• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagram Alir Metode Penelitian

Dalam dokumen ERNA KURNIAWATI I1109009 (Halaman 34-0)

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.7. Diagram Alir Metode Penelitian

Gambar 3.2. Diagram Alir Penelitian

22

Mulai

Menentukan konsep penelitian

Metode penelitian:

1. Observasi Lapangan 2. Studi literatur/pustaka

Merumuskan masalah

Identifikasi penelitian 1. Komponen Sarana Penyelamatan 2. Komponen Sistem Proteksi Pasif

Analisis data 1. Data hasil pengamatan

2. Melakukan penilaian dengan skala likert 3. Menghitung nilai keandalan sistem keselamatan bangunan

Pembahasan

Kesimpulan Selesai

3.7. Diagram Alir Metode Penelitian

Gambar 3.2. Diagram Alir Penelitian

22

3.7. Diagram Alir Metode Penelitian

Gambar 3.2. Diagram Alir Penelitian

commit to user

20

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa,

1. Metode deskripstif, untuk mengetahui penerapan sarana penyelamatan dan sistem proteksi pasif terhadap bahaya kebakaran melalui pengamatan langsung berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:26/PRT/M/2008 untuk selanjutnya di analisis berdasarkan skala likert 2. Metode deskriptif – kuantitatif, untuk mengetahui nilai keandalan sistem

keselamatan bangunan terhadap bahaya kebakaran melalui pengamatan lagsung berdasarkan Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung

3.2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Apartement Solo Paragon , Jln. Dr. Sutomo, Surakarta, Jawa Tengah dikarenakan bangunan tersebut merupakan bangunan publik yang memiliki aktifitas dan perilaku yang cukup tinggi, yang dapat menyebabkan meningkatnya potensi bahaya akibat kebakaran.

Gambar 3.1. Lokasi Penelitian

commit to user

21

3.3. Waktu Penelitian

Sasaran obyek penelitian adalah pihak – pihak yang bersangkutan di bidang kebakaran. Pengambilan data dilakukan diluar jam kerja, dan penelitian dilakukan pada bulan November 2011 – Februari 2012.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan 2 cara, yaitu : 1. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari beberapa peraturan, antara lain Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:26/PRT/M/2008 dan Pd -T-11-2005-C tentang Pemeriksaan keselamatan kebakaran bangunan gedung.

2. Data primer

Data primer diperoleh dari observasi langsung mengenai sistem proteksi kebakaran di Apartement Solo Paragon.

3.5. Sumber Data dari Sistem Manajemen Building

Data yang dipakai selama penelitian adalah data mengenai sarana penyelamatan, data sistem proteksi pasif , komponen sistem proteksi kebakaran

3.6. Analisis Data

Data – data yang diperoleh dari pengamatan langsung dan check list di di lapangan selanjutnya akan digunakan untuk mengetahui penerapan sarana penyelamatan terhadap bahaya kebakaran berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:26/PRT/M/2008 dan untuk mengetahui nilai keandalan sistem keselamatan bangunan terhadap bahaya kebakaran berdasarkan Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung

commit to user

Menetukan konsep penelitian

Metode penelitian 1. Observasi Lapangan 2. Studi literatur/pustaka

Identifikasi penelitian 1. Komponen Sarana Penyelamatan 2. Komponen Sistem Proteksi Pasif

Analisis data 1. Data hasil pengamatan

2. Melakukan penilaian dengan skala likert

3. Menghitung nilai keandalan sistem keselamatan bangunan

3.7. Diagram Alir Metodologi Penilitian

Diagram 3.2. Diagram Alir Metodologi Penelitian Mulai

Menetukan konsep penelitian

Menentukan konsep penelitian

Metode penelitian 1. Observasi Lapangan 2. Studi literatur/pustaka

Identifikasi penelitian 1. Komponen Sarana Penyelamatan 2. Komponen Sistem Proteksi Pasif

Analisis data 1. Data hasil pengamatan

2. Melakukan penilaian dengan skala likert 3. Menghitung nilai keandalan sistem keselamatan bangunan

Pembahasan

Kesimpulan Selesai

3.7. Diagram Alir Metodologi Penilitian

Diagram 3.2. Diagram Alir Metodologi Penelitian

3.7. Diagram Alir Metodologi Penilitian

Diagram 3.2. Diagram Alir Metodologi Penelitian

commit to user

23

BAB 4

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Profil Apartemen Solo Paragon

Apartemen Solo Paragon terletak di Jalan Dr. Sutomo, Surakarta dengan tinggi bangunan 25 lantai dengan 23 lantai untuk hunian dan 2 lantai basement untuk tempat parkir. Memiliki konsep memadukan unsur alam, budaya dan teknologi dan juga memadukan hunian, perkantoran, pusat perbelanjaan, hiburan dan kuliner dalam satu area ( Luxury Apartment, Citywalk & Lifesyle Mall ).

(http:www.solo-paragon.com[27 Desember 2011])

Gambar.4.1. Profil Apartemen Solo Paragon

4.2. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif ini berdasarkan hasil dari check list pengamatan di lapangan mengenai sarana penyelamatan dan sistem proteksi pasif . Check list dilakukan di Apartemen Solo Paragon. Hasil check list bisa dilihat di Lampiran.

4.2.1. Sarana penyelamatan

Hasil pengamatan mengenai sarana penyelamatan berdasarkan pengamatan di lapangan, disajikan dalam tabel berikut :

commit to user

Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Sarana Penyelamatan

No. Tinjauan Peraturan Kondisi

Existing

skala likert 1 Eksit Eksit dipisahkan dari bangunan lain

(Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 35)

Eksit dipisahkan oleh koridor 3 Pemisah dibangun dengan pasangan

konstruksi yang tidak mudah terbakar (Permen PU

Perabot, dekorasi, atau benda – benda lain tidak boleh diletakkan di sepanjang eksit (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 39)

Tidak ada perabot di sepanjang eksit

5

Tidak boleh ada sandaran, pagar, penghalang atau pintu di sepanjang eksit (Permen PU

Cermin tidak boleh dipasang di pintu eksit (Permen PU

No:26/PRT/M/2008 : 39)

Tidak da cermin di pintu eksit 5 Setiap pintu dan jalan masuk untuk

eksit, jelas dan langsung ( Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 39)

Pintu dan akses jalan keluar jelas

5 3 Pintu Pintu pada sarana jalan keluar dari

jenis engsel sisi atau pintu ayun (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 39)

Pintu dari

engsel sisi 5

Pintu tahan api membuka ke arah jalur jalan keluar (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 41)

Pintu aluminium membuka ke jalan ke luar

5 Semua tangga yang melayani

sebuah eksit harus tertutup ( Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 50)

Tangga keadaan

menunjukkan tingkat lantai, akhir teratas dan terbawah dari ruang terlindung (Permen PU 1,5 m di atas bordes lantai, posisi mudah terlihat (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 54)

Penandaan dicat atau dituliskan Penandaan

5

commit to user

25

pada dinding dan terpasang kuat (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 54)

dicat dan terpasang kuat Huruf identifikasi jalur tangga

ditempatkan di bagian atas dengan tinggi minimum huruf 2,5 cm (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 55)

Tinggi huruf 2,5

cm 5

5 Jalan terusan eksit

Jalan terusan eksit memiliki tingkat ketahanan api (Permen PU

No:26/PRT/M/2008 : 58)

Jalan terusan

eksit dari beton 5 6 Jumlah

sarana jalan ke luar

Jumlah minimim sarana jalan ke luar dari setiap balkon, lantai, adalah dua (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 70)

Eksit ditempatkan dan disusun sehingga eksit mudah dicapai pada setiap saat (Permen PU

No:26/PRT/M/2008 : 72)

Eksit mudah di

capai 5

Akses eksit tidak melalui dapur, gudang, ruang istirahat, ruang kerja, kloset, atau ruang lain yang

mungkin terkunci (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 81)

Akases tidak melalui ruang terkunci

5

Gantungan atau gorden tidak dipasang di atas pintu eksit ( Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 81)

Tidak terdapay

Semua eksit berakhir langsung di jalan umum atau pada bagian luar eksit pelepasan (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 85)

Eksit berakhir di

jalan 5

Eksit pelepasan ditata dan diberi tanda untuk membuat jelas arah dari jalan ke luar ke jalan umum

(Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 87)

Iluminasi jalan ke luar siap

digunakan setiap saat dalam kondisi penghuni membutuhkan sarana jalan ke luar (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 89) sepenuhnya siap beroperasi ( Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 91)

Peralatan

11 Penandaan Tanda eksit bisa diraba dan terbaca Tanda eksit

5

commit to user

sarana jalan

ke luar

“EKSIT”, ditempatkan di setiap pintu eksit (Permen PU

No:26/PRT/M/2008 : 93)

dapat diraba

Tanda eksit diletakkan dengan ukuran, dan warna yang nyata, mudah dilihat (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 95)

Tanda eksit

warnanya nyata 5 Tanda arah yang menunjukkan arah

lintasan, ditempatkan di setiap lokasi, apabila arah lintasan mencapai eksit terdekat tidak jelas (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 97)

4.2.2. Sistem Proteksi Pasif

Hasil pengamatan mengenai sistem proteksi pasif berdasarkan pengamatan di lapangan, disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Sarana Proteksi Pasif

No. Tinjauan Variabel Kondisi Existing skala

likert 1 Pasangan

Konstruksi Tahan Api

Tipe konstruksi tahan terhadap api (Permen PU

Jenis partisi, penutup atap tahan terhadap api (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 103)

Jenis pintu dan jendela tahan terhadap api (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 104)

Bahan pelapis interior tahan terhadap api (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 104) penyetop api seperti kabel – kabel, rak kabel, pemipaan, tabung, ven asap dan ven pembuangan (Permen PU

Terdapat saluran udara, seperti ventilasi, untuk pengkodisian udara (Permen PU

Terdapat ventilasi

5

commit to user

Partisi dipasang membentang dari lantai hingga di bagian bawah atap atau geladak atap diatas, melewati ruang – ruang

tersembunyi seperti di atas langit – langit gantung, dan melewati ruang – ruang antara struktur dan mekanikal (Permen PU

Pintu tidak memiliki kisi – kisi (Permen PU No:26/PRT/M/2008 Pintu menutup sendiri atau

menutup secara otomatis ( Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 117)

Pintu menutup

secara otomatis 5 6 Penghalang

Asap

Pintu pada penghalang asap dari jenis pintu yang bisa menutup sendiri atau menutup sendiri secara otomatis (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 119)

Pintu penghalang asap menutup

secara otomatis 5

7 Atrium Bangunan gedung diproteksi keseluruhannya dengan sistem springkler otomatis (Permen PU No:26/PRT/M/2008 : 123)

4.3. Penerapan Sarana Penyelamatan dan Sistem Proteksi Pasif

Penerapan sarana penyelamatan dan sistem proteksi pasif diperoleh dari penerapan peraturan yang dinilai dengan menggunakan skala likert. Skala likert terdiri dari 5 skala nilai yang telah dijelaskan pada bab 2 dalam Tabel 2.6.

4.3.1. Sarana Penyelamatan

Skala likert dihitung menggunakan rumus 2.1. dengan hasil yang disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.3. Analisis Peraturan Sarana Penyelamatan dalam skala likert

No. Tinjauan Skala likert

1 Eksit 4

2 Keandalan jalan keluar 5

3 Pintu 5

commit to user

4 Ruang terlindung dan proteksi tangga 5

5 Jalan terusan eksit 5

6 Jumlah sarana jalan ke luar 3

7 Susunan jalan ke luar 5

8 Eksit Pelepasan 5

9 Iluminasi sarana jalan ke luar 5

10 Pencahayaan darurat 3

11 Penandaan sarana jalan ke luar 5

Jumlah rata – rata sarana penyelamatan 4,54

Penerapan peraturan sarana penyelamatan seperti pada tabel tersebut di atas menghasilkan jumlah rata – rata sebesar 4,54 dalam skala likert. Hal ini menunjukkan sarana penyelamatan di Apartemen Solo Paragon sangat sesuai dengan peraturan.

4.3.2. Sistem Proteksi Pasif

Skala likert dihitung menggunakan rumus 2.1. dengan hasil yang disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.4. Analisis Peraturan Sistem Proteksi Pasif dalam skala likert

No. Tinjauan Skala likert

1 Pasangan konstruksi tahan api 5

2 Pintu dan jendela tahan api 5

3 Bahan pelapis interior 5

4 Penghalang api 5

5 Partisi penghalang asap 4

6 Penghalang asap 5

7 Atrium 5

Jumlah rata – rata sistem proteksi pasif 4,86

Penerapan peraturan sistem proteksi pasif seperti pada tabel tersebut di atas menghasilkan jumlah rata – rata sebesar 4,86 dalam skala likert. Hal ini menunjukkan sistem proteksi pasif di Apartemen Solo Paragon sangat sesuai dengan peraturan.

commit to user

29

4.4. Analisis Deskriptif – Kuantitatif

Analisis deskriptif ini mengetahui nilai keandalan sistem keselamatan bangunan terhadap bahaya kebakaran melalui pengamatan la ngsung. Dalam menilai keandalan suatu bangunan ditentukan oleh peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan Keselamat an Kebakaran Bangunan Gedung yang didalamnya memiliki beberapa aspek, antara lain, kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sarana proteksi aktif, dan sarana proteksi pasif.

4.4.1. Sarana Penyelamatan

Hasil pengamatan mengenai sarana penyelamatan di Apartemen Solo Paragon, dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.5. Hasil Pengamatan Sarana Penyelamatan

No. Komponen Utilitas / Variabel Penerapan Hasil Pengamatan 1 Jalan Keluar

Tinggi efektif exit 2,5 m Tinggi exit 3,2 m Sesuai (B) Jarak tempuh maksimal 20 m dari

pintu keluar

Jarak tempuh exit 10 m

Cukup (C)

Lebar eksit 2 m Lebar eksit 8 m Cukup (C)

Pintu eksit tidak langsung membuka ke arah tangga

Pintu tidak mengarah ke

tangga Sesuai (B)

Pintu ayun tidak mengganggu proses jalan keluar

Pintu tidak menggangu

jalan ke luar Sesuai (B)

Disediakan lobby bebas asap Loby bebas jenis asap Sesuai (B) Exit tidak boleh terhalang Exit tidak terhalang Sesuai (B) Exit menuju ke ruang terbuka Exit berakhir di ruang

terbuka Sesuai (B)

2 Konstruksi jalan ke luar

Bebas halangan Konstruksi bebas

halangan Sesuai (B)

Lebar minimal 200 cm Lebar jalan ke luar 8 m Sesuai (B) Jalan terusan yang dilindungi

terhadap kebakaran, bahannya tidak tidak mudah terbakar

Jalan terusan terbuat

dari bahan beton Sesuai (B) Cukup waktu untuk mengevakuasi

penghuni

Waktu untuk

mengevakuasi penghuni Sesuai (B)

commit to user

cukup Tersedia akses bagi petugas

kebakaran

Terdapat akses petugas

kebakaran Sesuai (B)

4.4.2. Sistem Proteksi Pasif

Hasil pengamatan mengenai sistem proteksi pasif di Apartemen Solo Paragon, dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.6. Hasil Pengamatan Sistem Proteksi Pasif

No. Komponen Utilitas / Variabel Penerapan Hasil Pengamatan 1 Ketahanan api struktur bangunan

Ketahanan api komponen struktur bangunan sesuai dengan tipe konstruksi Tipe konstruksi sesuai dengan luasan

Luas bangunan

41530m2 Sesuai (B)

Terdapat springkler di jalan masuk kendaraan dan sistim pembuangan asap otomatis

Lebar jalan minimal 6 m, sehingga mobil pemadam dapat masuk ke lokasi

Lebar jalan 8 m

Sesuai (B) 3 Perlindungan bukaan

Bukaan dilindungi dan diberi penyetop api

Bukaan hanya terbuat dari bahan tahan api

Cukup (C) Bukaan dari dinding tertutup dan

tahan api

Dinding dari beton

Sesuai (B) Daun pintu dapat berputar di satu

sisi Sesuai (B)

Tebal daun pintu 35 mm Sesuai (B)

Jalan keluar/masuk pada dinding tahan api menutup sendiri otomatis

Sesuai (B)

commit to user

31

4.4.3. Kelengkapan Tapak

Berdasarkan penelitian yang berjudul “Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Apartemen ditinjau dari Kelengkapan Tapak dan Sistem Proteksi Pasif”

yang dilakukan oleh Sdri. Rr. Dwi Ratih Isrorini (2012), hasil pengamatan mengenai kelengkapan tapak di Apartemen Solo Paragon , dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.7. Hasil Pengamatan Kelengkapan Tapak

No. Sub

Variabel Kriteria Penerapan Hasil

Pengamatan 1 Sumber air Tersedia dengan kapasitas

yang memenuhi Diberi perkerasan Telah diberi

perkerasan Sesuai (B)

Lebar jalan masuk minimal 4 m

Jalan masuk 4 meter

Sesuai (B)

8 meter Sesuai (B)

4 Hidran halaman

Tersedia di halaman pada tempat yang mudah

Suplai air 38 liter/detik dan bertekanan 35 bar.

Suplai air tidak diketahui

Cukup Sesuai (C)

4.4.4. Sistem Proteksi Aktif

Berdasarkan penelitian yang berjudul “Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Apartemen ditinjau dari Kelengkapan Tapak dan Sistem Proteksi Pasif”

yang dilakukan oleh Sdri. Rr. Dwi Ratih Isrorini (2012), hasil pengamatan mengenai sistem proteksi aktif di Apartemen Solo Paragon , dapat disajikan dalam tabel berikut :

commit to user

Tabel 4.8. Hasil Pengamatan Sistem Proteksi Aktif

No. deteksi dan alarm kebakaran sesuai dengan

Sistem deteksi dan alarm harus dipasang pada semua bangunan kecuali kelas 1a

Dipasang pada seluruh

bangunan Sesuai (B)

Tersedia detektor panas Detektor panas

terpasang Sesuai (B) Dipasang alat manual

pemicu alarm

Alarm manual

terpasang Sesuai (B) Jarak tidak > dari 30 m

dari titik alarm manual

Jarak < 30

meter Sesuai (B)

2 Siamese connection

Tersedia dan

ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau

mobil pemadam Jumlah sesuai dengan

luasan bangunannya

Jumlah sesuai dengan luas bangunan

Sesuai (B) Jarak penempatan antar

alat maksimal 25 m

Jarak kurang

dari 25 meter Sesuai (B) 4 Hidran

gedung atau pipa tegak

Tersedia sambungan selang diameter 35 mm dalam kondisi baik, panjang selang minimal 30 m dan tersedia kotak

Pasokan air cukup tersedia untuk kebutuhan

commit to user

33

5 Sprinkler Jumlah, perletakan dan jenis sesuai dengan persyaratan.

Sprinkler sesuai

standar Sesuai (B)

Tekanan catu air sprinkler pada titik terjauh (0,5-2,0) kg/cm2.

Tidak diketahui

tekanan air Sesuai (B) Debit sumber catu air

minimal (40-200) liter/menit per kepala sprinkler

Debit air tidak diketahui

Sesuai (B)

Jarak kepala sprinkler kedinding < ½ jarak

Jarak max sprinkler : Kebakaran ringan dan sedang=4,6 m

Kebakaran berat = 3,7 m

Jarak kepala sprinkler 4

meter Sesuai (B)

Dalam ruang

tersembunyi, jarak langit-langit dan atap lebih 80 cm, dipasang jenis kepala sprinkler dengan pancaran keatas.

Tersedia dalam jenis yang sesuai dengan fungsi ruangan yang diproteksi.

Terdapat sistem pemadam

luapan Sesuai (B)

Jumlah kapasitas sesuai dengan beban api dan fungsi ruangan yang dan tidak terhalang oleh benda lain disekitarnya.

commit to user

8 Deteksi asap Sistem deteksi asap memenuhi

Pada ruang dapur dan area lain yang sering mengakibatkan ventilasi asap dan panas.

Detektor tidak

Jarak antar detektor < 20 m dan

< 10 m dari dinding pemisah atau tirai asap.

Jarak antar

menghisap asap Sesuai (B) Terletak dalam reservoir

asap tinggi 2 m dari lantai

Tinggi 2,5

meter dari lantai Sesuai (B) Laju pembuangan asap

sesuai dengan

persyaratan yang berlaku

Laju asap telah

sesuai standar Sesuai (B) Fan pembuangan asap

mampu beroperasi terus menerus pada

temperatur 200oC selang

Fan mampu beroperasi

Sesuai (B)

commit to user

35

waktu 60 menit atau pada temperatur 300oC selang waktu 30 menit Luas horisontal reservoir asap maksimal 2000 m2, dengan tinggi tidak boleh kurang dari 500 mm.

Luas horisontal reservoir asap 1000 m2dengan tinggi 300 mm

Sesuai (B)

Setiap reservoir asap dilayani minimal 1 buah fan, pada titik kumpul dari panas di dalam reservoir asap, jauh dari perpotongan koridor tidak boleh lebih dari 2,5 m/detik, di dalam buah lif kebakaran harus dipasang pada bangunan

Lif kebakaran dalam saf yangtahan api

Lif kebakaran

dalam saf tahan Sesuai (B)

commit to user

memiliki akses ke tiap lantai

api,

Peringatan terhadap pengguna lif pada saat terjadi kebakara,

dipasang di tempat yang mudah terlihat dan lantai dengan luas lantai

> 300 m2, disetiap

Tanda exit jelas terlihat dan dipasang berdekatan

Bila exit tidak trlihat secara langsung dengan

commit to user

37

panah penunjuk arah Setiap tanda exit harus jelas dan pasti diberi pencahayaan yang 2 sumber yaitu PLN, atau sumber daya daya listrik darurat harus memenuhi kabel tahan api selama 60 menit, catu daya dari sumber daya ke motor harus memenuhi ketentuan.

4.5. Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB)

Penilaian Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan berdasarkan pada kriteria penilaian pada Tabel 2.8. dan pembobotan pada Tabel 2.9. yang telah disajikan pada Bab 2.

commit to user

4. 5.1. Sarana Penyelamatan

Hasil analisis penilaian komponen sarana penyelamatan di Apartemen Solo Paragon, dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.9. Hasil Analisis Penilaian Komponen Sarana Penyelamatan

No. Komponen Utilitas / Variabel Hasil Penilaian

Standar

Penilaian Bobot Nilai Kondisi

1 2 3 4 5 6

Sarana penyelamatan 25

1 Jalan Ke luar

Tinggi efektif exit 2,5 m B 100

Jarak tempuh maksimal 20 m dari

pintu keluar C 70

Lebar eksit 2 m C 70

Pintu eksit tidak langsung

membuka ke arah tangga B 100

Pintu ayun tidak mengganggu

proses jalan keluar B 100

Disediakan lobby bebas asap B 100

Exit tidak boleh terhalang B 100

Exit menuju ke ruang terbuka B 100

Rata-rata B 92,5 50 11,56

2 Konstruksi jalan ke luar

Bebas halangan B 100

Lebar minimal 200 cm B 100

Jalan terusan yang dilindungi terhadap kebakaran, bahannya tidak tidak mudah terbakar

B 100

Cukup waktu untuk mengevakuasi

penghuni B 90

Tersedia akses bagi petugas

kebakaran B 100

Rata-rata B 98 50 12,25

Jumlah Nilai Kondisi 23,81

Kaitannya dengan Tabel 4.9 untuk contoh hasil perhitungan sarana penyel amatan adalah sebagai berikut :

1. Kolom 1, berisi nomor penilaian

2. Kolom 2, berisi variabel komponen keselamatan bangunan yaitu jalan ke luar 3. Kolom 3, Hasil penilaian diperoleh dari hasil pengamatan pada Tabel 4.5.

yang disajikan dalam bentuk huruf “B”

commit to user

39

4. Kolom 4, standar penilaian merupakan hasil pengamatan dengan notasi angka yang disesuaikan dengan Tabel 2.8. komponen tinggi efektif exit 2,5 m memiliki nilai 100

5. Kolom 5, menuliskan bobot tiap komponen berdasarkan pada Tabel 2. 9.

6. Kolom 6, nilai kondisi, dihitung dengan Rumus 2.2. :

 Menghitung nilai rata – rata setiap variabel, untuk variabel jalur ke luar menghasilkan nilai rata – rata standar penilaian sebesar 92,5.

Nilai kondisi untuk variabel jalan tinggi efektif exit 2,5 m adalah

100

an penyelamat sarana

komponen Bobot

100 abel Bobot vari penilaian

standar pada

nilai  

11,56 100

25 100

92,5 50  

 Menuliskan jumlah nilai kondisi secara keseluruhan dari komponen sarana penyelamatan sebesar 23,81

Berdasarkan Tabel 4.9. diatas jumlah nilai kondisi komponen sarana penyelamatan sebesar 23,81 dengan nilai bobot sarana penyelamatan 25 . Hal ini menunjukkan bahwa komponen utilitas sarana penyelamatan di Apartemen Solo Paragon telah memenuhi syarat ses uai dengan peraturan.

Dengan prosedur yang sama hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.10.

4. 5.2. Sistem Proteksi Pasif

Prosedur penilaian komponen sistem proteksi pasif sama dengan prosedur penilaian komponen sarana penyelamatan yang membedakan adalah nilai bobot komponen sistem proteksi pasif .

Hasil analisis penilaian komponen sistem proteksi pasif di Apartemen Solo Paragon, dapat disajikan dalam tabel berikut :

commit to user

Tabel 4.10. Hasil Analisis Penilaian Komponen Sistem Proteksi Pasif No

Sistem Proteksi Pasif 26

1 Ketahanan api struktur bangunan Ketahanan api komponen

dengan luasan B 100

Terdapat springkler di jalan masuk kendaraan dan sistim pembuangan asap otomatis

B 100

Lebar jalan minimal 6 m, sehingga mobil pemadam dapat masuk ke lokasi

B 100

Rata-rata B 100 32 8,32

3 Perlindungan bukaan Bukaan dilindungi dan

diberi penyetop api C 70

Bukaan dari dinding

tertutup dan tahan api B 100

Daun pintu dapat berputar

di satu sisi B 100

Tebal daun pintu 35 mm B 90

Jalan keluar/masuk pada dinding tahan api menutup sendiri otomatis

B 100

Rata-rata B 92 32 7,65

Jumlah Nilai Kondisi 25,33

Berdasarkan Tabel 4.10. diatas jumlah nilai kondisi komponen sistem proteksi pasif sebesar 25,33 dengan nilai bobot sistem proteksi pasif 26. Hal ini menunjukkan bahwa komponen utilitas sistem proteksi pasif di Apartemen Solo Paragon telah memenuhi sya rat sesuai dengan peraturan.

commit to user

41

4. 5.3. Kelengkapan Tapak

Berdasarkan penelitian yang berjudul “Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Apartemen ditinjau dari Kelengkapan Tapak dan Sistem Proteksi Pasif”

yang dilakukan oleh Sdri. Rr. Dwi Ratih Isrorini (2012), hasil pengamatan mengenai kelengkapan tapak di Apartemen Solo Paragon , dapat disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.11. Hasil Analisis Penilaian Komponen Kelengkapan Tapak

No. Komponen Utilitas / Variabel

Hasil Penilaian

Standar

Penilaian Bobot Nilai Kondisi

1 2 3 4 5 6

Kelengkapan Tapak 25

1 Sumber Air

Tersedia dengan kapasitas yang memenuhi persyaratan minimal terhadap fungsi bangunan.

B 100 27 6,75

2 Jarak Lingkungan Tersedia dengan lebar

minimal 6 m B 90

Diberi perkerasan B 80

Lebar jalan masuk minimal 4

m B 80

Rata-rata B 83 25 5,19

3 Jarak Antar Bangunan Sesuai persyaratan

Tinggi 8 m – 14 m = 6 m B 100 23 5,75

4 Hidran Halaman

4 Hidran Halaman

Dalam dokumen ERNA KURNIAWATI I1109009 (Halaman 34-0)

Dokumen terkait