• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Dalam dokumen Angky Meilin, dkk. STRADA PRESS (Halaman 116-119)

BAB III Kecelakaan Kerja

M. Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Diagnosis atau identifikasi penyakit akibat kerja yang terjadi pada suatu populasi pekerja dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan menurut Sujoso (2012) yaitu:

1. Pendekatan Epidemiologis

Pendekatan ini terutama digunakan apabila ditemukan adanya gangguan kesehatan atau keluhan pada sekelompok pekerja. Pendekatan ini diperlukan untuk mengidentifikasi adanya hubungan/kausal antara suatu pajanan dengan penyakit. Sebagai hasil dari berbagai penelitian epidemiologis makin banyak berhasil diidentifikasikan pajanan yang dapat menyebabkan penyakit. Identifikasi tersebut mempertimbangkan 1) kekuatan asosiasi, 2) konsistensi, 3) spesifitas, 4) adanya hubungan waktu dengan kejadian penyakit, 5) hubungan dosis dan 6) penjelasan patofisiologis.

2. Pendekatan Klinis (Individual)

Pendekatan ini perlu dilakukan untuk menentukan apakah seseorang menderita penyakit yang disebabkan oleh pekerjaannya atau tidak. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menentukan diagnosis klinis, menentukan pajanan yang dialami oleh individu tersebut dalam pekerjaan, menentukkan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit, menentukan apakah pajanan yang dialami cukup besar, menentukan apakah ada faktor-faktor individu yang berperan, menentukan diagnosis penyakit akibat kerja/hubungan kerja.

Untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit akibat kerja langkah-langkah yang perlu diambil (secara berurutan) adalah wawancara dengan pekerja. Tujuan dari

wawancara adalah untuk mengetahui riwayat pekerjaan dan riwayat penyakit dari penderita. Tentang riwayat penyakit harus ditanyakan waktu timbulnya penyakit, gejala penyakit, perkembangan penyakit, pekerjaan yang pernah dilakukan, dan pemeriksaan klinis.

Pemeriksaan bertujuan untuk menemukan tanda-tanda dan gejala-gejala yang sesuai dengan sindroma atau penyakit akibat kerja. Sebagai contoh pada kercunan timah hitam (Pb) seperti anemia, garis hita pada gusi, kolik usus, wrist syndrome dan lain-lain. Untuk mengetahui apakah penyebab suatu penyakit akibat kerja terdapat dalam tubuh manusia, maka pemeriksaan laboratorium ini harus dilakukam baik secara kualitatif maupun kuantutatif. Sebagai contoh bila ditemukan kadar Pb dalam darah > 80 mikro gram/100 cc darah tanpa disertai dengan gejala-gejala klinis, maka hal ini tidaklah berarti bahwa seseorang telah keracunan timah hitam. Hasil pemeriksaan darah tersebut hanya menunjukkan adanaya absorbsi timah hitam yang berlebihan.

Pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologist terutama penting untuk menegakkan diagnosis penyakit paru kerja yangdisebabkan oelh penimbunan debu-debu di dalam paru. Perlu diperhatikan bahwa untuk diagnosis Pneumoconiosis, film yang digunakan harus berukuran besar dan sesduai dengan standar yang dikeluarkan oleh ILO. Evaluasi lingkungan kerja. Tujuan dari evaluasi lingkungan kerja ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya faktort penyebab penyakit di tempat kerja, tetapi yang terpenting adalah penilaian faktor penyebab penyakit tersebut yaitu dengan pengukuran-pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk menyimpulkan apakah dosis pemaparan tersebut telah cukup atau tidak untuk dapat menyebabkan penyakit akibat kerja Sebagai contoh bila kadar timah hitam dalam udara tempat kerja terukur 0,05 mg/m³, maka kadar tersebut tidak akan menyebabkan keracunan, kecuali jika terdapat asosiasi dengan cara lain. Hubungan antara bekerja/tidak bekerja dengan gejala penyakit.

Pada umumnya gejala-gejala penyakit akibat keja akan berkurang dan bahkan kadang-kadang akan menghilang bila penderita tidak masuk kerja. Gejala-gejala tersebut sering timbul atau menjadi lebih lanjut bila penderita bekerja kembali.

Hal ini akan menjadi lebih jelas terlihat pada penyakit kulit akibat kerja dan Byssinosis.

Menurut TIM K3 Ft UNY (2014) Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat.Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai pedoman yaitu:

1. Menentukan Diagnosis Klinis

Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru

dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.

2. Menentukan Pajanan yang Dialami oleh Tenaga Kerja

Selama ini pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup:

Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara kronologis

Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan Bahan yang diproduksi

Materi (bahan baku) yang digunakan Jumlah pajanannya

Pemakaian alat perlindungan diri (masker) Pola waktu terjadinya gejala

Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa)

Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label, dan sebagainya).

Menentukan Apakah Pajanan Memang Dapat Menyebabkan Penyakit Tersebut

Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung,

Menentukan Apakah Jumlah Pajanan yang Dialami Cukup Besar untuk Dapat Mengakibatkan Penyakit Tersebut

Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat kerja.

Menentukan Apakah Ada Faktor-faktor Lain yang Mungkin Dapat Memengaruhi

Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaan yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD? Riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.

6. Mencari Adanya Kemungkinan Lain yang Dapat Merupakan Penyebab Penyakit

Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit? Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja.

Membuat Keputusan Apakah Penyakit Tersebut Disebabkan oleh Pekerjaannya

Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini.

Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada pada waktu yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya penyakit. Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan diagnosis Penyakit Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagai informasi yang didapatbaik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat kerja (bila memungkinkan), dan data epidemiologis.

Dalam dokumen Angky Meilin, dkk. STRADA PRESS (Halaman 116-119)