Berdasarkan hasil pengkajian, diagnosa yang diangkat oleh penulis dalam asuhan keperawatan Ny. S dengan gastritis akut di Poli Klinik Penyakit dalam yaitu :
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lambung yang ditandai dengan pasien mengatakan “saya mengalami sakit perut selama ±5 hari seperti ditusuk-tusuk dan terasa panas pada daerah ulu hati, nyeri terasa hilang timbul pada saat beraktivitas siang hari sampai sore hari”. Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak lemah, pasien tampak pucat, skala nyeri 4 (nyeri sedang), TTV : TD=140/90 mmHg, N=75x/menit, RR=20x/menit, S=36,7o C.
Diagnosa ini merupakan diagnosa prioritas pertama karena melihat kondisi pasien yang mengeluhkan nyeri dan menyebabkan pasien tidak dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal.
Diagnosa ini juga merupakan suatu masalah yang aktual karena sedang terjadi pada pasien dan harus segera diatasi.
4.2.2 Diagnosa Keperawatan Kedua
Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya infomasi, ditandai dengan pasien mengatakan pasien mengatakan ia kurang mengetahui tentang penyakit yang dialaminya, pasien juga tidak mengetahui penyebab penyakit yang dia alami.
Diagnosa ini merupakan diagnosa prioritas kedua karena mendengar keluhan pasien dan terjadi akibat kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang pasien alami, sehingga pasien sering lalai dalam penanganan penyakitnya. Pasien juga kurang mengetahui tentang penyebab nyeri yang timbul.
4.3 Intervensi
Upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah keperawatan yang dialami oleh Ny. S adalah dibuatnya tujuan, kriteria hasil, serta rasional tindakan dari setiap intervensi pada diagnosa yang telah ditegakkan.
4.3.1 Intervensi Diagnosa Pertama
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lambung yang ditandai dengan pasien mengatakan “saya mengalami sakit perut selama ±5 hari seperti ditusuk-tusuk dan terasa panas pada daerah ulu hati, nyeri terasa hilang timbul pada saat beraktivitas siang hari sampai sore hari”. Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak lemah, pasien tampak pucat, skala nyeri 4 (nyeri sedang), TTV : TD=140/90 mmHg, N=75x/menit, RR=20x/menit, S=36,7o C. Tujuan tindakan pada diagnosa ini adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1 x 20 menit, diharapkan nyeri dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien mampu menerapkan teknik relaksasi, skala nyeri 2-3, pasien tampak rileks.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada diagnosa ini yaitu antara lain seperti jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri yang di alami dengan rasionalnya menambah informasi kepada pasien tentang penyebab nyeri yang pasien alami sehingga pasien mengerti dan menjauhi faktor apa saja yang dapat memicu nyeri timbul, gunakan komunikasi terapeutik saat berbicara dengan pasien dengan rasionalnya komunikasi terapeutik berfungsi untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien, perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan, ajarkan pasien teknik relaksasi napas dalam dengan rasionalnya teknik relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan membantu pasien untuk rileks, kolaborasi dalam pemberian obat dan anjurkan pasien untuk minum obat tepat waktu dan jelaskan pada pasien tentang penggunaan obat dengan rasionalnya obat-obatan dapat membantu proses penyembuhan penyakit pasien, menganjurkan pasien untuk kontrol kembali ke Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. Doris Sylvanus untuk mengetahui perkembangan pasien dengan rasionalnya untuk mengetahui keefektifan obat serta mengetahui perkembangan pasien selanjutnya.
4.3.2 Intervensi Diagnosa Kedua
Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya infomasi. Tujuan tindakan keperawatan pada diagnosa ini adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 20 menit, diharapkan informasi yang diberikan dapat dimengerti pasien dengan kriteria hasil pasien dapat menyebutkan pengertian nyeri, pasien dapat menyebutkan macam-macam penyebab nyeri, pasien dapat menyebutkan beberapa tanda dan gejala nyeri, pasien dapat mempraktikkan salah satu cara untuk mengurangi nyeri yang sudah diajarkan perawat.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada diagnosa ini yaitu antara lain seperti kaji tingkat pengetahuan pasien dengan rasional sebagai dasar penetapan intervensi selanajutnya, berikan penkes kepada pasien tentang Manajemen Nyeri dengan rasional untuk menambah informasi pengetahuan kepada pasien dengan benar, ajak pasien untuk berinterasi dengan perawat selama penyuluhan dengan
rasional menjalin hubungan interaksi yang baik antara pasien dan perawat, dukung pasien apabila terdapat opini dengan cara yang tepat dengan rasional membantu mengembangkan pola pikir dan mengarahkannya ke arah yang benar, evaluasi hasil dari pelaksanaan penkes yang telah diberikan dengan rasional mengetahui keefektifan penyampaian informasi dan kemampuan pasien menerima informasi yang diberikan.
4.4 Implementasi
Pelaksanaan/implementasi keperawatan adalah tahap pada tindakan nyata yang di lakukan perawat kepada pasien mengacu pada perencanaan/intervensi. Pelaksanaan tindakan keperawatan penulis sesuai dengan tindakan berdasarkan prioritas masalah yang di lakukan 1 x 20 menit. Penulis lebih mengutamakan hal yang menjadi prioritas utama yaitu pelaksanaan pada gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lambung yang ditandai dengan pasien mengatakan “saya mengalami sakit perut selama ±5 hari seperti ditusuk-tusuk dan terasa panas pada daerah ulu hati, nyeri terasa hilang timbul pada saat beraktivitas siang hari sampai sore hari”. Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak lemah, pasien tampak pucat, skala nyeri 4 (nyeri sedang), TTV : TD=140/90 mmHg, N=75x/menit, RR=20x/menit, S=36,7o C.
Diagnosa keperawatan yang pertama penulis melakukan lima tindakan keperawatan yaitu menjelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri yang di alami. Penyebab nyeri yang Ny.S alami dapat dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan minuman seperti kopi, makanan yang pedas, makanan dan minuman yang asam, juga dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur. Makanan dan minuman tersebut dapat meningkatkan produksi asam lambung sehingga apabila tidak di netralkan oleh makanan lain dapat membuat lambung luka dan terasa sakit. Menggunakan komunikasi terapeutik saat berbicara dengan pasien, Mengajarkan pasien teknik relaksasi napas dalam, dan Berkolaborasi dalam pemberian obat dan menganjurkan pasien untuk minum obat tepat waktu dan jelaskan pada pasien tentang penggunaan obat Sukralfat syrup 3x1c dan Amlodipine 10 mg 0-0-1.
Pada diagnosa keperawatan yang kedua penulis melakukan empat tindakan keperawatan diantaranya : memberikan penkes kepada pasien tentang Manajemen Nyeri : pengertian, penyebab, tanda dan gejala, dan penatalaksaan, mengajak pasien untuk berinterasi dengan perawat selama penyuluhan, mendukung pasien apabila terdapat opini dengan cara yang tepat, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan penkes yang telah diberikan.
Faktor pendukung dalam pelaksanaan/implementasi adalah pasien dan keluarga sangat kooperatif dalam setiap tindakan keperawatan yang di berikan. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat adalah keterbatasan penulis dalam melakukan tindakan keperawatan dan waktu yang tersedia sangat sedikit sehingga perawat harus dapat bertindak cepat dan tepat dalam melakukan tindakan keperawatan.
4.5 Evaluasi
Pada kasus, evaluasi keperawatan dilakukan pada hari yang sama dengan implementasi keperawatan. Evaluasi yang dilakukan menggunakan format SOAP dan untuk pencapaiannya disesuaikan dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah disusun sebelumnya.
Evaluasi keperawatan yang pertama penulis mendapat hasil subjektif “pasien mengatakan sering mengkonsumsi kopi dan jam makan pagi, siang dan malam kurang teratur”. Data objektif pasien dapat mempraktikkan teknik relaksasi dengan napas dalam, skala nyeri : 3 (nyeri ringan), pasien tampak cukup rileks, Pasien tampak mengerti tentang apa yang disampaikan perawat. Sehingga dapat di simpulkan masalah teratasi sebagian. Kemudian rencana intervensi kedepannya adalah observasi keadaan keadaan pasien pada kontrol berikutnya, anjurkan pasien makan tepat waktu, anjurkan pasien untuk mengurangi konsumsi kopi.
Evaluasi keperawatan yang kedua penulis mendapat hasil subjektif “Pasien mengatakan nyeri adalah suatu perasaan sakit yang dirasakan seseorang. Pasien mengatakan penyebab nyeri yang dirasakan adalah karena pasien sering mengkonsumsi kopi yang bisa membuat lambung terluka karena asam lambung yang meningkat dan makan tidak tepat waktu. Pasien mengatakan tanda dan gejala nyeri adalah dari ekspresi wajah yang kesakitan, menggigit bibir dan
menyentuh bagian yang sakit. Pasien mengatakan cata mengurangi nyeri dapat menggunakan menggunakan cara menarik napas dalam, ngobrol dengan orang lain, dll”. Data objektif yang diperoleh pasien dapat mempraktikkan salah satu metode dalam manajemen nyeri yaitu dengan menarik napas dalam, pasien dapat menjelaskan pengertian, penyebab, dan penatalaksanaan manajemen nyeri dengan cukup baik. Sehingga diperoleh kesimpulan masalah teratasi dan intervesi dihentikan.
BAB 5 PENUTUP
5.1 Simpulan
Dalam uraian ini terdapat beberapa kesimpulan oleh penulis mengenai konsep dasar teori dengan membandingkan kasus pada Ny. S dengan Gastritis Akut yang di lakukan pada tanggal 22 April 2014 di Poli Klinik Penyakit Dalam RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Beberapa simpulan tersebut adalah sebagai berikut:
5.1.1 Pengkajian
Data didapat secara langsung melalui wawancara, pengkajian, pemeriksaan fisik serta di dekumentasikan pada pasien dan ditemukan data-data pasien mengatakan sejak tahun 2012 mengalami penyakit maag atau gastritis. Selain itu, pasien juga mengatakan memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak berusia 40 tahun. pasien mengeluh sakit perut ±5 hari seperti ditusuk-tusuk dan terasa panas pada daerah ulu hati, nyeri terasa hilang timbul pada saat beraktivitas siang hari sampai sore hari. Pasien juga mengatakan sering mengkonsumsi kopi dan jam makan pagi, siang dan malam kurang teratur.
Selain itu, saat ditanya perawat tentang penyebab sakitnya pasien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakit yang dialaminya. Pasien juga tidak mengetahui bagaimana cara mengurangi nyeri yang dialaminya.
Setelah dilakukan observasi, pasien tampak menahan nyerinya, lemah, pucat, ekspresi wajah tampak menggit bibir. Saat di lakukan pemeriksaan oleh perawat, terdapat nyeri tekan pada area ulu hati. Pengukuran TTV. TD : 140/90 mmHg, N: 75x/menit, RR; 20x/menit, S: 36,7o C.
5.1.2 Diagnosa Keperawatan
Dari hasil pengkajian pada Ny. S, penulis mengangkat dua diagnosa keperawatan berdasarkan dari analisa data yang di peroleh penulis yaitu: gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lambung yang ditandai dengan pasien mengatakan “saya mengalami sakit perut selama ±5 hari seperti ditusuk-tusuk dan terasa panas pada daerah ulu hati, nyeri terasa hilang timbul pada saat beraktivitas siang hari sampai sore hari”. Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak lemah, pasien tampak pucat, skala nyeri 4 (nyeri sedang), TTV : TD=140/90 mmHg, N=75x/menit, RR=20x/menit, S=36,7o C.
Dan diagnosa kedua yaitu defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya infomasi.
5.1.3 Intervensi
Perencanaan adalah suatu perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien atas tindakan yang di lakukan oleh perawat. Yang perlu mempersiapkan atau langkah-langkah untuk membuat suatu perencanaan adalah yang pertama pengumpulan data, mengidentifikasi masalah yang di jadikan diagnosa, menetapkan tujuan-tujuan yang di lakukan, mengidentifikasi hasil dan yang terakhir penulis (perawat) memilih perencanaan/intervensi keperawatan untuk mencapai hasil dan tujuan yang di inginkan.
Perencanaan di buat berdasarkan prioritas masalah, pada kasus Ny. S yang mejadi prioritas keperawatan adalah gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lambung yang ditandai dengan pasien mengatakan “saya mengalami sakit perut selama ±5 hari seperti ditusuk-tusuk dan terasa panas pada daerah ulu hati, nyeri terasa hilang timbul pada saat beraktivitas siang hari sampai sore hari”. Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak lemah, pasien tampak pucat, skala nyeri 4 (nyeri sedang), TTV : TD=140/90 mmHg, N=75x/menit, RR=20x/menit, S=36,7o C. Kemudian pada diagnosa kedua yaitu defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya infomasi.
5.1.4 Implementasi
Tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan ada beberapa tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun dan hanya beberapa rencana yang dapat dilakukan. Hal ini disebabkan adanya penyesuaian antara rencana yang disusun dan tindakan keperawatan dengan keadaan pasien, selain itu juga karena keterbatasan waktu yang ada perawat harus bertidak cepat dan tepat. Tidak banyak yang dapat dilakukan perawat karena pelaksanaannya adalah di poliklinik, pasien datang hanya untuk kontrol dan konsultasi dengan dokter.
Evaluasi adalah hal yang membuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Dari kedua diagnosa yang terdapat pada kasus ini, pada evaluasi keperawatan pertama penulis mendapat hasil subjektif “pasien mengatakan sering mengkonsumsi kopi dan jam makan pagi, siang dan malam kurang teratur”. Data objektif pasien dapat mempraktikkan teknik relaksasi dengan napas dalam, skala nyeri : 3 (nyeri ringan), pasien tampak cukup rileks, Pasien tampak mengerti tentang apa yang disampaikan perawat. Sehingga dapat di simpulkan masalah teratasi sebagian. Kemudian rencana intervensi kedepannya adalah observasi keadaan keadaan pasien pada kontrol berikutnya, anjurkan pasien makan tepat waktu, anjurkan pasien untuk mengurangi konsumsi kopi.
Pada evaluasi keperawatan yang kedua penulis mendapat hasil subjektif “Pasien mengatakan nyeri adalah suatu perasaan sakit yang dirasakan seseorang. Pasien mengatakan penyebab nyeri yang dirasakan adalah karena pasien sering mengkonsumsi kopi yang bisa membuat lambung terluka karena asam lambung yang meningkat dan makan tidak tepat waktu. Pasien mengatakan tanda dan gejala nyeri adalah dari ekspresi wajah yang kesakitan, menggigit bibir dan menyentuh bagian yang sakit. Pasien mengatakan cata mengurangi nyeri dapat menggunakan menggunakan cara menarik napas dalam, ngobrol dengan orang lain, dll”. Data objektif yang diperoleh pasien dapat mempraktikkan salah satu metode dalam manajemen nyeri yaitu dengan menarik napas dalam, pasien dapat menjelaskan pengertian, penyebab, dan penatalaksanaan manajemen nyeri dengan cukup baik. Sehingga diperoleh kesimpulan masalah teratasi dan intervesi dihentikan.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Institusi rumah sakit
Diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu pelayanan dan pemberian asuhan keperawatan, terutama di bidang promotif dan preventif untuk meminimalkan jumlah kasus yang terjadi serta mengurangi penyebaran infeksi ke orang lain.
5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bagi institusi pendidikan untuk menambah koleksi buku-buku penting di perpustakaan, sehingga dapat lebih mempermudah mahasiswa/(i) yang
akan membuat laporan studi kasus seperti ini. Diharapkan juga untuk lebih menggalakkan upaya promotif dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.