untuk makan dengan orang lain (keluarga, saudara, atau orang tua).

- Gunakan alat makan yang menarik (misal: piring bergambar, berwarna-warni).

- Pertahankan kebersihan mulut yang baik.

- Singkirkan pemandangan dan bau yang tidak sedap dari area makan.

- Intruksikan orang tua untuk menghindari :

1. Cairan panas atau dingin.

Mandiri

- Untuk mengurangi rasa penuh pada perut setelah makan, sehingga mengurangi mual.

- Untuk menghindari mual.

- Makan dengan ditemani orang lain (keluarga, saudara, orang tua) apat membantu meningkatkan keinginan untuk makan.

- Penggunaan alat makan yang menarik dapat meningkatkan ketertarikan anak untuk makan.

- Kebersihan mulut yang baik dapat meminimalisasi rasa tidak enak saat makan.

- Suasana makan yang nyaman dan bersih dapat mengurangi rasa mual klien ketika makan.

34

2. Makanan yang mengandung lemak dan serat.

3. Makanan berbumbu. 4. Kafein

- Dorong klien untuk istirahat pada posisi semi fowler setelah makan dan mengganti posisi dengan perlahan.

- Ajarkan teknik untuk mengurangi mual :

1. Batasi minum beserta makan. 2. Hindari bau makanan dan

stimuli yang tidak mengenakan.

3. Kendurkan pakaian sebelum makan.

4. Duduk di udara segar.

- Hindari berbaring terlentang sedikitnya 2 jam seteleh makan.

yang mengandung lemak atau serat,makanan berbumbu, dan kafein dapat meningkatkan kerja lambung sehingga akan timbul rasa mual dengan intensitas yang lebih besar. - Posisi semifowler membantu

makanan masuk ke lambung dengan baik dan membantu klien dalam bersendawa.

- Teknik mengurangi rasa mual akan sangat membantu klien dalam memanajemen rasa mualnya.

- Untuk mengurangi rasa penuh pada perut setelah makan, sehingga mengurangi mual

35 6 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat gangguan neuromuskular ditandai dengan tonus otot menurun, kekuatan menangis melemah. Setelah diberikan askep selama 3x24 jam diharapkan klien dapat melakukan mobilitas secara mandiri dengan out come :  Tonus otot meningkat 555 555 555 555  Kekuatan menangis meningkat Mandiri

- Hindari berbaring atau duduk dalam posisi yang sama dalam waktu lama.

- Ajarkan latihan rentang gerak aktif pada anggota gerak yang sehat sedikitnya 4x sehari.

- Anjurkan untuk ambulasi, dengan atau tanpa alat bantu.

- Lakukan mandi air hangat.

Mandiri

- Berbaring atau duduk dalam posisi yang sama dalam waktu lama dapat meningkatkan kekakuan otot dan menimbulkan risiko dekubitus.

- Untuk merelaksasikan otot agar imobilitas fisik perlahan-lahan dapat teratasi

- Untuk melatih otot agar terbiasa untuk mobilisasi

- Mandi air hangat dapat mengurangi kekakuan tubuh pada pagi hari dan memperbaiki mobilitas

36 4. Implementasi

Implementasi disesuaikan dengan intervensi

5. Evaluasi

No.

Dx Diagnosa Keperawatan Evaluasi

1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK.

Tercapainya perfusi jaringan serebral adekuat :

 Tingkat kesadaran membaik (GCS: E4 M6 V5).

 Klien tidak sakit kepala.

 Klien tidak kaku kuduk.

 Tidak terjadi kejang.

 TD dalam batas normal (bayi 85/54 mmHg, toddler 95/65 mmHg, sekolah 105-165 mmHg, remaja 110/65 mmHg).

 Klien tidak gelisah. 2. Hipertermi berhubungan dengan

proses inflamasi.

Tercapainya suhu tubuh normal:

 Suhu tubuh 36-37,5°C

 Klien tidak sakit kepala

 Klien merasa lebih bertenaga 3. Risiko cedera berhubungan dengan

perubahan fungsi serebral sekunder akibat meningitis.

Tidak terjadi cedera.

4. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peningkatan TIK.

Nyeri teratasi:

 Klien tidak sakit kepala

 Nadi, RR, dan TD dalam batas normal

(Nadi: bayi 120-160x/mnt, toddler 90-140x/mnt, prasekolah 80-110 x/mnt, sekolah 75-100x/mnt, remaja 60-90x/mnt; RR: bayi

37

35-40 x/mnt, toddler 25-32x/mnt, anak-anak 20-30 x/mnt, remaja 16-19 x/mnt; TD: bayi 85/54 mmHg, toddler 95/65 mmHg, sekolah 105-165 mmHg, remaja 110/65 mmHg)

 Wajah tidak meringis kesakitan

 Skala nyeri 0 5. Gangguan rasa nyaman (mual)

berhubungan dengan peningkatan TIK.

Gangguan rasa nyaman mual teratasi:

 Tidak ada mual

 Tidak ada muntah

 Nafsu makan meningkat 6. Hambatan mobilitas fisik

berhubungan dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat gangguan neuromuskular.

Tercapainya mobilitas secara mandiri:

 Tonus otot meningkat 555 555

555 555

38

BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang melapisi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri, atau organ-organ jamur

Meningitis merupakan salah satu penyakit infeksi SSP yang akut dan memiliki angka kematian dan kecacatan yang tinggi. Diagnosis meningitis sering mengalami kelambatan karena gejala dan tanda klinis meningitis tidak spesifik terutama pada bayi.

Penyebab-penyebab dari meningitis meliputi:

1. Bakteri piogenik yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama meningokokus, pneumokokus, dan basil influenza.

2. Virus yang disebabkan oleh agen-agen virus yang sangat bervariasi.

3. Organisme jamur.

39

Dalam dokumen ASKEP Meningitis (Halaman 26-39)

Dokumen terkait