• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika dan Tantangan Identitas Nasional Indonesia

Dalam dokumen PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (Halaman 60-68)

BAB II IDENTITAS NASIONAL

2.3. Dinamika dan Tantangan Identitas Nasional Indonesia

Setelah menelusuri konsep identitas nasional menurut sumber historis, sosiologis dan politis, apakah tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini? Dapatkah dikemukakan contoh dinamika kehidupan yang sekaligus menjadi tantangan terkait dengan masalah identitas nasional Indonesia? Coba perhatikan sejumlah kasus dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari seperti yang pernah dilihat pada Bab 1 sebagai berikut:

1. Lunturnya nilai-nilai luhur dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara

48 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

Gambar 2.5. Tawuran Antar Kampung Sumber: www.news.okezone.com

Gambar 2.6. Ketidakpatuhan Pada Hukum Sumber: www.artikel.kantorhukum-lhs.com

2. Nilai - nilai Pancasila belum menjadi acuan sikap dan perilaku sehari-hari.

49 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

Gambar 2.7 Menyontek Sumber: www.beritagar.id

Gambar 2.8 Kebiasaan Merokok di Tempat Umum Sumber: www.lifestyle.okezone.com

50 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

Gambar 2.9 Buang Sampah Sembarangan Sumber: www.kupastuntas.com

3. Rasa nasionalisme dan patriotisme yang luntur dan memudar (lebih menghargai dan mencintai bangsa asing, lebih mengagungkan prestasi bangsa lain dan tidak bangga dengan prestasi bangsa sendiri, lebih bangga menggunakan produk asing daripada produk bangsa sendiri dan lain-lain).

Gambar 2. Produk Luar Negeri Sumber: www.mldspot.com

51 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

4. Lebih bangga menggunakan bendera asing dari pada bendera merah putih, lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada menggunakan bahasa Indonesia.

5. Menyukai simbol-simbol asing daripada lambang/simbol bangsa sendiri dan lebih mengapresiasi senang menyanyikan lagu-lagu asing daripada mengapresiasi lagu nasional dan lagu daerah sendiri.

Tantangan dan masalah yang dihadapi terkait dengan Pancasila telah banyak mendapat tanggapan dan analisis sejumlah pakar. Seperti Azyumardi Azra (Tilaar, 2007), menyatakan bahwa saat ini Pancasila sulit dan dimarginalkan didalam semua kehidupan masyarakat Indonesia karena: Pancasila dijadikan sebagai kendaraan politik; adanya liberalisme politik; dan lahirnya desentralisasi atau otonomi daerah.

Pancasila merupakan sebuah pandangan hidup bangsa Indonesia yang terbuka dan bersifat dinamis. Sifat keterbukaan Pancasila dapat dilihat dari muatan Pancasila yang merupakan perpaduan antara nilai-nilai keindonesiaan yang majemuk dan nilai-nilai yang bersifat universal. Sayangnya, nilai-nilai ideal dari Pancasila itu sendiri telah tereduksi dan dikebiri oleh penguasa Orde Baru. Pancasila pada masa Orde Baru dijadikan alat untuk membungkam suara kedaulatan rakyat dengan atas nama pembangunan nasional. Orde Baru juga telah melakukan penyeragaman tafsir Pancasila yang dibakukan dan disebarluaskan melalui penataran dan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi.

Pada saat yang sama Orde Baru melakukan tindakan-tindakan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila yang tertuang dalam Eka Prasetya Pancakarsa. Tindakan represif, korupsi, kolusi,

52 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

nepotisme dan penyalahgunaan hukum dikalangan pejabat pemerintahan adalah bukti telanjang dari penyalahgunaan Pancasila yang dilakukan oleh penguasa Orde Baru.

Seiiring dengan lengsernya Orde Baru, sikap dan pandangan baru terhadap Pancasila telah muncul dikalangan bangsa Indonesia. Tuntutan demokrasi dan penegakan HAM yang disuarakan oleh kalangan tokoh reformasi telah berdampak pada sikap dan pandangan yang mempertentangkan Pancasila dan demokrasi. Pancasila dinilai sebagai simbol ketidakadilan, pelanggaran HAM, dan penyelewenangan kekuasaan Orde Baru, sementara demokrasi diidentikkan dengan keadilan, persamaan, penghormatan terhadap HAM dan taat hukum.

Beberapa faktor yang membuat Pancasila tidak relevan saat ini. Pertama, Pancasila terlanjut tercemar karena kebijakan Orde Baru yang menjadikan Pancasila sebagai alat politik untuk mempertahankan status quo kekuasaanya.

Kedua, liberalisasi politik dengan penghapusan ketentuan yang ditetapkan Presiden B.J. Habibie tentang Pancasila sebagai satu-satunya asas setiap organisasi. Penghapusan ini memberikan peluang bagi adopsi asas ideologi-ideologi lain, khususnya yang berbasiskan agama. Akibatnya, Pancasila cenderung tidak lagi menjadi common platform dalam kehidupan politik.

Ketiga, desentralisasi dan otonomisasi daerah yang sedikit banyak mendorong sentiment kedaerahannya. Apabila tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin menumbuhkan sentimen local-nationalism yang dapat tumpang tindih dengan ethnonationalism. Dalam proses ini, Pancasila baik

53 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

disengaja maupun akibat langsung dari proses desentralisasi akan semakin kehilangan posisi sentralnya.

Lantas bagaimana upaya menyadarkan kembali bangsa Indonesia terhadap pentingnya identitas nasional dan memfasilitasi serta mendorong warga negara agar memperkuat identitas nasional? Disadari bahwa rendahnya pemahaman dan menurunnya kesadaran warga negara dalam bersikap dan berperilaku menggunakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya pada era reformasi bangsa Indonesia bagaikan berada dalam tahap disintegrasi karena tidak ada nilai-nilai yang menjadi pegangan bersama. Padahal bangsa Indonesia telah memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yakni Pancasila. Warisan agung yang tak ternilai harganya dari para the founding fathers adalah Pancasila.

Bagaimana strategi yang Anda dapat tawarkan/usulkan untuk memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila? Selanjutnya, tentang luntur dan memudarnya rasa nasionalisme dan patriotisme perlu mendapat perhatian. Apa yang menjadi penyebab masalah ini? Apabila orang lebih menghargai dan mencintai bangsa asing, tentu perlu dikaji aspek/bidang apa yang dicintai tersebut. Bangsa Indonesia perlu ada upaya yakni membuat strategi yang tadinya lebih mencitai dan menguasai bangsa asing agar beralih kepada bangsa sendiri. Adalah sesuatu yang aneh, apabila orang Indonesia lebih mengagungkan prestasi bangsa lain dan tidak bangga dengan prestasi bangsa sendiri.

54 | P e n d i d i k a n K e w a r g a n e g a r a a n

Hal ini perlu ada upaya dari generasi baru bangsa Indonesia untuk mendorong agar bangsa Indonesia membuat prestasi yang tidak dapat dibuat oleh bangsa asing. Demikian pula, apabila orang Indonesia lebih bangga menggunakan produk asing daripada produk bangsa sendiri, hendaknya bangsa Indonesia mampu mendorong semangat berkompetisi. Intinya, bangsa Indonesia perlu didorong agar menjadi bangsa yang beretos kerja tinggi, rajin, tekun, ulet, tidak malas, serta menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Semua nilai-nilai tersebut telah tercakup dalam Pancasila sehingga pada akhirnya semua permasalahan akan terjawab apabila bangsa Indonesia mampu dan berkomitmen untuk mengamalkan Pancasila. Bagaimana menghadapi tantangan terkait dengan masalah kecintaan terhadap bendera negara merah putih, pemeliharaan bahasa Indonesia, penghormatan terhadap lambang negara dan simbol bangsa sendiri, serta apresiasi terhadap lagu kebangsaan? Pada hakikatnya, semua unsur formal identitas nasional, baik yang langsung maupun secara tidak langsung diterapkan, perlu dipahami, diamalkan dan diperlakukan sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Permasalahannya terletak pada sejauh mana warga Negara Indonesia memahami dan menyadari dirinya sebagai warga negara yang baik yang beridentitas sebagai warga negara Indonesia. Oleh karena itu, warga negara yang baik akan berupaya belajar secara berkelanjutan agar menjadi warga negara bukan hanya baik tetapi cerdas (to be smart and good citizen).

Dalam dokumen PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (Halaman 60-68)

Dokumen terkait