BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Kerangka Konsep
Gambar 2.6 Kerangka Konsep.
Pasien Konfirmasi COVID-19
Hiperkoagulabilitas
Usia, jenis kelamin, faal hemostasis, gambaran
radiologi, komorbid
39
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analisis retrospektif dengan pendekatan cross sectional pada pasien rawat inap dengan COVID-19, dan disusun secara deskriptif. Metode penelitian ini digunakan untuk melihat karakteristik pasien COVID-19 konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas yang dirawat di RS Santa Elisabeth Medan.
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RS Santa Elisabeth Medan mulai bulan April 2021 sampai bulan Oktober 2021
3.3 Populasi Dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien COVID-19 konfirmasi yang dirawat di RS Santa Elisabeth Medan dari bulan April 2021 sampai Oktober 2021.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien COVID-19 konfirmasi yang dirawat di RS Santa Elisabeth Medan, dimulai dari bulan April 2020 sampai Oktober 2021. Jenis pemilihan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah quota sampling, yaitu pengambilan sejumlah sampel rekam medis per bulan sesuai periode penelitian sampai kuota batasan terpenuhi. Batasan kuota ditentukan dengan rumus Lemeshow, rumus ini digunakan karena populasi yang dituju terlalu besar dan tidak diketahui jumlah pastinya.
Keterangan:
n = Besar batasan kuota
Z = Tingkat kemaknaan = 1,96 p = Maksimal estimasi = 50% = 0,5
d = Limit dari error atau sampling error = 10% = 0,10 Berdasarkan rumus:
Jumlah target sampel minimal : 150 sampel
Jumlah sampel pada penelitian sebelumnya : 228 sampel
Jumlah sampel pasien positif COVID-19 pada penelitian sebelumnya : 146 sampel
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diperoleh melalui rekam medis pasien COVID-19 di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan periode bulan April 2020 sampai dengan bulan Oktober 2021.
3.5 Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Definisi Cara ukur Alat
ukur
Hasil ukur Skala ukur Hiperko
asis bertujuan untuk mempertahankan keenceran darah
sekunder time) :10-15 detik 2. APTT
3.6 Metode Analisis Data
Pengolahan dan analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan program komputer Statistical Package for the Social Science (SPSS) melalui proses-proses berikut :
a. Editing: dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data.
b. Coding: data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer
c. Entry: data yang telah diberi kode kemudian dimasukkan kedalam program komputer
d. Cleaning: pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam program komputer untuk memperbaiki kesalahan saat pemasukan data.
e. Saving: penyimpanan data untuk dianalisis.
Setelah semua proses pemasukan data selesai, data yang sudah dikumpulkan kemudian diolah menggunakan komputer dan dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik dengan menampilkan distribusi frekuensi dan juga proporsi dari variabel-variabel yang diamati dalam bentuk tabel.
3.7 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi perhatian dari suatu titik perhatian suatu penelitian. (Arikunto, 2010)
a. Variabel Dependent : Pasien yang mengalami Hiperkoagulabilitas
b. Variabel Independent : Hasil pemeriksaan laboratorium yang diperiksa yaitu : PT, APTT, D-dimer, Fibrinogen
44 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Rumah Sakit ini adalah salah satu tempat isolasi pasien COVID-19 yang terletak di Jl. H.
Misbah No.7 Jati, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. RS Santa Elisabeth Medan merupakan rumah sakit tipe B, sesuai dengan SK Menteri Kesehatan RI No. HK.07.06/III/1019/09, dan telah memiliki fasilitas kesehatan yang memenuhi standar dan tenaga kesehatan yang kompeten.
4.2 Hasil dan Pembahasan
Telah dilakukan penelitian karakteristik pasien COVID-19 di RS Santa Elisabeth Medan dengan total 200 sampel dari bulan April 2021 hingga bulan Oktober 2021, dijumpai 158 pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas sementara 42 lainnya tidak mengalami hiperkoagulabilitas yang dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Frekuensi pasien COVID-19 yang mengalami hiperkoagulabilitas
n %
Hiperkoagulabilitas Non Hiperkoagulabilitas
158 42
79.0 21.0
Total 200 100
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 200 sampel penelitian yang didapatkan, 158 (79. 0%) orang dinyatakan mengalami hiperkoagulabilitas dan 42 (21.0%) orang lainnya tidak mengalami hiperkoagulabilitas. Pada penelitian ini ditemukan lebih banyak pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami
hiperkoagulabilitas yaitu 158 sampel (79.0%) dibandingkan yang tidak mengalami hiperkoagulabilitas.
Tabel 4.2 Karakteristik dan derajat keparahan pasien COVID-19 yang mengalami hiperkoagulabilitas COVID-19 konfirmasi yang menga lami hiperkoagulabilitas, 82 (51.9%) sampel berjenis kelamin laki-laki dan 76 (48.1%) lainnya berjenis kelamin perempuan. dari penelitian ini didapatkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak yang mengalami hiperkoagulabilitas dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Susilo, et.al (2020) yang menyatakan bahwa jenis kelamin yang lebih dominan pada laki-laki diduga memiliki hubungan dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi. Pada perokok, penderita diabetes melitus, penderita hipertensi diduga ada peningkatan ekspresi reseptor ACE-2. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang mengemukakan bahwa laki-laki lebih beresiko terinfeksi COVID-19 dibanding wanita dikarenakan faktor kromosom dan faktor hormone (Chen et.al, 2020). Pada wanita lebih terproteksi dari COVID-19 dibandingkan pria karena wanita memiliki kromosom x dan hormon seksual seperti progesteron yang sangat memiliki peranan penting dalam imunitas bawaan dan adaptif. Laki-laki biasanya lebih sering keluar rumah karena tuntutan pekerjaan dibandingkan perempuan, sehingga laki-laki lebih rentan terinfeksi COVID-19. Selain itu, wanita pada umumnya memiliki tingkat pengetahuan lebih tinggi dibandingkan pria terutama tentang epidemiologi dan faktor resiko COVID-19 (Hidayani, 2020)
Dari penelitian ini diketahui bahwa pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas lebih banyak dialami oleh kelompok umur dewasa dengan jumlah 126 sampel (79.7%), dan sisanya dialami oleh kelompok umur lansia dengan jumlah 32 sampel (20.3%). Beberapa aspek yang dapat meningkatkan resiko COVID-19 seperti usia lansia (>60 tahun), ibu hamil, balita, penderita disabilitas, atau memiliki penyakit penyerta seperti : penyakit jantung, penyakit kencing manis (diabetes), penyakit kanker, penyakit paru, hipertensi, dan stroke (KEMENKES RI, 2020). Hasil penelitian ini sesuai dengan data dari KEMENKES, 2020 yang menyatakan bahwa kasus paling banyak terjadi pada rentang usia 45-54 tahun dan paling sedikit terjadi pada usia 0-5 tahun. Sama hal nya dengan penelitiann yang dilakukan oleh CDC China, diketahui bahwa kasus terbanyak terjadi pada usia 30-79 tahun dan paling sedikit terjadi pada usia <10 tahun (1%). Faktor umur kuat kaitannya dengan COVID-19 karena orang dengan usia lanjut mengalami proses degenerative anatomi dan fisiologi tubuh sehingga rentan terhadap penyakit, imunitas yang menurun, ditambah seseorang yang mengidap penyakit komorbid akan menyebabkan kondisi tubuhnya lemah sehingga mudah terinfeksi COVID-19. Selain itu juga faktor usia yang lanjut menyebabkan kelalaian dalam menjaga protokol COVID-19 sehingga meningkatkan resiko infeksi COVID-19 (Handayani, 2020).
Derajat keparahan pada pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas diisi oleh derajat berat dengan jumlah 64 sampel (40.5%) dan derajat sedang dengan jumlah 94 sampel (59.5%). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas didominasi oleh pasien dengan derajat sedang. Beberapa studi menunjukkan bahwa komplikasi hiperkoagulabilitas sering terjadi pada pasien COVID-19 berat dan berhubungan dengan tingkat mortalitas (Intisari Sains Medis, 2020). Hal ini selaras dengan penelitian Intisari Sains Medis, 2020 yang menyatakan bahwa peningkatan D-dimer sering dijumpai pada pasien COVID-19 berat dan merupakan prediktor terjadinya Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), kebutuhan perawatan intensif, dan kematian. Pasien yang berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan contohnya seperti penyakit diabetes atau penyakit
kardiovaskuler memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami gejala yang lebih berat dan mengalami kematian. Pada kasus berat kemungkinan bisa mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, kegagalan multi organ, gagal ginjal atau gagal jantung akut yang berakibat kematian (Intisari Sains Medis, 2020).
Keadaan hiperkoagulasi pada COVID-19 telah dikaitkan dengan kondisi menyerupai DIC karena banyak pasien COVID-19 berat yang memenuhi kriteria DIC menurut ISTH. Meskipun demikian, temuan klinis utama pada DIC terkait sepsis adalah perdarahan, sedangkan temuan klinis utama pada hiperkoagulabilitas yang dialami oleh pasien COVID-19 adalah thrombosis (Intisari Sains Medis, 2020).
Tabel 4.3 Gejala klinis, komorbiditas, dan radiologis
n % Komorbid Gagal Jantung Kronis
Diabetes Melitus
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 158 sampel pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas, terdapat 3 gejala yang paling sering dialami oleh pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas yaitu gejala respiratori yaitu batuk dengan jumlah sampel 140 (88.6%) dan sesak dengan jumlah sampel 102 (64.6%) dan gejala non respiratori yaitu demam dengan jumlah sampel 125 (79.1%), dan ge jala klinis terjarang yang dialami pasien adalah ageusia dengan 21 sampel (13.3%). Hal ini sejalan dengan teori bahwa pada manusia, SARS-CoV-2 menginfeksi terutama sel-sel pada saluran napas yang melapisi alveoli, SARS-CoV-2 akan berikatan dengan reseptor-reseptor dan membuat jalur masuk ke dalam sel (Susilo et.al, 2020).
Penelitian ini juga selaras dengan jurnal Respirologi Indonesia yang mengatakan bahwa batuk, sesak, dan juga demam adalah gejala klinis tersering pada pasien COVID-19. Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2020) bahwa ge jala tambahan pada COVID-19 seperti nyeri otot, sakit kepala, lemas, muntah, dan sulit menelan. Penelitian ini juga sejalan dengan buku Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 yang mengatakan bahwa gejala utama COVID-19 adalah demam, batuk, bersin, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas. Penelitian ini juga sejalan dengan jurnal Respirologi Indonesia yang mengatakan bahwa sebagian besar pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada sistem pernapasan seperti demam, bersin, batuk, dan sesak nafas. Berdasarkan data 55.924 kasus, gejala tersering adalah batuk kering, demam, dan kelelahan. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah sesak napas, batuk produktif, nyeri kepala, sakit tenggorokan, menggigil, mual muntah, diare, nyeri abdomen, hemoptisis, dan kongesti konjungtiva (Susilo et.al. 2020)
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa komorbid terbanyak yang diderita pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas adalah penyakit komorbid hipertensi dengan jumlah 43 sampel (27.2%), kemudian diikuti oleh penyakit komorbid diabetes melitus dengan jumlah 27 sampel (18.4%) dan penyakit komorbid gagal jantung kronis dengan jumlah 20 sampel
(12.7%), dan penyakit komorbid terjarang yang dialami oleh pasien a dalah penyakit komorbid HIV dan asma dengan jumlah sampel masing-masing 1 (0.6%). Komorbid yang diketahui banyak berhubungan dengan pasien COVID-19 adalah, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit serebrovaskular, dan penyakit paru (Susilo et.al, 2020). Reseptor ACE-2 merupakan protein membran yang mempunyai fungsi fisiologis yaitu memproteksi paru-paru tetapi merupakan pintu masuk virus kedalam tubuh yang dapat menyebabkan toksisitas pada sistem kardiovaskuler, beberapa komplikasi kardiovaskuler setelah terinfeksi COVID-19 antara lain miokarditis, aritmia, sindroma koroner akut, syok kardiogenik, tromboemboli vena, dan gagal jantung (Drigin et.al, 2020). Usia lansia dan orang dengan kondisi medis yang sudah diderita sebelumnya contohnya seperti hipertensi, gangguan kardiovaskular, penyakit paru, diabetes melitus, atau kanker beresiko lebih tinggi mengalami keparahan (Susilo et.al, 2020).
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 158 sampel, 133 sampel (84.2%) diantaranya memiliki gambaran foto toraks yang abnormal, dan 25 sampel (15.8%) lainnya memiliki gambaran foto toraks yang normal. Dari tabel 4.6 dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas memiliki gambaran radiologis foto toraks yang abnormal. Penelitian ini sejalan dengan penelitian pada Jurnal Respirologi Indonesia yang menyatakan bahwa pada foto toraks dapat dijumpai gambaran seperti opasifikasi ground-glass, konsolidasi fokal, infiltrat, atelektasis, dan efusi pleura. (Susilo et.al. 2020).
Tabel 4.4 Pemeriksaan laboratorium faktor koagulasi
Normal Abnormal
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa mayoritas pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas mengalami peningkatan kadar D-dimer dengan jumlah sampel yaitu 140 sampel (88.6%) yang abnormal atau mengalami peningkatan kadar D-dimer, dan hasil ini menunjukkan keadaan hiperkoagulabilitas pada pasien. Pada pemeriksaan lain nilai PT, APTT, dan fibrinogen lebih banyak ditemukan dalam kadar normal, nilai PT dengan 140 sampel (88.6%) normal dan 18 sampel (11.4%) abnormal, nilai APTT dengan 147 sampel (93%) normal, dan 11 sampel (7.0%) abnormal, nilai fibrinogen dengan 155 sampel (98.1%) normal dan 3 sampel (1.9%) abnormal.Peningkatan D-dimer sering ditemukan pada pasien COVID-19 berat dan merupakan prediktor terjadinya ARDS, kebutuhan perawatan di unit perawatan intensif, dan kematian.
Parameter gangguan koagulasi yang dapat ditemukan pada pasien COVID-19 meliputi peningkatan konsentrasi D-dimer, pemanjangan prothrombin time (PT), atau activated partial thromboplastin time (APTT), peningkatan fibrinogen, dan trombositopenia (Intisari Sains Medis, 2020).
Studi oleh Zhou et al., mengemukakan bahwa peningkatan D-dimer >500 merupakan prediktor terkuat terjadinya mortalitas pada pasien COVI19. D-dimer adalah produk degradasi fibrin yang terbentuk selama proses degradasi bekuan darah oleh fibrinolisis.
Peningkatan D-dimer dalam darah merupakan indikasi kecurigaan terjadinya trombosis (Intisari Sains Medis, 2020). Pemanjangan PT >3 detik atau APTT >5 detik merupakan penanda koagulopati dan prediktor komplikasi trombotik pada pasien COVID-19 (Intisari Sains Medis, 2020). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Tiongkok, pada penelitian dengan 1099 pasien dengan konfirmasi COVID-19 pada lebih dari 550 rumah sakit di Tiongkok, nilai D-dimer >0.5 mg/L diperoleh pada 46.4% pasien yang diperiksa dengan 43% mengalami kenaikan D-dimer sebagai prediktor mortalitas.
Terdapat 4 fase perjalanan penyakit COVID-19, yaitu early stage (0-4 hari), Progressive stage (5-8 hari) ditemukan, peak stage (10-13 hari), dan resolution stage (>14 hari). Pada early stage dijumpai gambaran ground glass opacity (GGO) fokal dan konsolidasi atau multiple opasitas paru. 50% pasien menunjukkan lokasi predominan GGO perifer. Sebagian belum menunjukkan adanya opasitas paru. Pada middle stage (5-13 hari), menunjukkan progresi, lesi bertambah luas, sebagian lesi menjadi crazy paving, muncul konsolidasi dan melibatkan kedua bagian paru. Pada fase lanjut atau fase resolusi (>14 hari) akan tampak berbagai variasi, sebagian berupa GGO dan konsolidasi, sebagian lainnya berupa skar atau curvilinear parenchymal band. Gambaran CT scan COVID-19 pada fase awal berupa gambaran ground glass, bilateral, lokasi perifer, konsolidasi dan dominan pada lobus bawah paru kanan. (Azizah et.al. 2020).
52 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dari data yang diperoleh, kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Jumlah data pasien COVID-19 yang didapatkan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada bulan April 2021 sampai Oktober 2021 adalah 200 pasien. Dan yang mengalami hiperkoagulabilitas berjumlah 158 pasien.
2. Jenis kelamin yang paling banyak dijumpai pada pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas adalah laki-laki.
3. Usia yang paling banyak dijumpai pada pasien COVID-19 konfirmasi positif yang mengalami hiperkoagulabilitas adalah usia dewasa.
Temuan ini belum tentu bisa dijadikan acuan bahwa usia lans ia tidak banyak yang mengalami hiperkoagulabilitas, dikarenakan rekam medik yang didapatkan tidak banyak pasien yang berusia lansia dikarenakan pasien dengan usia lansia cenderung tidak ingin dirawat di rumah sakit dikarenakan alasan-alasan tertentu.
4. Ge jala klinis yang paling banyak ditemukan pada pasien COVID-19 positif konfirmasi adalah gejala respiratori, yaitu batuk.
5. Jenis komorbid yang paling sering dijumpai pada pasien COVID-19 positif konfirmasi adalah penyakit hipertensi.
6. Ditemukan peningkatan kadar D-dimer dan nilai PT pada pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas, sedangkan nilai APTT, dan fibrinogen masih dalam batas normal pada mayoritas pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas.
7. Pada pemeriksaan radiologis, mayoritas pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas memiliki gambaran foto toraks yang abnormal.
8. Karakteristik yang paling menonjol pada pasien COVID-19 positif konfirmasi yang mengalami hiperkoagulabilitas adalah ditemukannya peningkatan kadar faal hemostasis yaitu D-dimer, PT, APTT, dan fibrinogen. Dijumpai juga gambaran radiologis foto toraks yang abnormal pada mayoritas pasien. Hiperkogulabilitas pada pasien COVID-19 konfirmasi mayoritas dijumpai pada pasien dengan rentang usia dewasa sampai lansia, dengan derajat keparahan sedang ke berat.
Gejala klinis yang paling sering ditemukan adalah batuk, sesak, dan demam. Penyakit komorbid yang paling sering ditemukan adalah hipertensi.
5.2 SARAN 1. Masyarakat
Kepada masyarakat diharapkan tetap menerapkan protokol kesehatan 5M, menerapkan gaya hidup sehat dengan makan makanan bergizi dan
berolahraga, dan menghindari berita palsu yang marak beredar di
masyarakat dan diharapkan lebih mempercayai berita atau literatur yang sudah diakui kebenarannya.
2. Peneliti Selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini lebih baik lagi contohnya seperti memasukkan variabel baru ata upun variabel yang lebih banyak.
55
DAFTAR PUSTAKA
Abnormal coagulation parameters are associated with poor prognosis in patients with novel coronavirus pneumonia (no date). Available at: https://www.n (Ackermann, 2020) cbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7166509/ (Accessed:
3 October 2020).
Abate, B. B., Kassie, A. M., Kassaw, M. W., Aragie, T. G., & Masresha, S. A.
(2020). Sex difference in coronavirus disease (COVID-19): A systematic review and meta-analysis. In BMJ Open (Vol. 10, Issue 10, p.
40129). BMJ Publishing Group. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2020- 040129
Abduljalil, J. M., & Abduljalil, B. M. (2020). Epidemiology, genome, and clinical features of the pandemic SARS-CoV-2: a recent view in new microbes and new infections (Vol. 35, p. 100672). Elsevier Ltd.
https://doi.org/10.1016/j.nmni.2020.100672
Adiwinata, R., Irawan, V. R., Arifputra, J., Waleleng, B. J., Gosal, F., Rotty, L., Winarta, J., Waleleng, A., & Simadibrata, M. (2020). Potential of Fecal-Oral Transmission and
Azizah, G. I. & Muljadi, R. 2020. Imejing Pneumonia COVID-19. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Gastrointestinal Manifestation of COVID-19. The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy, 21(1), 53.
https://doi.org/10.24871/ 211202053-58
American College of Radiology. (2020). ACR Recommendations for the use of Chest Radiography and Computed Tomography (CT) for Suspected COVID-19 Infection | American College of Radiology. American
Radiology, 296(2), E46–E54. https://doi.org/10.1148/ radiol.2020200823 Baldassarri, M., P icchiotti, N., Fava, F., Fallerini, C., Benetti, E., Daga, S.,
Valentino, F.Doddato, G., Furini, S., Giliberti, A., Tita, R., Amitrano, S., Bruttini, M., Croci, S., Meloni, I., Pinto, A. M., Iuso, N., Gabbi, C., Sciarra, F., … Mari, F. (2021). Shorter androgen receptor polyQ alleles protect against life-threatening COVID-19 disease in European males.
EBioMedicine, https://doi.org/10.1016/j.ebiom.2021.103246
Bialek, S., Boundy, E., Bowen, V., Chow, N., Cohn, A., Dowling, N., Ellington, S., Gierke, R., Hall, A., MacNeil, J., Patel, P., Peacock, G., P ilishvili, T., Razzaghi, H., Reed, N., Ritchey, M., & Sauber-Schatz, E. (2020a). Severe Outcomes Among Patients with Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) — United States, February 12–March 16, 2020. MMWR. Morbidity and
Mortality Weekly Report, 69(12), 343–346.
https://doi.org/10.15585/mmwr.mm6912e2
BMJ. (2021). Coronavirus disease 2019. The BMJ, 2019, accessed 2 May 2021, Available at: https://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/3000201/aetiology Bunyavanich, S., Do, A., & Vicencio, A. (2020). Nasal Gene Expression of
Angiotensin-Converting Enzyme 2 in Children and Adults. JAMA, 323(23), 2427. https://doi.org/10.1001/jama.2020.8707
Burhan, E., Susanto, A. D., Nasution, S. A., Ginanjar, E., P itoyo, C. W., Susilo, A., Firdaus, I., Santoso, A., Juzar, D. A., Arif, S. K., Wulung, N. G. . L., Adityaningsih, D., Syam, A. F., I,M. R., & Sambo, C. M. (2020).
PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 Edisi 3 Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Perhimpunan D okter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi.
Bwire, G. M., Njiro, B. J., Mwakawanga, D. L., Sabas, D., & Sunguya, B. F.
(2021). Possible vertical transmission and antibodies against SARS‐CoV‐2 among infants born to mothers with COVID‐19: A living systematic Subtil, F., Frobert, E., Alligier, M., Delaunay, D., Vanhems, P., Laville, M., Jourdain, M., & Disse, E. (2020). Prevalence of obesity among adult inpatients with COVID-19 in France. In The Lancet Diabetes and Endocrinology (Vol. 8, Issue 7, pp. 562–564). Lancet Publishing Group.
https://doi.org/10.1016/S2213-8587(20)30160-1
CDC. (2020a). How Coronavirus Spreads | CDC. Centers for Disease Control and Prevention, accessed 18 April 2021, Available at: https://www.cdc.gov/
coronavirus/2019-ncov/preventgetting-sick/how-covid-spreads.html
CDC. (2020b). Symptoms of Coronavirus. CDC, accessed 4 April 2021, Available at: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/
symptomstesting/symptoms.html?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fw ww. cdc. gov%2 Fcoronavirus %2F2019-ncov%2Fabout%2 Fsymptoms.html
Cennimo, D. J., & Bergman, S. J. (2021). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Workup: Approach Considerations, Laboratory Studies, CT Scanning.
Medscape, accessed 2 May 2021, Available at:
https://emedicine.medscape.com/article/2500114-workup#c2Centers of Disease Control and Prevention. (2021a). Overview of Testing for SARS-CoV-2 (COVID-19) | CDC. CDC, accessed 2 May 2021, Available at:
Centers of Disease Control and Prevention. (2021c). Underlying Medical Conditions for Clinicians | CDC, accessed 18 April 2021, Available at:
https://www.cdc.gov/ coronavirus/ 2019-ncov/hcp/clinical-care/underlyingconditions.html
Chan, J. F.-W., Kok, K.-H., Zhu, Z., Chu, H., To, K. K.-W., Yuan, S., & Yuen, K.-Y. (2020). Genomic characterization of the 2019 novel human-pathogenic coronavirus isolated from a patient with atypical pneumonia after visiting Wuhan. Emerging Microbes & Infections, 9(1), 221–236.
https://doi.org/10.1080/22221751.2020.1719902
Chen, D., Li, X., Song, Q., Hu, C., Su, F., Dai, J., Ye, Y., Huang, J., & Zhang, X.
(2020). Hypokalemia and clinical implications in patients with Coronavirus Disease 2019 (COVID-4119). In medRxiv (p.
2020.02.27.20028530). medRxiv. https://doi.org/10.1101/2020.02.
27.20028530
Chen, L., Li, X., Chen, M., Feng, Y., & Xiong, C. (2020). The ACE2 expression in human heart indicates new potential mechanism of heart injury among patients infected with SARS-CoV-2.
Cardiovascular Research, 116(6), 1097–1100. https://doi.org/10.1093/cvr/cvaa078 Chen, N., Zhou, M., Dong, X., Qu, J., Gong, F., Han, Y., Qiu, Y., Wang, J., Liu,
Y., Wei, Y., Xia, J., Yu, T., Zhang, X., & Zhang, L. (2020).
Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study. The Lancet, 395(10223), 507–513. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30211-7 Cheng, Y., Luo, R., Wang, K., Zhang, M., Wang, Z., Dong, L., Li, J., Yao, Y., Ge,
S., & Xu, G. (2020). Kidney impairment is associated with in-hospital
death of COVID-19 patients. In medRxiv (p. 2020.02.18.20023242).
medRxiv. https://doi.org/10.1101/2020.02.18.20023242
Chung, M., Bernheim, A., Mei, X., Zhang, N., Huang, M., Zeng, X., Cui, J., Xu, W., Yang, Y., Fayad, Z. A., Jacobi, A., Li, K. , Li, S., & Shan, H. (2020).
CT imaging features of 2019 novel coronavirus (2019-NCoV). Radiology, 295(1), 202–207. https://doi.org/10.1148/radiol.2020200230
Connors, J. M., & Levy, J. H. (2020). COVID-19 and its implications for thrombosis and anticoagulation. In Blood (Vol. 135, Issue 23, pp. 2033–
2040). American Society of Hematology.
https://doi.org/10.1182/BLOOD.2020006000
COVID-19 Genomics UK Consortium. (2021). COVID-19 Genomics UK Consortium, accessed 16 April 2021, Available at:
https://www.cogconsortium.uk/
Creelan, B. C., & Antonia, S. J. (2019). The NKG2A immune checkpoint — a new direction in cancer immunotherapy. In Nature Reviews Clinical Oncology (Vol. 16, Issue 5, pp. 277–278). Nature Publishing Group.
https://doi.org/10.1038/s41571-019-0182-8
Das, M., Zhu, C., & Kuchroo, V. K. (2017). Tim-3 and its role in regulating anti-tumor immunity. Immunological Reviews, 276(1), 97–111. https://doi.org/
Das, M., Zhu, C., & Kuchroo, V. K. (2017). Tim-3 and its role in regulating anti-tumor immunity. Immunological Reviews, 276(1), 97–111. https://doi.org/