• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diferensiasi Leukosit

Dalam dokumen PENGARUH EKSTRAK ETANOL TEMULAWAK (Halaman 40-56)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Diferensiasi Leukosit

Heterofil merupakan leukosit granulosit yang berperan dalam respon terhadap infeksi. Leukosit heterofil dikenal sebagai pertahanan pertama tubuh (first line defense). Menurut Tizard (2000), fungsi utama heterofil adalah menghancurkan bahan asing melalui proses fagositosis. Rataan pertambahan persentase heterofil masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 11.

Gambar 11. Grafik rata-rata pertambahan persentase heterofil pada ayam setelah pemberian ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dosis bertingkat. Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Gambar 11 memperlihatkan bahwa rataan pertambahan persentase heterofil yang memiliki nilai rataan tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan P6 dengan pemberian ekstrak etanol (96%) temulawak 52,5% mg/kg BB. Menurut hasil uji Anova, kelompok perlakuan P6 tidak berbeda nyata dengan P3 (p>0,05) yang diberi ekstrak etanol (70%) temulawak dosis 52,5 mg/kg BB tetapi berbeda nyata dengan K(+) dan K (-) (p<0,05).

4.2.2 Monosit

Sel-sel monosit yang masuk jaringan akan menjadi makrofag jaringan (Ganong 1996). Peran utama makrofag adalah melakukan fagositosis, menghancurkan partikel asing dan jaringan mati, serta mengolah bahan asing sedemikian rupa sehingga bahan asing itu dapat membangkitkan tanggap kebal. Makrofag yang aktif akan bermigrasi sebagai respon terhadap rangsangan kemotaktik. Tidak hanya pada produk mikroorganisme dan produk reaksi kebal tapi juga pada faktor yang dikeluarkan oleh sel-sel yang rusak, terutama heterofil yang rusak (Tizard 2000). Rataan pertambahan persentase monosit masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12. Grafik rata-rata pertambahan persentase monosit pada ayam setelah pemberian ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dosis bertingkat. Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Gambar 12 memperlihatkan bahwa rataan pertambahan persentase monosit yang memiliki nilai tertinggi didapat oleh perlakuan P5 dengan pemberian ekstrak etanol (96%) temulawak 52,5 mg/kg BB. Menurut uji Duncan, kelompok perlakuan P5 tidak berbeda nyata dengan P4, P6, dan K(+) (P>0,05), tetapi berbeda nyata dengan K (-) (P<0,05).

Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak temulawak dapat meningkatkan jumlah monosit. Jika pertambahan monosit dari setiap perlakuan diurutkan dari pertambahan dengan jumlah terkecil sampai terbesar, maka urutannya adalah K(-), P1, P2, P3, K(+), P4, P6, dan P5.

4.2.3 Limfosit

Limfosit merupakan sel utama dalam kekebalan karena fungsi utamanya adalah memproduksi antibodi atau sebagai sel efektor khusus dalam menanggapi antigen terikat makrofag. Tanggap kebal ini akan terjadi bila tersedia lingkungan untuk interaksi yang efisien antara limfosit, makrofag, dan antigen. Rataan pertumbuhan persentase limfosit masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 13.

Gambar 13. Grafik rata-rata pertambahan persentase limfosit pada ayam setelah pemberian ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dosis bertingkat. Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Hasil penghitungan limfosit dan pengujian dengan Anova menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan mempunyai pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap pertambahan persentase limfosit. Hal ini memberikan arti bahwa pemberian ekstrak etanol temulawak dapat meningkatkan persentase limfosit di dalam darah ayam petelur. Gambar 13 memperlihatkan bahwa pertambahan persentase limfosit tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan P5 dengan pemberian ekstrak etanol temulawak 35 mg/kg BB-96%. Menurut uji Duncan, pertambahan persentase limfosit tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan P5 dengan pemberian ekstrak etanol (96%) temulawak 35 mg/kg BB yang relatif sama dengan P6, dan tidak berbeda nyata dengan P4 (p>0,05), tetapi berbeda nyata dengan K(-) (p<0,05). Jika hasil pertambahan persentase limfosit setiap perlakuan diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar, maka urutannya adalah K(-), P1, P3, K(+), P2, P4, P6, dan P5.

Kelompok perlakuan P5 menggunakan ekstrak etanol temulawak 35 mg/kg BB-96% menunjukkan pertambahan persentase limfosit tertinggi. sedangkan K(-) yang diberi NaCl fisiologis dengan dosis 0,5 cc/kg BB menunjukkan pertambahan persentase limfosit terendah.

4.2.4 Eosinofil

Eosinofil merupakan sel fagosit yang lemah, dan menunjukkan fenomena kemotaksis. Eosinofil diproduksi dalam jumlah besar pada pasien terinfeksi parasit. Eosinofil ini bermigrasi dalam jumlah besar menuju jaringan yang diserang oleh parasit. Eosinofil juga diduga mampu mendetoksifikasi beberapa zat pencetus peradangan yang disebabkan oleh sel mast dan basofil, dan juga memfagositosis dan menghancurkan kompleks alergen-antibodi, sehingga mencegah penyebaran proses peradangan setempat (Ganong&Hall 2008). Rataan pertambahan persentase eosinofil masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 14.

Gambar 14. Grafik rata-rata pertambahan persentase eosinofil pada ayam setelah pemberian ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dosis bertingkat. Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Gambar 14 memperlihatkan bahwa rataan pertambahan persentase eosinofil yang memiliki nilai tertinggi didapat oleh kelompok perlakuan P6 dengan pemberian ekstrak etanol (96%) temulawak 52,5 mg/kg BB. Menurut uji Duncan, kelompok perlakuan P6 tidak berbeda nyata dengan P3 (p>0,05), tetapi berbeda nyata dengan K(-) (p<0,05). Jika hasil pertambahan persentase eosinofil diurutkan dari yang terkecil hingga terbesar, maka urutannya adalah kelompok perlakuan K(-), P1, K(+), P2, P5, P4, P3 dan P6. Perlakuan P3 dan P6

menggunakan dosis yang sama yaitu 52,5 mg/kg BB, namun demikian pelarut yang digunakan berbeda. Pelarut 96% menunjukkan pertambahan persentase eosinofil yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelarut 70%.

4.2.5 Basofil

Basofil melepaskan heparin ke dalam darah, yaitu suatu bahan yang dapat mencegah pembekuan darah. Basofil juga melepaskan histamin, dan sejumlah kecil bradikinin serta serotonin. Basofil sangat berperan pada beberapa tipe reaksi alergi, karena tipe antibodi yang menyebabkan reaksi alergi, yaitu tipe immunoglobulin E (IgE), mempunyai kecenderungan khusus untuk melekat pada sel mast dan basofil (Guyton&Hall 2008). Rataan persentase pertambahan persentase basofil masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 15.

Gambar 15. Grafik rata-rata pertambahan persentase basofil pada ayam setelah pemberian ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dosis bertingkat. Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Gambar 15 menunjukkan hasil pertambahan persentase basofil tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan P6 dengan pemberian ekstrak etanol (96%) temulawak 52,5 mg/kg BB. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol temulawak pada kelompok perlakuan P6 berbeda nyata dengan K (-) (P<0,05). Kelompok perlakuan K(+) tidak berbeda nyata dengan kelompok P5,

P3, dan P1 (p>0,05). Semua kelompok perlakuan pemberian ekstrak etanol temulawak berbeda nyata dengan K(-) (p<0,05).

Menurut Jain (1986), basofil jarang ditemukan pada darah ayam. Tidak munculnya basofil merupakan sesuatu yang normal, mengingat sel basofil memiliki daya fagositik sangat rendah dan secara normal jumlah sel ini sangat sedikit dalam sirkulasi darah (Swenson et al. 1993). Basofil biasanya akan muncul dengan melepaskan mediator untuk aktifitas perbarahan dan alergi. Juga ikut dalam metabolisme trigliserida dan memiliki reseptor untuk IgE dan IgG yang menyebabkan degranulasi melalui eksositosis. Peningkatan jumlah basofil merupakan indikasi adanya peradangan akut yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas dan kerusakan jaringan.

Gambar 16 berikut adalah grafik yang membandingkan pengaruh pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari terhadap persentase heterofil, monosit, limfosit, eosinofil, dan basofil.

Gambar 16. Grafik rata-rata persentase masing-masing jenis leukosit pada ayam setelah pemberian ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dosis bertingkat.

Gambar 16 memperlihatkan bahwa jika ekstrak temulawak dilarutkan menggunakan pelarut etanol 96% menghasilkan pertambahan jumlah total dan persentase semua jenis leukosit tertinggi dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Etanol 96% bersifat non-polar sehingga zat berkhasiat yang

banyak diserap adalah minyak atsiri (Purseglove et.al. 1981). Minyak atsiri kunyit putih (Kaempferia rofuncia) diketahui dapat meningkatkan limfosit dan antibodi spesifik, serta mengendalikan pertumbuhan sel tumor (Mardiana 2007). Sedangkan ekstrak temulawak menggunakan pelarut etanol 70% bersifat polar dan zat berkhasiat yang dapat diserap yaitu kurkumin dan polisakarida (Anonim 2006). Menurut Sidik et al. (1995), kurkumin dapat meningkatkan sintesis antibodi IgG dan dapat meningkatkan sel NK (Natural Killer cells).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertambahan jumlah total leukosit tertinggi terdapat pada kelompok perlakuan P5 dengan pemberian ekstrak etanol temulawak dosis 35 mg/kg BB dengan pelarut etanol 96%. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak temulawak mampu meningkatkan jumlah total leukosit dalam sirkulasi darah. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2009), melaporkan bahwa ekstrak etanol (70% dan 96%) temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dapat meningkatkan proliferasi sel limfosit secara in vitro.

Komponen bioaktif yang terdapat dalam obat herbal seperti temulawak dapat mengaktifkan G-protein yang kemudian memproduksi fosfolipase C. Enzim ini menghidrolisis fosfatidil inositol bifosfat (PIP2) menjadi produk reaktif diasilgliserol (DAG) dan inositol trifosfat (IP3). Reaksi tersebut berlangsung dalam membran plasma. IP3 kemudian menstimulasi pelepasan Ca2+ ke dalam sitoplasma sehingga konsentrasi Ca2+ meningkat. Peningkatan Ca2+ berperan penting dalam stimulasi kerja enzim protein kinase C. Protein kinase C memproduksi interleukin 2 (IL-2), IL-2 ini kemudian menjadi arakhidonat yang melalui jalur 5-lipoxygenase meningkatkan pembentukan cGMP. Peningkatan cGMP berakibat pada peningkatan aktivitas cGMP dependent protein kinase yang berfungsi dalam aktivasi DNA dependent, RNA polymerase, dan dalam awal sintesis ribosomal (rRNA) dan RNA lainnya. Sintesa RNA dan protein yang aktif dapat menyebabkan sel-sel leukosit (heterofil, neutrofil, eosinofil, monosit, dan limfosit) memasuki fase pembelahan (Kumala 2006).

Menurut Campbell (2002), fase pembelahan terdiri dari 2 fase, yaitu fase mitotik (M) dan interfase. Fase mitotik (M) mencakup mitosis dan sitokinesis yang merupakan bagian tersingkat dari siklus sel. Pembelahan sel mitotik yang berurutan bergantian dengan interfase yang jauh lebih lama, yang sering kali

meliputi 90% dari siklus sel. Selama interfase inilah sel tumbuh dan menyalin kromosom dalam persiapan untuk pembelahan sel. Interfase dapat dibagi menjadi subfase: fase G1 (“gap pertama”), fase S, dan fase G2 (“gap kedua”). Selama ketiga subfase ini, sel tumbuh dengan menghasilkan protein dan organel dalam sitoplasma. Kromosom diduplikasi hanya selama fase S (sintesis DNA). Dengan demikian, suatu sel tumbuh (G1), terus tumbuh begitu sel tersebut sudah menyalin kromosomnya (S), dan tumbuh lagi sampai sel tersebut menyelesaikan persiapannya untuk pembelahan sel (G2), dan membelah (M) (Campbell 2002). Seperti halnya hampir semua peristiwa penting lain dalam sel, reproduksi berawal dalam nukleus itu sendiri. Tahap pertama adalah replikasi (duplikasi) semua DNA di didalam kromosom. Hanya setelah tahap ini dilalui, maka mitosis dapat berlangsung (Guyton&Hall 2008). Menurut Kumala (2006), zat aktif dari temulawak dapat meningkatkan cGMP dimana cGMP dapat mengaktivasi RNA

Polymerase. Enzim utama untuk replikasi DNA adalah sebuah kompleks dari

berbagai enzim yang disebut DNA Polymerase yang sebanding dengan RNA

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Ekstrak etanol temulawak dapat meningkatkan jumlah total leukosit dan persentase semua jenis leukosit darah ayam,

2. Pemberian ekstrak etanol temulawak 96% memberikan efek pertambahan jumlah total leukosit dan persentase semua jenis leukosit yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol 70%,

3. Selisih pertambahan tertinggi jumlah total dan diferensiasi leukosit (heterofil, monosit, limfosit, eosinofil, dan basofil) ditunjukkan oleh ekstrak etanol temulawak menggunakan pelarut 96% dengan dosis 35 mg/kg BB dan 52,5 mg/kg BB.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui zat bioaktif utama dari temulawak yang dapat meningkatkan jumlah total dan diferensiasi leukosit,

VI. DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2005. Leukosit. http://www.usm.edu/mbrg/jen WBC. html [30 Januari 2009].

. 2006. Echinacea Tingkatkan Kekebalan Tubuh. http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/012006/26/cakrawala/lainnya.htm.[18 Agustus 2009]

. . 2008a. http://www.google.com/ayam petelur. [Oktober 2008].

. 2008b. http://www.google.com/klasifikasi temulawak. [Oktober 2008].

. 2008c. http://www.google.com/leukosit. [Oktober 2008].

Anggorowati B. 2002. Diferensial Leukosit Ayam Setelah Pemberian Berbagai Dosis Infeksi Eimeria tenella [skripsi]. Bogor : Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Bombardeli E. 1991. Technologies for The Processing of Medical Plants. CRC Press. Florida.

Caceci T. 1998. Formed Element of Blood. The Cancer Journal. 11 (3) 1743-1826. http://www.cvm.tamu.edu/vaph 911/labtoc.htm. [20 November 2008].

Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. 2002. Biologi Jilid 1. Ed. Ke-5. Jakarta: Erlangga.

Dalimarta S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya.

Darwis SN. 1992. Tanaman Obat Famili Zingiberaceae. Seri Pengembangan no. 17. Jakarta.

Dewi LK. 2009. Aktivitas Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) pada Proliferasi Sel Limfosit secara In Vitro [Skripsi]. Bogor: Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Ganong WF. 1996. Fisiologi Kedokteran. Edisi 17. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Guyton AC. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 7. Bagian I. Ken Ariata Tengadi, penerjemah. 1986. Jakarta : EGC. Terjemahan dari :

Guyton AC, Hall JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Irawati et

al, penerjemah. 2006. Jakarta : EGC. Terjemahan dari : Textbook of Medical Physiology. Pp 65.

Harborne JB. 1996. Metode Fitokimia. Ed. Ke 2. Terjemahan Kosasih Padmawinata. Bandung: ITB.

Hargono D. 1985. Prospek Pemanfaatan Temulawak. Di dalam Proseding

Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas

Padjajaran. Bandung.

Herman. 1985. Perkembangan Tanaman Temulawak. Balai Penelitian Rempah dan Obat. Bogor.

Jain NC. 1986. Schalm’s Veteriner Hematology. 4th Ed. Philadelphia : Lea & Febiger.

Kassahara S, Hemmi S. 1986. Medical Herb Index in Indonesia. Ed. Ke-2. Jakarta: PT. Esai.

Ketaren S. 1988. Penentuan Komponen Utama Minyak Atsiri Temulawak (Curcuma xanthorrhiza .Roxb.). Tesis. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Kumala S. 2006. Pengaruh Ekstrak Buah Merah (Panamus conoideus) terhadap

Pertumbuhan in vitro Limfosit dan Sel Tumor.

Email:[email protected]. [18 Agustus 2009].

Liang OB, Widjaja Y, Puspa S. 1985. Beberapa Aspek Isolasi, Identifikasi dan Penggunaan Komponen-Komponen Curcuma Xanthorrhiza .Roxb. dan

Curcuma domestica Val. Prosiding Simposium Nasional Temulawak.

Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran. Bandung.

List PH, Schmidt PT. 1989. Phytopharmaceutical Technology. Heyden dan Son Limited. London.

Mardiana L. 2007. Kanker pada Wanita : Pencegahan dan Pengobatan dengan

Tanaman Obat. Jakarta: Penebar Swadaya.

Melvin JS, William OR.1993. Duke’s Physiology of Domestic Animal. Ed ke-11. London : Cornel University Press.

Prihatman K. 2000. Budidaya Ayam Petelur (Gallus sp.). Jakarta: Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Purseglove JW, Brown EG, Green CL, Robins SR. 1981. Spices. Vol 2. London: Longman.

Ramlan A. 1985. Etnobotanimarga Curcuma. Lembaga Penelitian Unuversitas Padjajaran. Bandung.

Rasyaf M. 2003. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta: Penebar Swadaya.

Ria EB. 1989. Pengaruh Jumlah Pelarut, Lama Ekstraksi, dan Ukuran Bahan terhadap Rendemen dan Mutu Oleoresin Temulawak. Skripsi. FATETA IPB. Bogor.

Rismunandar. 1988. Rempah-rempah Komoditi Ekspor Indonesia. Sinar Baru. Bandung.

Rukmana R. 1995. Temulawak: Tanaman Rempah dan Obat. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sadikin M. 2002. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika

Sastroamidjojo AS. 1967. Obat Asli Indonesia. PT. Pustaka Rakyat. Jakarta. Sidik. 1992. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza .Roxb..). Di dalam: Sirait M

Moesdarsono, editor. Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Bahan Alam. Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phytomedica.

Sidik, Mulyono WM, Mutadi A. 1995. Temulawak (Curcuma xanthorriza

Roxb). Jakarta: Phyto Medika.

Sinambela JM. 1985. Fitoterapi. Fitostandar, dan Temulawak. Di dalam:

Proseding Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian

Universitas Padjajaran. Bandung.

Smith JB, S Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan Di Daerah Tropis. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Solichedi K. 2003. Pemanfaatan kunyit (Curcuma domestica VAL) dalam

ransum broiler sebagai upaya penurunan lemak abdimal dan kadar kolesterol darah. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. 28 : 172-177. Sturkie PD. 1976. Avian Physiology. 3th ed. Spinger Verlag, New York. PP

54-73.4

Sukarno AB. 2000. Diferensial Leukosit Pada Ayam Yang Diinfeksi Eimeria

tenella Setelah Pemberian Berbagai Dosis Rebusan Batang Brotowali (trinospora cprspa (L) Mires [skripsi]. Bogor : FKH-IPB.

Sumarhadi. 1980. Empon-empon. Di dalam: Sekretariat Bina Desa-Yayasan

Tenaga Kerja Indonesia, Seminar Tanaman Obat. Hotel Dana Surakarta,

Suwiah. 1991. Komposisi Rimpang Temulawak. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor.

Swayne DE. 2000. Avian Influenza : the virus and the disease. World Poultry. Hlm. 4-6.

Swenson MJ. 1993. Duke’s Physiology of Domestic Animal, 9 ed. London : Cornell University Press.

Syamsiah IS dan Tajudin. 2003. Khasiat dan Manfaat Bawang Putih “Raja

Antibiotik Alami”. Jakarta : Agro Media Pustaka.

Tabbu R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Penyakit Bakterial,

Mikal dan Viral. Volume 1. Kanisisus. Jakarta.

Tizard IR. 2000. Veterinary Immunology an Introduction 3th edition. USA.

Saundres.

Wahid PS. 1985. Pembudidayaan Tanaman Temulawak. Di dalam: Proseding

Simposium Nasional Temulawak. Lembaga Penelitian Universitas

LAMPIRAN

Tabel 1. Rataan persentase pertambahan jumlah total leukosit (x1000 sel/mm3) setelah pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari. Perlakuan Leukosit (%) P1 0,676±0,12c P2 1,08±0,13a P3 0,81±0,19bc P4 0,62±0,16c P5 1,22±0,21a P6 1,04±0,12ab K(+) 0,63±0,1c K(-) 0,05±0,02d

Keterangan : Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Tabel 2. Rataan pertambahan persentase heterofil setelah pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari

Keterangan : Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Perlakuan Heterofil (%) P1 2,5±0,56bc P2 2±0,27cd P3 3±0,44ab P4 1,9±0,35cd P5 2,3±0,36bc P6 3,6±0,72a K (+) 1,3±0,46de K (-) 0,6±0,17e

Tabel 3. Rataan pertambahan persentase monosit setelah pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari

Keterangan : Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Tabel 4. Rataan pertambahan persentase limfosit setelah pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari

Keterangan : Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Perlakuan Monosit (%) P1 1,7±0,26c P2 2,3±0,3bc P3 2,4±0,3bc P4 2,7±0,36ab P5 3,2±0,7a P6 3±0,3ab K (+) 2,5±0,56ab K (-) 0,7±0,26d Perlakuan Limfosit (%) P1 5,4±0,36c P2 7,2±0,79bc P3 6,2±2,72bc P4 8,2±1,13ab P5 10,1±1,23a P6 9,7±0,98a K (+) 6,5±0,76bc K (-) 2,1±0,17d

Tabel 5. Rataan pertambahan persentase eosinofil setelah pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari

Keterangan : Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Tabel 6. Rataan pertambahan persentase basofil setelah pemberian ekstrak etanol temulawak dengan dosis berbeda selama 28 hari

Keterangan : Huruf superskrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0,05.

Perlakuan Eosinofil (%) P1 0,5±0,2de P2 0,74±0,18cd P3 1,2±0,27ab P4 1,1±0,3bc P5 0,94±0,12bc P6 1,52±0,30a K (+) 0,71±0,15cd K (-) 0,27±0,08e Perlakuan Basofil (%) P1 0,6±0,17bcd P2 0,5±0,26cd P3 0,7±0,1bcd P4 0,4±0,17d P5 0,9±0,36bc P6 1,7±0,27a K (+) 1±0,27b K (-) 0,3±0,1d

Dalam dokumen PENGARUH EKSTRAK ETANOL TEMULAWAK (Halaman 40-56)

Dokumen terkait