Kerja keras Paramadina ini kalau ditilik dari sejarah Islam, maka tidak lebih dari kerja keras kaum kafir Quraisy yang menentang da’wah Nabi Muhammad saw dengan 1 “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibuibumu; anakanakmu yang perempuan; saudarasaudaramu yang
perempuan, saudarasaudara bapakmu yang perempuan; saudarasaudara ibumu yang perempuan; anakanak perempuan dari saudarasaudaramu yang lakilaki; anakanak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan; ibuibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibuibu isterimu (mertua); anakanak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteriisteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS AnNisaa’: 23).
Tentang hukum waris ada rinciannya sendiri, di antaranya terdapat dalam ayat:
“Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibubapa, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagianpembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anakanakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa`atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (AnNisaa’: 11).
aneka cara, dan di antara caranya adalah mengadakan dialog antar agama. Penawaran penawaran dari kalangan kafir Quraisy bermacammacam, di antaranya meminta agar Nabi Muhammad saw menghentikan dakwahnya, dengan imbalan akan diberi kedudukan, wanita sebagai isteri, dan kekayaan. Langsung Nabi Muhammad saw menolaknya, walaupun misalnya sampai mereka memberi matahari dan bulan pun, Nabi saw takkan mau menuruti kemauan mereka untuk menghentikan da’wahnya.
Penawaran yang tampaknya kerjasama dalam agama (kalau sekarang ya do’a bersama antar berbagai agama, kirakira), agar Nabi Muhammad saw bersikap toleran, kerjasama dalam agama, maka mereka (kafirin) akan mau menyembah Tuhan yang Muhammad saw sembah selama waktu tertentu, dan sebagai rasa toleran dan kerjasama maka Nabi saw diminta menyembah pula Tuhan yang mereka sembah (berhalaberhala), selama tempo tertentu. 2 Penawaran itu pun langsung mendapatkan tanggapan keras dari Allah SWT:
Katakanlah: "Hai orangorang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". (AlKaafiruun: 16).
Kemudian penawaran yang lebih lunak lagi disampaikan pula oleh kaum kafir. Nabi Muhammad saw diharapkan mengelus atau sekadar mengusap berhala sesembahan mereka. Imbalannya pun mereka akan mengikuti Nabi Muhammad saw. Namun Nabi Muhammad saw langsung mendapatkan ancaman dari Allah swt. Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampirhampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benarbenarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (AlIsraa’: 7375). Ancaman seberat itu penyebabnya adalah bujukan orang kafir yang menginginkan Nabi saw menyentuh berhala mereka. Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, “Mereka (orangorang musyrikin) berkata kepadanya (Nabi saw), datangilah tuhantuhan kami dan sentuhlah mereka, maka demikian itulah FirmanNya (“sesuatu yang sedikit”) –ayat 74. 3
Penawaran jenis yang agak lunak pula, Nabi saw agar mengajar mereka kaum kafir dari kalangan tingkat menengah (kelas sosial lebih tinggi dari orang umum) di tempat tertentu, dibedakan tempatnya dengan orang umum biasa. Maka Allah swt memperingatkan pula kepada Nabi Muhammad saw.
2 Riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orangorang Quraisy menjanjikan Rasulullah saw untuk memberinya harta
agar menjadi orang terkaya di Makkah, dan mereka akan menikahkannya dengan wanita yang beliau inginkan, dan mereka melangkah di belakangnya lalu mereka berkata kepadanya, ini untuk kamu di sisi kami, wahai Muhammad, dan hentikanlah dari mencaci tuhantuhan kami, maka janganlah kamu menyebutnya dengan buruk. Apabila kamu tidak mau, maka kami ajukan padamu satu perkara, yaitu kamu dan kami berdamai. Beliau bertanya, apa itu? Mereka menjawab, kamu sembah tuhantuhan kami Laata dan Uza selama setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun (pula). Beliau menjawab, (tunggu) sampai aku menunggu wahyu yang datang dari sisi Tuhanku. Lalu datanglah wahyu dari Lauh Mahfudh, qul yaa
ayyuhal kaafiruun, satu surat. Dan Allah menurunkan QS 39: 64, Katakanlah apakah selain Allah, kalian
perintahkan aku untuk menyembah wahai orangorang yang bodoh… sampai firmanNya, Maka sembahlah (Allah) dan jadilah orang yang tergolong orangorang bersyukur. (Tafsir AtThabari, juz 30, halaman 331).
“Dan bersabarlah kamu bersamasama dengan orangorang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al Kahfi: 28).
Dalam Tafsir AthThabari diriwayatkan,
Ibnu Zaid berkata mengenai firmanNya: …….. dan seterusnya, ia katakan, satu kaum berkata kepada Nabi saw, kami malu kalau kami duduk bersama Fulan, Fulan, dan Fulan; maka jauhkanlah mereka wahai Muhammad dan duduklah bersama orangorang mulia Arab. Maka turunlah AlQur’an: “Dan bersabarlah kamu bersamasama dengan orangorang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini….” 4
Semua upaya itu tujuan akhirnya sama dengan orangorang kafir di setiap masa, dari zaman nabinabi terdahulu hingga Nabi Muhammad saw dan sepanjang zaman, yaitu menghalangi sekeraskerasnya akan tegaknya hukum Allah di bumi.
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orangorang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuatkuatnya dari (mendekati) kamu. (QS AnNisaa’: 61).