Gambar 20
Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang litigasi peraturan perundang-undangan dan penyelesaian sengketa peraturan perundang-undangan di luar pengadilan sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan menyelenggarakan fungsi:
a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang litigasi peraturan perundang-undangan dan penyelesaian sengketa peraturan perundang-perundang-undangan di luar pengadilan;
b. Pelaksanaan kebijakan teknis di bidang litigasi peraturan perundang-undangan dan penyelesaian sengketa peraturan perundang- perundang-undangan di luar pengadilan;
c. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang litigasi peraturan perundang- undangan dan penyelesaian sengketa peraturan perundang-undangan di luar pengadilan;
d. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang litigasi peraturan perundang-undangan dan penyelesaian sengketa peraturan perundang-undangan di luar pengadilan; dan
e. Penyiapan pemberian pendapat hukum terhadap permasalahan yang disampaikan kepada Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan; dan
f. pelaksanaan urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan.
Susunan organisasi Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Subbagian Tata Usaha; dan b. Kelompok Jabatan Fungsional.
Dalam melaksanakan fungsi Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. kelompok substansi penyelesaian sengketa peraturan perundang-undangan bidang politik, hukum, hak asasi manusia dan keamanan;
b. kelompok substansi penyelesaian sengketa peraturan perundang-undangan bidang kesejahteraan rakyat; dan
c. kelompok substansi penyelesaian sengketa peraturan perundang-undangan bidang perekonomian.
Kementerian Hukum dan HAM dalam Rencana Strategi dikatakan bahwa Kementerian yang menjalankan tugas kepemerintahan di bidang hukum, hal ini dikarenakan tugas pokoknya sebagai lembaga yang melaksanakan pembinaan
hukum, pelayanan hukum dan membantu pelaksanaan pembentukan peraturan perundang-undangan yang tidak terlepas memberikan informasi hukum kepada para masyarakat atau lembaga lainnya yang menginginkannya. Keberadaan Direktorat Jenderal ini memfasilitasi pembentuk produk hukum yang diinginkan oleh lembaga/kementerian maupun masyarakat.
Terkait dengan menfasilitasi pembentukan perundang-undangan tersebut, maka Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peraturan perundang-undangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan menyelengarakan fungsi:
a. Perumusan kebijakan di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang-undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang-undangan di daerah sesuai dengan permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang- undangan
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang- undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang-undangan di daerah sesuai dengan permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang- undangan
c. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang-undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang- undangan di daerah sesuai permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang- undangan
d. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang
perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang- undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang-undangan di daerah sesuai dengan permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang-undangan
e. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan; dan
f. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Litigasi Peraturan Perundang-undangan Tahun 2020
Litigasi
Bidang Politik, Hukum, Hak Asasi
Manusia dan
Register Perkara di MK Register Perkara di
MA
2 Jawaban Termohon 12 Jawaban Termohon 2 Jawaban Termohon
Litigasi Peraturan Perundang-undangan Tahun 2021 Litigasi Bidang Politik,
Hukum, Hak Asasi Manusia dan
Register Perkara di MK Register Perkara di
MA
4 Jawaban Termohon 3 Jawaban Termohon 4 Jawaban Termohon
Berdasarkan pada tugas pokok maka Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan membentuk struktur organisasinya untuk mempermudah penanganan penanganan fasilitasi peraturan perundang-undangan tersebut, untuk itu Direktorat Jenderal memiliki enam (6) Direktorat untuk penanganan peraturan perundang-undangan dan satu (1) Sekretaris untuk membantu pengadministrasian kepegawaiannya. Direktorat Jenderal terdiri atas:
1. Sekretariat Direktorat Jenderal
2. Direktorat Perancangan Peraturan Perundang-undangan 3. Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan I 4. Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan II
5. Direktorat Fasilitasi Perancangan Peraturan Daerah dan Pembinaan Perancang Peraturan Perundang- undangan
6. Direktorat Pengundangan, Penerjemahan, dan Publikasi Peraturan Perundang- undangan; dan
7. Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan.
H. Latihan
1. Jelaskan Tupoksi dari Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan
2. Jelaskan apa saja yang saudara ketahui tentang Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan
3. Apa saja yang menjadi prioritas penyelesaian sengketa pada Kelompok Substansi Fasilitasi Peraturan Perundang-undangan
4. Apa saja yang menjadi fungsi Kelompok Substansi Sistem Informasi Peraturan Perundang-undangan
5. Jelaskan tugas pokok Direktorat Perancangan Peraturan Perundang-undang
I. Rangkuman
Kementerian Hukum dan HAM dalam Rencana Strategi dikatakan bahwa Kementerian yang menjalankan tugas kepemerintahan di bidang hukum, hal ini dikarenakan tugas pokoknya sebagai lembaga yang melaksanakan pembinaan hukum, pelayanan hukum dan membantu pelaksanaan pembentukan peraturan
perundang-undangan yang tidak terlepas memberikan informasi hukum kepada para masyarakat atau lembaga lainnya yang menginginkannya.
Keberadaan Direktorat Jenderal ini memfasilitasi pembentuk produk hukum yang diinginkan oleh lembaga/kementerian maupun masyarakat.Terkait dengan menfasilitasi pembentukan perundang-undangan tersebut, maka Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peraturan perundang-undangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan menyelengarakan fungsi:
a. perumusan kebijakan di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang-undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang-undangan di daerah sesuai dengan permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang- undangan
b. pelaksanaan kebijakan di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang-undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang-undangan di daerah sesuai dengan permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang- undangan
c. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi peraturan perundang-undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang- undangan di daerah sesuai permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang- undangan
d. pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang perancangan, harmonisasi, pengundangan dan publikasi, litigasi
peraturan perundang- undangan, fasilitasi perancangan peraturan perundang-undangan di daerah sesuai dengan permintaan daerah, dan pembinaan perancang peraturan perundang-undangan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan; dan
f. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Berdasarkan pada kedudukan tugas pokok yng telah ada, maka Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan membentuk enam (6) Direktorat dan satu (1) Sekretaris untuk membantu pengadministrasian kepegawaiannya yang antara lain :
1. Sekretariat Direktorat Jenderal
2. Direktorat Perancangan Peraturan Perundang- undangan 3. Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang- undangan I 4. Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang- undangan II
5. Direktorat Fasilitasi Perancangan Peraturan Daerah dan Pembinaan Perancang Peraturan Perundang- undangan
6. Direktorat Pengundangan, Penerjemahan, dan Publikasi Peraturan Perundang- undangan; dan
7. Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan.
J. Evaluasi
1. Yang dimaksud dengan pengharmonisasian adalah:
a. proses untuk merealisasikan keselarasan, kesesuaian, dan keserasian antara berbagai faktor yang membentuk suatu keseluruhan dari undang-undang maupun Perda sebagai bagian dari sistem hukum nasional.
b. proses untuk menjadikan semua unsur terintegrasi menjadi satu kesatuan yang utuh.
c. proses pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilakukan secara taat asas untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik.
d. proses menyamakan persepsi bahwa pengharmonisasian dilakukan dengan pendekatan kesisteman, karena peraturan perundang-undangan merupakan sub sistem yang penting dalam sistem hukum nasional.
2. Direktorat Litigasi Peraturan Perundang-undangan terdiri atas kecuali : a. Kelompok Substansi Penyelesaian Sengketa Peraturan
Perundang-Undangan Bidang Politik, Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Keamanan
b. Kelompok Substansi Penyelesaian Sengketa Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kesejahteraan Rakyat
c. Kelompok Substansi Penyelesaian Sengketa bidang Perdagangan
d. Kelompok Substansi Penyelesaian Sengketa Peraturan Perundang-Undangan Bidang Perekonomian.
3. Jelaskan apa saja fungsi dari Kelompok Substansi Standardisasi dan Bimbingan Perancang Peraturan Perundang undangan.
K. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
1. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Raperda mempunyai alur dan pola tersendiri yang berbeda dengan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi peraturan perundang-undangan tingkat pusat. Bagaimana pengalaman Saudara
dalam melakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-undang dan atau Raperda di lingkungan Saudara.
2. Dalam melakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang dan atau Raperda hambatan dan kendala apa yang dihadapi dan mengapa hal tersebut terjadi?
3. Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan, menurut pendapat Saudara bagai cara untuk menghindari terjadinya disharmonis suatu peraturan perundang-undangan.
Bab IV PENUTUP
Kesimpulan
Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 9 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara bahwa:
”kementerian yang menangani urusan agama, hukum, keuangan dan agama memiliki unsur pelaksana tugas pokok di daerah. Salah satu urusan dimaksud adalah urusan hukum yang menjadi kewenangan Kementerian Hukum dan HAM RI (Kemenkumham)”.
Kemenkumham merupakan salah satu kementerian pelaksana tugas-tugas pemerintahan (bestuurer) yang dibentuk guna membantu tugas-tugas Presiden (eksekutif), baik sebagai kepala negara maupun kepala pemerintahan, dalam permasalahan-permasalahan yang menyangkut pelaksanaan tugas di bidang pembangunan sistem hukum nasional. Tugas di bidang hukum merupakan peran yang strategis dalam rangka mengaktualisasikan fungsi hukum, menegakkan hukum, menciptakan budaya hukum, dan membentuk peraturan perundang-undangan yang adil, konsisten, tidak diskriminstif, tidak bias gender serta memperhatikan hak asasi manusia.
Dalam kerangka mewujudkan sistem hukum nasional tentunya harus memperhatikan sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundangan-undangan yang berlaku, baik dalam garis vertikal yang ada di pusat maupun horizontal yang posisinya pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil)
Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan dalam melaksanakan tugasnya mempunyai beberapa direktorat yang yang antara lain Direktorat
Perundang-undangan dan Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan I dan II berlandaskan pada tugas pokok Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat dimemaksimalkan sumber daya manusia yang ada untuk memberikan pelayanan atas terbentuknya suatu peraturan perundang-undangan yang akan dikeluarkan oleh institusi lain.
Saran
1. Bahwa materi MTSL Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan yang diberikan kepada para peserta Diklat e-learning, digunakan selama mengikuti pendidikan dan pelatihan diharapkan secara teoritis dapat memahami dan menguasai muatan Subtansi unit eselon I di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM RI
2. Bahwa para peserta setelah memahami akan sejarah, struktur organisasi dan tupoksi Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan yang merupakan unit esalon I dari Kementerian Hukum dan HAM dapat menjelaskan pula kepada masyarakat apabila masyarakat menginginkan informasi tentang Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan dikemudian hari.
3. Pengetahuan dan informasi tentang tugas pokok dari Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan dapat diterapkan serta diaplikasikan terutama apabila masyarakat dan lembaga lain untuk berkoordinasi terkait suatu peraturan yang merupakan produk daerah sebab tugas utama dari Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan membawahi fasilitasi perancangan perundang-Perundang-undangan baik pusat maupun daerah terutama melakukan pengharmonisasian peraturan-peraturan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
2. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 41 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan HAM;
3. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 42 Tahun 2021 tentang Uraian Fungsi Organisasi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan Tugas Koordinator Jabatan Fungsional di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
4. http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/struktur-djpp/ditjen-pp.html pada tanggal 11 Nopember 2018
GLOSARIUM
UU : Undang-undang
PP : Peraturan Perundang-undangan Raperda : Rancangan Peraturan Daerah MLTS : Muatan Teknis Substantif Lembaga
Harmonisasi : proses untuk merealisasikan keselarasan, kesesuaian, dan keserasian antara berbagai faktor yang membentuk suatu keseluruhan dari Perda sebagai bagian dari sistem hukum nasional.
Litigasi : proses dimana seorang individu atau badan membawa sengketa, kasus ke pengadilan atau pengaduan dan penyelesaian tuntutan atau penggantian atas kerusakan
KUNCI JAWABAN EVALUASI
BAB II
Latihan1. Jawaban:
Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan dapat dikatakan merupakan penjelmaan dan penyempurnaan dari suatu unit kerja khusus yang telah ada sebelumnya di DepKumHAM
Awal adanya Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan dimulai dari adanya unit yang bernama “Direktorat Perundang-undangan” yang berada di Ditjen Kumdang, yang kemudian dipindahkan ke BPHN dengan nama “Pusat Perancangan” pada sekitar tahun 1985, dan yang akhirnya ditarik-kembali ke bawah Ditjen Kumdang pada tahun 1990 dengan nama “Direktorat Perancangan Peraturan Perundang-undangan (Direktorat PP) Pemikiran mengenai hal tersebut sebagian disebabkan oleh situasi dan kondisi pada masa terjadinya reformasi ketatanegaraan di berbagai bidang, termasuk bidang hukum. Beban kerja untuk melaksanakan reformasi di bidang hukum sangat berat sehingga di DepKumHAM dirasa perlu untuk membentuk suatu unit kerja setingkat eselon I yang dilengkapi dengan berbagai unit kerja eselon II penunjangnya agar dapat secara lebih baik menangani berbagai masalah di bidang perundang-undangan.
2. Jawaban:
Pasal 18 A ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan bahwa:
“hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan
dan kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”.
Hubungan antara pemerintahan pusat dan daerah tentunya harus tetap dipandang sebagai hubungan desentralisasi yang tetap mengedepankan aspek keamanan sekaligus keutuhan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu tidak semua urusan bernegara diserahkan ke Pemerintah Daerah (Pemda), tetapi tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat dengan menempatkan instansi vertikalnya di daerah, terutama yang menyangkut sendi-sendi kehidupan bernegara yang bersifat mendasar (elementary)
3. Jawaban:
Pasal 9 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, menyatakan bahwa:
”kementerian yang menangani urusan agama, hukum, keuangan dan agama memiliki unsur pelaksana tugas pokok di daerah. Salah satu urusan dimaksud adalah urusan hukum yang menjadi kewenangan Kementerian Hukum dan HAM RI (Kemenkumham)”.
Kemenkumham merupakan salah satu kementerian pelaksana tugas pemerintahan (bestuurer) yang dibentuk guna membantu tugas-tugas Presiden (ekseku-tif), baik sebagai kepala negara maupun kepala pemerintahan, dalam permasalahan-permasalahan yang menyangkut pelaksanaan tugas di bidang pembangunan sistem hukum nasional.
Tugas di bidang hukum merupakan peran yang strategis dalam rangka mengaktualisasikan fungsi hukum, menegakkan hukum, menciptakan budaya hukum, dan membentuk peraturan perundang-undangan yang adil, konsisten, tidak diskriminstif, tidak bias gender serta memperhatikan hak asasi manusia.
Dalam kerangka mewujudkan sistem hukum nasional tentunya harus memperhatikan sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundangan-undangan yang berlaku, baik dalam garis vertikal maupun horizontal yang posisinya pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil).
Evaluasi
1. d. (politik hukum dan bias gender)
2. a. (Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan I)
3. Permohonan disampaikan oleh Kementerian/lembaga secara tertulis kepada Menteri Hukum dan HAM c.q Direktur Jenderal
Peraturan Perundang-undangan dengan persyaratan disertai dengan:
d. 2 (dua) naskah asli;
e. 1 (satu) softcopy naskah asli; dan f. 1 (satu) foto kopi naskah asli.
Pemeriksaan Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan dilakukan terhadap:
e. surat permohonan pengundangan;
f. kesesuaian naskah asli dengan softcopy naskah asli;
g. lampiran analisis kesesuaian antara Peraturan Perundang-undangan; dan
h. surat selesai harmonisasi.
Umpan Balik
1. Jawaban:
Pemerintah pusat merupakan penyelenggara urusan pemerintahan di tingkat nasional dan pemerintah daerah merupakan penyelenggara urusan pemerintahan di daerah masing-masing bersama DPRD
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dalam system dan prinsip NKRI
2. Jawaban: d (pembinaan dan pengembangan tenaga analis hukum) 3. Jawaban: a (Hukum)
F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
1. Jawaban:Kantor Wilyah Kementerian Hukum dan HAM bertanggung jawab dalam melaksanakan Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi terhadap Raperda dan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan maka kewajiban pengharmonisasian tidak hanya terhadap Raperda tetapi Peraturan Kepala Daerah dan Peraturan DPRD.
2. Jawaban:
Salah satunya adalah Ego sektoral dan kehadiran dari perwakilan Kementerian/ Lembaga selaku peserta rapat yang hadir tidak sesuai daftar undangan.
Dengan ego sektoral yang ada pada para peserta rapat dari Kementerian/Lembaga maka pembahasan pengharmonisasian membutuhkan waktu yang lama dan terkadang tidak dapat diambil keputusan sehingga pembahasan dibawa ketingkat pimpinan.
Peserta rapat yang hadir tidak sesuai dengan daftar nama undangan sehingga menghambat jalanya kegiatan rapat pengharmonisasian karena harus menjelaskan Kembali draft dan hasil rapat tersebut dan juga yang hadir tidak mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan dalam rapat.
3. Jawaban:.
Melalui mekanisme pengharmonisasian, dalam suatu penyusunan terhadap peraturan perundang-undangan harus melalui tahapan pengharmonisasian. yang sedang disusun tujuannya adalah agar suatu rancangan peraturan perundang-undangan yang sedang disusun tidak bertentangan terhadap peraturan yang lebih tinggi atau peraturan yang berlaku.
BAB III
Latihan :1. Jawaban:
Sekretariat Direktorat Jenderal Peraturan Perundang- undangan mempunyai tugas memberikan dukungan manajemen terhadap pelaksanaan tugas satuan organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Peraturan Perundang- undangan.
Sekretariat Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan menyelenggarakan fungsi :
a. pengoordinasian dan penyusunan rencana, program, dan anggaran;
b. pengoordinasian dan fasilitasi pelaksanaan penataan kelembagaan dan reformasi birokrasi;
c. pembinaan dan pengelolaan urusan kepegawaian;
d. pembinaan dan pengelolaan urusan keuangan;
e. pelaksanaan urusan hubungan masyarakat dan kerja sama; dan f. pengelolaan barang milik negara dan pelaksanaan urusan
umum.
2. Jawaban:
Pengharmonisasian Peraturan Perundang-undangan adalah proses penyelarasan substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan dan teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan, sehingga menjadi Peraturan Perundang-undangan yang merupakan satu kesatuan yang utuh dalam kerangka sistem hukum nasional.
3. Jawaban:
Dalam rangka penyelarasan dan terkait dengan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
4. Jawaban:
a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis di bidang sistem informasi peraturan perundang-undangan;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang sistem informasi peraturan perundang-undangan;
c. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang sistem informasi peraturan perundang-undangan.
5. Jawaban:
Direktorat Perancangan Peraturan Perundang- undangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang perancangan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan
Evaluasi:
1. a. (proses untuk merealisasikan keselarasan, kesesuaian, dan keserasian antara berbagai faktor yang membentuk suatu keseluruhan dari undang-undang maupun Perda sebagai bagian dari sistem hukum nasional.
2. c. (Kelompok Substansi Penyelesaian Sengketa bidang Perdagangan) 3. Jawaban:
a. perumusan kebijakan teknis standardisasi pedoman, kurikulum, dan modul pendidikan dan pelatihan perancang peraturan perundang-undangan;
b. Penyiapan penyusunan bahan pengembangan kurikulum serta fasilitasi penyelenggaraan Pendidikan dan pelatihan fungsional,penjenjangan, dan teknis Perancang Peraturan Perundang-undangan;
c. penyiapan pelaksanaan standar kompetensi dan uji kompetensi Perancang Peraturan Perundang-undangan;
d. penyiapan koordinasi penyelenggaraan pembinaan Perancang Peraturan Perundang-undangan dengan unit kerja dan instansi terkait;
e. pelaksanaan bimbingan dan konsultasi dalam rangka pembinaan kompetensi dan pola karier Perancang Peraturan Perundang- undangan; dan
f. penyiapan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang standardisasi dan bimbingan perancang peraturan perundang-undangan.