Makna dari semua ini adalah bahwa di kantor BKPP kota Sukabumi, ternyata tingkat kematangan pegawai tidak dijadikan acuan bagi pimpinan dalam memilih gaya kepemimpinan yang sesuai dengan keadaan bawahan, dengan kata lain Kematangan Pegawai Tidak Berpengaruh terhadap Gaya Kepemimpinan Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Kota Sukabumi. Melainkan Gaya Kepemimpinan mempengaruhi Kematangan Pegawai. Setiap pegawai harus mampu beradaptasi dengan gaya kepemimpinan dari atasannya.
4.2.5.4. Koefisien Determinasi
Penghitungan koefisien determinasi ini dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Pegawai Kantor BKPP Kota Sukabumi. Besarnya pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja
• Situantion
M1
• Situantion
M4
• Situation
M2
• Situation
M3
Style
Partisipatif
Style
Selling
Style
Telling
Style
Delegatif
Directive Behavior
s u p o r t i v e b e h a v i o r90
pegawai dapat diketahui dengan cara mengkuadratkan nilai koefisien yang telah didapat sebelumnya. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus koefisien determinasi sebagai berikut:
Kd = r2 x 100 %
Dimana:
Kd = Koefisien determinasi r = Koefisien korelasi
Dengan perhitungan sebagai berikut:
Variables Entered/Removedb
Model Variables Entered Variables
Removed
1 KematanganPegawai .
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: GayaKepemimpinan
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate 1 0,911331768 0,830525591 0,825229516 3,183651156 a. Predictors: (Constant), KematanganPegawai KD= 83,0525591
Perhitungan koefisien determinasi menghasilkan nilai 82,5%. Ini berarti pengaruhKematangan Pegawai terhadap Gaya Kepemimpinan Kepala BKPP Kota Sukabumi sebesar 82,5% dan sisanya sebesar 17,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dilakukan dalam penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang katagorinya sangat kuat antara kematangan pegawai terhadap gaya kepemimpinan.
Hasil penelitian yang peneliti temukan di lapangan mendapati keadaan yang berbeda dengan teori. Tingkat kematangan pegawai BKPP kota Sukabumi yang variatif, terdiri dari 30% pegawai dengan tingkat kematangan Medium
91
maturity/low skill, 50% pegawai dengan tingkat kematangan Medium maturity/high skill/low confidence, dan 20% pegawai dengan tingkat kematangan High maturity, kepala BKPP hanya menggunakan gaya kepemimpinan Telling untuk menggerakkannya. Hasilnya, mereka tetap berkinerja walaupun kinerjanya tidak tergolong maksimal, lambat namun terselesaikan juga, karena masih terdengar keluhan-keluhan dari kelompok pegawai yang tingkat kematangannya tinggi. Pada intinya mereka tidak merasakan adanya kepuasan kerja, dengan gaya kepemimpinan Telling ini. Padahal kepuasan kerja mempunyai peranan penting terhadap prestasi kerja pegawai, ketika seorang pegawai merasakan kepuasan dalam bekerja maka pegawai tersebut akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan tugasnya, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan. Kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produktivitas organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung.
Yang harus diketahui oleh kepala BKPP adalah bahwa ketidakpuasan merupakan titik awal dari masalah-masalah yang muncul dalam organisasi seperti kemangkiran, konflik pimpinan-bawahan dan roatasipegawai. Dari sisi pegawai, ketidakpuasan dapat menyebabkan menurunnya motivasi, menurunnya moril kerja, dan menurunnya tampilan kerja baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.
Kepuasan dapat dirumuskan sebagai respon umum pekerja berupa perilaku yang ditampilkan oleh pegawai sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Seorang pekerja yang masuk dan bergabung dalam suatu organisasi mempunyai seperangkat keinginan, kebutuhan, hasrat dan pengalaman
92
masa lalu yang menyatu dan membentuk suatu harapan yang diharapkan dapat dipenuhi di tempatnya bekerja. Kepuasan kerja ini akan didapat apabila ada kesesuaian antara harapan pekerja dan kenyataan yang didapatkan ditempatbekerja.
Menurut Strauss dan Sayles dalam Handoko (2001:196) kepuasan kerja juga penting untuk aktualisasi, pegawai yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Pegawai yang seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja yang rendah, cepat lelah dan bosan, emosi tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan.
Kepuasan kerja mempunyai arti penting baik bagi pegawai maupun organisasi, terutama karena menciptakan keadaan positif di dalam lingkungan kerja. Sedangkan pegawai yang rendah akan kepuasan kerja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti mangkir kerja, mogok kerja, kerja lamban, pindah kerja dan kerusakan yang disengaja.
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya.Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupun ditempat lain.
93
Pegawai yang memiliki loyalitas tinggi akan memiliki sikap kerja yang positif. Sikap kerja yang positif meliputi :
1) kemauan untuk bekerja sama. Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.
2) rasa memiliki. Adanya rasa ikut memiliki pegawai terhadap organisasi akan membuat pegawai memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap organisasi sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan organisasi.
3) hubungan antar pribadi. Pegawai yang mempunyai loyalitas karyawan tinggi mereka akan mempunyai sikap fleksibel kearah keterbukaan hubungan antar pribadi. Hubungan antar pribadi ini meliputi : hubungan sosial diantara pegawai. Hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan, situasi kerja dan sugesti dari teman sekerja.
4) suka terhadap pekerjaan. Pimpinan organisasi harus dapat menghadapi kenyataan bahwa pegawaisetiap hari datang untuk bekerja sama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari : kesanggupan pegawai dalam bekerja, pegawai tidak kpernah menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.
sukses tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki karena sumber daya manusia yang berkualitas adalah sumber daya manusia yang mampu berprestasi maksimal.
Peningkatan kepuasan kerja pegawai pada suatu organisasi tidak bisa dilepaskan dari peranan pemimpin dalam organisasi tersebut, kepemimpinan merupakan
94
kunci utama dalam manajemen yang memainkan peran penting dan strategis dalam kelangsungan hidup suatu organisasi, pemimpin merupakan pencetus tujuan, merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan dan mengendalikan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya (Handoko, 2001 : 291). Oleh sebab itu pemimpin suatu organisasi dituntut untuk selalu mampu menciptakan kondisi yang mampu memuaskan bawahan dalam bekerja sehingga diperoleh pegawai yang tidak hanya mampu bekerja akan tetapi juga bersedia bekerja kearah pencapaian tujuan organisasi, kuncinya adalah dengan melakukan pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat yang disesuaikan dengan tingkat kematangan pegawainya.
Setiap pegawai memiliki keinginan untuk mengimplementasikan pengetahuan, keahlian dan pendidikan yang didapatkan sebelumnya kepada organisasi dimana mereka bekerja. Jika mereka tidak mampu mengaplikasikannya, mereka akan menjadi tidak puas dan pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja dan loyalitas mereka. Jika pegawai dihargai secara adil sesuai dengan tingkat kematangannya maka mereka akan merasa nyaman dalam bekerja dan tidak memiliki tendensi untuk melakukan tindakan yang melawan perintah atasan.