• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dialektika Islam dalam Budaya Lokal: Potret Budaya

BAB 2: LANDASAN TEORI

2.3 Kebudayaan dalam Islam

2.3.6 Dialektika Islam dalam Budaya Lokal: Potret Budaya

transformasi kebudayaan lokal. Mengikuti argumen Von Grunnebaum (dalam Bryson, 1978), transformasi kebudayaan Melayu itu dalam banyak hal hampir sama dengan konversi masyarakat Arab ke dalam Islam pada abad ke 7 yang juga merupakan transformasi kebudayaan bangsa Arab.

Kehadiran Islam telah mampu memberi warna dalam kehidupan masyarakat Riau yang tentu saja melalui proses akulturasi dan adaptasi antara nilai-nilai Islam dengan kebudayaan lokal. Hubungan agama dan kebudayaan yang kemudian berjalan secara balas membalas, dapat memberi asumsi bahwa agama cukup berpengaruh dalam memberi corak suatu budaya masyarakat.

Keadaan ini bisa terjadi karena rangkaian aktivitas sampai wujudnya budaya, yang dipandang sebagai suatu kesadaran daripada pemeluk agama untuk mewujudkan pandangan hidupnya. Pandangan hidup adalah sesuatu yang dipandang baik dan benar. Sebab itu yang akan wujud dalam rangkaian tingkah laku tentulah sesuatu yang dipandang benar itu. Manusia, agama (pandangan hidupnya), dan rangkaian budayanya tak dapat dipisahkan. Ini memberi konsekuensi bahwa penelitian terhadap ketiga haal itu tak dapat dilakukan secara terpisah (UU. Hamidy, 1996: 134). Dialektika agama dan budaya lokal inilah yang memperlihatkan adanya keragaman bentuk manifestasi Islam dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dengan jelas juga terlihat pada masyarakat Melayu Riau yang memiliki corak Islam yang khas lokal.35Dari keanekaragaman kebudayaan ini, terdapat beberapa prinsip pengembangan kebudayaan Islam. Pertama, prinsip keterbukaan.

Dengan prinsip ini, kebudayaan Islam tidak dibangun dari nol. Islam datang pada sebuah kebudayaan dengan berbagai faktor yang melekat pada dirinya, seperti faktor sejarah, faktor etnis (kesukuan) dan rasial (bangsa), serta faktor demografis dan geografis untuk kemudian memberikannya sebuah visi keagamaan, sesuai dengan paham hasil internalisasi (proses) masyarakat

35 Zikri Darussamin, Hasbullah, Nanda Sarip Hidayat, “Media Komunikasi Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya”, Jurnal Sosial Budaya vol. 11 No. 2 (2014): 169.

34

pendukungnya. Kedua, prinsip toleransi, sebagai konsekuensi dari prinsip pertama Keterbukaan membutuhkan toleransi; tidak ada keterbukaan tanpa toleransi. Ketiga, prinsip kebebasan. Aktualisasi dari pemberian visi keagamaan menuntut kebebasan untuk mengembangkan kebudayaan sebagai proses eksistensi kreatif. Keempat, prinsip otentisitas yang tersirat dari visi keagamaan yang melandasi bekerjanya prinsip kebebasan. Keragaman yang lahir dari aktualisasi tiga prinsip pertama terintegrasikan dalam kesatuan spiritualitas melalui prinsip otentisitas.36 Budaya yang berbentuk mantra, monto, jampi, serapah yang dipakai dalam Islam, Caranya, pembukaan mantra dimulai dengan Bismillah, sedangkan akhirnya disudahi dengan kata Allah dan Muhammad. Jadi dari luar mantra itu terkesan Islami, meskipun muatannya masih ada unsur yang berasal dari kepercayaan lama. Sebab, hal tersebut ialah suatu adat atau budaya yang sudah diwariskan dari nenek moyang maka dari sebahagian dari beberapa daerah masih saja mempercayai hal tersebut. Dibuat karya-karya (terutama sastra) yang bercitra Islam untuk menandingi karya-karya yang masih berunsur syirik. Untuk melindungi berbagai mantra tersebut, maka dibuatlah tawar, doa, dan lemu yang mengandung unsur Islam lebih dominan.37

36 Ibid.,171.

37 Ibid.,177.

35

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1Metodologi

Penelitian ini adalah penelitian keperpustakaan (Library Risearch). Data mengenai penelitian ini diperoleh dari artikel dan buku-buku yang terkait dengan penelitian ini. Terdapat berbagai macam model dan tipe penelitian kualitatif bidang filsafat, yang masing-masing memiliki ciri khas sendiri, sesuai dengan objek formal dan objek material. Hal ini juga disebabkan oleh karena luas cakupan bidang kajian filsafat, serta hubungan filsafat dengan dengan disiplin ilmu lainnya. Karakteristik penelitian filsafat menuntut konsekuensi metode yang khas meskipun ada metode penelitian filsafat yang hampir diterapkan dalam berbagai model penelitian filsafat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Mudhofir (1985) karakteristik penelitian filsafat terletak pada objek yang menjadi fokus penelitian.

Jika penelitian kuantitatif mengukur objek dengan suatu perhitungan, dengan angka, persentase dan statistik. Maka, penelitian kualitatif tidak menekankan pada kuantum atau jumlah, jadi lebih menekankan pada segi kualitas secara alamiah karena menyangkut pengertian, konsep, nilai serta ciri-ciri yang melekat pada objek penelitiannya.38

Metode deskriptifhistoris objek material penelitian adalah karya filsafat seorang filsuf pada masa silam. Oleh karena itu metode deskriptif historis diterapkan dalam rangka untuk mendeskripsikan konsep-konsep filosofisnya, paham-paham filsafat yang mempengaruhinya, serta kemungkinan pemikiran filsafat itu berpengaruh terhadap paham atau aliran lainnya. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti suatu objek, baik berupa nilai-nilai budaya manusia, sistem pemikiran filsafat, nilai-nilai etika, nilai karya seni, sekelompok manusia, peristiwa atau objek budaya lainnya. Tujuan dari penelitian dengan menggunakan metode deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau

38Dr. Kaelan, M.S. , “Metode Penelitian Kualitatif bidang Filsafat” (Yogyakarta: Paradigma, 2005) hlm.245-246.

36

lukisan secara sistematis dan objektif, mengenai fakta-fakta sifat-sifat, ciri-ciri serta hubungan diantara unsur-unsur yang ada atau suatu fenomena tertentu (dalam penelitian budaya).39

3.2 Sumber Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua sumber, yaitu sumber data primer dan data skunder.40Penelitian ini menempuh beberapa langkah untuk dapat menggali data, disebut metode dokumentasi dimana sumber data yang dikumpulkan dan diambil berasal dari buku-buku, naskah-naskah, artikel-artikel, dan dokumentasi lainnya yang mendukung penelitian.Adapun Sumber data penelitian terbagi dua, yaitu primer (pokok utama) dan sekunder (pendukung).

1. Sumber data primer, merupakan sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu buku Kebudayaan Sebagai Perjuangan karya Sutan Takdir Alisyahbana cetakan I, yang diterbitkan oleh Dian Rakyat pada tahun 1988. Pembimbing ke Filsafat I:Metafisika, yang diterbitkan Dian Rakyat pada tahun 1957, Polemik Kebudayaan yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1948.

2. Sumber data sekunder, yaitu berbagai literatur yang berhubungan dan relevan dengan objek penelitian. Mengenai sumber sekunder diantaranya adalah buku-buku yang ditulis oleh Sutan Takdir (Budaya Indonesia; kajian arkeologi, seni dan sejarah), Edi Sedyawati, (Filsafat Kebudayaan), Prof. Dr. H. Juhaya S.

Pradja, M.A. (PELANGI 70 Sutan Takdir Alisyahbana), Sutan Takdir Alisyahbana, (Refilosofi Kebudayaan; Pergeseran Pascastruktural)Syaiful Arif, (Kebudayaan Sebagai Perjuangan; Perkenalan dengan Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana) Ignas Kleden, Gunawan Mohamad, Taufik Abdullah, (Ilmu Budaya Dasar), Drs. Joko Tri Prasetya, dkk, (Manusia dan Kebudayaan; dalam perspektif Ilmu Budaya Dasar), Rafael Raga Maran, (Puisi Baru), Sutan Takdir Alisyahbana, (Kebudayaan Islam), Muhammad Marmaduke Picktchall, (Pengantar Estetika, Estetika), Dharsono Sony

39 Ibid.,hlm.259-260.

40Ibid.,hl.297.

37

Kartika, (Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan), Tjetjep Rohendi Rohidi, (Sejarah Kebudayaan Indonesia; religi dan falsafah), Mukhlis PaEni (editor umum) dan berbagai sumber lainnya seperti jurnal, artikel dan makalah yang masih mempunyai hubungan dengan pembahasan dalam penelitian ini.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pada proses pengumpulan data, teknis yang dilakukan terhadap data yang dikumpulkan mengingat data kepustakaan filsafat merupakan uraian yang panjang dan lebar. Maka teknis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Menyusun rangkaian materi penelitian melalui metode riset pustaka dengan mengumpulkan data yang terkait dengan objek penelitian sebanyak-banyaknya.

2. Peneliti membagi data dalam dua kategori yakni primer dan sekunder. Data yang ada dianalisis dengan menggunakan teknik analisa deskriptif sebagai bahan bedah untuk mengungkapkan fakta penelitian yang telah diperoleh secara tajam.

3.4 Teknik Analisis Data

Pengertian analisi data menurut Patton (1980), yaitu suatu proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Adapun setelah dilakukan analisis kemudian memahami, menafsirkan, menafsirkan dan pandangan teoritis data.

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis lebih menekankan pada proses pemberian makna dan mengorganisasikannya berdasarkan sistem dan pola yang telah ditentukan dalam penelitian. Pada penelitian kualitatif kepustakaan bidang filsafat, metode analisis data dioperasionalkan baik pada tahap pengumpulan data maupun pada tahap setelah pengumpulan data. Adapun metode analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

38

3.5 Metode Historis

1. Metode Deskriptif Historis

Objek material penelitian adalah karya filsafat Sutan Takdir Alisyahbana tentang kebudayaan pada masa silam. Oleh karena itu metode deskriptif historis diterapkan dalam rangka untuk mendeskripsikan konsep-konsep hakikat kebudayaan manusia, unsur-unsur kebudayaan, strategi kebudayaan dan fungsi kebudayaan bagi kehidupan manusia serta pemikiran filsafat Sutan Takdir Alisyahbana terhadap polemik kebudayaan barat dan timur.

2. Metode Rekonstruksi Biografis

Pola pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana tidak dapat dilepaskan dengan lingkungan sosial, budaya serta perkembangan pemikiran filsafat saat itu. Oleh karena itu metode rekonstruksi biografis diterapkan untuk mendekripsikan riwayat hidup serta sejarah perkembangan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana melalui sejarah biografi Sutan Takdir Alisyahbana.

Dengan mengetahui biografi Sutan Takdir Alisyahbana tersebut, maka penelitian dapat mendeskripsikan pola-pola pemikiran serta lingkungan sosial, budaya maupun perkembangan pemikiran yang mempengaruhi filsuf tersebut.

66

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang menjadi kesimpulan dari pembahasan tentang Filsafat Kebudayaan, terutama pandangan Sutan Takdir Alisyahbana terhadap Filsafat Kebudayaan sebagai berikut:

1. Kebudayaan dalam pandangan Sutan Takdir Alisyahbana berakar dalam paham humanisme atau kemanusiaan yang berkembang di Eropa, sejak Renaissance hingga bangkitnya posotivisme. Kebudayaan ialah kegiatan dan keaktifan mencipta berdasarkan akal-budi yakni, intelektual, individual, egoisme, dan materialisme. Masyarakat barat yang memiliki kecerdasan otaknya yang tinggi, keingintahuannya yang tiada terbatas.

Kebudayaan tercermin dalam seni, sastra, bahasa, aliran pemikiran filsafat dan agama, bentuk-bentuk spritual dan moral yang dicita-citakan dan ilmu-ilmu teoritis. Sutan Takdir Alisyahbana ingin mengubah masyarakat Indonesia menuju masyarakat dan kebudayaan baru (modern). Azas pendapatan Sutan Takdir Alisyahbana ialah, kita harus belajar di Barat. Di benua Barat orang terpaksa berusaha menakhlukkan tenaga alam, mempertahankan dirinya. Kebudayaan Barat berkembang atas dasar materialisme, intellectualisme, dan individualisme. Ekonomi yang bertambah luas, melahirkan industri, perdagangan, dan politik modern. Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana terhadap kebudayaan ada beberapa hal: Pertama, Sutan Takdir Alisyahbana membicarakan kebudayaan dengan bertolak dari sudut pandang filsafat dan sejarah peradaban.

Kedua, sejak Polemik Kebudayaan, Sutan Takdir Alisyahbana memikirkan masalah kebudayaan dalam rangka memperjuangkan gagasan modernisasi. Kebudayaan adalah Kata yang berasal dari bahasa sanskerta yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi dan akal. Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang pernah terjadi pada kebudayaan barat, yaitu sebuah kebangkitan budaya dari belenggu mitos

67

dan agama. Ruh dan semangatnya harus ditumbuhkan pada bangsa Indonesia demi kemajuan bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

2. Peran filsafat terhadap perkembangan kebudayaan, pertanyaan-pertanyaan metafisika dapat dirumuskan dalam bentuk yang paling sederhana dan jelas, karena pada saat itu para filsuf masih yakin sepenuhnya akan kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan melalui inderanya dan akalnya. Tetapi zaman metafisika yang mutlak itu., ketika manusia percaya bahwa ia dapat mengetahui sifat terakhir daripada kenyataan, segera disusul oleh kesangsian.

Perbedaan-perbedaan yang menyolok antara bermacam-macam konsep sifat terakhir daripada kenyataan tak dapat tidak menimbulkan kesangsian terhadap pengetahuan yang diperoleh dengan indera dan akal manusia. Dalam abad berikutnya pemahaman itu telah jelas dirumuskan oleh Pratagoras dalam ucapannya yang termashur; “Manusialah ukuran segala sesuatu”.

5.2 Saran

Filsafat Kebudayaan merupakan kajian yang menarik, dimana hasil penelitian yang telah dilakukan, didapati bahwasannya Sutan Takdir Alisyahbana membangun konsepsinya bernuansa filosofis dan Islam. Perubahan budaya tradisional menuju budaya modern, terdapat beberapa polemik yang saling berlawanan antara pemikiran Timur dan Barat. Kebudayaan bukan hanya tentang hak cipta atau kemanusiaan, akan tetapi kebudayaan adalah suatu kepribadian manusia, alam fisik, dan lingkungan sosial.

Jika tidak hati-hati dalam memahami kebudayaan secara universal maka akan terjadi keliruan dalam pemahaman ini. .Penulis ingin mengkaji lebih dalam pemikiran para filosof dan budayawan tentang kebudayaan. Namun demikian, penulis menyadari dalam penulisan ini masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dimana beberapa persoalan yang signifikan belum dibahas secara terperinci.

Diharapkan para peneliti selanjutnya dapat memperbaiki kekurangan ini sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih kemprehensif mengenai

68

pandangan Sutan Takdir Alisyahbana khususnya Kebudayaan dan Filsafat. Jadi, bagi para pembaca setidaknya kita melihat dan mengingat kembali bagaimana kepolemikan Sutan Takdir Alisyahbana terhadap dirinya yang begitu keras untuk memperjuangkan kebudayaan baru yang lebih universal dengan segala aspek perkembangan zaman yang semakin tinggi.

Dan para pembaca lebih mengenali Sutan Takdir Alisyahbana dengan berbagai puisi-puisi lama dan baru dan beberapa tulisan yang beliau ciptakan dulunya. Dan mencoba cari tahu atau memahami pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana terhadap kebudayaan. Sutan Takdir bukanlah melupakan atau mengubah total sebuah kebudayaan lama menjadi kebudayaan yang sangat modern, hanya saja Sutan Takdir lebih dominan menambah ilmu pengetahuan atau cara berfikir masyarakat Indonesia untuk lebih mengenalkan budaya Indonesia secara universal.

Sebab, budaya kebarat-baratan bukanlah hal yang salah sebab sebagai masayarakat Indonesia lebih teliti dalam mengenali atau meniru budaya barat.

Budaya barat tidak semuanya yang bersifat negatif, kita bisa saja lebih pintar dalam menilai pada sebuah kebudayaan barat yang tidak melanggar hukum Islam dan hukum negara.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Rafael Raga Maran. Manusia Dan Kebudayaan;dalam perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000.

Sutan Takdir Alisyahbana. Pembimbing ke Filsafat I: Metafisika, Jakarta: Dian Rakyat, 1957.

Abdul Hadi W.M, Sutan Takdir Alisyahbana Dan Pemikiran Kebudayaannya Drs. Joko Tri Prasetya, dkk. Ilmu Budaya Dasar Jakarta: PT Rineka Cipta 2013 Abu Hasan Asy‟ari. (penyusun) Sutan Takdir Alisyahbana:Dalam Kenangan.

Jakarta: Dian Rakyat, 2008.

S. Abdul Karim Mashad. (penyunting):Sang Pujangga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Muhammad Alfan, Prof. Dr. H. Juhaya S. Pradja, MA. (pengantar) Filsafat Kebudayaan. Bandung: Pustaka Setia, 2013.

Edi Sedyawati. Budaya Indonesia; Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta:

Raja Grafindo, 2010

Achdiat K. Mihardja. Polemik Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya, 1986

Sutan Takdir Alisyahbana. PELANGI 70 tahun Sutan Takdir Alisyahbana.

Jakarta: Akademi Jakarta, 1979

__________________ Puisi Baru. Jakarta: PT.Dian Rakyat, 2008

Mukhlis PaEni. Sejarah Kebudayaan Indonesia; religi dan falsafah. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009

Dharsono (Sony Kartika). “Estetika”. Bandung: Rekayasa Sains,2007.

Syaiful Arif. Refilosofi Kebudayaan; Pergeseran Pascastruktural Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.

Muhammad Alfan, M.Ag. Filsafat Kebudayaan. Bandung: Pustaka Setia, 2013.

DR. Kaelan, M.S. Metode Penelitian Kualitatif bidang filsafat Yogyakarta:Paradigma, 2005.

Ignas Kleden, Gunawan Mohammad,Taufik Abdullah, Kebudayaan Sebagai Perjuangan; perkenalan dengan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana.

Jakarta: Dian Rakyat, 1988.

Tjetjep Rohendi Rohidi, Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan Bandung:

ACCENT Graphic Communication, 2000.

SKRIPSI DAN TESIS

Hasbullah, M.Si. Islam Dalam Bingkai Budaya Lokal (Kajian Tentang Integrasi Islam Dalam Budaya Melayu). Tesis UIN Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2014

Muhammad Abdullah, Konsep Kebudayaan Indonesia Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, Skripsi S1 yang tidak dipublikasikan, Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2009).

Fitriyani, Islam dan Kebudayaan. Jurnal Al-Ulum, (Institut Agama Islam Negeri Ambon, 2012).

JURNAL

Jurnal Al-Ulum, Islam dan Kebudayaan. (Institut Agama Islam Negeri Ambon, 2012).

Jurnal filsafat “wisdom”, vol.21 No. 1 April 2011.

Jurnal Sosial Budaya “Media Komunikasi Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya, vol. 11 No. 2 Juli-Desember 2014

Sumasno Hadi. Pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana Tentang Nilai, Manusia, Dan Kebudayaan. Jurnal, Vol. 21, No 1, 2011 dari http://www.zeidelblogspot.co.id. Internet. Diakses. Pada 26 Februari 2017.

J.W.M. Bakker SJ. Filsafat Kebudayaan; sebuah pengantar. Jakarta: GUNUNG MULIA, 1984 dari http://fajartimur.wordpress.com/2008/02/26. Internet.

Diakses pada 24 Februari 2017.

Muhammad Abdullah. Konsep Kebudayaan Menurut Sutan Takdir Ali Syahbana.

Skripsi S1, 2009 pdf. Terdapat pada laman

http://skripsimuhammadabdullah.ac.id. Internet. Diakses pada tanggal 19 Februari 2017.

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Verlina Suzani NIM : 11431204322

TTL : Padang Panjang, 11 April 1995

Alamat : Jl. H. Piobang Sigando Padang Panjang Kel.Sigando Kec. Kota Padang Panjang Timur.

NAMA ORANG TUA Ayah : John Ramses Pekerjaan : Pedagang Ibu : Yenni Syafitri Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. H. Piobang Sigando Padang Panjang Kel.Sigando Kec. Kota Padang Panjang Timur.

JENJANG PENDIDIKAN

1. Taman Kanak-kanak Rahmah El Yunusiyah (2000 s/d 2001) 2. Sekolah Dasar Negeri Sigando Padang Panjang (2007 s/d 2008) 3. Pondok Pesantren Thawalib Gunung Padang Panjang (2010 s/d 2011) 4. Madrasah Aliyah Negeri 1 Padang Panjang (2013/2014)

5. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (2018 s/d 2019)

PENGALAMAN ORGANISASI

1. Pramuka (Pondok Pesantren Thawalib Gunung Padang Panjang) 2. Kesenian (Madrasah Aliyah Negeri 1 Bukittinggi)

3. Anggota muda/Simpatisan (Mapala Suska Riau)

Facebook/Instagram : Verlina Suzani

Email : [email protected] No. Hp/whatsapp : 0852-6592-9826

Dokumen terkait