memaksudkan lafal yang diucapkannya tersebut. Demikian i uga, harus diketahui makna-makna yang dia maksudkan dalam obiek lain. Jika kebiasaan penggunaan makna dan lafal bisa diketahui, maka
hal ini
sangat membantuuntuk
mengetahui apa'yang diinginkannya. Adapun iika sebuah lafal diungkapkan dengansebuah makna
y,angtidak
biasadiungkapkan,
kemudian perkataannya ditafsirkan dengan penafsiran yang menyelisihi makna yang diinginkan oleh orang yang mengatakannya, maka" S ni nl nL-i nlnL bi
notarg
tung ga nga,
I"L;
-l"lr;
"J"l"h
mengira-ngi ra"'
..,:,fIA, ALo Dt*uJ
52. MatArij As-SaLiktn.
Kaidah dan Adab Orang Yang
Adil
|41
akan menjadikan perkataannya saling bertentangan dan tidak menempatkan perkataannya pada tempatnya yang sesuai. Hal
ini
merupakan bentuk penyelewengan terhadap perkataannya dari tempat yang sebenarnya, usaha untuk menggantikan apa yang dia maksudkan dan kedustaan atas namanya."s3lbnul Qayyim menegaskan bahwa yang menjadi pegangan dari sebuah perkataan adalah apa yang dimaksudkan oleh orang yang berbicara, bukan lafal yang diucapkannya.
Dia
berkata"Masalah ini merata di kalangan ahli kebenaran dan ahli kebatilan yang
tidak
mungkin bisa diantisipasi. Terkadang lafal khusus berubah maknanya menjadi umum karenasebuah keinginan, dan lafal umum berubah maknanya menjadi khusus karena sebuah keinginan pula. Jika salah seorang diajak untuk makan pagi, dia akan berkata, "Demi Allah, oku tidok akon mokon pogi." Atau dikatakan kepadanya, "Tidurloh!" Dia menjawab, "Demi Alloh, oku tidak okon tidur." Semua ini adalah lafal umum yang telah diubah maknanya menjadi khusus dengan keinginan dari orang yang berbicara."54Syaikh Abdurrahman As-Sa'di +iB berkata, "sebuah lafal harus dikaitkan dengan hal-hal yang mempengaruhinya, seperti sifat, syarat, pengecualian atau ikatan-ikatan lafal lainnya. Selain
itu, kita tetap memperhatikan korelasi yang mempengaruhinya,
tuntutan
keadaan, sebab-sebab yang merangsangnya untuk berkata dan tujuan yang hendak dicapai."s5lbnul Qayyim mengajukan berbagai macam alasan untuk kaum sufi dan kata-kata multi tafsir yang mereka ucapkan. Dia berkata, "Ketahuilah bahwa dalam bahasa kaum
itu
terdapatAt-Tafstr Al-Kablr karya Ibnu Thimiyah, 4: 187-190.
I' lnrn Al-Muw a4qi' ln : I 12 18-219.
Al-Qawa'id wa Al-Ushhl Al-Janh'ah. Hal. 72.
53.
s4.
55.
142 ffiffiffiffi
kiasan-kiasan, penyebutan kata secara
umum
padahal yahg dinginkan adalah makna khusus serta Penyebutan la,fal secara umum padahalyang diinginkan adalah indikasi lafal tersebut; bukan makna sebenarnya. Semua itu tidak ditemukan pada kelompok lainnya. Oleh karena itu, mereka (kaum sufi) berkata, 'lGmiadalah pem i I i k isytdroh56 ; bu kan pem i I i k' ib 6r ahsT . I sy 6r ah adalah kebiasaan kami, sedangkan 1bilroh adalah kebiasaan orang-orang selainkam i.' Mereka terkadang menyeb utl<an' ib 6r oh secara u m um yang juga disebutkan oleh orang atheis, namun mereka menghendaki maknayang baik. Sikap ini menimbulkan fitnah bagiduagolongan:
Golongan pertama bergantung pada bentuk yang nampak dari ungkapan mereka. Kelompok ini membid'ahkan dan menyesatkan mereka (orang sufi). Sedangkan Golongon keduo melihat maksud dan
tujuan
perkataanmereka.
Kelompokini
membenarkanu ngkapan -u ngkapan dan i uga isyarat- isyarat te rsebut. "ss
lbnul Qayyim menyebutkan sebagian isyarat dan lafalyang digunakan
oleh
orang-orang sufitersebut. Seperti
ol-ittishal(berhubungan), ol-inftsh1l
(memisahkandiri),
musdmoroh (mengobroldi
malam hari) dan'mukdlamoh (bercakap-cakap)'Kemudian, dia berkata, "Para ahli ma'rifat dari kaum
inimenyebutkan lafal-lafal ini secara umum dan yang sejenisnya'
Mereka
menginginkan makna yangbenar dalam
lafal-lafal tersebut, kemudian ada orang-orang yang terierumus ke dalam kesalahan dalam memahami aPa yang mereka inginkan. Orang-orangtersebut menisbatkan mereka kepada pemikiran atheis dan kekafi ran mereka (ahli makrifat)."5eIsydrah adalah makna yang tidak segera dapat dipahami dari lafal-lafalnya dan bukan maksud dari konteks kalimat, namun merupakan makna lazim suatu lafal' (ed')
'Ibdrah adalahmakna yang segera dapat dipahami dari struktur kalimat dan menjadi maksud dari konteks kalimat. (ed.)
Pada dasarnya seorang muslim harus selalu.berusaha untuk menjau hi kali mat-kali mat dan lafal,lafal yang m u lti tafsi r:.' Sebalik-nya, hendaknya dia menggunakan lafal-lafal yang baik. Demikian-lah adab yang diajarkan fil.Qur"an, sebagaimana firman
Allah:
.t,'-"-,.'. -. - ;.1,:<,(.r -.f *,. : t. .. : t
o)"&vwr or ;;r adr tl*a:Q.J"i
.t t.4t.
5>q6iL #y.3s,+4i
Don katokonlah kepado hombo-hambyKu; hendaHoh mereka mengucopkon perkotoon yang tebih boik (benor) . Sesungguhnyo
seton itu
menimbulkan perselisihandi antora
mereka.Sesungguhnyl seton jtu adoloh musuh yang nyato bagi manysio.
(Al-lsri' fl
71: 53)Sungguh bagus apayang dikerjakan oleh lbrrulQayyim ketika dia membuat sebuah pasal dalam kitabnya Z6d Al-Mo'6d dengan judul, 1'Lafal-lafal yang dibenci Rasulullah
ffi
untuk diucapkan".60Dia
menyebutkan salahsatu darinya, seperti
mengatakan, 'Alangkah keji diriku," tapi katakanlah, 'Alangkah tercela diriku,"et Seseorang juga makruh mengatakan,' "Manusiatelah binasa."Rasulullah bersabda, "Jika mengatakan yang demikion, dio telah membinesokan mereko. "62
Kalimat
ini, mengandung makna:kerusakan bagi manusia, kerusakan zamaR dan semisalnya. Selain itu, perkataan seseorang terhadap yang lainnya, "Jika mengotokan demikian, berarti dio Yohudi, Nasroni; atau kaftr.'63 Demikian juga
Zdd Al-Madd, Z:468.
Hadits llasan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 2; i81, Abu Dawud dalam kitab Af-Tibb,babKaifa Ar-Ruqd! Dan Tirmidzi 33519 dalam kitab Ad-Dadwdt,bab du'd' mrm awa ild fhtuJihi.
HR. Muslim, 2623, dalam Kitab AL-Bin wa Ash-Shthh,babAn-Nalqu'AnQaul,:'Hal^aka An-Nds."
perkataan seorang majikan kepada budak laki-laki dan budak
perempuannya, "Wahai hamba laki-lakiku!
Wah'ai hamba perem puan ku, " dan seorang budak mengatakan kepada tuan nya,"Wahai Robb-ku." Akan tetapi, hendaknya
sang maiikan mengatakan, "Wahai bujangku dan wahaigadisku" dan hendaknya si budak berkata pada majikannya, "Wahai tuan laki-lakiku dan wahaituan putri."6aKemudian lbnul Qayyim juga menyebutkan sebuah pasal dengan
judul, "Di
antara lafal-lafal yang dimakruhkan adalah menyebut nama secara jelas sesuatu yang seharusnya dikiaskan.Seperti: menamai bea cukai dengan hak dan menyebut hartayang diinfakkan dijalan Allah, 'Aku dililit hutang. Aku rugi." Demikian juga perkataan,
'Aku
telah menginfakkan harta yang banyak di dunia ini."5sKita mendapatkan contoh yang baik dalam hal
ini
ketika Umar bin Khaththab melewati manusia yang sedang duduk disekitar api. Dia berkata, "Wahai ahli cahaya," dan tidak
mengatakan, "Wahai ahli ndr ("p?.'Hal ini
menunjukkan baiknya dalammemilih
kata dan selamatnya perasaan.Akan tetapi jika para salaf mendengar perkataan yang multi tafsir, merekatidak ragu untuk memahaminya dengan penafsiran yang baik. Banyak contoh yang menuniukkan hal tersebut.
"Orang-orang yang jujur dan mulia memiliki maksud yang baik dan perasaan yang selamat. Akan tetaPi, hal itu tidak disertai dengan ungkapan tepatyang dapat menjelaskan maksud tersebut
HR. Bukhari, 5 : 131, Muslim, /l49,hadits riwayat Abu Hurairah.
Lhat Zdd Al-Md ad, Z: 37 3.
64.
65.
Kaidah dan Adab Orang yang
Adil
I45
sehingga perkataannya dianggap