• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Adversity Quotient (AQ)

2) Dimensi- dimensi Adversity Quotient

Stoltz (2000) mengajukan beberapa faktor yang diperlukan untuk

mengubah kegagalan menjadi suatu peluang yaitu daya saing, produktivitas,

kreativitas, motivasi, mengambil risiko, ketekunan, belajar, merangkul perubahan,

dan keuletan. Ditambahkan juga bahwa dalam menghadapi setiap kesulitan,

kesedihan serta kegagalan hidup maka yang diperlukan adalah sikap tahan banting

dan keuletan.

Adversity quotient (AQ) juga menginformasikan pada individu mengenai

kemampuannya dalam menghadapi keadaan sulit (adversity) dan kemampuan

untuk mengatasinya, meramalkan individu yang mampu dan yang tidak mampu

menghadapi kesulitan, meramalkan mereka yang akan melampaui dan mereka

yang akan gagal melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi yang

dimiliki, dan meramalkan individu yang akan menyerah dan yang akan bertahan

dalam menghadapi kesulitan (Stoltz, 2003).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan dalam

menghadapi rintangan (Adversity Quotient) adalah suatu kemampuan untuk

mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan.

melalui kemampuan berpikir, mengelola dan mengarahkan tindakan yang

membentuk suatu pola–pola tanggapan kognitif dan prilaku atas stimulus peristiwa –peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan.

2. Dimensi- dimensi Adversity Quotient

Adversity quotient terdiri atas empat dimensi yang tercakup dalam

CORE ini akan menentukan adversity quotient individu secara menyeluruh

(Stoltz, 2003). Adapun penjelasan dimensi- dimensi adversity quotient menurut

Stolz, (2003) yaitu:

a. Control (C)

Control yang disingkat dengan “C” berarti kendali, atau berapa banyak kendali yang dirasakan terhadap sebuah peristiwa yang menghadirkan kesulitan.

Stolz, ( 2003) menjelaskan bahwa dimensi Control terdapat dua pengertian yaitu :

- Sejauh mana seseorang mampu secara positf memepengaruhi situasi?

- Sejauh mana seseorang dapat mengendalikan tanggapan diri sendiri

terhadap suatu situasi

Kontrol atau kendali diawali dengan pemahaman bahwa sesuatu, apapun

itu, dapat dilakukan. Individu dengan skor control yang tinggi mampu mengubah

situasisecara positif dan mempunyai kendali yang lebih besar atas kesulitan yang

dihadapi. Dalam hal ini, keuletan dan tidak kenal menyerah muncul dari orang

dengan skor control yang tinggi. Tidak hanya itu, individu dengan skor control

yang tinggi mempunyai tingkat kendali yang kuat untuk bertahan terhadap

peristiwa buruk dan dapat menyelesaikannya dengan pendekatan yang lebih

efektif.

Di sisi lain, individu dengan skor control yang sedang merespon peristiwa

buruk sebagai sesuatu yang sekurang-kurangnya berada dalam kendali dirinya,

tergantung dari seberapa sulit masalah yang dihadapi. Individu mungkin tidak

mudah menyerah, namun sulit mempertahankan kendali bila dihadapkan pada

23

yang rendah merasakan ketidakmampuan mengubah situasi, karena merasa

peristiwa buruk atau kesulitan yang dialami berada di luar kendalinya. Dalam hal

ini, hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mencegah atau membatasi akibat

dari kesulitan tersebut. Individu menjadi tidak berdaya saat menghadapi kesulitan

dan akan menimbulkan pandangan hidup menyerah kepada nasib.

Dalam hal ini Mereka yang memiliki skor rendah dalam dimensi ini cenderung berpikir: “Ini di luar jangkauan saya!”; “Tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali”; “Yah, tidak ada gunanya membenturkan kepala ke dinding”; “Anda tidak mungkin melawan mereka”. Sedangkan Mereka yang memiliki skor lebih tinggi, bila berada dalam situasi yang sama cendrung berpikir : “Wow, ini sulit! Tapi, saya pernah menghadapi yang lebih sulit lagi”; “Pasti ada yang bisa saya lakukan”, “Saya tidak percaya saya tidak berdaya dalam situasi seperti ini, Selalu ada jalan”; “Siapa berani, akan menang; Saya harus mencari cara lain”. Sehingga Orang-orang yang berAQ tinggi relatif tahan terhadap ketidakberdayaan.

b. Ownership

Ownership yaitu sejauh mana seseorang mau mengandalkan diri sendiri untuk memperbaiki situasi yang dihadapi, tanpa memperdulikan penyebabnya

(Stolz, 2003). Dimensi ini berkaitan erat dengan dimensi origin, yang

menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat ownership seseorang, maka semakin

besar derajat pengakuannya terhadap akibat-akibat dari suatu kesulitan atau

permasalahan yang dihadapinya. Sebaliknya, orang yang memiliki tingkat

yang ada di sekitarnya, dan merasa enggan untuk bertanggung jawab mengakui

akibat-akibat yang timbul dari kesulitan dan kegagalannya sendiri ( Stolz, 2000),

akan tetapi dalam buku Stolz tahun 2003 menyatakan bahwa yang penting adalah

bukan siapa atau apa yang harus disalahkan (origin) tapi sejauh apa orang-orang

mengambil tanggung jawab terhadap situasi yang sulit (ownership) untuk

mengarahkan situasi tersebut menjadi lebih baik ( Stolz, 2003).

Individu dengan tingkat ownership yang tinggi akan mengakui akibat dari

suatu perbuatan, apapun penyebabnya dan bertanggung jawab untuk

memperbaikinya. Individu dengan tingkat ownership yang rendah tidak mengakui

akibat - akibat dari perbuatan, apapun penyebabnya. Dalam hal ini, individu akan

menolak mengakui dengan menghidar diri dari tanggung jawab untuk mengatasi

masalah tersebut.

Mereka yang memiliki skor rendah dalam dimensi owenership ini cenderung berpikir: “Ini semua kesalahan saya” ; “Saya memang bodoh sekali”; “Seharusnya saya lebih tahu”; “Apa yang tadi saya pikirkan, ya? “; “ Saya malah jadi tidak mengerti” ; “Saya sudah mengacaukan semuanya”; “Saya memang orang yang gagal”. Sedangkan Mereka yang skornya lebih tinggi, bila berada dalam situasi yang sama, cendrung akan berpikir: “Waktunya tidak tepat” ; “Seluruh industri sedang menderita”; “Kini, setiap orang mengalami masa-masa yang sulit”, “Ia hanya sedang tidak gembira hatinya”; “Beberapa anggota tim tidak memberikan kontribusi”; “Tak seorang pun bisa meramalkan datanya yang satu ini”; “Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, saya tahu ada cara

25

untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik dan saya aka menerapkannya bila lain waktu saya berada dalam situasi seperti itu lagi”.

c. Reach (R)

Reach atau jangkauan merupakan dimensi untuk mengetahui sejauh mana orang membiarkan suatu kesulitan menjalar/masuk ke dalam sisi-sisi kehidupan

yang lain (Stolz, 2003). Reach menetapkan seberapa luas seseorang menganggap

suatu masalah. Semakin luas masalah yang muncul, Semakin rendah skor R,

semakin besar kemungkinan seseorang menganggap peristiwa-peristiwa buruk

sebagai bencana, dengan membiarkannya meluas, menyerap kebahagiaan

seseorang. Sementara itu, semakin tinggi skor R, semakin besar pula

kemungkinan seseorang untuk membatasi jangauan masalah pada peristiwa yang

sedang dihadapi (Stolz, 2003).

Individu dengan reach yang rendah pada umumnya akan merespon

kesulitan sebagai sesuatu yang memasuki wilayah lain kehidupannya dan

menganggap peristiwa yang baik sebagai sesuatu yang kebetulan dan terbatas

jangkauannya. Akibat yang lainnya akan merusak kebahagiaan dan ketenangan

pikiran ketika berhadapan dengan peristiwa sulit. Sebaliknya semakin besar reach

seseorang, semakin besar kemungkinan individu membatasi jangkauan

masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi.

Individu dengan skor reach yang sedang merespon peristiwa yang

mengandung kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik, namun kadang membiarkan

peristiwa itu memasuki wilayah lain dalam kehidupannya. Ketika individu merasa

menjadikan kesulitan itu lebih meluas dan hebat daripada semestinya. Individu

dengan reach tinggi akan merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan

terbatas. Semakin efektif individu menahan atau membatasi jangkauan kesulitan,

dia akan merasa dapat berpikir jernih dan semakin berdaya untuk mengambil

tindakan.

d. Endurance (E)

Dimensi ini mempertanyakan dua hal yang berkaitan, yakni berapa lama

kesulitan akan berlangsung dan berapa lama penyebab kesulitan akan

berlangsung. Individu dengan skor endurance yang tinggi akan merespon

kesulitan dan penyebabnya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara, cepat berlalu,

dan kecil kemungkinannya terjadi lagi. Hal ini akan meningkatkan energi,

optimisme, dan kemungkinan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi

kesulitan serta tantangan yang lebih besar. Individu dengan skor endurance yang

sedang akan merespon peristiwa buruk dan penyebabnya sebagai sesuatu yang

berlangsung lama. Terkadang membuat individu menunda mengambil tindakan

yang konstruktif ( Stolz, 2003).

Individu dengan skor endurance yang rendah pada umumnya menganggap

kesulitan atau penyebab-penyebabnya akan berlangsung lama atau bahkan

selamanya. Hal ini akan memunculkan respon perasaan tidak berdaya atau hilang

harapan. Individu yang melihat kemampuan diri mereka sebagai penyebab

kegagalan (penyebab yang stabil) cenderung kurang bertahan dibandingkan

dengan orang yang mengaitkan kegagalan sebagai usaha (penyebab yang sifatnya

27

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui

kecerdasan dalam menghadapi rintangan tidak cukup hanya mengetahui apa yang

diperlukan untuk meningkatkannya, tetapi yang perlu diperhatikan adalah

dimensi-dimensinya agar dapat memahami kecerdasan dalam menghadapi

rintangan sepenuhnya.

Dokumen terkait