• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.4 Diagram Alir Penelitian

Bentuk diagram alir penelitian seperti pada Gambar 3.1 sebagai berikut :

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengukuran Generator GT 2.1

Pada penelitian ini telah diambil hasil pengukuran partial discharge pada tanggal 28 Februari 2020 pukul 10.00 WIB dan 24 April 2020 pukul 17.00 WIB.

Pengukuran menghasilkan rekaman kondisi area isolasi yang disebut cluster.

Dimana, aktifitas partial discharge terlihat dengan karakteristik pola yang bervariasi, nilai muatan yang terukur pada masing – masing fasa, serta intensitas kemunculan muatan dalam tiap detiknya (PDs/s). Dari pola yang terbentuk dapat diketahui tingkat pengaruh partial discharge yang terjadi pada isolasi. Nilai muatan partial discharge juga ditampilkan pada hasil pengukuran. Batas nilai muatan yang dianggap normal berdasarkan standard pengukuran IEC 60034-27-2 yang digunakan Omicron OMS 841 yaitu kurang dari 40 nC, dengan setting warning 60 nC dan setting alert 70 nC.

Berdasarkan pengukuran aktifitas partial discharge pada generator GT 2.1, dihasilkan grafik yang menggambarkan pola partial discharge pada setiap fasa. Sisi vertikal menggambarkan nilai muatan yang terlepas akibat partial discharge, sisi horizontal menggambarkan sudut fasa yang berkisar antara 0o hingga 360o. Siklus positif berada antara sudut 0o hingga 180o, sedangkan siklus negatif di antara sudut 180o hingga 360o. Hasil pengukuran menampilkan pola dengan warna berbeda – beda yang merupakan perbedaan intensitas muatan yang terlepas.

Analisis grafik pola partial discharge dilakukan dengan membandingkan pola yang didapat dari hasil pengukuran pada tanggal 28 Februari 2020 dan 24 April 2020.

4.2 Hasil Pengukuran Generator GT 2.1 4.2.1 Data 28 Februari 2020

A. Tegangan

Nilai tegangan generator GT 2.1 pada tanggal 28 Februari 2020 berada pada nilai konstan 10,5 kV. Kondisi tersebut karena generator dioperasikan sebagai pengatur frekuensi tidak sebagai beban dasar sistem. Tegangan output generator dipengaruhi oleh putaran, medan magnet dan kumparan sehingga semakin cepat putaran yang diberikan mengakibatkan tegangan output (Vrms) pada generator akan semakin meningkat.

B. Frekuensi

Grafik frekuensi ditampilkan pada Gambar 4.1, dimana frekuensi dipengaruhi oleh beban yang ada pada generator. Frekuensi generator GT 2.1 memiliki batas nilai minimum 47,5 Hz dan maksimum 55,00 Hz. Pada tanggal 28 Februari 2020 kondisi beban generator dalam keadaan normal, hal ini ditunjukkan dengan nilai – nilai frekuensi yang masih didalam rentang minimum dan maksimumnya. Generator mengalami kondisi frekuensi terendah pada pukul 09.00 WIB serta tertinggi pada pukul 07.00 – 08.00 WIB namun masih dalam batas normal. Frekuensi generator dipengaruhi oleh sistem pembebanan pada sistem jaringan. Frekuensi generator dapat mempengaruhi getaran elektrik sehingga mengindikasikan adanya kemunculan partial discharge. Untuk memastikan keadaan isolasi pada generator saat beroperasi dilakukan monitoring melalui partial discharge online.

Gambar 4.1 Grafik frekuensi generator GT 2.1

C. Temperatur

Keadaan temperatur generator juga dapat menjadi parameter analisis indikasi adanya partial discharge. Tabel 4.1 merupakan nilai temperatur kumparan di generator pada saat kondisi generator dioperasikan sebagai pengatur frekuensi yang berarti tidak dikombinasikan dengan unit steam power plant. Nilai temperatur dari S1, S2, S3, hingga S9 yang merupakan kumparan dari generator cenderung mendekati setiap waktunya dan masih di antara nilai maksimum 125 oC.

Tabel 4.1 Temperatur kumparan generator GT 2.1

WAKTU TEMPERATUR KUMPARAN (oC)

S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9

Sedangkan temperatur pendingin ditunjukkan pada Tabel 4.2, diperlihatkan bahwa temperatur pendingin generator dari masing – masing jenis pendinginan yaitu MKA 20/75 CT 005/021, MKA 20/75 CT 006/021, MKA 75CT031, MKA 75CT041, dan Hot Air Generator MKA 76CT011 dalam keadan stabil. Kenaikan temperatur terlihat pada pukul 10.00 – 11.00 WIB, kenaikan tersebut juga diiringi dengan meningkatnya temperatur kumparan namun masih dalam nilai wajar.

Terjadinya panas pada generator disebabkan karena adanya rugi tembaga dan rugi besi. Panas yang berlebihan akan memicu partial discharge dan mengakibatkan kerusakan isolasi.

Tabel 4.2 Temperatur pendinginan generator GT 2.1

WAKTU TEMPERATUR PENDINGIN (oC)

MKA untuk diubah ke energi lain. Kondisi daya aktif dalam keadaan konstan di 60 MW, dimana nilai tersebut masih dalam rentang nilai minimum 140 MW dan nilai minimum 20 MW. Hal ini juga dipengaruhi oleh frekuensi generator dalam keadaan normal. Daya aktif berkaitan dengan frekuensi putaran generator, apabila daya aktif yang dibangkitkan tidak mencukupi kebutuhan beban maka frekuensi akan turun.

Sebaliknya, frekuensi akan naik jika kelebihan daya aktif.

E. Daya Reaktif

Daya reaktif ditunjukkan pada Gambar 4.2, terjadi perubahan nilai secara fluktuatif. Pada tanggal 28 Februari 2020, nilai terendah yang dicapai daya reaktif

sebesar 4 MVAR dan nilai tertinggi sebesar 36 MVAR, hal tersebut masih pada kondisi normal karena berada pada batas minimum daya reaktif -15 MVAR dan maksimum 80 MVAR. Ketika beban naik maka arus eksitasi akan naik dan cos phi yang dihasilkan akan turun. Hal itu dipengaruhi oleh kenaikan beban dan arus eksitasi menyebabkan kenaikan daya reaktif. Jika daya reaktif meningkat maka sudut daya yang dihasilkan semakin besar sehingga menyebabkan cos phi yang dihasilkan rendah. Cos phi yang rendah mempengaruhi rugi – rugi daya pada generator. Semakin rendah cos phi yang dihasilkan, maka semakin besar rugi – rugi yang ditimbulkan, dengan demikian efisiensi generator pun semakin rendah.

Gambar 4.2 Grafik dayareaktif generator GT 2.1

F. Nilai Muatan Pada Generator

Berdasarkan grafik pada Gambar 4.3, muatan partial discharge mengalami kondisi fluktuatif pada pukul 00.00 – 09.00 WIB. Kondisi tersebut sama seperti frekuensi generator. Terlihat bahwa nilai muatan akan mengalami peningkatan ketika nilai frekuensi mengalami penurunan. Seperti pada pukul 09.00 nilai frekuensi yang semula 50,28 Hz menjadi 50,00 Hz sedangkan pada grafik muatan partial discharge terlihat garis grafik mengalami kenaikan yang semula berada di antara 20 – 30 nC menjadi 30 – 40 nC. Penurunan nilai frekuensi diakibatkan meningkatnya beban yang diberikan ke generator sehingga mengakibatkan peningkatan temperature.

Gambar 4.3 Kondisi muatan partial discharge

Muatan (nC)

Waktu

G. Pengelompokan Cluster Generator GT 2.1 1. Cluster Secara Umum

Pada penelitian ini telah diambil hasil pengukuran partial discharge yang menghasilkan rekaman kondisi area isolasi, dimana partial discharge tergambar jelas pada cluster yang terpilih. Berdasarkan hasil pemantauan aktifitas partial discharge pada generator GT 2.1, dihasilkan grafik yang menggambarkan pola pada setiap fasa seperti pada Gambar 4.4. Sisi vertikal menggambarkan nilai muatan yang terlepas akibat partial discharge, sisi horizontal menggambarkan sudut fasa yang berkisar antara 0o hingga 360o. Siklus positif berada antara sudut 0o hingga 180o, sedangkan siklus negatif di antara sudut 180o hingga 360o. Hasil pengukuran menampilkan pola dengan warna berbeda – beda yang merupakan perbedaan intensitas muatan yang terlepas.

Secara umum, gradasi warna biru membentuk beberapa pola partial discharge, namun terdapat pola garis – garis vertikal yang merupakan efek dari peralatan thyristor sebagai sistem eksitasi di generator. Fenomena tersebut bukan merupakan partial discharge melainkan dianggap sebagai disturbance atau noise.

0

(a) Fasa U (b) Fasa V

Muatan (C) Muatan (C)

Derajat Derajat

Gambar 4.4 Pola keseluruhan hasil pengukuran

2. Cluster 1

Gambar 4.5 merupakan cluster 1 dari hasil pengukuran, rekaman grafik terlihat membentuk pola garis – garis horizontal yang berada pada puncak sinusoidal tegangan tinggi. Pola yang terjadi menunjukkan bahwa muatan yang muncul berada pada tepian tajam.

(c) Fasa W (d) Cluster

(a) Fasa U (b) Fasa V

Muatan (C)

Derajat

Muatan (C) Muatan (C)

Derajat Derajat

Gambar 4.5 Pola pada cluster 1 hasil pengukuran

Pada Tabel 4.3 menunjukkan nilai muatan pada masing – masing fasa di cluster 1. Nilai muatan terbesar pada fasa U positif yaitu 3,114 nC dengan intensitas 7,842 PDs/s.

Tabel 4.3 Nilai muatan partial discharge pada cluster 1

FASA

Hasil pemantauan partial discharge cluster 2 ditampilkan pada Gambar 4.6.

Pola yang terbentuk adalah garis horizontal yang berada di zero crossing. Posisi kemunculan garis horizontal yang berbeda menunjukkan adanya penyebab kemunculan yang berbeda dengan cluster 1.

(c) Fasa W (d) Cluster

Muatan (C)

Derajat

0

Gambar 4.6 Pola pada cluster 2 hasil pengukuran

Nilai muatan cluster 2 terlampir pada Tabel 4.4, muatan terbesar berada pada fasa W positif dengan nilai muatan 2,892 nC dan nilai intensitas 1,32 PDs/s.

Tabel 4.4 Nilai muatan partial discharge pada cluster 2

FASA

4. Cluster 3

Kondisi cluster 3 diperlihatkan pada Gambar 4.7, terdapat garis horizontal yang berada pada zero crossing. Letak dari garis horizontal pada cluster 3 sama dengan cluster 2 sehingga dapat diketahui pola yang muncul memiliki penyebab yang sama.

Gambar 4.7 Pola pada cluster 3 hasil pengukuran

Untuk muatan partial discharge yang terjadi pada cluster 3 dilihat dari Tabel 4.5. Nilai muatan terbesar ada pada fasa U positif dengan nilai 2,609 nC dan intensitas 9,883 PDs/s.

(a) Fasa U (b) Fasa V

(c) Fasa W (d) Cluster

Muatan (C) Muatan (C)

Muatan (C)

Derajat Derajat

Derajat

Tabel 4.5 Nilai muatan partial discharge pada cluster 3

Nilai tegangan generator GT 2.1 pada tanggal 24 April 2020 berada pada nilai tegangan konstan 10,5 kV sama seperti kondisi pada tanggal 28 Februari 2020.

Kondisi tersebut karena generator dioperasikan sebagai pengatur frekuensi tidak sebagai beban dasar sistem. Tegangan output generator dipengaruhi oleh putaran, medan magnet dan kumparan sehingga semakin cepat putaran yang diberikan mengakibatkan tegangan output (Vrms) pada generator akan semakin meningkat.

B. Frekuensi

Keadaan frekuensi generator terlihat pada Gambar 4.8, dimana nilai frekuensi mengalami kondisi fluktuatif namun masih dalam kondisi stabil tidak melebihi nilai maksimum dan minimum. Frekuensi generator GT 2.1 memiliki batas nilai minimum 47,5 Hz dan maksimum 55,00 Hz. Generator mengalami kondisi frekuensi terendah pada pukul 16.00 WIB dan 22.00 WIB serta tertinggi pada pukul 17.00 WIB. Frekuensi generator dipengaruhi oleh sistem pembebanan pada sistem jaringan, Ketika pada beban puncak frekuensi dan daya yang dikirimkan oleh generator mengalami fluktuatif. Frekuensi generator dapat mempengaruhi getaran elektrik sehingga mengindikasikan adanya kemunculan

partial discharge. Untuk memastikan keadaan isolasi pada generator saat beroperasi dilakukan monitoring melalui partial discharge online.

Gambar 4.8 Grafik frekuensi generator GT 2.1

C. Temperatur

Temperatur kumparan generator GT 2.1 pada tanggal 24 April 2020 dapat dilihat pada Tabel 4.6. Nilai temperatur pada kumparan S1, S2, S3, hingga S9 direkam pada saat generator dioperasikan secara open cycle yang berarti tidak dikombinasikan dengan unit steam power plant dan saat itu dioperasikan sebagai pengatur frekuensi. Berdasarkan Tabel 4.6 kondisi temperatur kumparan terlihat normal tidak ada perubahan yang signifikan. Temperatur kumparan masih pada batas nilai maksimum.

Tabel 4.6 Temperatur kumparan generator GT 2.1

WAKTU TEMPERATUR KUMPARAN (oC)

S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 MAX 125 125 125 125 125 125 125 125 125 16.00 54 54 54 53 53 53 53 53 53 17.00 63 63 63 62 62 63 63 62 63 18.00 65 65 65 64 64 64 64 64 64 19.00 65 65 65 64 64 64 64 64 64 20.00 65 65 65 64 64 64 64 64 64 21.00 65 65 65 64 63 64 64 64 64 22.00 65 65 65 64 63 64 64 64 64 23.00 64 64 64 63 63 64 64 63 64 00.00 64 64 64 63 63 63 63 63 63

Temperatur pendingin generator ditunjukkan pada Tabel 4.7, dapat dilihat pada masing – masing jenis pendingin sistem pendinginan generator dalam kondisi stabil. Terjadi kenaikan suhu pada pukul 18.00 – 19.00 WIB, hal itu diakibatkan kenaikan temperatur kumparan generator. Naiknya temperatur diakibatkan adanya rugi tembaga dan rugi besi yang menyebabkan panas pada generator. Apabila panas berlebih dapat memicu partial discharge dan menjadi potensi kerusakan isolasi.

Tabel 4.7 Temperatur pendinginan generator GT 2.1

WAKTU TEMPERATUR PENDINGIN (oC)

MKA

Kondisi daya aktif dalam keadaan konstan di 60 MW, sama seperti kondisi pada tanggal 28 Februari 2020. Daya aktif yang dihasilkan oleh Generator GT 2.1 memiliki nilai minimum 20 MW dan nilai maksimum 140 MW. Kondisi dari daya aktif yang dihasilkan dipengaruhi oleh frekuensi generator dalam keadaan normal.

E. Daya Reaktif

Kondisi daya reaktif ditunjukkan pada Gambar 4.9 dengan perubahan nilai yang fluktuatif. Nilai terendah yang dicapai daya reaktif sebesar -7 MVAR dan nilai tertinggi sebesar 8 MVAR. Batas minimum daya reaktif -15 MVAR dan maksimum 80 MVAR. Jika dibandingkan dengan kondisi daya reaktif pada tanggal 28 Februari 2020, dapat disimpulkan faktor daya generator pada tanggal 20 April 2020 lebih baik. Apabila nilai daya reaktif besar maka nilai cos phi mengalami penurunan,

sehingga mengakibatkan peningkatan rugi – rugi daya generator. Nilai cos phi mempengaruhi efisiensi dari sebuah generator.

Gambar 4.9 Grafik daya aktif generator GT 2.1

F. Nilai Muatan Pada Generator

Kondisi muatan partial discharge pada Gambar 4.10 menunjukkan adanya kondisi perubahan muatan yang cukup signifikan pada pukul 16.00 – 22.00 WIB.

Terjadi peningkatan jumlah muatan pada pukul 18.00 WIB, hal ini juga diikuti dengan kenaikan nilai frekuensi menjadi 50,27 Hz. Meningkatnya frekuensi putaran generator dapat memperbesar getaran elektrik yang memicu timbulnya partial discharge. Sedangkan pada pukul 20.00 WIB muatan mengalami penurunan diiringi dengan berkurangnya frekuensi, hal ini menunjukkan partial discharge dapat dipengaruhi oleh kondisi beban dari generator.

Gambar 4.10 Kondisi muatan partial discharge

G. Pengelompokan Cluster pada Generator 1. Cluster Secara Umum

Pada bagian beikut membahas hasil pengukuran partial discharge pada tanggal 24 April 2020. Berdasarkan hasil pemantauan aktifitas partial discharge pada generator GT 2.1, dihasilkan pola grafik pada Gambar 4.11. Jika dibandingkan dengan pola grafik pada Gambar 4.3, terlihat gradasi warna biru pada Gambar 4.11 lebih cenderung berwarna hijau, artinya intensitas muatan yang terlepas lebih kecil pada hasil pengukuran yang kedua.

Secara keseluruhan, pola warna pada grafik membentuk beberapa pola partial discharge, terdapat juga pola dari noise yang berbentuk garis – garis vertikal seperti jarum yang merupakan efek dari sistem eksitasi di generator.

Muatan (nC)

Waktu

Gambar 4.11 Pola keseluruhan hasil pengukuran

2. Cluster 1

Cluster 1 hasil pengukuran ditampilkan pada Gambar 4.12, rekaman pola yang terbentuk berupa garis – garis horizontal yang berada pada puncak sinusoidal tegangan tinggi pada sisi negatif.

(a) Fasa U (b) Fasa V

(c) Fasa W (d) Cluster

Muatan (C) Muatan (C)

Muatan (C)

Derajat Derajat

Derajat

Gambar 4.12 Pola pada cluster 1 hasil pengukuran

Pada Tabel 4.8 menunjukkan nilai muatan pada masing – masing fasa di cluster 1. Nilai muatan terbesar pada fasa U positif yaitu 631,9 pC dengan intensitas 2,648 PDs/s.

Tabel 4.8 Nilai muatan partial discharge pada cluster 1

FASA

3. Cluster 2

Cluster 2 hasil pemantauan pada Gambar 4.13 menampilkan pola menyerupai segitiga kembar. Pola yang muncul merupakan kegagalan pertama dan yang paling umum. Partial discharge dapat terjadi akibat rongga kecil tersebut terisi oleh udara atau gas yang terjebak dalam isolasi utama. Kenaikan temperatur dapat menurunkan intensitas munculnya pola pada cluster 2 tersebut, hal ini dikarenakan dilatasi volume menyebabkan penurunan celah dan rongga dalam isolasi.

Gambar 4.13 Pola pada cluster 2 hasil pengukuran

(a) Fasa U (b) Fasa V

(c) Fasa W (d) Cluster

Muatan (C) Muatan (C)

Muatan (C)

Derajat Derajat

Derajat

Nilai muatan cluster 2 terlampir pada Tabel 4.9, muatan terbesar berada pada fasa U positif dengan nilai muatan 246,2 pC dan nilai intensitas 16,3 PDs/s.

Tabel 4.9 Nilai muatan partial discharge pada cluster 2

FASA menyerupai segitiga kembar. Namun apabila terjadi kenaikan temperatur intensitas pola dapat berkurang karena volume celah mengecil.

(a) Fasa U (b) Fasa V

Muatan (C) Muatan (C)

Derajat Derajat

Gambar 4.14 Pola pada cluster 3 hasil pengukuran

Nilai muatan yang terjadi pada cluster 3 dilihat dari Tabel 4.10. Nilai muatan terbesar ada pada fasa W negatif dengan nilai 2,378 nC dan intensitas 203 PDs/s.

Tabel 4.10 Nilai muatan partial discharge pada cluster 3

FASA

4.3 Evaluasi dan Analisis Hasil Pengukuran Generator GT 2.1 4.3.1 Pola Partial Discharge Hasil Pengukuran

Tabel 4.11 ditampilkan keseluruhan analisis hasil pemantauan partial discharge pada dua waktu yang berbeda. Pada tanggal 28 Februari 2020 menunjukkan bahwa terdapat tiga cluster yang menunjukkan adanya indikasi aktifitas partial discharge dengan jenis korona. Penyebab timbulnya korona ialah adanya jarak yang terlalu dekat pada fasa semikonduktif. Khusus untuk cluster 1, sinyal korona berada di puncak sinusoidal tegangan uji yang artinya terdapat tepian tajam pada proteksi kumparan yang berhadapan. Namun, korona yang muncul bukan merupakan fenomena yang membahayakan sistem isolasi. Hal itu dikarenakan nilai muatan yang relatif kecil dan korona merupakan jenis partial discharge yang muncul di udara bukan pada permukaan sistem isolasi.

Sedangkan hasil pemantauan pada tanggal 24 April 2020 menunjukkan ada tiga cluster yang terdapat aktifitas partial discharge. Pada cluster 1 terdapat indikasi munculnya korona, tetapi nilai muatannya terlalu kecil sehingga belum dapat dikatakan korona timbul pada cluster 1 tersebut. Cluster 2 dan 3 menunjukkan munculnya micro void yang ditandai dengan pola segitiga simetris. Micro void muncul akibat adanya rongga kecil yang disebabkan cacat manufaktur kemudian rongga tersebut terisi udara atau gas sehingga timbul partial discharge. Keberadaan micro void pada sistem isolasi dianggap normal, hanya saja harus selalu dipantau agar tidak terjadi delaminasi lapisan isolasi.

Tabel 4.11 Hasil Analisis uji partial discharge pada generator tajam di antara proteksi kumparan - Merupakan indikasi terjadinya

korona

- Nilai muatan terbesar fasa U positif 3,114 nC; intensitas 7,842 PDs/s - Tingkat bahaya menengah untuk

- Merupakan indikasi terjadinya korona

- Nilai muatan terbesar fasa W positif 2,892 nC; intensitas 1,32 PDs/s - Korona yang muncul pada cluster 2

dibandingkan cluster 1 lebih ringan berdasarkan nilai muatannya yang terlalu dekat antara proteksi kumparan

- Merupakan indikasi terjadinya korona

- Nilai muatan terbesar fasa U positif 2,609 nC; intensitas 9,883 PDs/s - Tingkat bahaya menengah untuk

isolasi 24 APRIL 2020

a. Cluster 1 - Pola yang muncul merupakan E2 - Korona timbul pada tepian tajam di

antara fasa semikonduktif

- Garis horizontal yang terdapat pada sisi negatif mendeskripsikan jika

nilai muatan partial discharge yang terjadi relatif kecil

- Nilai muatan terbesar fasa U positif 631,9 pC; intensitas 2,648 PDs/s - Masih merupakan indikasi terjadi artinya berada ditiap setengah siklus dari tegangan uji

- Micro void tersebut muncul akibat adanya kebocoran sistem pelumasan bearing yang mengakibatkan kelembaban pada end winding

- Kemunculan micro void dapat di atasi dengan melakukan pembersihan pada permukaan isolasi end winding

- Merupakan indikasi terjadinya micro void

- Nilai muatan terbesar fasa U positif 246,2 pC; intensitas 16,3 PDs/s - Tingkat bahaya rendah untuk isolasi c. Cluster 3 - Pola S1 berbentuk segitiga kembar.

- Warna pola yang lebih pekat menggambarkan muatan dengan nilai yang lebih besar, dapat diakibatkan jumlah void yang lebih banyak atau diameter rongga yang lebih besar

- Merupakan indikasi terjadinya micro void

- Nilai muatan terbesar fasa W negatif 2,378 nC; intensitas 203 PDs/s

- Tingkat bahaya rendah untuk isolasi

4.3.2 Rugi Daya Akibat Partial Discharge

Pada Tabel 4.12 terdapat data hasil pengukuran dan perhitungan rugi daya akibat partial discharge untuk tanggal 28 Februari 2020 dan Tabel 4.13 untuk tanggal 24 April 2020, dimana nilai rugi daya didapat melalui Persamaan 2.1.

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan data generator GT 2.1 dan data kuantitatif hasil pengukuran partial discharge.

Tabel 4.12 Hasil perhitungan rugi daya 28 Februari 2020

Lokasi

Pada Tabel 4.12 dapat dilihat nilai rugi daya terbesar berada pada cluster 3 fasa U positif sebesar 0,270 MW. Sedangkan pada Tabel 4.13 nilai rugi daya terbesar berada pada cluster 3 fasa W negatif sebesar 5,068 MW.

Apabila terjadi peningkatan aktifitas partial discharge maka nilai dari rugi daya yang dihasilkan akan meningkat. Hal ini menggambarkan partial discharge mempengaruhi efisiensi dari sebuah generator.

Tabel 4.13 Hasil perhitungan rugi daya 24 April 2020

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari Analisis yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pada tanggal 28 Februari 2020 hasil pengukuran menunjukkan adanya korona pada tiga cluster yang menjadi objek pemantauan. Sedangkan pada tanggal 24 April 2020 terdapat korona pada cluster 1 dan micro void pada cluster 2 dan 3.

2. Kemunculan korona disebabkan oleh dua faktor yaitu adanya tepian tajam diantara fasa semikonduktif dan adanya jarak yang terlalu dekat antara proteksi kumparan. Korona memiliki tingkat bahaya sedang untuk sistem isolasi karena tidak terjadi pada permukaan isolasi melainkan di celah udara antar fasa ataupun fasa ke ground.

3. Micro void yang terjadi pada isolasi generator GT 2.1 di tanggal 24 April 2020 disebabkan oleh adanya kebocoran sistem pelumasan bearing yang mengakibatkan kelembaban pada end winding.

4. Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa micro void yang terjadi akibat adanya kontaminasi pada end winding.

5. Partial discharge yang muncul pada saat pengukuran menimbulkan rugi daya berdasarkan hasil perhitungan yang didapat. Semakin besar jumlah muatan partial discharge yang dihasilkan semakin besar juga rugi daya yang terjadi.

5.2 Saran

Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan analisis kondisi sistem isolasi ketika terjadi gangguan pada generator dengan mempertimbangkan pengaruh pembebanan terhadap kondisi partial discharge agar terlihat pengaruhnya gangguan tersebut terhadap sistem isolasi.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Darwanto Djoko, et al., "Partial Discharge Analysis for Predictive Maintenance of Generator of Geothermal Power Plant", IEEE International Conference on Condition Monitoring and Diagnosis, September 23 - 27 2012.

[2] Tobing Bonggas L., "Dasar - Dasar Teknik Pengujian Tegangan Tinggi", Edisi Kedua, Jakarta : Penerbit Erlangga, 2012.

[3] OMICRON, "What is Partial Discharge? Why do we measured PD?", OMICRON Academy, 2020.

[4] Claude Kane, Alexander Golubev, "Use of Resistive Temperature Detectors as Partial Discharge Sensors in Rotating Equipment", IEEE International Symposium on Electrical Insulation, 2006.

[5] Pinit Jitjing, Chatchai Suppitaksakul, et al., "Partial Discharge Signals Detecting and Preventive Maintenance Planning for 21 kV Generator", IEEE 15th International Conference on Electrical Engineering / Electronics, Computer, Telecommunications and Information Technology, 2018.

[6] Ahmadi, S, et al., "Partial Discharge Detection During Electrical Aging of Generator Bar Using Acoustic Technique", IEEE International Symposium on Electrical Insulation, 2012.

[7] A.J.M.Pemen, et al., "Analysis and Localization of Spurious Partial Discharge Activity in Generator Units", IEEE 7th International Conference on Solid Dielectrics, June 25-29,2001.

[8] P.G.S. Kumar, M. Tech. (Ph.D), et al., “Partial Discharge in Stator Winding Insulation of Turbine Generators – A Case Study and Remedies”, IEEE International Confrence on Power and Energy Systems, December 22-24, 2011.

[9] PT.PLN Pusdiklat,”Pengenalan Pembangkit”,MP2, hal 17-18,2015

[10] Zuhal, "Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya", Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 1995.

[11] Haq Nizamul, et al., "Analisis dan Pendeteksian Partial Discharge pada Isolasi Generator Terhadap Performa Generator Berpendingin Hidrogen", Universitas Indonesia, 2014.

[12] Davies, Neil, et al., "Testing Distribution Switchgear for Partial Discharge in the Laboratory and Field", IEEE International Symposium on Electrical Insulation, 2008.

[13] Hwa Yi, Sang, et al., "A New Directional Coupler Type Partial Discharge Sensor Installed on the Power Lead of Rotatinf Machine", JEET, 2016.

[14] OMICRON, "MCC 117 User Manual", OMICRON Energy Solutions GmbH, 2018.

[15] OMICRON, "OMS 841 User Manual", OMICRON Energy Solutions GmbH, 2017.

[16] IEEE 1434:2014, "IEEE Guide for the Measurement of Partial Discharge in AC Electrical Machinery".

Dokumen terkait