• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN TEORI

2.1.2 Dimensi-dimensi resiliensi

Ada beberapa pendapat para ahli mengenai dimensi-dimensi resiliensi yang akan dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Connor dan Davidson (2003) resiliensi terdiri atas lima dimensi yaitu sebagai berikut:

1. Personal competence; high standard and tenacity

Merupakan dimana individu merasa sebagai orang yang mampu untuk mencapai tujuan walaupun pada situasi kegagalan. Individu ketika mengalami tekanan atau setres cenderung merasa ragu akan berhasil dalam mencapai tujuan sehingga dibutuhkan standar yang tinggi dan keuletan pada diri individu.

2. Trust in one‟s instincts; tolerance o negative affect; strengthening effect of stress

Merupakan bagaimana individu dapat tetap tenang dalam bertindak. Individu yang tenang memliki kecenderungan untuk berhati-hati dalam mengambil sikap atas masalah yang dihadapi. Individu juga mampu melakukan coping terhadap stress dengan cepat serta tetap fokus pada tujuan walaupun sedang mengalami masalah.

3. Positive acceptance of change and secure relationships

Merupakan individu yang memiliki kemampuan untuk menerima kesulitan secara positif serta jika berada dalam kesulitan individu mampu untuk merasa aman ketika berhubungan dengan orang lain.

4. Control and factor

Merupakan kemampuan individu untuk mengontrol diri dan mencapai tujuan serta memiliki kemampuan untuk meminta dan mendapatkan dukungan sosial dari orang lain ketika mengalami suatu kesulitan dalam hidup.

5. Spiitual influences

Merupakan kemampuan individu untuk dapat berjuang karena memiliki keyakinannya kepada Tuhan dan takdir. Individu yang percaya kepada Tuhan akan menganggap bahwa masalah yang ada merupakan sebuah takdir dari Tuhan dan harus dilalui dengan peasaan positif sehingga individu harus tetap berjuang dalam mencapai tujuan.

Selanjutnya menurut Friborg, Hjemdal, Braun, Kempenaers, Linkowski, dan Fossion (2011) dimensi-dimensi resiliensi terdiri dari lima dimensi yaitu sebagai berikut:

1. Perception of self

Merupakan bagaimana individu percaya dengan kemampuannya sendiri berdasarkan penilaian mereka sendiri.

2. Planned Future

Merupakan bagaimana kemampuan individu untuk merencanakan rencana di masa yang akan dating. Individu yang memiliki kemampuan ini memiliki kecenderungan berpandangan positif pada kehidupannya walau ada suatu masalah. Walaupun begitu individu tetap fokus pada tujuan mereka yang telah direncanakan sebelumnya.

3. Social competence

Merupakan individu yang cenderung memiliki sifat yang hangat, fleksibel untuk menjalin hubungan pertemanan dan dapat menggunakan humor secara positif.

4. Structured style

Merupakan individu yang memiliki preferensi rencana serta tujuan yang jelas, individu yang seperti ini cenderung terorganisir dan mengikuti rutinitas yang ada.

5. Family cohesion

Merupakan individu memiliki hubungan keluarga yang baik, individu menikmati menghabiskan waktu bersama keluarga, memiliki rasa loyalittas

Merupakan individu memiliki hubungan keluarga yang baik, individu menikmati menghabiskan waktu bersama keluarga, memiliki loyalittas terhadap satu sama lain serta memiliki nilai-nilai dalam keluarga.

6. Social resources

Merupakan ketersediaan dukungan sosial, apakah mereka memiliki kepercayaan di luar keluarga (seperti teman atau anggota keluarga lain yang memberikan dorongan kepada mereka).

Resiliensi terdiri dari tiga dimensi menurut (Nakaya, Oshio & Kaneko, 2006), yaitu novelty seeking, emotional regulation dan positive future orientation, masing-masing dimensi dijelasan sebagai berikut:

1. Novelty seeking merupakan proses mencari sesuatu yang baru mengacu pada kemampuan untuk menunjukkan minat dan perhatian tentang berbagai peristiwa. Individu yang memiliki dorongan rasa ingin tahu, memiliki keinginan untuk pencarian sensasi dan rangsangan baru yang merupakan aktivitas eksplorasi. Indikator dalam aspek ini memiliki minat dengan beberbagai hal dan mencari sesuatu yang baru.

2. Emotional regulation adalah sifat individu yang menunjukkan ketenangan dan bagaimana mereka dapat mengendalikan emosi internal mereka. Ini terkait pada proses dimana kita merasakan emosi yang kita miliki dan bagaimana individu tetap menujukkan ketenangan dalam keadaan yang sulit. Indikator dalam aspek ini dapat mengendalikan emosi dan merasa tenang.

3. Positive future orientation menyangkut pada individu memiliki pandangan, mimpi dan tujuan di masa depan. Ini juga terkait dengan keyakinan individu

dan bekerja keras untuk dapat meraih masa depan yang positif. Indikator dalam aspek ini berjuang untuk masa depan dan memiliki tujuan yang jelas. 2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi

Dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal, berikut adalah rinciannya. 1. Faktor Internal

Faktor internal pada diri seseorang dapat mempengaruhi resiliensi, karena internal seseorang berbeda satu sama lain. Berikut faktor internal yang dapat mempengaruhi resiliensi.

a. Self-esteem

Self-esteem adalah salah satu faktor yang berkaitan dengan resiliensi terutama pada remaja. Dinyatakan oleh Dumont dan Provost (1999) bahwa remaja dengan resiliensi yang baik terbukti signifikan memiliki self-esteem yang baik dibandingkan dengan remaja yang rentan atau memiliki nilai resiliensi yang rendah. Teridentifikasi bahwa remaja yang memiliki kepercayaan diri tinggi, strategi pemecahan yang baik merupakan remaja yang memiliki resiliensi yang baik.

b. Gratitude

Gratitude didefinisikan sebagai kecenderungan umum untuk mengenali dan merespon dengan rasa berterimakasih kepada peran kebaikan orang lain pada pengalaman positif dan pada saat telah memperoleh sesuatu. Gratitude dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dari keberagaman resiliensi. Gratitude terbukti sebagai prediktor yang

memberikan nilai paling prediktif pada penelitian Gupta dan Kumar (2015) dibandingkan faktor yang lain. Seseorang dengan nilai gratitude yang tinggi dilaporkan memiliki ketahanan atau resiliensi yang yang tinggi pula. Diharapkan remaja yang memiliki gratitude yang baik akan memiliki resiliensi yang baik untuk dapat bertahan dan memecahkan masalah mereka.

c. Usia

Tefera dan Mulatie (2014) memaparkan mengenai rata-rata skor resiliensi anak yang muda (berkisar umur 4-12 tahun) adalah 38,8 dan skor resiliensi rata-rata untuk anak yang lebih tua (berkisar 13-17 tahun) adalah 42,2. Dari skor tersebut dapat diartikan bahwa bahwa anak yang lebih tua lebih resiliensi dibanding anak yang lebih muda. Sejalan dengan penelitian Sewasew, Lewsohn & Kassa (2017) tingkat resiliensi yang anak lebih tua lebih tinggi dibanding anak yang lebih muda. Dapat dikatakan karena seiring bertambahnya usia yang akan menunjukkan peningkatan emotional regulation yang baik (Compas, dkk., 1993 dalam Hampel & Paterman, 2005). Dengan begitu diharapkan semakin bertambahnya usia kronologis remaja semakin remaja memiliki ketangguhan atau resiliensi yang baik. d. Jenis kelamin

Terdapat banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan resiliensi antara laki-laki dan perempuan. Salah satu yang membahas mengenai jenis kelamin mempengaruhi resiliensi adalah

Sobana (2018). Sobana (2018) dalam penelitiannya terlihat perempuan memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi dibanding laki-laki.

e. Status Anak

Status anak yang dimaksudkan terbagi menjadi dua kelompok yaitu yatim dan non-yatim. Untuk kelompok yatim adalah bagi mereka yang telah kehilang salah satu orang tua nya ataupun bisa juga keduanya. Kemudian untuk kelompok non-yatim adalah mereka yang termasuk masih memiliki kedua orang tua namun kondisinya kekurangan, seperti fakir miskin, anak telantar dan anak kebutuhan khusus. Dari penelitian Katyal (2015) ada perbedaan yang signifikan pada anak yatim dan non-yatim, terlihat anak yatim memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi dibanding anak non-yatim.

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal pada diri seseorang juga dapat mempengaruhi resiliensi, karena situasi yang ada pada seseorang berbeda satu sama lain. Berikut faktor eksternal yang dapat mempengaruhi resiliensi.

a. Dukungan Sosial

Dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang penting dalam memperngaruhi sikap resiliensi. Seperti yang dijelaskan oleh Horton dan Wallander (2011) bahwa dukungan sosial berfungsi sebagai proses adjustment atau penyesuaian dari peristiwa-peristiwa negatif. Ini juga didukung oleh penelitian Zhou, et al, 2014 (dalam Zhou, Wu & Zhen 2017) seorang remaja yang memiliki dukungan sosial yang tinggi akan

memiliki rasa aman, dan rasa lekat yang dapat membantu remaja untuk berbagi pengalaman traumatis mereka.

b. Prososial

LaFromboise et al. (2006) melakukan identifikasi nilai resiliensi pada remaja Amerika. Hasil pada penelitian LaFromboise et al. (2006) menyebutkan bahwa nilai prososial mempengaruhi nilai resiliensi remaja secara positif. Remaja yang memiliki prososial yang baik akan lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan mereka maupun menghindarkan diri dari perilaku yang bermasalah.

c. Iklim Sosial

Iklim sekolah terbukti dalam berhubungan dengan beberapa hasil sikap maupun perilaku siswa, seperti yang dipaparkan oleh Sullivan dan Gilreath (2011). Sullivan dan Gilreath (2011) mengidentifikasi pola yang unik pada siswa terkait dengan iklim sekolah dan resilien secara positif. Dimaksudkan bahwa siswa melaporkan ketangguhan dalam kehidupan mereka.

d. Jumlah Teman Dekat

Sapouna dan Wolke (2013) mengungkapkan bahwa terdapat variasi pada close friends jumlah teman dekat pada remaja yang dapat menjelaskan atau menjadi prediktor ketahanan atau resiliensi remaja itu sendiri. Setelah melakukan analisis ditemukan bahwa terdapat pengaruh secara positif pada jumlah teman dekat dengan resiliensi remaja. Dapat diartikan bahwa remaja dengan jumlah teman dekat dan melakukan aktifitas bersama

dengan mereka menunjukkan bahwa remaja memiliki resilient yang lebih baik begitu juga sebaliknya, jika lebih sedikit interaksi maupun jumlah teman dekat yang dimiliki remaja maka resilient yang dimiliki juga semakin kecil.

Berdasarkan faktor-faktor yang dijelaskan oleh para ahli, maka peneliti mengggunakan self-esteem, gratitude, faktor demografi (usia, jenis kelamin dan status anak), serta dukungan sosial sebagai variabel bebas dalam penelitian ini. 2.1.4 Pengukuran resiliensi

Ada beberapa alat ukur yang bisa digunakan untuk mengukur resiliensi diantaranya, yaitu :

1. The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang dikembangkan oleh Connor dan Davidson (2003). Skala ini dikembangkan, selain untuk mengukur kemampuan seseorang untuk menghadapi stress, juga mengukur untuk kepentingan klinis. Skala ini memiliki 25 item dengan model skala likert 5 alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Netral, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju. Skala ini memiliki nilai koefisien alpha Cronbach sebesar 0.89. 2. The Resilience Scale for Adults (RSA) yang dikembangkan oleh Friborg et al.,

(2009). Skala ini terdiri dari 33 item cocok untuk orang dewasa dengan mengukur faktor protective. Skala ini lebih mempresentasikan protective factor, alat ukur ini memiliki nilai alpha Cronbach sebesar 0.57.

3. Adolescent Resilience Scale (ARS) yang dikembangkan oleh Oshio, Kaneko, Nagamine & Nakaya (2003). Skala ini terdiri dari 21 item, dengan menggunakan rating scale 1-5, yang artinya skor yang mendekati 5 artinya

semakin mendekati ya, sedangkan skor yang mendekati 1 artinya semakin mendekati tidak. Skala ini difokuskan untuk usia remaja, dengan memiliki nilai koefisien alpha Cronbach 0.85.

Berdasarkan keempat alat ukur diatas, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan pengukuran Adolescent Resilience Scale (ARS) oleh Oshio, Kaneko, Nagamine, & Nakaya (2003). Karena sesuai dengan subjek yang ingin diteliti yaitu remaja. Selain itu, peneliti juga melakukan perubahan pada penggunaan skala, skala yang digunakan 4 skala model Likert, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju.

Dokumen terkait