• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA

B. Kanker Payudara

6. Diagnosis

Secara umum diagnosis kanker payudara dibedakan menjadi 2 yaitu skrining dan diagnostik. Yang termasuk skrining antara lain :

a. pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) yang dilakukan setahun sekali setelah umur 20 tahun,

b. pemeriksaan payudara oleh dokter yang dimulai pada umur 20 tahun, setiap 3 tahun sekali pada umur 20-39 tahun dan setiap tahun sekali setelah umur 40 tahun,

c. mammografi skrining yang dilakukan pada pasien tanpa gejala untuk mendeteksi adanya kanker payudara yang samar (Ramli, 2000).

Yang termasuk diagnostik (Ramli, 2000) :

a. anamnesa meliputi tanda, gejala dan faktor risiko,

C. Kemoterapi

Kemoterapi adalah obat yang sangat toksik terhadap sel kanker yang bertujuan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi diberikan dalam bentuk pil, injeksi atau infus. Kemoterapi dapat diberikan sebelum atau sesudah terapi utama. Pemberian kemoterapi sebelum terapi utama disebut neoadjuvant kemoterapi sedangkan sesudah terapi utama disebut adjuvant kemoterapi (Anonim, 2007).

Jangka waktu pemberian kemoterapi dilakukan selama 6 bulan. Berdasarkan penelitian terdahulu dapat dipastikan bahwa pemberian kemoterapi kombinasi lebih efektif untuk mematikan sel kanker. Dalam pemberian kemoterapi harus memperhitungkan kondisi pasien terlebih nilai hemoglobin pasien (Anonim, 2002).

Tabel II. Pilihan Obat Tunggal, untuk kemoterapi kanker payudara (Anonim, 2007).

Obat-obat kemoterapi yang biasa digunakan untuk terapi kanker payudara

Brand Name Generic Name

Adriamycin Doxorubicin Cytoxan Cyclophosphamide Ellence Epirubicin Gemzar Gemcitabine Navelbine Vinorelbine Taxol Paclitaxel Taxotere Docetaxel Xeloda Capecitabine

Tabel III. Pilihan Obat Kombinasi, kemoterapi Neoadjuvant dan Adjuvant untuk kanker payudara (Anonim, 2007).

Pilihan Kemoterapi Neoadjuvant dan Adjuvant

FAC/CAF FEC/CEF

fluorouracil/doxorubicin/cyclophosphamid or cyclophosphamide/epirubicin/fluorouracil AC doxorubicin/cyclophosphamide dengan atau

tidak dikombinasi dengan paclitaxel EC epirubicin/cyclophosphamide

TAC docetaxel/doxorubicin/cyclophosphamide diikuti pemberian filgrastim

A CMF doxorubicin diikuti pemberian

cyclophosphamide/methotrexate/fluorouracil E CMF epirubicin diikuti pemberian

cyclophosphamide/methotrexate/fluorouracil CMF cyclophosphamide/methotrexate/fluorouracil AC x 4 doxorubicin/cyclophosphamide berikutnya

diikuti dengan paclitaxel 4 kali, setiap 2 minggu ditambah pemberian filgrastim

A T C doxorubicin diikuti paclitaxel diikuti dengan cyclophosphamide, setiap 2 minggu ditambah pemberian filgrastim

FEC T flourouracil/epirubicin/cyclophosphamide diikuti pemberian docetaxel

Kemoterapi kanker sifatnya tidak selektif, maka kemoterapi juga mengenai sel bukan sel kanker misalnya sumsum tulang (myelosuppression), saluran cerna, sistem reproduksi, folikel rambut, diare, konstipasi, dan secara berurutan dapat menyebabkan infeksi bakteri, fungi, dan virus (Noorwati, 2003 dan Rugo, 2001).

Myelosuppresion yaitu penurunan kemampuan sumsum tulang dalam menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit akibat pemberian kemoterapi (Anonim, 2007). Selama mengalami myelosuppresion, risiko pasien terkena infeksi meningkat atau mengalami tanda-tanda anemia (Weaver, 2002).

Kemoterapi ↓ Netropenia ↓ Demam Netropeni ↓ Komplikasi Infeksi Bakteremi ↓ Memperpanjang perawatan RS ↓ Meninggal

Gambar 5. Efek samping kemoterapi ringan sampai berat.

D. Netropenia

Netrofil adalah tipe sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh primer terhadap infeksi. Netropenia ialah penurunan jumlah sel netrofil dari batas normal. Jumlah netrofil normal dalam darah sekitar 2500-6000 sel/ml dan lama hidupnya sekitar 10-20 hari. Netropenia merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi, risiko infeksi mulai meningkat jika jumlah netrofil <1000sel/ml dan mencapai puncaknya bila mencapai ≤500 sel/ml. Infeksi dengan jumlah netrofil ≤500 sel/ml dan kenaikan suhu tubuh >38,5°C dinamakan demam netropenia. Netropenia dan risiko infeksi akan membatasi dosis kemoterapi yang diberikan, bahkan mungkin menghentikan kemoterapi (Finberg, 1998).

Faktor risiko netropenia selama kemoterapi tergantung pada : 1. jenis dan dosis kemoterapi,

2. pasien lanjut umur,

4. nutrisi pasien buruk,

5. adanya penyakit penyerta misalnya gangguan fungsi hati, ginjal, darah tinggi atau infeksi (Anonim, 2006a).

Terapi yang dapat diberikan untuk mengatasi netropenia/infeksi selama pasien menjalani kemoterapi ialah dengan pemberian antibiotika, transfusi leukosit dan penurunan atau penundaan siklus kemoterapi. Tetapi pilihan terapi tersebut saat ini dihindari karena transfusi leukosit berisiko komplikasi transmisi infeksi, reaksi alergi dan toksisitas pulmonal, penurunan dosis atau penundaan kemoterapi akan mengurangi hasil akhir kemoterapi (Anonim, 2006a).

Strategi terbaru adalah menggunakan sitokin faktor pertumbuhan sel granulosit untuk profilaksis atau terapi netropenia akibat kemoterapi dikenal dengan nama Recombinant Human Granulocyte Colony Stimulating Factors (rHu-GCSFs) atau filgastrim. Recombinant Human Granulocyte Colony Stimulating Factors (rHu-GCSFs) merupakan protein non-glikosilat yang dihasilkan dari teknologi rekombinan gen bakteri Escherichia coli. Granulocyt Colony Stimulating Factors (G-CFSs) berperan sebagai faktor pertumbuhan hematopoiesis terhadap pertumbuhan dan proliferasi sel netrofil. Uji praklinik menunjukkan rHu-GCSF mampu meningkatkan aktivitas netrofil, memproduksi netrofil sumsung tulang dan melepaskan ke peredaran darah tepi. Produksi netrofil akan meningkat 9,4 kali lipat (Anonim, 2006a).

E. Tanda Infeksi

Komplikasi infeksi pada penderita kanker payudara dapat diketahui berdasarkan tanda-tanda berikut :

1. suhu badan >38°C (Normal : 37°C-38°C) 2. nadi >120 x/menit (Normal : 100-120 x/menit)

3. jumlah leukosit >12 x103sel/ml(Normal : 4-10 x103sel/ml)

4. risiko infeksi meningkat jika jumlah netrofil <1000 sel/ml dan mencapai

puncaknya bila mencapai ≤500 sel/ml.

5. kenaikan jumlah limfosit disebabkan oleh infeksi virus seperti rubella, hepatitis dan infeksi mononukleosis.

6. infeksi dapat menyebabkan kenaikan jumlah monosit misalnya tifoid, endokarditis subakut, infeksi mononukleosis dan tuberkolosis (Walker dan Edwards, 1999).

F. Antibiotika

1. Definisi

Antibiotika adalah senyawa kimia khas, dihasilkan oleh mikroorganisme hidup termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain (Archer, 1998). Berdasarkan sifat toksisitas selektif, dikenal antibiotika yang mempunyai aktivitas untuk menghambat pertumbuhan mikroba (antibiotik bakteriostatik), dan ada yang bersifat pembunuh mikroba (antibiotik bakterisid). Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya masing-masing dikenal sebagi kadar hambat minimal/KHM dan kadar bunuh minimal/KBM (Setiabudi dan Gan, 1995).

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia harus mempunyai sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya obat

tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes (Setiabudi dan Gan, 1995).

Tabel IV. Penggolongan antibiotik berdasarkan fungsinya.

Antibiotik

Profilaksis Kuratif

Potensi infeksi Infeksi Empirik

≠ dilakukan tes kultur

kuman Absolut

Kultur Kuman

Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang diberikan ketika terjadi potensi terinfeksi. Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pasien pra operasi dan immunocompromized. Potensi terinfeksi ditandai dengan penurunan jumlah leukosit dari batas normal yakni ≤2000 sel/ml. Oleh karena itu, untuk pengobatannya digunakan antibiotika dengan spektrum luas yakni antibiotik yang sensitif terhadap bakteri gram negatif maupun positif. Pada penderita kanker payudara antibiotika profilaksis yang sering digunakan misalnya golongan sefalosporin dan kuinolon (Guiliano, 2001).

Antibiotika kuratif adalah antibiotika yang diberikan ketika terjadi infeksi. Positif terinfeksi ditandai dengan peningkatan jumlah leukosit dari batas normal yakni >12.000 sel/ml. Antibiotika empirik dan absolut merupakan bagian dari antibiotika kuratif, yang membedakan kedua antibiotika ini adalah dilakukan atau tidaknya tes kultur kuman. Penggunaan antibiotika empirik didasarkan pada pengalaman dengan unit klinis khusus, dengan harapan penanganan awal akan memperbaiki hasil. Contoh antibiotika empirik yang sering digunakan dalam terapi kanker payudara ialah golongan sefalosporin generasi ketiga dan aminoglikosida.

Antibiotika absolut ialah antibiotika yang pemilihan dan penggunaannya didasarkan pada jenis kuman hasil kultur, sehingga memiliki tingkat selektifitas yang sangat tinggi. Contoh antibiotika absolut yakni metronidazol (antiprotozoa) yang dalam penggunaannya biasa dikombinasi dengan sefalosporin (Katzung, 2004).

2. Mekanisme Kerja

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi 5 kelompok yaitu a. memblok enzim-enzim esensial dalam metabolisme folat (antara lain :

sulfonamid-trometoprim, dan sulfon),

b. menghambat sintesis dinding sel (antara lain : penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin),

c. mempengaruhi permeabilitas membran sel (antara lain : polimiksin, dan golongan polien),

secara reversibel (antara lain : aminoglikosida, makrolid,linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol),

e. mempengaruhi metabolisme asam nukleat bakteri (antara lain : rifampisin, dan golongan kuinolon).

3. Resistensi

Penggunaan antibiotika yang memiliki ruang lingkup luas sebenarnya tidak perlu karena dapat berakibat berkembangnya strain resistensi dan meningkatnya efek samping. Oleh karena itu, untuk memutuskan pemberian antibiotika pada kasus infeksi/potensial infeksi, perlu memperhatikan gejala klinik, jenis patogenitas mikrobanya, kesanggupan mekanisme daya tahan tubuh hospes serta efektifitas dan kerugiannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari timbulnya resistensi kuman dan efek toksisitas kumulatif (Archer, 1998).

Dokumen terkait