BAB II KAJIAN TEORI
C. Dinamika Perkembangan Pertanian di Indonesia
Negara Indonesia sejak dulu pada saat penjajahan hingga sekarang merupakan negara agraris. Oleh karena itu, pada saat penjajahan masyarakat Indonesia banyak yang bekerja dalam bidang pertanian yang dipimpin oleh penjajah tersebut. Sebagai contoh pada saat penjajahan Jepang. Pada tahun 1942 penduduk pribumi mempunyai susunan ekonomi ganda yaitu bersifat tradisional dan bersifat modern bergaya Eropa. Dalam perusahaan modern terutama pertambangan minyak, banyak puluhan ribu orang Indonesia mendapat pekerjaan dan juga pada perkebunan-perkebunan besar seperti gula, teh, kopi, karet, tembakau, kopra dan kelapa sawit (De Jong, 1987: 33).
Dalam hal ini banyak lahan pertanian yang dikuasai oleh penduduk Jepang dan masyarakat Indonesia bekerja di lahan yang telah dikuasainya. Dengan bekerja pada pimpinan Jepang yang sudah menggunakan cara yang modern, maka masyarakat Indonesia yang bekerja di tempat itu juga menjadi semakin modern pula. Artinya mereka dapat mengerjakan
pertaniannya dengan cara yang tradisional dan modern. Pertanian di Jepang merupakan pertanian yang bertujuan untuk ekspor. Oleh karena itu orientasi mereka di Indonesia juga untuk keperluan ekspor. Namun mereka dipekerjakan secara paksa yang telah dikenal dengan ”romusha”. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh dari bekerja dengan Jepang tersebut maka masyarakat Indonesia dapat berlatih dan mencoba sendiri untuk kemajuan pertaniannya.
2. Pertanian di Indonesia pada Masa Orde Lama
Pada masa orde lama dengan pemerintahan Ir. Soekarno telah disahkan UU Pokok Agraria tahun 1960 dan UU Pokok Bagi Hasil serta menjalankan sistem pangan nasional atau swasembada pangan nasional dan sistem pangan global atau liberalisasi perdagangan dunia (Kurnia, 2002). Pada saat itu, pertanian di Indonesia yang paling dikenal yaitu pertanian pangan terutama beras.
Dengan swasembada pangan nasional, maka jenis tanaman seluruh daerah di Indonesia yang berbeda-beda diseragamkan pada lahan ladang dan sawah. Namun pada saat itu para pejabat tinggi negara tidak memperhatikan nasib para petani, tetapi mereka sibuk mengurusi politik dan kemiskinan petani justru dijadikan lahan subur oleh Barisan Tani Indonesia (BTI). Akibatnya kesejahteraan petani pun juga semakin merosot bahkan mereka semakin kekurangan pangan walaupun mereka sudah merdeka.
3. Pertanian di Indonesia pada Masa Orde Baru
Pada awal orde baru dalam hal usaha tani diperbaharui dengan program Bimas. Program Bimas memberi hasil yang baik terhadap produktivitas sawah terhadap produksi padi nasional. Pada tahun 1984 Indonesia telah mencapai keberhasilannya dalam menciptakan swasembada beras. Dengan swasembada pangan yang lebih mantap, maka akan lebih terjamin persediaan pangan dalam jumlah dan kadar gizi yang cukup, merata dan dengan harga yang stabil serta terjangkau oleh daya beli rakyat banyak (Bustanil, 1994). Jadi pada saat orde baru, pertanian ditekankan pada pertanian yang bersifat monokultur yaitu padi. Di mana masyarakat tidak berani memperluas bahkan menanam tanaman selain padi. Para petani sebagai masyarakat kecil tidak berani berbuat apa-apa dengan apa yang telah dikatakan atasan (pejabat). Selain itu pendapatan petani pun juga kecil karena harga pokok yang ditetapkan pemerintah tidak seperti yang diharapkan petani. Dengan harga pokok yang relatif rendah, pemerintah berharap agar semua masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Jadi tidak hanya petani yang dapat mengkonsumsi beras tetapi masyarakat yang bukan petani pun juga mampu mengkonsumsi.
Dengan adanya Bimas, petani diberikan penyuluhan tentang pemilihan bibit yang unggul, teknologi yang baru, penggunaan pupuk dan pengendalian hama serta revolusi hijau. Penyuluhan yang dilakukan Bimas kepada petani masih tetap pada pertanian padi. Jadi, bukan berarti dalam
penyuluhan tersebut petani mendapatkan teori tentang tanaman yang lain. Namun adanya revolusi hijau ternyata berdampak kurang baik terhadap kehidupan petani. Revolusi hijau mengakibatkan terjadinya perubahan orientasi ekonomi petani lapisan atas ke arah yang lebih komersil dan mengabaikan loyalitas kepada petani miskin. Tekanan ekonomi tinggi tetapi ikatan sosial menjadi semakin merosot dan terjadi rural-urban migration pada petani kecil di pedesaan. Sehingga kehidupan ekonomi petani juga semakin terpuruk karena mereka sulit untuk berkembang. Pada saat itu pula, negara sangat membatasi investor asing masuk ke Indonesia, karena jika banyak investor yang masuk akan menyebabkan sektor industri semakin berkembang. Padahal sektor utamanya terletak pada sektor pertanian.
4. Pertanian di Indonesia pada Masa Reformasi
Selama lima tahun reformasi berjalan kehidupan petani terutama petani padi tidak mengalami perubahan yang signifikan. Karena daya beli Bulog juga masih terbatas dan mekanisme harga pada umumnya masih di bawah harga dasar pembelian pemerintah. Menurut Inpres No. 9/2001 yang telah dikeluarkan pemerintah pada saat reformasi harga dasar pembelian pemerintah Rp1.519/kg gabah kering giling atau Rp2.470/kg beras di gudang Bulog tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu.
Namun akhir-akhir ini, pertanian sudah semakin berkembang. Bidang pertanian tidak ada paksaan-paksaan dari atasan namun lebih diserahkan kepada para petani agar bertani sesuai dengan kondisi daerahnya
masing-masing. Terutama para petani sekarang tidak hanya menanam padi saja. Bahkan sekarang banyak program-program dari pemerintah misalnya revitalisasi pertanian, intensifikasi petanian dan berkembang lagi menjadi diversifikasi pertanian. Revitalisasi pertanian bertujuan untuk mempertahankan tanaman yang sudah ada dan dikembangkan lagi, misalnya tanaman padi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia pada umumnya agar tidak kekurangan makanan. Sedangkan dengan intensifikasi dan diversifikasi bertujuan agar petani semakin dapat memperluas kegiatan pertaniannya. Seiring berjalannya revitalisasi, intensifikasi dan diversifikasi, mulai sekitar tahun 2006 harga beras di pasar mulai mengalami peningkatan sehingga Inpres No.9/2001 sudah kurang sesuai. Misalnya harga beras IR-64 menjadi sekitar Rp5.200,00/kg dan harga beras pandan wangi menjadi sekitar Rp5.700,00/kg
(http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/12/13/brk,20061213-89373,id.html)