BAB II - PRODUKSI PENGETAHUAN DI KALANGAN PERGURUAN
A. Produksi melalui Dharma Pendidikan
4. Disertasi
Disertasi merupakan karya akademik yang menjadi salah satu prasyarat memperoleh gelar doktor. Disertasi yang ditulis oleh mahasiswa tingkat akhir pada program doktor, ditulis secara baku dan ilmiah, untuk tujuan memberikan sumbangan pemikiran baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.24 Karenanya, pendekatan yang digunakan dalam penulisan disertasi tidaklah menggunakan satu sudut pandang ilmu semata, melainkan menggunakan pendekatan multidisipliner25.
Pendekatan dalam suatu ilmu umumnya hanya terbagi dalam dua, yakni menggunakan pendekatan dengan suatu ilmu yang tunggal (monodisipliner) atau menggunakan pendekatan dengan beberapa sudut pandang ilmu (multidisipliner). Kajian-kajian yang dilakukan dalam disertasi tidak mungkin hanya dilakukan dengan pendekatan satu ilmu semata (mono), tetapi perlu melibatkan beberapa sudut pandang ilmu lain.
Karena hasil yang diharapkan adalah adanya kebaruan atau sumbangsih pada dunia keilmuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Pendekatan antar (lintas) ilmu/disiplin atau inter ilmu/disiplin dibutuhkan dalam disertasi guna menemukan gambaran komprehensif atau suatu permasalahan ilmiah yang sedang diteliti. Beberapa karakteristik pendekatan antar dan inter disiplin dibedakan menjadi empat, yaitu interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Pendekatan inter-disipliner (interdisciplinary approach) adalah suatu pendekatan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan tinjauan sudut pandang ilmu yang serumpun. Pendekatan multidisipliner (mulitidisciplinary approach) adalah suatu pendekatan untuk memecahkan masalah dengan
24 Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga, Pedoman Penulisan Disertasi (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2020), 1.
25 UIN Alauddin Makassar, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 4
menggunakan tinjauan sudut pandang banyak ilmu yang relevan.
Pendekatan transdisipliner (transdisciplinary approach) adalah suatu pendekatan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan tinjauan ilmu yang dikuasai dengan masalah yang berada di luar disiplin keilmuannya.26
Sebagaimana tesis, disertasi merupakan produk pengetahuan yang melengkapi tiga jenis produk pengetahuan lainnya, di atas. Secara proses, produksi disertasi jauh lebih mendalam dan mapan karena melibatkan beberapa disiplin ilmu. Disertasi ini menjadi salah satu kekuatan kampus dalam mengeksplorasi berbagai problem kekinian secara teoritik, merevisi teori dahulu, meramalkan kejadian-kejadian di masa mendatang, sert memberi solusi atas fenomena yang terjadi. Demikianlan empat jenis produk pengetahuan perguruan tinggi yang ditemukan dalam ranah dharma pendidikan.
Jika dicermati, ketiga bahan setengah jadi produk pengetahuan berupa skripsi, tesis dan disertasi di atas, memiliki karakter khusus. Karakter itu menyesuaikan dengan level kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI), yang menjadi acuan pengembangan pendidikan di perguruan tinggi. Terdapat sembilan level KKNI yang dikembangkan oleh pemerintah melalui peraturan presiden nomor 8 tahun 2012 (lihat Tabel 2.1). Posisi level KKNI jenjang strata satu berada di level 6, strata dua berada di level 8, dan strata tiga berada di level 9 (Gambar 2.1).
KKNI menjadi acuan dalam pengembangan pendidikan, karenanya KKNI ini dipedomani oleh para penyelenggara pendidikan dalam hal (1) menetapkan kualifikasi capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan formal, non formal, informal atau pengalaman kerja; (2) menetapkan skema pengakuan kualifikasi capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan formal, non formal, informal atau pengalaman
26 Setya Yuwana Sudikan, “Pendekatan interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner dalam studi sastra,” Paramasastra 2, 1 (2015), 4-5.
kerja; (3) menyetarakan kualifikasi di antara kualifikasi capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan formal, non formal, informal atau pengalaman kerja; dan (4) mengembangkan metode dan sistem pengakuan kualifikasi sumberdaya manusia dari negara lain yang akan bekerja di Indonesia.27
Gambar 2.1. Posisi Level KKNI Jenjang S1, S2, dan S328
Melihat pentingnya posisi KKNI dalam penyelenggaraan dan pengakuan terhadap proses belajar, baik secara formal, non formal, maupun informal atau melalui pengalaman kerja, negara menaruh harapan besar pada penyelenggara pendidikan tinggi untuk benar-benar mencapai apa yang telah ditetapkan dalam KKNI tersebut, sehingga level-level capaian sebagaimana tertuang dalam KKNI dapat tercapai secara optimal.
27 Lihat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (Indonesian Qualification Framework); Kajian tentang Implikasi dan Strategi Implementasi KKNI (Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, 2011), 8-9. Tersedia secara online di http://kkni.kemdikbud.go.id/asset/pdf/booklet_kkni-i.pdf diakses pada tanggal 10 Oktober 2021.
28 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, 10.
Tabel 2.1. Deskripsi Level 6 (S1), Level 8 (S2) dan Level 9 (S3) Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia
No 8 Tahun 2012.29
Level 6 (Sarjana) Level 8 (Magister) Level 9 (Doktor) 1. Mampu mengaplikasikan
Angka satu sebagaimana tabel 2.1 pada masing-masing level menunjukkan perbedaan yang berarti. Pada level 6 (sarjana) kemampuan
29 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Lihat juga Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, 25-6.
sarjana diindikasi dengan mengaplikasikan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, sedangkan pada level 8 (magister) ada tambahan kemampuan dalam mengembangkan pengetahuan melalui riset, hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji. Hal berbeda diamanatkan pada para doktor di level 9 yang harus mampu mengembangkan pengetahuan baru melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji.
Penekanan kebaruan di level doktor ini sejatinya adalah kemampuan mencipta dan berkontribusi pada bangunan ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni dengan menampilkan kebaruan (novelty) pada kajian dan penelitian yang ia lakukan. Jika mengikuti pernyataan ini, jelaslah bahwa karya akhir yang dihasilkan oleh mahasiswa jenjang S3 adalah karya yang memiliki kontribusi kebaruan bagi bangunan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Karenanya, karya-karya yang dihasilkan melalui penyusunan disertasi adalah karya yang cukup mapan, baik secara teori maupun metodologi.
Tabel 2.2. Rumusan Ketrampilan Umum bagi Lulusan Level 6 (S1), Level 8 (S2), dan Level 9 (S3) sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 202030
Sarjana Magister Doktor tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, 63-70
Sarjana Magister Doktor
Sarjana Magister Doktor
Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan rambu-rambu rumusan ketrampilan umum yang harus dimiliki oleh lulusan diploma satu, diploma dua, diploma tiga, diploma 4, sarjana, sarjana terapan, magister, magister terapan, doktor, doktor terapan, profesi, spesialis, dan subspesialis.31 Tabel 2.2 menjelaskan secara paralel rumusan ketrampilan umum yang harus dimiliki oleh sarjana, magister, dan doktor.
31 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, 59-76.
Baik skripsi, tesis, maupun disertasi memiliki persamaan bahwa ketiganya adalah karya tulis ilmiah, sehingga penyusunannya harus memenuhi kaidah ilmiah, baik redaksi maupun substansi. Ketiga karya ilmiah tersebut ditulis secara mandiri dan bukan kelompok oleh mahasiswa dan menjadi salah satu syarat mendapatkan gelar di masing-masing jenjang. Ketiga kara tersebut harus diuji dan dipublikasikan baik secara offline dan/atau online menyesuaikan ketentuan yang berlaku di level masing-masing.32 Disertasi sebagai bentuk produk pengetahuan di PTKI yang disyaratkan sebagai bagian dari memperoleh gelar doktor, memiliki unsur kebaruan dan didekati dengan interdisciplinary, multidisciplinary dan/atau transdisciplinary studies sebagaimana amanat KKNI.