Sampai 5 km dari pantai >5 km dari pantai
2.5.8 Dinding Sayap
Dinding sayap merupakan suatu konstruksi yang berfungsi untuk menahan timbunan atau bahan lepas lainnya dan mencegah terjadinya kelongsoran pada permukaan tanah.
1. Pembebanan dinding sayap
Pembebanan terdiri atas berat lapisan tanah, berat lapisan perkerasan, berat sendiri dinding sayap dan berat beban kendaraan.
2. Penulangan dinding sayap 𝐴𝑆𝑚𝑖𝑛 = 𝑓𝑐′ 4.𝐹𝑦 𝑏𝑑...(RSNI T-12-2004, hal 29) 𝐴𝑆𝑚𝑖𝑛 = 1,4𝐹 𝑦 𝑏𝑑...(RSNI T-12-2004, hal 29) 2.5.9 Abutment 1. Pembebanan abutmen
Pembebanan abutmen terdiri dari : a) Beban Mati (Pm)
b) Beban Hidup (H + DLA) c) Tekanan Tanah (PTA) d) Beban Angin (Wn) e) Gaya Rem (Rm)
f) Gesekan pada Perletakan (Gs) g) Gaya Gempa (Gm)
h) Beban Pelaksanaan (pel)
Kombinasi pembebanan adalah sebagai berikut: a) Kombinasi I (AT) = Pm + PTA + Gs b) Kombinasi II (LL) = (H + DLA) + Rm c) Kombinasi III (AG) = Wn
d) Kombinasi IV (GP) = Gm e) Kombinasi V (PL) = pel
Kemudian dikombinasikan lagi seperti berikut ini : a) Kombinasi I = AT + LL (100%)
b) Kombinasi II = AT + LL (125%) c) Kombinasi III = AT + LL + AG (125%) d) Kombinasi IV = AT + LL + AG (140%) e) Kombinasi V = AT + GP (150%) f) Kombinasi VI = AT + PL (130%) g) Kombinasi VII = AT + LL (150%) 2. Kontrol stabilitas pembebanan
a) Kontrol terhadap bahaya guling FGL = MT
MGL
b) Kontrol terhadap bahaya geser FGs = μV
M
c) Kontrol terhadap kelongsoran daya dukung Fk = qult
qada
Bila abutmen tidak aman terhadap stabilitas, maka abutmen tersebut memerlukan pondasi atau bangunan pendukung lainnya, begitu pula sebaliknya.
2.5.10 Pondasi
Pondasi berfungsi untuk memikul beban diatas dan meneruskannya kelapisan tanah pendukung tanpa mengalami konsolidasi atau penurunan yang berlebihan.
Adapun hal yang diperlukan dalam perencanaan pondasi diantaranya :
Daya dukung tanah terhadap konstruksi
Beban-beban yang bekerja pada tanah baik secara langsung maupun tidak langsung
Keadaan lingkungan seperti banjir, longsor, dan lain-lain.
Secara umum jenis pondasi yang sering digunakan pada jembatan ada 3 macam yaitu :
Pondasi dangkal
Pondasi dangkal adalah pondasi yang mendukung bangunan dan meneruskan beban bangunan tersebut kepada tanah pendukung yang mampu menerimanya terletak pada kedalaman yang relatif dangkal, dan kedalaman tidak melebihi 2 meter.
Gambar 2.10 Pondasi dangkal
Pondasi sumuran
Pondasi sumuran digunakan untuk kedalaman tanah keras antara 2-5 meter. Pondasi sumuran ini dibuat dengan cara menggali tanah berbentuk sumuran/lingkaran berdiameter >0,80 meter sampai mencapai tanah keras. Kemudian lobang galian tersebut diisi kembali dengan beton ( 1 pc : 2 pasir : 3 kerikil ) atau dengan beton bertulang jika dianggap perlu. Pada ujung atas pondasi sumuruan dipasang poer untuk menerima dan meneruskan beban ke pondasi sumuran secara merata. Poer-poer ini dihubungkan dengan sloof beton yang sekaligus memiku beban-beban diatasnya.
Pondasi dalam (tiang pancang/bor)
Tiang pancang adalah bagian konstruksi yang dibuat dari berbagai bahan bangunan (kayu, beton atau baja) yang digunakan untuk mentransmisikan beban-beban permukaan ke tingkat-tingkat permukaan yang lebih renda dalam massa tanah. Hal tersebut dapat merupakan distribusi vertikal dari beban sepanjang poros tiang pancang atau pemakaian beban secara langsung terhadap lapisan yang lebih rendah sepanjang ujung tiang pancang.
Pondasi tiang pancang digunakan untuk mentransfer beban yang dipikul pondasi (struktur serta penggunanya) ke lapisan tanah yang dalam, dimana dapat dicapai daya dukung yang lebih baik. Pondasi tiang pancang ini juga berguna untuk menahan gaya angkat akibat tingginya muka air tanah dan gaya dinamis akibat gempa.
Digunakannya struktur pondasi tiang pancang apabila tanah dasar tidak mempunyai kapasitas daya pikul yang memadai. Kalau hasil pemeriksaan tanah menunjukkan bahwa tanah dangkal tidak stabil dan kurang keras atau apabila besarnya hasil estimasi penurunan tidak dapat diterima pondasi tiang pancang dapat menjadi bahan pertimbangan. Lebih jauh lagi, estimasi biaya dapat menjadi indikator bahwa pondasi tiang pancang biayanya lebih murah daripada jenis pondasi yang lain dibandingkan dengan biaya perbaikan tanah.
Pondasi tiang sendiri dibedakan beberapa tipe tiang pancang dalam konstruksi pondasi. Tiang sangat tergantung pada beban yang bekerja pada pondasi tersebut selain tersedianya bahan yang ada, juga cara-cara pelaksanaan pemancangan. Berdasarkan bahan untuk tiang pancang :
a. Tiang pancang kayu
Pemakaian tiang pancang kayu ini adalah cara yang tertua dalam penggunaan tiang pancang sebagai pondasi. Tiang pancang kayu dibuat dari batang pohon yang cabang-cabangnya telah dipotong dengan hati-hati, dan biasanya diberi bahan pengawet dan didorong dengan ujungnya yang kecil sebagai bahan yang runcing. Biasanya konstruksi tiang kayu akan cepat rusak, bila terletak dibagian peralihan atau kondisi yang selalu berubah-ubah (terendam dan kering). Ukuran tiang kayu tergantung dari klasifikasi bahan
dan beban yang diterima. Umumnya bahan tiang kayu dengan diameter : 15-25 cm dan panjang terbatas 6-8 m. dalam pelaksanaan pemancangan, bagian kepala tiang maupun ujung tiang diberi perkuatan agar tidak mudah hancur pada waktu dipancang.
b. Tiang pancang baja
Kebanyakan tiang pancang ini berbentuk profil H, WF atau pipa dapat berlubang maupun tertutup ujung-ujungnya. Kekuatan dari tiang ini sendiri sangat besar sehingga dalam proses pemancangan tidak menimbulkan bahaya patah. Jadi pemakaian tiang pancang baja ini akan sangat bermanfaat apabila kita memerlukan tiang pancang yang panjang dengan tahanan ujung yang besar. Pipa yang ujungnya terbuka dan tiang pancang H melibatkan perpindahan-perpindahan volume yang relative kecil selama pemancangan. Tahanan pancangan dari sebuah pipa yang ujungnya terbuka kira-kira sama seperti tahanan pancangan dari pipa yang ujungnya tertutup karena klos-sumbat (plug) tanah dalam pompa pipa (dengan gesekan yang dikembangkan dengan dinding) berperilaku serupa terhadap plat pancangan (atau plat tiang pancang baja = driving plate).
c. Tiang Pancang Beton
Tiang pancang dari beton bertulang yang dicetak dan dicor dalam acuan beton (bekisting), kemudian setelah cukup kuat (keras), tiang-tiang ini dibentuk di tempat pengecoran sentral sampai panjang yang telah ditentukan, diobati dan kemudian dikirimkan ke tempat konstruksi. Berdasarkan bentuk dan ukuran tiang pancang beton dapat dibedakan menjadi : mini pile triangle, tiang pancang cyrcle serta mini pile rectangle. Dapat dilihat dari gambar berikut :
Gambar 2.13 Tiang Pancang Beton
Pondasi diperlukan jika konstruksi abutmen tidak aman terhadap stabilitas. Pemilihan jenis pondasi disesuaikan dengan kondisi dan keadaan tanah, apakah memakai pondasi sumuran atau pondasi tiang pancang.
1. Pembebanan
Untuk pembebanan menggunakan kombinasi pembebanan dari perhitungan analisa stabilitas abutmen.
Dari persamaan Bowles didapat: qall = 12,5 N B + 0,8
B
2
Kd Kemudian dicek apakah qall > qada
2. Penulangan utama
Untuk penulangan diambil dari kombinasi penulangan abutmen potongan. Ast = ρgx Ag Pnb = (0,85. fc′. ab. b + As. fs′ −As. Fy Mnb = (0,85. fc′. ab. b h 2−ab2 + As. fs′.1 2 d−d′ −As. Fy1 2 d−d′ ) Dicek apakah 𝑒𝑏 = 𝑀𝑃𝑛𝑏 𝑛𝑏 > 𝑒
Jika ya, maka kehancuran ditentukan oleh gaya tekan Pn =BeAs .fy
Dz+1
+
Ag .fc′9,6 D .e
(0,8 d +0,67 Dz )2+1,18
Dicek apakah ∅Pn > Pult 3. Penulangan geser Ac = 1 4 π. Dc2 Ag =1 4 π. D2 As = 1 4 π.∅ s2 ρs = 0,45 Ag Ac−1 fc′ fy S =4.As (Dc−Ds ) Dc2.ρs
2.6 Manajemen Proyek