DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
4. Dimensi Komunikasi ( communication )
Dimensi komunikasi memberikan informasi tentang kemampuan konsumen dalam mengingat pesan utama yang disampaikan, pemahaman konsumen, serta kekuatan kesan yang ditinggalkan pesan tersebut. Perspektif pemrosesan kognitif adalah inti untuk mengembangkan strategi pemasaran yang berhasil yang merupakan permasalahan komunikasi.
2.8 Direct Rating Method
Menurut Durianto, dkk (2003) Direct Rating Method merupakan salah satu alternatif metode untuk menguji efektivitas promosi pada konsumen. Direct Rating Method (DRM) memberikan beberapa alternatif kegiatan promoi kepada sekelompok konsumen dan meminta mereka untuk menentukan peringkat masing- masing kegiatan promosi tersebut. Metode ini digunakan untuk mengevaluasi kekuatan suatu kegiatan promosi untuk mendapatkan perhatian, mudah tidaknya kegiatan promosi itu dipahami, kemampuan untuk suatu kegiatan promosi untuk menggugah perasaan, dan kemampuan kegiatan promosi itu untuk mempengaruhi perilaku. Dalam DRM terdapat lima variabel yang digunakan, yaitu :
1. Perhatian (attention)
Perhatian didefenisikan sebagai alokasi kapasitas pemrosesan untuk stimulus yang baru masuk. Kapasitas merupakan sumber daya yang terbatas, maka konsumen sangat selektif mengalokasikan perhatian mereka. Dalam hal ini, pada saat sejumlah stimulus menerima perhatian, yang lain akan diabaikan. Tugas pemasar adalah mencapai faktor yang pertama, maka pemasar harus mengerti mengenai faktor-faktor yang menentukan perhatian, yang dapat dikelompokkan dalam dua kategori utama, yaitu determinan (penentu) pribadi dan determinan stimulus.
a. Determinan pribadi
Determinan pribadi merujuk pada karakteristik individu yang mempengaruhi perhatian. Secara umum, faktor-faktor ini tidak berada di bawah kendali pemasar. Keberadaan faktor-faktor tersebut harus dikenali dan dipandang sebagai kendala yang harus diperhatikan untuk mengevaluasi strategi. Faktor-faktor tersebut diantaranya kebutuhan /motivasi, sikap, tingkat adaptasi, serta rentang perhatian.
b. Determinan stimulus
Perangkat kedua dari faktor yang mempengaruhi stimulus adalah karakteristik stimulus itu sendiri. Determinan ini menggambarkan faktor- faktor yang dapat dikendalikan artinya dapat digunakan untuk mendapatkan dan meningkatkan perhatian. Faktor-faktor tersebut
diantaranya: ukuran, warna, intensitas, kontras, posisi, gerakan, kebaruan, stimulus pemikat perhatian yang dipelajari, juru bicara yang menarik. 2. Pemahaman
Pemahaman berkaitan dengan penafsiran suatu stimulus. Makna suatu stimulus bergantung pada bagaimana suatu stimulus dikategorikan dan diuraikan dengan pengetahuan yang sudah ada. Pemahaman dipengaruhi oleh banyak stimulus dan faktor pribadi. Orang akan lebih dahulu mempertimbangkan bagaimana faktor pribadi dapat mempengaruhi pemahaman. Faktor-faktor pribadi yang mempengaruhi pemahaman antara lain motivasi, pengetahuan, dan perangkat harapan atu persepsi. Sifat fisik aktual suatu stimulus juga memainkan peran yang besar dalam membentuk penafsiran stimulus tersebut. Pemahaman bergantung pada pengemasan produk dan nama merek.
3. Respon Kognitif
Respon kognitif adalah penerimaan yang akan terjadi saat pemrosesan informasi yang sangat terkait dengan pikiran yang muncul selama tahap pemahaman. Sifat respon kognitif menentukan penerimaan atas suatu klaim. Yang sangat penting adalah respon yang disebut argumen pendukung dan kontra argumen. Argumen pendukung adalah pikiran menyokong klaim. Kontra argumen adalah pikiran yang menentang klaim dalam pesan. Penerimaan ditingkatkan saat argumen pendukung meningkat, dan ketika kontra argumen membesar. Respon kognitif memberi pelengkap yang berharga pada pengukuran sikap standar dalam mengevaluasi keefektifan komunikasi.
4. Respon Afektif
Respon afektif menggambarkan perasaan dan emosi yang dihasilkan sebuah stimulus. Keragaman respon afektif dapat disederhanakan menjadi tiga dimensi utama, yaitu riang, negatif, dan hangat. Beberapa rekomendasi perangkat emosi utama yang lebih besar, terdiri dari: rasa takut, terkejut, sedih, jijik, marah, antisipasi, riang, dan menerima. Pentingnya peran afektif tersebut selama tahap penerimaan dalam proses informasi.
5. Sikap terhadap promosi
Kemampuan promosi untuk menciptakan sikap yang mendukung terhadap suatu produk sering bergantung pada sikap konsumen terhadap promosi tersebut.
Promosi yang disukai atau dievaluasi secara menguntungkan dapat menghasilkan sikap yang lebih positif terhadap suatu produk. Promosi yang tidak disukai mungkin akan menurunkan evaluasi produk dari sisi konsumen. Sikap terhadap suatu iklan berfungsi sebagai peramal yang signifikan atas sikap terhadap produk. 2.9 Hasil Penelitian Terdahulu
Menurut Megawati (2009), dalam penelitiannya mengenai Analisis Efektivitas promosi terhadap Jumlah Pengunjung Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor mengungkapkan bahwa efektivitas promosi Taman Safari Indonesia (TSI) diukur melalui segi komunikasi dan penjualan. Segi komunikasi promosi menggunakan EPIC Model dengan nilai EPIC Rate yang diperoleh sebesar 3,99 menunjukan bahwa responden menilai promosi yang dilakukan oleh TSI sudah efektif, baik dari segi dimensi Empati, Persuasi, Dampak, maupun Komunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan sudah cukup berhasil dalam promosi. Efektivitas promosi selain dihitung menggunakan EPIC Model juga diukur melalui dampak penjualan. Analisis ini menggunakan analisis korelasi yang kuat antara biaya promosi Above The Line (ATL) maupun Below The Line (BTL) dengan tingkat penjualan tanaman hias. Hal ini ditunjukan dengan nilai r sebesar 0,423 dan 0,476.
Pravita Sari (2010), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Efektivitas Bauran Promosi Pada Taman Rekreasi Dunia Fantasi Taman Inpian Jaya Ancol Jakarta”, dengan menggunakan metode EPIC Model mengungkapkan bahwa, promosi yang dilakukan Dunia Fantasi masuk dalam kategori promosi yang efektif dilihat dari EPIC Rate yang diperoleh sebesar 3,725. Hal ini juga terlihat dari masing-masing nilai Empati sebesar 3,9 (efektif), Persuasi sebesar 3,85 (efektif), Dampak sebesar 3,61 (efektif), dan komunikasi sebesar 3,54 (efektif). Hasil Uji Wilcoxon menunjukan bahwa terdapat peningkatan pada empati konsumen, peningkatan pada kepercayaan, sikap, dan keinginan konsumen, peningkatan pengetahuan dan keterlibatan konsumen, serta peningkatan pemahaman konsumen akan pesan.
Dalam jurnal Natalisa (1999) yang dimuat dalam Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 3 No.5 Juni 2005 mengenai “Pemahaman Terhadap Segmentasi Pelanggan : Suatu Usaha Untuk Meningkatkan Efektifitas Pemasaran
Jasa Penerbangan”, mengungkapkan bahwa strategi yang sekarang banyak digunakan maskapai penerbangan domestik dengan menerapkan strategi harga rendah (pemberian diskon yang sangat tinggi) harus disikapi dengan bijaksana oleh para pebisnis jasa penerbangan. Bukan tidak mungkin, suatu hari malah akan jadi bumerang buat mereka. Hal yang harus di perhatikan yaitu kebijakan pelayanan yang tepat (sesuai kebutuhan segmen), justru membawa dampak positif bagi peningkatan image dan loyalitas pelanggan. Perbaikan kualitas pelayanan dan peningkatan profesionalisme karyawan untuk memberikan jaminan pelayanan dengan tingkat keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan serta jaminan terhadap keselamatan penerbangan perlu dilakukan untuk lebih meningkatkan kepuasan pelanggan.
Persamaan penelitian ini dibandingkan dengan 3 penelitian terdahulu yaitu pada alat analisis yang digunakan pada penelitian ini sama dengan dua penelitian sebelumnya yaitu pada penelitian Dewi Megawati dan Ria Pravita Sari yang sama-sama menggunakan EPIC Model dalam menghitung nilai keefektivitasannya. Sedangkan pada Jurnal natalisa yakni sama-sama meneliti mengenai efektivitas promosi pemasaran terhadap perusahaan jasa. Hal yang membedakan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yaitu pada penelitian ini, selain menggunakan EPIC Model dalam menganalisis tingkat keefektivitasannya juga menggunakan Direct Rating Method (DRM). DRM ini digunakan untuk mendukung dan menguatkan hasil dari perhitungan dengan menggunakan metode EPIC Model. Selain itu yang menjadikan keunikan dari penelitian ini yaitu tempat penelitian yang belum pernah diteliti sebelumnya mengenai promosi yang dilakukan The Jungle Bogor.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Kerangka Pemikiran
Pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan yang dimiliki oleh Kota Bogor. Munculnya objek wisata baru yang menawarkan keunggulannya baik dalam bentuk variasi hiburan, teknologi hingga pelayanan yang diberikannya sehingga menimbulkan persaingan. Dalam menghadapi persaingan ini, masing- masing objek wisata memiliki strategi yang tepat. The Jungle sebagai salah satu objek wisata yang dimiliki kota Bogor berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasarnya agar lebih dikenal oleh masyarakat luas. Salah satu strategi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dalam memasarkan produk barang dan jasanya yaitu dengan menggunakan strategi promosi pemasaran berupa bauran promosi yang terdiri dari periklanan, penjualan personal, promosi penjualan, pemasaran langsung dan hubungan masyarakat serta informasi dari mulut ke mulut (Word of Mouth).
EPIC model merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengukur keefektifan promosi dari dampak pengingat dan persuasi melalui riset komunikasi terhadap konsumen. Efektivitas dapat dilihat dari respon konsumen terhadap bauran promosi yang dilakukan oleh perusahaan.
Untuk melihat keefektivan promosi yang dilakukan dan menentukan promosi mana yang sangat mendapat perhatian bagi konsumen digunakanlah Metode Penentuan Peringkat Langsung (Direct Rating Method = DRM). DRM memberikan beberapa alternatif promosi kepada sekelompok konsumen dan meminta untuk menentukan peringkat masing-masing promosi tersebut.
Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian EPIC Model Karakteristik konsumen Empati, Persuasi, Dampak, dan Komunikasi
Analisis efektivitasan Bauran Promosi Pada Wisata Air The Jungle Bogor
Respon Konsumen
Deskriptif Perhatian, Pembacaan,
Kognitif, perilaku dan Afeksi
Direct Rating Method Wisata Air The Jungle ingin mempertahankan
dan meningkatkan pangsa pasar
Below The Line Above The Line
Pemasaran langsung Periklanan Word Of Mouth Promosi penjualan Hubungan masyarakat Penjualan personal
Bauran Pemasaran (Market Mix – 8P)
Produk Harga
Promosi
Distribusi Proses Orang Buktifisik
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Lokasi Perumahan Bogor Nirwana Residence (BNR) terletak di Jl. Dreded Pahlawan, Kotamadya Bogor Selatan – Jawa Barat. Lokasi Perumahan Bogor Nirwana Residence dapat dicapai dengan mudah sekitar 10 menit perjalanan dari gerbang pintu tol Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dan pengumpulan data melalui pengisian kuisioner yang diberikan kepada pengunjung wisata air The Jungle Bogor yang mengetahui promosi The Jungle.. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2011 – September 2011.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil pengamatan langsung di lapangan, wawancara langsung dengan pihak perusahaan dan konsumen, serta pengisian kuesioner oleh konsumen. Melalui wawancara diajukan pertanyaan tentang gambaran umum perusahaan, visi dan misi, serta pelaksanaan promosi yang dilakukan oleh The Jungle Bogor. Daftar pertanyaan wawancara tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1. Pengumpulan data melalui kuesioner oleh pengunjung ditujukan untuk mengetahui respon konsumen terhadap promosi yang telah dilakukan. Daftar pertanyaan kuesioner penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 2. Selain itu juga dilakukan pengamatan langsung tentang pelaksanaan promosi.
Data sekunder bersumber dari laporan tertulis atau dokumen perusahaan serta data literatur yang relevan. Selain itu, data sekunder juga dikumpulkan dari internet, studi pustaka, dan penelitian terdahulu.
3.4 Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel bagi keperluan penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling sehingga tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi responden. Teknik non-probability sampling yang digunakan yaitu metode convinience sampling. Convinience sampling (sampel berdasarkan kemudahan) adalah sampel berdasarkan kemudahan dan metode ini dapat memilih dari elemen populasi (orang atau
peristiwa) yang datanya berlimpah dan mudah diperoleh oleh peneliti. Artinya elemen populasi yang dipilih sebagai subjek sampel tersebut tidak terbatas sehingga peneliti memiliki kebebasan untuk memilih sampel yang paling cepat, mudah, dan murah (Ruslan, 2006). Sampel yang dipilih menjadi responden merupakan pengunjung The Jungle Bogor. Kuisioner yang diberikan kepada pengunjung The Jungle dibatasi berdasarkan kelompok-kelompok pengunjung, yaitu:
1. Pengunjung yang datang secara individu, diberikan kepada setiap individu 2. Pengunjung yang datang secara keluarga, diberikan kepada anggota keluarga
yang berumur minimal 17 tahun ke atas.
3. Pengunjung yang datang secara rombongan, diberikan kepada ketua rombongan.
Jumlah sampel yang digunakan adalah berdasarkan pendekatan jumlah pengunjung per bulan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak The Jungle, diperoleh informasi bahwa rata-rata jumlah pengunjung perbulan adalah 150.000 orang pengunjung. Untuk menentukan ukuran sampel digunakan rumus Slovin. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut:
= 1 + ………( 1) = 150.000 1 + 150.000 ( 0,1) = 99,93 ≈ 100 orang Dimana : n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi
e = Persen kelonggaran karena kesalahan sampel yang dapat ditolerir atau diinginkan, yaitu sebesar 10%
3.5 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan kuesioner. Kuesioner yang diberikan kepada para konsumen berisi beberapa butir pertanyaan yang diukur dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur
sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang kejadian atau gejala sosial.
Uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan agar kuesioner yang digunakan akurat dan layak untuk merekam data responden. Uji validitas digunakan untuk melihat hubungan diantara masing-masing pertanyaan, sehingga memiliki keterkaitan yang erat diantaranya. Sedangkan uji reliabilitas dilakukan agar semua pertanyaan tersebut sesuai dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Pengolahan data yang ada menggunakan alat bantu berupa Microsoft Exel dan software SPSS version 16.0 for Windows.
3.5.1 Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas kuisioner menggunakan teknik korelasi Product Moment Person. Uji validitas ini digunakan untuk menghitung nilai korelasi (r) antara data pada masing-masing pertanyaan dengan skor total. Rumus dari korelasi Product Moment Person.sebagai berikut:
= (∑ )−(∑ ∑ )
[ ∑ −(∑ ) ][ ∑ −(∑ ) ]
………( 2)
Dimana:
N = Jumlah responden
X = Skor masing-masing pernyataan dari tiap responden Y = Skor total semua pertanyaan dari tiap responden
Uji validitas kuesioner dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat mewakili objek yang diamati. Uji validitas dilakukan pada responden dimana nilai yang dihitung dinyatakan valid atau signifikan, apabila nilai rhitung > rtabel (0,361).
3.5.2 Uji Realibilitas
Realibilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Jika kuesioner telah terbukti valid, maka realibilitas kuesioner tersebut diuji keandalannya. Teknik yang digunakan adalah teknik Alpha Cronbach dengan rumus sebagai berikut:
= −1 1− ∑ ………( 3) Dimana: ri = Kendala instrumen k = Banyak butir pertanyaan ∑σb2 = Jumlah ragam butir σt2 = Ragam total
Uji realibilitas dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya dan diandalkan sebagai alat ukur, apabila pengukuran diulangi. Tingkat realibilitas metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala Alpha 0 sampai 1 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Tingkat realibilitas metode Alpha Cronbrach
Alpha Tingkat reliabilitas
0,00 – 0,20 Kurang reliabel
> 0,20 – 0,40 Agak reliabel
> 0,40 – 0,60 Cukup reliabel
> 0,60 – 0,80 Reliabel
> 0,80 – 1,00 Sangat reliabel
3.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data 3.6.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif bertujuan untuk menjelaskan karakteristik umum pengunjung Wisata Air The Jungle Bogor. Data mengenai karakteristik konsumen diperoleh melalui kuesioner. Data-data tersebut dikelompokan berdasarkan jawaban yang sama ke dalam tabel. Data yang telah dikelompokan ke dalam tabel selanjutnya jawaban tersebut dipersentasekan berdasarkan jumlah responden. Persentase tersebut merupakan jawaban yang paling dominan dari masing-masing variabel yang diteliti.
Karakteristik umum yang dilihat meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, status, pekerjaan, pendapatan per bulan, dan wilayah tempat tinggal.
3.6.2 EPIC Model
Efektivitas promosi diukur dengan menggunakan EPIC Model yang mencakup empat dimensi yaitu empati, persuasi, dampak, dan komunikasi. Untuk mengevaluasi efektivitas iklan dengan EPIC Model digunakan Analisis tabulasi sederhana dan perhitungan rata-rata terbobot sebagai berikut:
1. Analisis Tabulasi Sederhana
Dalam analisis tabulasi sederhana, data yang diperoleh diolah ke bentuk persentase.
=
∑ 100% ………. ( 4)
Dimana:
P = Persentase responden yang memilih kategori tertentu ƒi = Jumlah responden yang memilih kategori tertentu ∑ƒi = Banyak jumlah responden
2. Skor Rata-rata
Setiap jawaban responden dari pernyataan yang diberikan, diberikan bobot. Cara menghitung skor adalah menjumlahkan seluruh hasil kali nilai masing-masing bobotnya dibagi dengan jumlah total frekuensi.
Rumus: = ∑ . ∑ ………. ( 5) Dimana: X = Rata-rata berbobot ƒi = Frekuensi wi = Bobot
Bobot nilai dari pendapat para responden terhadap penyataan mengenai EPIC Model dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Bobot nilai EPIC Model
Kriteria jawaban Bobot nilai
Sangat tidak setuju 1
Tidak setuju 2
Cukup 3
Setuju 4
Langkah berikutnya yaitu menggunakan rentang skala penilaian untuk menentukan posisi tanggapan responden dengan menggunakan nilai skor setiap variabel. Bobot alternatif jawaban yang terbentuk dari teknik skala peringkat terdiri dari kisaran antara 0 sampai 5 yang menggambarkan posisi yang sangat negatif ke posisi yang positif. Selanjutnya dihitung rentang skala dengan rumus, sebagai berikut:
= ( )………. ( 6)
Dimana:
R (bobot) = Bobot terbesar – bobot terkecil M = Banyaknya kategori bobot
Rentang skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1 hingga 5, maka rentang skala penilaian yang didapat adalah:
= 5−1
5 = 0,80
Nilai rentang skala sebesar 0,80 digunakan untuk menentukan rentang skala keputusan. Rentang skala keputusan EPIC Model yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rentang skala keputusan EPIC Model
Kriteria jawaban Bobot nilai
Sangat tidak efektif 1,00 < X ≤ 1,80
Tidak efektif 1,80 < X ≤ 2,60
Cuku efektif 2,60 < X ≤ 3,40
Efektif 3,40 < X ≤ 4,20
Sangat efektif 4,20 < X ≤ 5,00
Langkah terakhir adalah menentukan nilai EPIC Rate dengan rumus:
= + + +
4 ( 7)
Hasil EPIC Rate akan mengambarkan posisi promosi suatu produk dalam persepsi responden sesuai dengan rentang skala yang telah ditentukan. Dari hasil rentang skala tersebut dapat diketahui sejauh mana keefektifan promosi yang dilakukan oleh perusahaan.
3.6.2 Direct Rating Method
Durianto, dkk (2003) menyatakan bahwa Direct Rating Method (Metode Penentuan Peringkat langsung) menggunakan lima variabel, yaitu perhatian, pemahaman, respon kognitif, respon afektif, dan sikap terhadap promosi.
Untuk mengevaluasi efektivitas iklan dengan Direct Rating Method digunakan analisis tabulasi sederhana dan perhitungan rata-rata terbobot, sebagai berikut:
1. Analisis Tabulasi Sederhana
Data yang diperoleh diolah ke bentuk persentase. Rumus:
=
∑ 100% ………. ( 8)
Dimana:
P = persentase responden yang memilih kategori tertentu ƒi = Jumlah responden yang memilih kategori tertentu ∑ƒi = Banyak jumlah responden
2. Skor Rata-rata
Setiap jawaban responden dari pertanyaan yang diberikan, diberikan bobot. Cara menghitung skor adalah menjumlahkan seluruh hasil kali nilai masing-masing bobot dibagi dengan jumlah total frekuensi. Rumus :
= ∑ . ∑ ………. ( 9) Dimana: X = Rata-rata berbobot ƒi = Frekuensi wi = Bobot
Tabel 6. Bobot nilai Direct Rating Method
Kriteria jawaban Bobot nilai
Sangat tidak setuju 1
Tidak setuju 2
Cukup 3
Setuju 4
Langkah berikutnya yaitu menggunakan rentang skala penilaian untuk menentukan posisi tanggapan responden dengan menggunakan nilai skor setiap variabel. Bobot alternatif jawaban yang terbentuk dari teknik skala peringkat terdiri dari kisaran antara 0 sampai 5 yang menggambarkan posisi yang sangat negatif ke posisi yang positif. Selanjutnya dihitung rentang skala dengan rumus, sebagai berikut:
= ( )………. ( 10)
Dimana:
R (bobot) = Bobot terbesar – bobot terkecil M = Banyaknya kategori bobot
Rentang skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1 hingga 5, maka rentang skala penilaian yang didapat adalah:
= 5−1
5 = 0,80
Nilai rentang skala sebesar 0,80 digunakan untuk menentukan rentang skala keputusan. Rentang skala keputusan EPIC Model yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rentang skala keputusan Direct Rating Method
Kriteria jawaban Bobot nilai
Sangat tidak efektif 1,0 < X ≤ 1,8
Tidak efektif 1,8 < X ≤ 2,6
Cukup efektif 2,6 < X ≤ 3,4
Efektif 3,4 < X ≤ 4,2
Sangat efektif 4,2 < X ≤ 5,0
Setelah skor rata-rata diperoleh, langkah selanjutnya adalah mengkonversi skor rata-rata ke skala pada tabel Direct Rating (g) dengan menggunakan rumus:
g = × 20
5 ………. . . ( 11)
Langkah terakhir adalah menjumlahkan seluruh nilai X Direct Rating (g) untuk mendapatkan nilai total Direct Rating. Rentang keputusan pada Direct Rating dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Direct Rating
Kriteria promosi Bobot nilai
Buruk 0 < g ≤ 20
Kurang Baik 20 < g ≤ 40
Rata-rata 40 < g ≤ 60
Baik 60 < g ≤ 80
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
The Jungle Water Adventure atau yang biasa disebut The Jungle merupakan salah satu objek wisata petualangan air yang terletak di selatan Kota Bogor. The Jungle adalah tempat rekreasi yang dapat dijadikan sebagai tujuan wisata keluarga serta sebagai obyek wisata edukasi bagi sekolah yang ingin mengadakan rekreasi sambil belajar. The Jungle dibangun di kawasan Perumahan Bogor Nirwana Residence (BNR) dengan latar belakang Gunung Salak yang terletak di Jalan Dreded Pahlawan. Pemandangannya indah serta udaranya sejuk, menempati area seluas 3 hektar dengan 60% dari total area merupakan kawasan hijau terbuka di Bogor selatan.
The Jungle merupakan wahana hiburan pertama yang menempati kawasan komersial tersebut dan dibangun dibawah manajemen PT. BakrieLand Development, Tbk. PT. BakrieLand Development, Tbk merupakan salah satu perusahaan sektor properti di Indonesia yang menangani proyek-proyek infrastruktur dan bidang usaha yang terkait dengan properti lainnya. Hingga kini PT. BakrieLand Development, Tbk telah mengembangkan berbagai proyek properti perkantoran, kawasan perumahan serta hotel kelas dunia di beberapa lokasi di Indonesia.
Pada awalnya The Jungle dibangun sebagai pelengkap hunian yang kemudian diresmikan pada tanggal 16 Desember 2007. Penyelenggaraan pembangunan The Jungle berlangsung selama 168 hari dimulai pada tanggal 1 Juli 2007 dan selesai pada tanggal 16 Desember 2007, oleh karena itu The Jungle mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori pemrakarsa dan penyelenggara pembangunan Water Park tercepat. (http://www.muri.org/). Di tempat ini, para pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas rekreasi menarik yang menyatu dengan alam. Semua fasilitas dan wahana yang terdapat di The Jungle menggunakan teknologi dan peralatan terbaru dengan standar kualitas terbaik, untuk memastikan keamanan para pengunjung didatangkan ahli dari Australia, Kanada, dan Belgia.
Sejak diresmikan, objek wisata ini menjadi objek wisata yang sangat digemari oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang berdatangan ke The Jungle, sehingga pada tahun 2010 dan 2011 The Jungle memperoleh TOP BRAND AWARD untuk kategori water recreation spot terfavorit di Indonesia.
4.1.1 Visi dan Misi
The Jungle memiliki Visi untuk Menjadi Waterpark terlengkap, The Jungle The Most Adventurous Waterpark di Indonesia. Dan Misi The Jungle