BAB IV TEMUAN DAN ANALISA HASIL PENELITIAN
3. Dimensi Pengalaman
Pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan keberagamaan
responden mungkin menjadi hal yang menarik karena hal inilah yang terkadang mempengaruhi keyakinan agama seseorang. Dari 20 orang yang ditanyakan mengenai pengalaman-pengalaman yang memberikan perubahan terhadap keberagamaan mereka, 3 orang (15 %) sering mengalaminya, 12 orang (60 %) kadang-kadang, dan 5 orang (25 %) tidak pernah mengalaminya. Perhatikan tabel berikut ini:
Tabel 16
Pengalaman Yang Merubah Keberagamaan
No. Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase
A Selalu - -
B Sering 3 15 %
C Kadang-kadang 12 60 %
D Tidak Pernah 5 25 %
Jumlah 20 100 %
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tidak ada satupun responden
yang selalu mengalami kejadian-kejadian yang merubah keberagamaan mereka. Hanya beberapa orang yang sering mengalaminya. Kebanyakan mengalaminya kadang-kadang saja.. Seperti penuturan responden berikut ini:
“Saya pernah mengalaminnya waktu jaman-jamannya sinetron religius.
Setelah sering nonton itu saya jadi berubah, padahal sebelumnya saya tuh kurang taat sama agama. Hehehe... Tapi sekarang alhamdulillah, saya merasa mendapat petunjuk dari nonton tayangan-tayangan religius di tv.”66 Responden tersebut mrupakan satu contoh orang yang masih bisa
tergugah hatinya untuk menerima petunjuk Allah dalam merubah keberagamaannya. Terkadang memang petunjuk itu bisa datang dari mana saja. Termasuk dari cerita-cerita atau kisah-kisah yang ditampilkan melalui media dalam bentuk sinetron dan lain-lain. Bisa juga melalui kejadian yang menimpa diri sendiri seperti yang dialami responden berikut ini: “Pernah. Waktu saya masih SMA. Waktu itu saya sedang
nakal-nakalnya. Biasa lah anak muda, tidak jauh dari mabuk-mabukan dan obat-obatan. Tiba-tiba saya sakit karena keseringan mengkonsumsi barang haram
itu. Lalu saya berdoa kepada Allah mohon disembukan, kalau bisa sembuh saya akan meninggalkan kebiasaan buruk itu. Alhasil, saya pun sembuh. Sejak saat itu saya insyaf dan tidak berani lagi mengulanginya. Alhamdulillah!”67 Sedangkan pengalaman memperoleh balasan langsung perbuatan baik,
5 orang (25 %) sering mengalaminya, 10 orang (50 %) kadang-kadang, dan 5 orang (25 %) tidak pernah mengalaminya. Perhatikan tabel berikut ini:
Tabel 17
Pengalaman Balasan Perbuatan Baik
No. Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase
A Selalu - -
B Sering 5 25 %
C Kadang-kadang 10 50 %
D Tidak Pernah 5 25 %
Jumlah 20 100 %
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa beberapa orang sering
mengalami kejadian yang mereka anggap sebagai balasan langsung perbuatan
66
Wawancara Pribadi dengan Taufik Dwinanto, Asisten Unit Pemasaran Bisnis BNI Syariah, Jakarta, 12 Maret 2007.
67
Wawancara Pribadi dengan A. Rivai, Analis Pengelolaan Pengembangan Produk dan Sisdur BNI Syariah, Jakarta, 14 Maret 2007.
baik mereka. Mereka menganggap balasan karena mereka yakin perbuatan baik mereka pasti mendapat balasan meskipun tidak langsung pada saat itu juga. Sepeti pengalaman responden berikut ini: “Oh... sering. Misalnya, saya habis nolongin orang kesusahan,
besok-besoknya pas saya lagi kesusahan ada aja yang nolongin saya.”68 Berbeda dengan orang-orang yang tidak terlalu mengindahkan
kejadian-kejadian seperti yang dialami responden di atas. Orang-orang seperti ini mengaku tidak pernah mengalami kejadian-kejadian seperti itu karena mereka menganggap biasa saja. Begitu juga pengalaman memperoleh balasan langsung perbuatan
buruk, 5 orang (50 %) sring mengalaminya, 10 orang (50 %) kadang-kadang, dan 5 orang (25 %) tidak pernah mengalaminya. Perhatikan tabel berikut ini:
Tabel 18
Pengalaman Balasan Perbuatan Buruk
No. Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase
A Selalu - -
B Sering 5 25 %
C Kadang-kadang 10 50 %
D Tidak Pernah 5 25 %
Jumlah 20 100 %
Sama halnya dengan tabel sebelumnya, dari tabel di atas dapat dilihat
bahwa frekwensi pengalaman kejadian sebagai balasan perbuatan buruk seimbang dengan balasan perbuatan baik. Bahkan beberapa orang lebih mengenal balasan buruk mereka sebagai karma. Seperti penuturan responden berikut ini:
68
Wawancara Pribadi dengan Taufik Dwinanto, Asisten Unit Pemasaran Bisnis BNI Syariah, Jakarta, 12 Maret 2007.
“Sama aja. Jadi, kadang-kadang saya pikir perbuatan kita pasti ada karmanya. Kalo sering berbuat baik pasti dapat balasan baik, sebaliknya kalo
sering berbuat buruk pasti dapat balasan buruk.”69 Untuk pengalaman pengabulan doa, hanya 10 orang (50 %) pernah
mengalami doanya dikabulkan tapi kadang-kadang dan 10 orang (50 %) lainnya tidak pernah mengalaminya. Perhatikan tabel berikut ini:
Tabel 19
Pengalaman Pengabulan Doa
No. Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase
A Selalu - -
B Sering - -
C Kadang-kadang 10 50 %
D Tidak Pernah 10 50 %
Jumlah 20 100 %
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian responden mengaku
pernah mengalami kejadian yang mereka anggap sebagai pengabulan doa mereka. Meskipun hanya kadang-kadang mengalaminya, setidaknya mereka masih memiliki keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya. Seperti penuturan responden berikut ini: “Pernah. Tapi kadang-kadang, tidak selalu. Kadang-kadang juga meski
sudah berdoa dengan khusyu kalau Allah belum menghendaki ya tidak akan dikabulkan. Tapi, saya tetap yakin Allah pasti akan mengabulkan doa saya.”70
Pengalaman terhindar dari bahaya setelah berdoa, hanya 6 orang (30 %) yang pernah mengalami terhindar dari bahaya setelah berdoa tapi
kadang-kadang dan 14 orang (70 %) tidak pernah mengalaminya. Perhatikan tabel berikut ini:
69
Ibid. 70
Wawancara Pribadi dengan A. Rivai, Analis Pengelolaan Pengembangan Produk dan Sisdur BNI Syariah, Jakarta, 14 Maret 2007.
Tabel 20
Pengalaman Terhindar dari Bahaya Setelah Berdoa
No. Alternatif Jawaban Frekwensi Persentase
A Selalu - -
B Sering - -
C Kadang-kadang 6 30 %
D Tidak Pernah 14 70 %
Jumlah 20 100 %
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hanya beberapa orang saja yang
pernah mengalami kejadian terhindar dari bahaya setelah berdoa. Sisanya mengaku tidak pernah. Kejadian ini bisa juga dikaitkan dengan keyakinan mereka akan pengabulan doa dari Allah. Keyakinan ini juga masih harus dipertimbangkan lagi bahwa yang namanya bahaya tidak bisa diprediksi. Seperti penuturan responden berikut ini. “Kadang-kadang. Yang namanya bahaya kan kita nggak tau dateng
-nya. Tapi, selain berdoa kita juga kan harus tetep usaha biar nggak dapet
bahaya.”71 Dari data di atas dapat dilihat bahwa para responden tidak selalu
mengalami kejadian-kejadian yang berkaitan dengan keberagamaan mereka. Rata-rata mereka mengalaminya hanya kadang-kadang saja. Perhatikan perhitunan berikut ini:
Rata-rata = (60 % + 50 % + 50 % + 50 % + 30 %) : 5
= 240 : 5 = 48 %
Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa 48 % dari kedua puluh responden kadang-kadang mengalami kejadian-kejadian yang berkaitan
71
Wawancara Pribadi dengan Taufik Dwinanto, Asisten Unit Pemasaran Bisnis BNI Syariah, Jakarta, 12 Maret 2007.
Rata-rata = Jumlah persentase responden yang menjawab Kadang-kadang : Jumlah Pertanyaan
dengan keberagamaan mereka. Baik yang berpengaruh buruk atau yang berpengaruh baik terhadap keberagamaan mereka. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa responden tidak terlalu
mempedulikan kejadian-kejadian yang menimpa mereka. Apakah kejadian tersebut berkaitan dengan keberagamaan mereka atau tidak. Artinya mereka menganggap kejadian tersebut biasa saja dan mereka tidak terlalu
mengkait-kaitkannya dengan keberagamaan mereka.