IV. METODOLOG
4.4 Metode Analisis Data
4.4.1 Analisis Bioekonomi Sumberdaya Perikanan
4.4.3.1 Dimensi Keberlanjutan
Berbeda dengan sumberdaya daratan (terresterial), sumberdaya perikanan tangkap bersifat migratif, open access dan common property, yaitu sumberdaya tidak menetap pada suatu kawasan saja, pemanfaatannya bersifat terbuka dan kepemilikannya bersifat umum. Oleh sebab itu pembangunan sumberdaya ikan berkelanjutan berarti pembangunan yang tidak hanya mampu menciptakan kegiatan penangkapan sumberdaya perikanan tangkap yang kompetitif dan menguntungkan sehingga menciptakan kehidupan yang baik bagi masyarakat perikanan dan menjamin ketahanan pangan yang bersumber dari protein hewani khususnya ikan tetapi juga mampu menjamin kelangsungan dari lingkungan perairan dan sumberdaya alam didalamnya yang mendukung kegiatan perikanan tangkap.
Analisis keberlanjutan untuk sumberdaya perikanan pada penelitian ini terdiri atas lima dimensi keberlanjutan, yaitu keberlanjutan sumberdaya ikan pada dimensi ekologi, keberlanjutan sumberdaya ikan pada dimensi ekonomi, keberlanjutan sumberdaya ikan pada dimensi teknologi, keberlanjutan
sumberdaya ikan pada dimensi sosial dan keberlanjutan sumberdaya ikan pada dimensi kelembagaan.
A. Keberlanjutan Sumberdaya Ikan pada Dimensi Ekologi
Beberapa atribut keberlanjutan dari dimensi ekologi yang berkaitan dengan sumberdaya perikanan tangkap Provinsi DKI Jakarta adalah tingkat eksploitasi, tekanan pemanfaatan perairan, proporsi ikan yang dibuang, tingkatan kolaps, dan perubahan ukuran dan jenis ikan tertangkap dalam sepuluh tahun terakhir. Penyusunan skor status keberlanjutan pada dimensi ekologi perikanan di Provinsi DKI Jakarta dilakukan berdasarkan acuan dari studi terdahulu.
1) Atribut ekologi tentang tingkat eksploitasi diperoleh berdasarkan kajian dengan menggunakan metode analisis bioekonomi. Analisis bioekonomi akan menghasilkan parameter pendugaan tingkat dan batas maksimal pemanfaatan lestari sumberdaya perikanan tangkap di Provinsi DKI Jakarta. Penilaian atribut tingkat eksploitasi didasarkan pada perbandingan tingkat eksploitasi aktual terhadapt tingkat eksploitasi lestari (MSY) (Pitcher dan Preikshot 2001). Semakin rendah tingkat eksploitasi sumberdaya perikanan di unit analisis maka risiko/ancaman bagi keberlanjutan perikanan di unit analisis akan semakin kecil (Hartono et.al 2005).
2) Atribut tekanan pemafaatan perairan menggambarkan intensitas pemanfaatan perairan oleh berbagai kegiatan yang secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi aktivitas perikanan tangkap. Tekanan pemanfaatan perairan dapat berupa pemanfaatan wilayah pesisir dan laut sebagai lahan budidaya, jalur transportasi laut, pariwisata, maupun aktivitas di daratan yang secara langsung mempengaruhi kondisi ekologis perairan seperti buangan sampah dan limbah yang berasal dari wilayah pesisir maupun daratan. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan perairan maka akan menyebabkan semakin menurunnya kualitas perairan tersebut yang akan berdampak pada semakin menurunnya kondisi ekologi wilayah perairan. Penilaian pada atribut ini didapat berdasarkan hasil pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan nelayan terpilih, petugas lapangan, dan para pakar di DKP Provinsi DKI Jakarta.
3) Perubahan ukuran ikan tertangkap dalam sepuluh tahun terakhir akan menggambarkan dampak akibat terjadinya perubahan ekologi. Ukuran ikan
yang semakin mengecil dapat mengindikasikan telah terjadi degradasi pada perairan tersebut. Kondisi tersebut juga dapat mengindikasikan telah terjadinya
overfishing karena stok ikan tertangkap rata-rata ukurannya lebih kecil daripada yang seharusnya untuk berproduksi pada tingkat yield per recruit
yang maksimum (Fauzi 2005). Penilaian pada atribut ini diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan terpilih dan petugas lapangan. Tetapnya ukuran rata-rata ikan yang tertangkap dalam sepuluh tahun terakhir mengindikasikan bahwa ada cukup waktu bagi ikan tersebut untuk dewasa sebelum tertangkap. Hal ini menunjukkan kecilnya risiko/ancaman bagi keberlanjutan usaha perikanan di unit analisis (Hartono et. al 2005).
4) Perubahan jenis ikan tertangkap dalam sepuluh tahun terakhir. Rendahnya perubahan jenis ikan yang tertangkap dalam sepuluh tahun terakhir mengindikasikan bahwa fungsi ekosistem masih berjalan dengan baik, dimana tingkat pemulihan dari jenis-jenis ikan tesebut masih berjalan baik. Semakin baik fungsi ekosistem maka secara tidak langsung risiko/ancaman bagi kebelanjutan semakin kecil (Hartono et. al 2005). Penilaian pada atribut ini diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan terpilih.
5) Proporsi ikan yang dibuang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan sumberdaya perikanan. semakin sedikit ikan non target yang tertangkap dan dibuang berarti semakin efisien penggunaan/pemanfaatan sumberdaya perikanan. yang berimplikasi pada semakin terjaminnya keberlanjutan usaha perikanan di lokasi penelitian (Hartono et al 2005). Proporsi ikan yang dibuang adalah jumlah ikan tangkapan nelayan yang tidak mempunyai nilai ekonomis dan tidak dimanfaatkan nelayan. Pemanfaatan ikan hasil tangkapan nelayan dapat dilakukan dalam bentuk dijual, diolah atau dikonsumsi oleh nelayan sendiri. Penilaian pada atribut ini diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan terpilih.
6) Atribut tingkatan kolaps/pengurangan lokasi tangkap mengindikasikan bahwa semakin sedikit atau tidak adanya gejala penurunan jumlah ikan dalam geografis/cakupan area tertentu menunjukkan ekosistem yang baik. Dengan demikian semakin kecil pula risiko/ancaman terhadap keberlanjutan di unit
analisis. Penilaian pada atribut ini diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan terpilih.
B. Keberlanjutan Sumberdaya Ikan pada Dimensi Ekonomi
Kajian ekonomi sangat penting mengingat berbagai interaksi dalam kegiatan perikanan tangkap seperti interaksi teknologi dan sosial selalu terkait dengan alasan dan tujuan ekonomi atau keuntungan ekonomi secara maksimal dalam waktu yang relatif lama. Keberlanjutan ekonomi terwujud jika aktivitas perikanan tangkap mempunyai daya saing yang tinggi dan mampu bersaing secara kompetitif di pasaran sehingga akan memberikan manfaat bagi masyarakat nelayan. Penentuan atribut pada dimensi ekonomi dalam penelitian ini menggunakan indikator yang digunakan penelitian terdahulu dan ada satu atribut yang disesuaikan dengan kondisi rill daerah penelitian. Atribut-atribut pada dimensi ekonomi pada penelitian ini adalah keuntungan, kontribusi sektor perikanan terhadap total PDRB, kepemilikan, sumberdaya ikan luar Jakarta yang didaratkan di Jakarta, other income, orientasi pemasaran, dan penyerapan tenaga kerja.
1) Keuntungan
Dalam atribut dimensi ekonomi, keuntungan adalah faktor yang paling penting. Faktor keuntungan inilah yang akan menentukan apakah seseorang akan bertahan atau berhenti dari usaha perikanan tangkap. Jika tingkat keuntungan hasil tangkapan per trip dalam volume dan jenis tangkapan yang sama semakin tinggi maka tingkat eksploitasi per trip akan cenderung menurun sehingga berakibat pada semakin kecilnya ancaman terhadap keberlanjutan usaha perikanan tangkap (Hartono et al 2005). Penilaian skor pada atribut keuntungan didasarkan pada analisis kelayakan investasi pada setiap jenis alat tangkap dan hasil perhitungan keuntungan pada analisis bioekonomi.
2) Kontribusi sektor perikanan terhadap total PDRB
Prestasi ekonomi suatu negara atau daerah dapat dinilai dengan berbagai ukuran agregat. Salah satu indikator yang ideal untuk mengukur tingkat kemajuan perekonomian suatu daerah adalah pendapatan regional. Dalam kaitan prestasi ekonomi suatu daerah alat ukurnya adalah PDRB yang merupakan dasar pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan akibat
timbulnya berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu daerah. Pendapatan regional pada dasarnya merupakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dikurangi penyusutan pajak tak langsung dan ditambah pendapatan netto yang mengalir dari daerah lain. Aspek yang perlu diperhatikan dalam PDRB adalah struktur (sebaran sektor) ekonominya. Struktur ekonomi dipandang sangat penting karena bisa melihat seberapa besar tiap sektor berperan dalam menghasilkan total nilai tambah, sektor-sektor mana yang tumbuh dan sektor apa saja yang mempunyai peluang untuk dikembangkan. Perkembangan atau dinamika sektor perikanan dapat dilihat dari kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB Provinsi DKI Jakarta. Jika dalam wilayah/unit yang dianalisis sektor perikanan relatif memberikan kontribusi terhadap perekonomian yang lebih besar (tampak dari kontribusi terhadap PDRB) maka perhatian
stakeholder terhadap keberlanjutan usaha perikanan tangkap akan semakin tinggi (Hartono et.al 2005). Sumber data untuk atribut ini adalah Badan Pusat Statistik dan penilaian pada atribut ini didapatkan berdasarkan perbandingan antara PDRB sektor perikanan terhadap PDRB Provinsi DKI Jakarta dalam kurun waktu 1997 sampai 2011.
3) Kepemilikan
Sifat kepemilikan sarana penangkapan berhubungan dengan penerimaan keuntungan dari usaha perikanan. Kepemilikan sarana penangkapan ada yang dimiliki pemilik lokal, campuran antara pemilik lokal dan non lokal maupun pemilik non lokal yang menanamkan modalnya di usaha perikanan pada suatu wilayah. Sifat kepemilikan sarana penangkapan ini selain menunjukkan penerimaan keuntungan juga menunjukkan tingkat kemandirian penduduk sekitar terhadap kepemilikan aset usaha perikanan yang tidak tergantung pada pihak luar. Jika keuntungan lebih banyak dinikmati oleh penduduk lokal maka kecenderungan penduduk lokal akan lebih mendukung keberlanjutan usaha perikanan tangkap (risiko/ancaman terhadap kelestarian sumberdaya perikanan tangkap akan semakin kecil) (Hartono et.al 2005). Penilaian untuk atribut kepemilikan didapatkan melaui hasil wawancara dengan responden terpilih.
4) Sumber Pendapatan Lain (Other Income)
Kebijakan yang mampu menciptakan kebijakan lapangan pekerjaan di luar perikanan serta alternatif pendapatan lain mampu meningkatkan status keberlanjutan kegiatan perikanan tangkap yang mendekati/sudah overfishing. Semakin sedikit masyarakat perikanan yang dianalisis melakukan kegiatan di sektor perikanan sebagai pekerjaan utama maka risiko/ancaman terhadap keberlanjutan usaha perikanan (terjadinya eksploitasi sumberdaya perikanan yang yang berlebihan akan semakin rendah) (Hartono et. al 2005). Penilaian untuk atribut ini didapatkan melaui hasil wawancara dengan responden terpilih. 5) Orientasi Pasar
Pasar atau pengguna lokal cenderung akan lebih peduli/bersahabat terhadap sumberdaya perikanan di wilayahnya sehingga keberlanjutan usaha perikanan di wilayahnya akan semakin tinggi (Hartono et. al 2005). Jakarta merupakan ibu kota negara dan pusat niaga untuk wilayah Indonesia Barat sehingga ikan yang didaratkan di TPI-TPI Jakarta tidak hanya bersumber dari perairan Jakarta tapi juga dari wilayah perairan lain. Kebutuhan ikan untuk daerah Jakarta tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi masyarakat |Jakarta yang berjumlah lebih dari sembilan juta orang tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan yang orientasi pasarnya tidak hanyak lokal tetapi juga luar daerah dan internasional.Penilaian untuk atribut ini didapatkan melaui hasil wawancara dengan responden terpilih dan expert meeting.
6) Sumberdaya Ikan luar Jakarta yang didaratkan di Jakarta
Proporsi sumberdaya ikan luar Jakarta yang didaratkan di Jakarta dibandingkan dengan ikan lokal menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumberdaya ikan luar. Atribut ini merupakan atribut yang muncul karena adanya kekhasan daerah penelitian. Jika propsorsi ikan lokal lebih banyak dibandingkan ikan luar maka kecenderungan untuk menjaga keberlanjutan usaha perikanan tangkap akan semakin tinggi. Penilaian untuk atribut ini didasarkan pada data ikan lokal dan ikan luar daerah yang didaratkan di Jakarta yang terdapat didalam buku statistik perikanan dan kelautan Provinsi DKI Jakarta
7) Penyerapan tenaga kerja
Penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan perikanan tangkap tergantung dari ukuran perahu atau perahu, jenis alat tangkap dan jumlah waktu penangkapan dalam satu trip penangkapan. Penilaian pada atribut ini didasarkan pada hasil wawancara dengan responden terpilih mengenai rata-rata jumlah tenaga kerja yang digunakan per trip.
C. Keberlanjutan Sumberdaya Ikan pada Dimensi Sosial
Keberlanjutan sosial terwujud apabila aktivitas perikanan tangkap mampu mendistribusikan keuntungan ekonomi yang diterimanya untuk peningkatan sumberdaya dan kesejahteraan tenaga kerja secara terus menerus (Kennedy 2002). Keberlanjutan sosial akan semakin tinggi apabila keberlanjutan ekonomi dapat dicapai. Dimensi sosial merupakan cerminan dari bagaimana sistem sosial manusia (masyarakat perikanan tangkap) yang terjadi dan berlangsung dapat/tidak dapat mendukung berlangsungnya pembangunan perikanan tangkap dalam jangka panjang dan secara berkelanjutan. Kajian keberlanjutan perikanan tangkap pada dimensi sosial dilakukan untuk menggambarkan kehidupan nelayan sebagai manusia yang harus beradaptasi dengan lingkungan sosial dan sumberdaya perikanan sebagai sumber kehidupannya. Pengertian dimensi ini dalam bingkai pembangunan perikanan tangkap berkelanjutan di Provinsi DKI Jakarta diterjemahkan dalam sepuluh atribut, yaitu pertumbuhan jumlah RTP dalam sepuluh tahun terakhir, tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan nelayan (formal) dibandingkan dengan rata-rata tingkat pendidikan penduduk Jakarta, status dan frekuensi konflik, partisipasi keluarga dalam pemanfaatan hasil sumberdaya perikanan, socialisation of fishing (tingkat hubungan sosial dalam masyarakat perikanan), frekuensi penyuluhan dan pelatihan untuk nelayan, fishing sector,
pengaruh nelayan, dan rata-rata keuntungan per bulan terhadap UMR. 1) Jumlah RTP dibandingkan jumlah penduduk DKI Jakarta
Peningkatan jumlah penduduk yang memanfaatkan sumberdaya perikanan menyebabkan semakin tingginya tekanan pemanfaatan sumberdaya perikanan. semakin kecil tingkat pertumbuhan jumlah masyarakat yang bergerak di bidang perikanan maka semakin kecil penambahan tingkat
kebutuhan akan sumberdaya perikanan (memperkecil risiko/ancaman terhadap keberlanjutan usaha perikanan di unti analisis (Hartono et.al).
2) Tingkat pendidikan
Pencapaian pendidikan merupakan salah satu ukuran untuk menilai kemajuan suatu masyarakat. Masyarakat berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap informasi-informasi kemajuan peradaban sehingga dapat meningkatkan kualitas penduduk daerah yang bersangkutan. Pendidikan mempunyai korelasi yang kuat dengan berbagai aspek sosial ekonomi. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang kuat dengan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Menurut Hartono et al (2005), semakin tinggi pendidikan masyarakat perikanan maka cenderung akan semakin meningkatkan kepedulian masyarakat (public awareness) terhadap keberlanjutan usaha perikanan di wilayah/unit analisis.
3) Tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan nelayan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan nelayan mengenai isu-isu lingkungan, seperti ilegal fishing, pencemaran, kerusakan terumbu karang, dsb). Pengetahuan atau pemahaman tentang lingkungan hidup secara tidak langsung mengindikasikan tingkat kepedulian nelayan terhadap keberlanjutan usaha perikanan di walayahnya (Hartono et. al 2005).
4) Status atau frekuensi konflik
Umumnya kelestarian usaha perikanan akan lebih terjamin jika tidak pernah terjadi konflik, baik konflik antar stakeholder yang terkait langsung maupun tidak langsung terhadap usaha perikanan maupun konflik antara stakeholder
dengan masyarakat diluar usaha perikanan tangkap (Hartono et al 2005). Konflik yang terjadi dapat berupa konflik pemanfaatan ruang/perebutan DPI baik antar nelayan maupun dengan sektor lain, seperti perhubungan laut, budidaya dan lain sebagainya.
5) Partisipasi keluarga dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan
Semakin banyak anggota keluarga yang terlibat dalam usaha perikanan maka semakin tinggi perhatian akan diberikan kepada keberlanjutan pengelolaan
sumberdaya perikanan (Hartono et. al 2005). Partisipasi keluarga dalam mendukung usaha perikanan memang sangat dibutuhkan untuk menunjang pendapatan kepala keluarga. Partisipasi ini dapat berupa peran istri dalam menjual maupun mengolah hasil tangkapan.
6) Frekuensi pertemuan antar warga
Pertemuan antar warga nelayan sangat penting dilakukan mengingat sangat kompleksnya penanganan dan pengelolaan sumberdaya perikanan laut.
7) Tingkat hubungan sosial masyarakat perikanan (socialisation of fishing) Socialisation of fishing yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat perikanan. Sosialisasi dapat dilakukan secara individu, kerjasama hanya dalam satu keluarga maupun kerjasama antar kelompok masyarakat nelayan
8) Pengaruh nelayan
Pengaruh nelayan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterkaitan nelayan dalam proses penyusunan regulasi pengelolaan perikanan. Semakin besar tingkat partisipasi (keterlibatan/pengaruh) masyarakat nelayan/ perikanan dengan pengetahuan tradisionalnya dalam pengambilan keputusan dibidang pengelolaan sumberdaya perikanan maka akan mendukung kelestarian sumberdaya perikanan (risiko/ancaman terhadap keberlanjutan pengelolaan sumberdaya perikanan semakin kecil) (Hartono et.al 2005). 9) Pendapatan hasil perikanan (fishing income)
Fishing income yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persentase pendapatan dari sektor perikanan tangkap terhadap total pendalapan keluarga. Semakin besar persentase/bagian pendapatan nelayan dari total pendapatan keluarga berasal dari usaha perikanan maka semakin tinggi tingkat kepedulian terhadap upaya pelestarian/keberlanjutan pengelolaan sumberdaya perikanan (Hartono et.al 2005).
10) Keuntungan usaha tangkap per bulan (KUT) dibanding UMR
Pendapatan nelayan merupakan indikator penting untuk menilai potensi keberlanjutan usaha perikanan tangkap. Pendapatan yang rendah mengindikasikan bahwa potensi nelayan untuk mendapatkan kehidupan yang layak semakin tidak terpenuhi. Sebagai pembanding untuk mengukur tingkat
pendapatan nelayan digunakan nilai UMR sehingga dapat dinilai apakah pendapatan nelayan telah sesuai dengan rata-rata pendapatan pekerja pada industri kecil dan menengah. Pendapatan nelayan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapatan nelayan tanpa mempertimbangkan statusnya. Hal ini dikarenakan pendapatan nelayan pemilik kapal dan pekerja di Jakarta ralatif sama. Pendapatan nelayan dipengaruhi oleh keuntungan per upaya tangkap. Menurut model produksi surplus, kegiatan upaya tangkap akan terus meningkat sampai batas tertentu hingga keuntungan tangkap sama dengan nol (Purnomo 2012). Mengacu kepada prinsip tersebut, terjadinya peningkatan upaya tangkap setelah tingkat eksploitasi optimal (MSY) akan mengakibatkan penurunan pendapatan nelayan. Kondisi seperti ini saat ini terjadi pada kawasan penelitian sehingga apabila upaya tangkap (effort) meningkat pendapatan nelayan akan terus menurun. Pendapatan nelayan nilainya dipengaruhi oleh keuntungan per upaya tangkap (KUT) dan jumlah upaya tangkap per bulan. Keuntungan per upaya tangkap (KUT) didapatkan melalui persamaan sebagai berikut (Purnomo 2012) :
dimana : Ct
P
= biaya produksi riil t
E
= harga rill t
Perhitungan UMR didasarkan pada kebutuhan hidup minimal (KHM) daerah oleh sebab itu perhitungan rata-rata keuntungan per bulan nelayan dibandingkan UMR dapat menggambarkan kemampuan nelayan dalam mendistribusikan keuntungan ekonomi yang diterimanya untuk peningkatan sumberdaya dan kesejahteraan keluarganya. Keberlanjutan sosial akan semakin tinggi apabila keberlanjutan ekonomi dapat dicapai.
= effort
D. Keberlanjutan Sumberdaya Ikan pada Dimensi Teknologi
Keberlanjutan teknologi terkait erat dengan keberlanjutan ekonomi dan kelembangaan. Menurut Dunlop et al. (2004) teknologi merupakan faktor pendorong (driver of change) bagi tercapainya efisiensi produksi sehingga
mengurangi tingkat kebahayaannya terhadap lingkungan. Porter (1993) menyatakan bahwa pembaharuan teknologi diperlukan apabila secara nyata mampu menekan biaya produksi. Dengan demikian teknologi yang berkelanjutan dapat diartikan sebagai teknologi yang mampu meningkatkan keuntungan menyeluruh bagi usaha perikanan baik dari segi peningkatan efisiensi dan produktivitas produksi maupun penurunan limbah dan dampak buruknya terhadap lingkungan.
Pada umumnya, pengembangan teknologi dibidang penangkapan ikan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas penangkapan untuk memenuhi permintaan konsumsi yang semakin meningkat dan/atau untuk meningkatkan daya saing sesama nelayan karena semakin terbatasnya sumberdaya ikan. Perkembangan teknologi yang semakin efektif seperti memperkecil ukuran mata jaring dan menambah kedalaman jaring bisa berdampak pada menurunnya ketersediaan sumberdaya ikan sehingga persaingan dalam memperebukan sumberdaya ikan yang terbatas akan terjadi. Persaingan dalam teknologi penangkapan biasanya ditandai dengan dioperasikannya alat penangkpan ikan yang makin produktif namun kurang ramah lingkungan bahkan bersifat destruktif.
Dimensi teknologi merupakan cerminan dari pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dengan menggunakan suatu teknologi. Teknologi yang baik adalah teknologi yang dapat mendukung keberlanjutan setiap aktivitas ekonomi dalam sektor perikanan tangkap. Kajian dimensi teknologi ini sangat penting karena aplikasi teknologi dapat menggambarkan tingkat serapan teknologi oleh masyarakat penggunanya. Pada aktivitas perikanan tangkap, penggunaan teknologi dapat menggambarkan skala usahanya. Interaksi dimensi teknologi dengan dimensi lainnya, seperti dimensi ekonomi dan sosial dapat berdampak langsung maupun jangka panjang terhadap kondisi dimensi ekologi.
Dalam perikanan tangkap, penggunaan teknologi juga dapat mengindikasikan etika pengelola perikanan dalam memanfaatkan sumberdaya ikan. Penggunaan teknologi yang tidak tepat dapat memicu terjadinya kerusakan lingkungan atau dapat menimbulkan konflik sosial antar pemanfaat sumberdaya ikan. Beberapa kriteria untuk teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yaitu selektifitas tinggi, tidak destruktif terhadap habitat, tidak membahayakan nelayan,
menghasilkan ikan bermutu baik, produk tidak membahayakan kesehatan konsumen, hasil tangkapan ikan yang dibuang minimum, mempunyai dampak minimum terhadap keanekaragaman sumberdaya hayati, tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah, dan diterima secara sosial (Monintja dalam Bengen 2000).
Pengertian dimensi ini dalam bingkai pembangunan perikanan tangkap berkelanjutan di perairan Jakarta diterjemahkan ke dalam sembilan atribut yang secara operasional dapat menggambarkan status keberlanjutan perikanan tangkap yang dianalisis menurut dimensi teknologi. Atribut dalam dimensi teknologi dalam penelitian ini antara lain, pilihan terhadap tempat pendaratan ikan, lama trip penangkapan, jenis/sifat alat tangkap, selektifitas alat tangkap, penanganan di kapal sebelum didaratkan, ukuran kapal penangkapan, penanganan pasca panen, penggunaan alat bantu destruktif dan perubahan daya tangkap.
1) Pilihan terhadap Tempat Pendaratan Ikan
Tempat pendaratan ikan yang menyebar atau berjumlah banyak secara langsung mempercepat waktu penurunan ikan sehingga meningkatkan keuntungan nelayan (Hartono et.al 2005). Provinsi DKI Jakarta mempunyai tiga belas tempat pendaratan ikan, yaitu enam berada di wilayah pesisir Jakarta dan tujuh berada di wilayah Kepulauan Seribu.
2) Lama Trip Penangkapan
Atribut lama trip penangkapan menggambarkan jarak fishing ground
keberadaan sumberdaya perikanan. Kemampuan lama melaut secara tidak langsung menunjukkan kemampuan mengeksploitasi sumberdaya perikanan. Semakin singkat waktu melaut makan semakin kecil kemampuan mengeksploitasi sumberdaya perikanan.
3) Jenis/Sifat Alat Tangkap
Alat tangkap ikan pelagis seperti gill net dan payang dikategorikan sebagai alat tangkap yang aktif sedangkan alat tangkap pancing dikategorikan alat tangkap pasif. Alat tangkap ikan demersal seperti bubu dan rampus dikategorikan sebagai alat tangkap yang pasif sedangkan bouke ami dan dogol dapar dikategorikan sebagai alat tangkap yang aktif.
4) Selektifitas Alat Tangkap
Peningkatan selektifitas penangkapan sangat terkait dengan efisiensi penggunaan sumberdaya perikanan. Semakin selektif maka sumberdaya perikanan akan semakin berkelanjutan. Nelayan Jakarta umumnya dapat menyiapkan alat tangkap yang digunakan secara mandiri. Kemampuan pengadaan alat tangkap secara mandiri memberi keuntungan bagi nelayan untuk menekan biaya produksi. Selama ini nelayan tersebut hanya tinggal membeli bahan yang diperlukan (meskipun tidak semua) dan bila ada waktu tidak melaut, beberapa nelayan terkadang menyibukan diri dengan membuat alat tangkap baik untuk kepentingan sendiri maunpun untuk nelayan lainnya. Selain kemampuan pengadaan alat tangkap secara mandiri, para nelayan di perairan Jakarta telah mampu memodifikasi alat tangkapnya untuk disesuaikan dengan fishing ground dan sebagian sudah mulai memperbesar mata jaringnnya untuk kepentingan kelestarian SDI.
5) Penanganan di kapal sebelum didaratkan
Semakin baik penanganan ikan di atas kapal maka semakin memperkecil