• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL KEGIATAN PEMANTAUAN

2. Dirjen Bea Cukai – Kementerian Hukum dan Ham

1. Dirjen Imigrasi – Kementerian Hukum dan Ham Imigrasi

a. Pelaksana fungsi yang melakukan pembebasan asset perlu untuk melakukan proses administrasi sesudah dan sebelum pembebasan untuk dapat mempercepat pembebasan aset.

b. DJKN Perlu melakukan spoting terkait aset – aset yang akan dibebaskan. c. Meubleair dari PLBN perlu untuk dikelola agar tidak terduplikasi antar K/L.

d. Perlu penyiapan kelembagaan sebelum pelaksanaan operasional, dapat diadopsi pelayanan – pelayanan yang berjalan di bandara.

e. Kelengkapan sarana dan prasarana serta SDM di PLBN perlu dipetakan kebutuhannya.

2. Dirjen Bea Cukai – Kementerian Hukum dan Ham

a. Seharusnya di Entikong tidak ada penghapusan asset milik Bea Cukai.

b. Untuk tahun 2017 Bea Cukai sedang menunggu bagaimana pembagian pengadaan alat seperti yang ada di PLBN.

c. Peralatan yang akan diakomodir diarahkan ke peralatan yang sesuai dengan tugas dan fungsi petugas bea cukai.

d. Tidak ada program khusus yang akan dilaksanakan di PLBN karena Bea Cukai sudah mempunya program rutin di sana.

e. Jaringan intenet juga menjadi salah satu permasalahan di PLBN.

f. Sistem penempatan pegawai yaitu kantor induk dengan penggiliran penugasan. III.2 Hasil Pemantauan Kabupaten Merauke, Provinsi Papua

Kabupaten Merauke merupakan salah satu daerah yang masuk ke dalam Daerah Tertinggal, Kawasan Perbatasan (RI - PNG), Kawasan Pengembangan MIFEE dan Rencana Pengembangan KEK. Sementara itu dalam pendekatan wilayah Papua sendiri, Kabupaten Merauke berada di dalam wilayah adat Anim-Ha. Kabupaten Merauke memiliki potensi yang tinggi sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Komoditas yang menjadi potensi pengembangan adalah kelapa sawit, karet, tebu dan ubi jalar. Sektor pertanian dari Kabupaten Merauke masih membutuhkan adanya infrastruktur pengelolaan sumberdaya air untuk menunjang aktivitas pertanian dan perkebunan. Hal tersebut dikarenakan kondisi pemenuhan sumberdaya air pertanian dan perkebunan Merauke yang masih sangat bergantung pada air hujan. Sumber air permukaan memang terdapat di Sungai Maro, tetapi belum didukung dengan infrastruktur untuk mendistribusikan sumberdaya tersebut. Sementara itu sub sektor perikanan Kabupaten Merauke membutuhkan dukungan regulasi untuk pengembangan pabrik ikan ekspor agar dapat beroperasi secara optimal lagi. Selain dari sektor pertanian, potensi Kabupaten Merauke terdapat pada potensi pariwsata di Taman Nasional Wasur dan Distrik Sota. Identifikasi terhadap potensi Kabupaten Merauke dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut :

28

Sumber : Hasil Identifikasi tahun 2016

Tabel 3. 1 Potensi Ekonomi Kawasan Perbatasan Kabupaten Merauke

Potensi Ekonomi Keterangan

Pertanian ( padi, jagung, ubi kayau, ubi jalarm kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau)

Belum adanya regulasi atau peraturan daerah yang berpihak kepada pembinaan ekonomi masyarakat.

Perternakan (sapi, kerbau, kuda, kambing, babi, ayam, itik)

Potensi SDA belum dapat dinikmati masayarakat secara menyeluruh Perkebunan (Karet, lada,

jambu mente, buah-buahan)

Komoditas unggulan sektor pekebunan adalah Karet dengan jangkauan pemeasaranya hingga Surabaya dan memiliki 15 jenis tanaman buah

Parawisata Lokasi pilihan suaka margasatwa kumbe dan kawasan pelestarian budidayapeninggalan sejarah leluhur berupa tempat dan benda-benda

Perternakan (Sapi,

kambing, kuda, babi, ayam kampung, itik)

populasi ternak terdapat 740 ekor, terdiri dari 636 ekor sapi, kambing 19 ekor, kuda 90, dan babi 8 ekor. Dan untuk pertenakan unggas, ayam kampung sebanyak 4.649 ekor dan itik 274 ekor Pertanian ( padi, jagung,

ubi kayau, ubi jalarm kacang tanah, kacang kedela)

Lyas area panen terbesar untuk tanaman pangan berasal dari padi 84,5 Ha Produksi 3,5 ton/Ha; kacang kedele 39,75 Ha produksi 2 ton/Ha; kacang tanah 17,25 Ha produksi 2,5 ton/Ha

Perkebunan (Karet, kelapam dan pinang)

Luas panan kelapa 15 Ha, karet 188 Ha, dan pinang 2 Ha

Arah pengembangan potensi Kabupaten Merauke dalam RPJMN 2015 – 2019 adalah dengan pengembangan Merauke Integrated Food & Energy Estate (Mifee) dengan mengalokasikan 1,2 Ha lahan pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan Nasional. Lahan yang dialokasikan dibagi menjadi 10 klaster pengembagnan produksi pertanian. Sentra Produksi Pertanian memiliki empat klaster yang tersebar di Merauke, Kali Kumb, Yeinan dan Bian. Sesuai dengan arahan RPJMN 2015 – 2019 kluster tersebut diarahkan pada pengembangan tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perkebunan. Klaster lainnya (Okaba, Ilwayab, Tubang, dan Tabonji).

Infrastruktur menjadi salah satu kunci penting dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Merauke. Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Merauke didukung dengan adanya Proyek Strategis Nasional oleh pemerintah pusat, DAK, dan Dana Infrastruktur Khusus Papua. Alokasi pendanaan untuk pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan infrastruktur yang dapat menunjan ekonomi Kabupaten Merauke. Salah satu kebutuhan infrastruktur yang sangat urgent adalah infrastruktur kawasan perbatasan. Hal tersebut dikarenakan isu strategis di kawasan perbatasan yang sangat terisolasi sementara amanat RPJMN 2015 – 2019 adalah untuk menjadikan kawasan perbatasan sebagai halaman depan Negara. Oleh karena itu infrastruktur di kawasan perbatasan harus didukung dengan memperhatikan kebutuhan riil akan pelayanan dasar di kawasan perbatasan. Beberapa kebutuhan infrastruktur Kawasan Perbatasan Negara Kabupaten Merauke dapat dilihat pada tabel berikut:

29

Sumber : Hasil Identifikasi tahun 2016

Tabel 3. 2 Kebutuhan Infrastruktur Kawasan Perbatasan Kabupaten Merauke

Kebutuhan Infrastruktur Urgensi

Jalan Non Status Membuka wilayah yang terisolir dan menambah jalur perekonomian lintas batas

Air Bersih Kecamatan lokpri masih belum tersedia saluran PDAM dan hanya terdapat mata air, air sungai dan air hujan untuk kebutuhan air bersih Kesehatan Memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang mudah terjangkau

dengan mengambangkan dan membangun fasilitas kesehatan puskesmas kecamatan dan puskesmas pemantu di setiap desa Pendidikan Masyarakat masih belum memiliki fasilitas sekolah dan guru yang

layak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan nya.

Listrik Memanfaatkan air sungai yang tersedia disetiap lokpri untuk menyediakan listrik

Telekomunikasi Jaringan telekomunikasi hanya tersedia di ibukota kabupaten Kapal Kecil Mempermudah masyarakat mengakses kebutuhan ekonomi,

pelayanan dan sosial

Bandara Menunjang sarana prasarana fasilitas udara di lokpri

Sementara itu dalam pengembangan ekonomi wilayah diperlukan beberapa dukungan selain infrastruktur, yaitu :

1. Aspek Regulasi, yaitu:

a. Regulasi pengelolaan lintas batas

b. Regulasi Perdagangan lintas batas, Perjanjian kerjasama antara RI-Papua New guinea dalam pengembangan kawasan perbatasan negara

c. Regulasi untuk mengatur pemanfaatan tanah ulayat d. Regulasi penetapan Kawasan MIFEE sebagai KEK 2. Aspek Kelembagaan, yaitu:

a. Penciptaan iklim investasi yang kondusif di kawasan perbatasan

b. Pembagian kewenangan atau urusan antar jenjang pemerintah: pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam pengelolaan kawasan perbatasan

c. Kelembagaan pengelola perbatasan yang memiliki otoritas penuh untuk mengelola pos-pos lintas batas negara

d. Pengkhususan pemberian kewenangan bagi pemerintahan kecamatan di wilayah perbatasan (Lokpri) dalam bentuk desentralisasi asimetrik dengan penetapan

30 daerah khusus untuk akselerasi pembangunan dan efektivitas peningkatan kualitas pelayanan publik

Dokumen terkait