BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Dinamika Hubungan Kecanduan Internet dengan Keterampilan Sosial
Perkembangan ilmu pengetahunan dan teknologi saat ini membawa banyak kemudahan untuk berbagai kalangan. Hadirnya internet memberikan fasilitas dalam memenuhi kebutuhan seperti komunikasi, belanja, pendidikan hingga hiburan. Bermain internet (games online, chat room, media sosial).
Hadirnya merupakan cara lain untuk rekreasi yang banyak dinikmati oleh remaja dan merupakan cara sebagai pengalihan stress (Septanti, 2015; Retani, 2016).
Penggunaan layanan internet saat ini sudah menjadi kebutuhan manusia saat ini
(Huang, 2004), terutama kelompok remaja. Kelompok remaja merupakan pengguna internet terbesar di Indonesia (APJII, 2012).
Peningkatan intensitas penggunaan internet berhubungan dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang, dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pemdidikan seseorang maka semakin sering pula seseorang menggunakan internet (APJII, 2012). Meningkatnya penggunaan internet dengan tingginya tingkat pendidikan dipengaruhi oleh kebutuhan dalam memperoleh informasi dan komunikasi secara online. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Dokumentasi Ilmu Ilmiah (PDII) pada tahun 2008-2012 menunjukkan bahwa pengguna jasa internet terbesar di Indonesia adalah mahasiswa yang mencapai angka 33,71%.
Mahasiswa pada umumnya berusia 18-22 tahun (Smolak, 1993) berada pada tahap perkembangan remaja akhir (Monks, 2000) yang mana pada tahap ini salah satu tugas perkembangannya adalah mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya dan mencapai peran sosial, baik wanita maupun pria (Hurlock, 1980). Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan teman sebaya dibandingkan orang tua. Pada tahap ini, remaja memiliki hubungan lebih intens dengan teman daripada orang tua, untuk mendapatkan hubungan yang lebih matang dan dukungan sosial, dan saling berbagi rahasia dengan teman sebaya (Berndt & Perry, 1990; Burhmester, 1990, 1996; Hartup & Stevens, 1999;
Laursen, 1996 dalam Papalia, 2003).
Internet memiliki banyak kegunaan antara lain untuk emailing, gaming, chatting, blogging, informasi, berita dan lain-lain (Collin, Rahilly, Richardson &
Third, 2011). Salah satu kegunaannya adalah untuk melakukan komunikasi dari
jarak jauh maupun dekat. Situs jejaring sosial seperti facebook, instagram dan twitter merupakan situs yang paling sering digunakan oleh mahasiswa. Penelitian Marjorsy, Kinasih, Andriani dan Lisa (2013) mengungkapkan di Indonesia media sosial yang sering diakses adalah facebook (28,97%) dan twitter (29,75%).
Penggunaan internet oleh remaja merupakan salah satu upaya untuk pengalihan stress (Retani, 2015) dan sebagai sarana untuk hiburan. Penggunaan internet dengan intensitas yang tinggi memiliki dampak tingkat kecanduan internet seseorang (Çiçekoğlu, Durualp, & Durualp, 2014). Ketika pengguna sudah tidak dapat mengontrol dirinya dalam penggunaan internet, pengguna akan mengalami perilaku kecanduan internet. Remaja pengguna internet merasa kurang puas serta memiliki banyak masalah seperti sering merasa sedih, merasa tidak bahagia, dan sering merasa bosan (Rideout, Foehr, & Roberts, 2010).
Kemudahan-kemudahan yang didapatkan oleh internet menyebabkan individu menjadi kecanduan terhadap internet dan cenderung memiliki gejala kecanduan yang tinggi (Young & de Brau, 2011) dan mengakibatkan dampak yang negatif bagi penggunanya seperti dalam hal akademik, pekerjaan dan hubungan sosial (Caplan, 2002; Davis, 2001; Davis, Flett & Besser, 2002).
Kecanduan internet adalah penggunaan internet yang maladaptif yang dapat menyebabkan gangguan sosial dan fungsional (Solomon, 2009). Kecanduan internet adalah ketidakmampuan individu untuk mengontrol penggunaan internet, yang dapat menyebabkan penggunanya mengalami kesulitan psikologis sosial, sekolah dan pekerjaan (Davis, Flett dan Besser, 2009; Shapira, Goldsmith, Keck, Khosla & Mcelroy, 2000).
Adapun faktor yang mendorong seseorang dalam menggunakan internet adalah adanya waktu luang yang dimiliki seseorang (Young, 2004). Remaja cenderung menggunakan internet lebih banyak setelah mereka sekolah, mereka menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan teman sebaya (Gross, Juvonen & Gable, 2002). Virlia dan Setiaji (2016) mengatakan bahwa salah satu faktor terbesar seseorang menggunakan internet adalah sebagai coping, artinya seseorang menggunakan internet sebagai sarana untuk melarikan diri dari masalah dan untuk mengubah perasaannya. Hal inilah yang dijadikan alasan seseorang menggunakan internet secara berlebih yang akan berdampak negatif pada penggunanya.
Penelitian yang dilakukan oleh Alam, Hashim dan Ahmad (2013) mengidentifikasi adanya berbagai dampak negatif pada penggunaan internet yang tidak terkontrol. Dampak negatifnya antara lain adalah masalah interpersonal, masalah perilaku, masalah fisik, masalah psikologis dan masalah pekerjaan.
Sebuah peneltian di Korea mengungkapkan bahwa kecanduan semakin tinggi kecanduan internet maka semakin tinggi pula masalah interpersonal yang dimiliki seseorang (Seo, Kang, &Yom, 2009). Selain itu dampak yang ditimbulkan dari kecanduan internet adalah terganggunya hubungan interpersonal, penurunan prestasi dan cenderung mengalami kurang tidur yang berdampak pada fisik seseorang (Prasetiya, 2014).
Tingkat penggunaan internet yang tinggi atau penggunaan internet secara terus menerus akan meningkatkan perasaan kesepian pada individu (Yao &
Zhong, 2014). Perasaan kesepian pada individu akan membuat mereka merasa kesulitan ketika berhubungan dengan teman, rasa malu dapat menjadi prediktor
dari kecanduan internet (Giuseppe, Severino, Fasciano, Cannela, Gori, Cacioppo,
& Baiocco, 2014). Hal ini akan mempengaruhi keterampilan sosial yang dimiliki seorang remaja. Pada tahap remaja ini keterampilan sosial sangat penting dalam memenuhi kebutuhan individu dalam lingkup sosial dan berpengaruh pada kehidupan di masa (Dewi, 2014).
Keterampilan sosial merupakan kemampuan untuk berinterkasi secara tepat dan efektif dengan orang lain (Segrin & Givert, 2003). Keterampilan sosial adalah kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal termasuk ekspresivitas, sensitivitas dan kontrol (Riggio, 1986). Keterampilan sosial tidak hanya diungkapkan secra verbal, tetapi dalam tindakan dan pelaksanaan, seperti sinyal-sinyal nonverbal, teks tertulis dan tindakan yang dilakukan seseorang (Spruyt &
Leiden, 1999). Keterampilan sosial memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan baik.
Keterampilan sosial merupakan dasar untuk mencapai hubungan interpersonal. Elksnin (dalam Merell & Gimpel, 1998) mengatakan, keterampilan sosial pada usia remaja diperukan untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya dan penerimaan oleh teman sebaya. Salah satu upaya untuk mencapai tugas perkembangan tersebut dengan melalui interaksi secara personal.
Sarana yang sering digunakan untuk berinteraksi saat ini adalah internet atau media sosial. Pada masa remaja akhir mereka cenderung menggunakan internet untuk berosialiasi (Cao, 2011). Remaja menggunakan internet untuk berinteraksi dengan teman sebaya melalui media sosial maupun instant messaging. Dengan adanya media sosial mempermudah untuk menjalin hubungan dengan teman
sebaya, memperkuat hubungan yang telah dijalin dan membuat pertemanan yang baru (Collin, Rahilly, Richardson & Third, 2011).
Pada tahap remaja ini dianggap sebagai generasi yang memang sudah terbiasa berinteraksi lewat internet (Amichai–Hamburge & Ben, 2013). Menurut Beard (dalam Young, 2011), menyatakan internet merupakan aspek yang menarik bagi remaja, yang memungkinkan mereka untuk terlibat dalam perilaku mereka yang mungkin tidak bisa mereka lakukan atau miliki dalam dunia nyata. Remaja dengan keterampilan sosial akan mampu mengungkapakan perasaan baik positif maupun negatif dalam hubungan interpersonal, tanpa harus melukai orang lain (Hargie, Sunders & Dikson dalam Gimpel & Merrel, 1998). Dalam hal ini terlihat bahwa remaja akan lebih menyukai untuk berkomunikasi melalui internet daripada tatap muka secara langsung dan membuat remaja untuk menghabiskan waktunya dalam penggunaan internet.
Secara umum, penggunaan internet penting bagi mahasiswa seperti mahasiswa USU. Bagi mahasiswa USU, internet digunakan dalam beragam aktivitas terkait dengan perkuliahan, mulai dari keperluan administari perkuliahan, mencari jurnal hingga sistem perkuliahan yang mengharuskan mereka menggunakan internet misalnya kuliah online. Tetapi dibalik itu semua internet yang secara terus-menerus digunakan memiliki dampak negatif bagi pengunanya, salah satunya adalah pengabaian orang-orang sekitar. Dari hasil wawancara dengan salah seorang mahasiswa USU mengatakan bahwa benar adanya mereka hanya aktif ketika sedang online saja. Dan ketika terjadinya interkasi secara langsung mereka tidak terlalu aktif dan sibuk dengan gawai yang ada ditangan mereka. Secara lain itu faktor eksternal lainnya adalah, adanya sarana yang
mendukung untuk mengakses internet secara mudah seperti mudahnya untuk mendapatkan jenis gadget dan wifi yang tersedia selama di kampus.
Penggunaan internet yang berlebihan memilki pengaruh negatif pada penurunan kemampuan sosial. Seperti pada penelitian yang dilakukan pada Caplan (2005) mengatakan penggunaan internet yang berlebihan memiliki pengaruh negatif, salah satunya pada interaksi sosial seseorang. Beberapa peneltian mengenai di Indonesia terkait kecanduan internet (games dan room chatting) mengatakan bahawa ada hubungan kecanduan internet dengan keterampilan sosial. Penelitian di Semarang pada remaja mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduaan internet maka semakin rendah keterampilan sosial yang dimiliki seseorang (Septanti & Setroyani, 2017).
Keterampilan sosial yang rendah akan berdampak pada kondisi psikologis dan kemampuan seseorang dalam bersosialisasi. Merrel dan Gimpel (1998) berpendapat bahwa seseorang dengan keterampilan sosial yang rendah cenderung lebih sering marah dan tidak ramah, memiliki harga diri yang rendah dan menganggap percakapan sebagai tugas ynag sulit. Sedangkan individu dengan keterampilan sosial yang baik akan menjadi pandai bergaul, sehingga tidak cemas apabila harus berhubungan dengan orang lain yang memiliki konsep diri yang lebih tinggi.
Riggio (1989) menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki self-presentational skill yang baik biasanya orang cakap, bijak dan memiliki percaya diri yang baik dalam situasi sosial. Sedangkan seseorang yang memiliki self-presentational skill yang rendah, mereka mengalami kecemasan sosial (Kinney,
1995). Salah satu alasan inilah yang menyebabkan seseorang menggunakan internet secara berlebih. Sebuah penelitian mengatakan bahwa, seseorang dengan self-presentation skill yang rendah cenderung memilih berkomunikasi menggunakan internet daripada tatap muka secara langsung (Caplan, 2005).
Seseorang yang menggunakan internet secara berlebih, mereka cenderung menggunakan internet sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan teman sebaya dan sarana untuk melepaskan permasalahan yang mereka hadapi. Hal ini akan berdampak pada keterampilan sosial seseorang terutama pada social flexibility, yaitu kemampuan untuk fleksibel dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Semakin tinggi tingkat kecanduan internet seseorang maka semakin rendah keterampilan sosial terutama pada dimensi social flexibility seseorang (Setiaji &
Virlia, 2016). Begitu pula dengan dimensi social scanning, semakin tinggi tingkat kecanduan internet pada seseorang maka semakin menurun pula kemampuan social scanning seseorang tersebut. Hal tersebut memiliki dampak negatif pada penggunanya seperti menurunnya interkasi secara langsung dengan orang-orang terdekat, sedih dan mereasa kehilangan sesuatu (Setiaji & Virlia, 2016).
Bagi individu yang memiliki keterampilan sosial rendah akan cenderung memilih situs jejaring sosial sebagai sarana komunikasi dibandingkan komunikasi secara face to face (Marjorsy, Kinasih, Andriani & Lisa, 2013; Caplan, 2005). Hal ini dikarenakan individu yang memiliki keterampilan sosial yang rendah cenderung tidak ramah, harga diri rendah, mudah marah, menganggap percakapan biasa sebagai suatu tugas yang sulit, menarik diri dari lingkungan, serta tidak nyaman ketika berkomunikasi secara tatap langsung (Merrel & Gimpel, 1998), sehingga melalui situs jejaring sosial, ia dapat menjalin hubungan yang lebih baik
dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan penelitian Caplan (2005), bahwa individu yang merasa diri mereka memiliki keterampilan sosial yang rendah akan cenderung memilih untuk interaksi sosial secara online dari pada komunikasi secara langsung. Pilihan untuk interaksi sosial secara online mengarahkan pada penggunaan internet yang kompulsif yang dapat mengakibatkan dampak negatif.
Sedangkan bagi individu yang memiliki keterampilan sosial tinggi biasanya akan merasa kurang puas bila hanya berteman di dunia maya, hal tersebut dikarenakan individu dengan keterampilan sosial yang baik lebih suka berinteraksi dengan orang lain secara langsung.
2.5 Hipotesa Peneitian
1. Terdapat hubungan antara kecanduan interenet dengan keterampilan sosial pada mahasiswa USU.
2. Ada keterkaitan antara kecanduan internet dengan dimensi keterampilan sosial pada mahasiswa USU
2.6 Kerangka Teoritis yang diinginkan dan dipikirkan terhadap orang lain
4. Perilaku positif kterhadap teman sebaya
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab metodologi penelitian ini akan membahas tentang jenis penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional, populasi, sampel, metode pengumpulan data, uji daya beda aitem, dan reliabilitas alat ukur, prosedur penelitian dan metode analisa data.
Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif korelasional antara kecannduan interenet dengan keterampilan sosial pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Lebih khususnya penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk menilai hubungan yang terjadi antar variabel (Zechmeister, Zechmeister &
Shaughnessy, 2001).
3.2 Identfikasi Variabel
Variabel adalah suatu konsep mengenai atribut atau sifat yang terdapat pada subjek penelitian yang dapat bervariasi secara kuantitatif maupun kualitatif (Azwar, 2013). Variabel dalam penelitian terdiri dari dua, yakni kecanduan internet dan keterampilan sosial.
3.3 Definisi Operasional 3.3.1 Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial adalah sekumpulan kemampuan individu dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif yang dapat diterima dan dihargai oleh orang lain di lingkungannya, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, mengirim dan menerima pesan verbal maupun non verbal, yang dapat diukur dengan ketiga dimensi menurut Wu (2008) yaitu: 1) social presentational keterampilan untuk memahami aturan – aturan sosial yang tepat dan menampilkan diri dalam lingkungan sosial yang sesuai, seperti (dapat memulai atau mengkhiri sebuah percapakan), 2) social scanning meliputi keterampilan untuk mengamati dan mengenali pesan verbal dan nonverbal dari orang lain, seperti (pendengar dan pengamat yang baik) dan 3) social flexibility adalah keterampilan untuk fleksibel dalam perubahan lingkungan adalah penting untuk mencapai interaksi sosial yang efektif, seperti (mampu menyesuaikan perilaku dalam berbagai situasi). Apabila individu memiliki keterampilan sosial yang tinggi maka individu memiliki skor yang tinggi dan sebaliknya apabila skor total yang didpat oleh individu rendah maka keterampilan sosial yang dimiliki juga rendah.
3.3.2 Kecanduan Internet
Kecanduan internet atau media sosial ialah kondisi pada kebiasaan yang sangat kuat dan tidak mampu lepas dari kebiasaan menggunakan internet atau media sosial, kurang mampu mengontrol diri sendiri untuk melakukan kegiatan tersebut yang dapat mengakibatkan dampak negatif pada kehidupan sosialnya seperti withdrawal syndrome yang menimbulkan kecemasan dan perubahan
suasana hati, gangguan afeksi (sulit menyesuaikan diri) dan tolerance jumlah penggunaan waktu untuk menggunakan internet yang terus bertambah dengan catatan minimal 6 jam penggunaan per hari (Tao, Huang, Wang, Zhang, Zhang &
Li, 2010). Kecanduan internet dapat diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran dari Kimberly Young (1998) Internet Addiction Test yang terdiri dari 20 item. Skala ini terdiri dari enam dimensi yaitu arti penting, penggunaan yang berlebih, pengabaian pekerjaan, antisipasi, tidak adanya kontrol dan pengabaian kehidupan sosial. Apabila seseorang memiliki skor yang tinggi maka individu tersebut memiliki tingkat kecanduan yang tinggi dan sebaliknya jika individu memiliki skor yang rendah maka individu tersebut memiliki tingkat kecanduan internet yang rendah pula.
3.4 Populasi, Sampel, Teknik Sampling dan Lokasi Penelitian
3.4.1 Populasi
Populasi merupakan kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian (Azwar, 2013). Populasi adalah sekelompok individu atau objek yang memiliki karakteristik sama, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial atau objek lain yang mempunyai karakteristik sama (Chandra, 1995).
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa USU angakatan 2014 – 2017 karena rata-rata usia mereka adalah 18-21 tahun yang masih tergolong remaja akhir.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2012). Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Universitas
Sumatera Utara yang diambil dari masing-masing fakultas yang mewakili setiap sektor yakni: Fakultas Farmasi mewakili sektor kesehatan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam mewakili sektor saintek dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mewakili sektor soshum. Adapun karakteristik subjek dalam penelitian ini meliputi:
a. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang menggunakan media sosial seperti facebook, instagram, twitter dan lain-lain.
b. Berusia 18-21 tahun (masuk dalam kategori usia remaja akhir menurut Monks), pada usia ini salah satu tugas mencapai hubungan baru yang lebih matang dan pengungkapan diri remaja.
c. Bersedia menjadi responden secara sukarela.
d. Mahasiswa USU angkatan 2015 dan 2016.
3.4.3 Teknik Pengambilan Sampel
Metode sampling adalah teknik yang digunakan untuk mengambil sampel dengan menggunakan prosedur tertentu dalam jumlah yang sesuai dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang dapat benar-benar mewakili populasi (Poerwati, 1994). Sampling ialah prosedur yang digunakan untuk memilih sampel yang menggambarkan populasi (Zechmeister, Zechmeister & Shaughnessy, 2001). Pada penelitian ini teknik sampling yang digunakan ialah stratified random sampling, merupakan populasi yang dibagi dalam subpopulasi yang disebut dengan strata dan sampel random ini menggambarkan dalam tiap strata (Zechmeister, Zechmeister & Shaughnessy, 2001).
3.4.4 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di beberapa fakultas (FKM, FASILKOM-TI, FEB, FF, FMIPA dan FISIP) yang ada di Univeristas Sumatera Utara.
3.5 Besar Sampel Penelitian
Besar jumlah sampel dalam penilitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin:
Keterangan:
n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi
d2 =Presisi, ditetapkan 5% dengan tingkat kepercayaan 95%
berdasarkan rumus tersebut, jika jumlah populasi penelitian berjumlah 2633, maka akan diperoleh sampel sebesar:
= 347 orang
Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 347 orang.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kecanduan internet dengan keterampilan sosial pada mahasiswa USU. Penelitian ini juga akan mendalami keterkaitan dimensi keterampilan sosial yang memberikan pengaruh paling besar terhadap kecanduan internet. Hal ini penting untuk lebih dapat mengkaji dimensi social presentation, social scanning dan social flexibility yang memiliki hubungan yang paling besar pada kecanduan internet pada mahasiswa USU. Cara pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala kecanduan internet dan keterampilan sosial yang disebar atau diberikan langsung kepada subjek.
3.7 Instrumen atau Alat Ukur Penelitian
Metode pengambilan data dalam penelitian ini adalah menggunakan skala.
Pada pengisian skala ini, sampel diminta untuk mengisi pernyataan dengan memilih beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur penelitian sesuai dengan variabel-variabel yang akan diukur, yakni:
1. Kecanduan Internet
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini alat ukur yang telah diadaptasi dari Internet Addiction Test milik Kimberly Young (1999), yang terdiri dari 20 aitem. Pada penelitian ini skala kecanduan internet yang digunakan merupakan skala yang telah ditranslasi oleh peneliti.
Proses translasi dalam penelitian ini pertama kali dilakukan oleh pihak pusat bahasa Universitas Sumatera Utara. Setelah melewati proses translasi oleh pusat bahasa, selanjutnya peneliti dan dosen pembimbing mendiskusikan alat ukur tersebut untuk melakukan perbaikan atau modifikasi bahasa agar aitem-aitem lebih mudah dipahami oleh sampel penelitian.
Subjek penelitian diminta untuk mengisi pernyataan yang ada pada skala paling sesuai dengan diri subjek dalam lima pilihan alternatif jawaban. Seluruh pernyataan pada skala ini bersifat favourable, bentuk respon aitem dimulai dari jarang sekali= 1, kadang-kadang= 2, sering = 3, sangat sering = 4, selalu = 5 dan tidak pernah = 0. Apabila seseorang memiliki nilai skor total tinggi pada skala kecanduan internet maka seseorang tersebut memiliki tingkat kecanduan internet yang tinggi pula dan sebaliknya, apabila skor total yang didapat oleh individu rendah maka keterampilan sosial yang dimilikinya juga rendah. Berikut adalah blueprint skala kecanduan internet:
Tabel 2. Blueprint Alat Ukur Kecanduan Internet
No Aspek Pernyataan Aitem
Favorable Jumlah Aitem
1 arti penting 10, 12, 13, 15, 19 5
2 penggunaan yang berlebihan 1, 2, 14, 18, 20 5
3 mengabaikan pekerjaan 6, 8, 9 3
4 antisipasi 7, 11 2
5 kurangnya kontrol 5, 16, 17, 3
6 mengabaikan kehidupan sosial 3,4 2
Total 20 item
2. Keterampilan Sosial
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur yang disusun berdasarkan teori keterampilan sosial menurut Wu (2008) yang terdiri dari social presentation, social scanning dan social flexibility. Pada pengisian skala ini, sampel diminta untuk menjawab pernyataan yang ada dengan memilih salah alternatif jawaban yang tersedia. Skala keterampilan sosial terdiri dari 5 alternatif jawaban yaitu tidak pernah (TP), kadang (KD), sering (S), sangat sering (SS) dan selalu (SL).
Untuk aitem yang favourable tingkatan penilaiannya adalah:
a. Nilai 4 untuk jawaban SL (Selalu)
b. Nilai 3 untuk jawaban SS (Sangat Sering) c. Nilai 2 untuk jawaban S (Sering)
d. Nilai 1 untuk jawaban KD (Kadang) e. Nilai 0 untuk jawaban Tidak Pernah (TP)
Untuk pernyataan unfavourable tingkat penilaiannya adalah:
a. Nilai 4 untuk jawaban TP (Tidak Pernah) b. Nilai 3 untuk jawaban KD (Kadang) c. Nilai 2 untuk jawaban S (Sering)
d. Nilai 1 untuk jawaban SS (Sangat Sering) e. Nilai 0 untuk jawaban SL (Selalu)
Apabila seseorang memiliki nilai skor total tinggi pada skala keterampilan sosial maka seseorang tersebut memiliki tingkat keterampilan sosial yang tinggi
pula dan sebaliknya, apabila skor total yang didapat oleh individu rendah maka keterampilan sosial yang dimilikinya juga rendah. Berikut adalah blueprint skala keterampilan sosial:
Tabel 3. Blueprint Alat Ukur Keterampilan Sosial
No Aspek Indikator Perilaku
d. mampu menangani
keadaan lingkungan 2 2 4
3.8 Uji Validitas, Daya Beda Aitem dan Reliabilitas pada Alat Ukur Penelitian
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan alat ukur yang digunakan (Azwar, 2012). Uji validitas pada penelitian ini didasarkan pada validitas isi (content validity) yaitu, validitas yang diestimasi melalui relevansi aitem dengan tujuan ukur skala dan melalui penilaian oleh para ahli atau expert judgement (Azwar, 2012). Dalam penelitian ini dosen pembimbing sebagai expert judgement.
Uji daya beda aitem dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana aitem mampu membedakan antar individu atau kelompok individu yang memiliki atribut yang akan diukur. Uji daya beda aitem ini dengan cara untuk melihat keselarasan atau konsistensi antara fungsi aitem dengan fungsi skala secara keseluruhan (Azwar, 2012). Pengujian daya beda aitem menggunakan komputasi melalui SPSS reliability analysis. Prosedur pengujian ini akan menghasilkan koefisien aitem total yang dikenal dengan daya beda aiem. Dalam penelitian ini, ditetapkan nilai koefisien korelasi minimal 0.30 daya bedanya dianggap memuaskan (Azwar, 2012). Uji daya beda aitem dilakuakn pada alat ukur kecanduan internet dan keterampilan sosial.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kepercayaan atau konsistensi hasil ukur. Suatu alat ukur diakatakan baik ketika suatu alat ukur reliabel (Azwar, 2012). Pada penelitian ini, uji relaibilitas yang digunakan adalah