• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA

2. Disiplin Kerja Pegawai Sebagai Variabel Terikat

2.1 Pengertian Disiplin

Berbicara masalah disiplin berkaitan dengan unsur perilaku, sikap dan tingkah laku seseorang. Untuk mengetahui pelaksanaan disiplin kerja yang dilaksanakan oleh pegawai, maka diperlukan arah dan landasan berpikir yang jelas dalam penelitian. Oleh karena itu, penulis mengambil beberapa konsep teori atau pendapat-pendapat yang telah dirumuskan oleh para ahli yang dianggap mempunyai relevansi dengan masalah penelitian sesuai dengan yang dikemukakan di bawah ini:

Kata disiplin berasal dari kata “disipel” yang berarti pengikut yang sungguh-sungguh dan yakin dengan ketekunan menyebarkan ajaran-ajaran pimpinannya. Disiplin tidak hanya diartikan tunduk kepada peraturan-peraturan dan ketentuan yang lazim dilaksanakan. Akan tetapi disiplin dapat mendorong manusia melaksanakan kegiatan-kegiatan secara sadar diyakini menfaatnya.

Secara umum disiplin dapat diartikan sebagai kepatuhan atau ketaatan terhadap segala peraturan atau ketentuan yang berlaku atau dapat juga diartikan sebagai kesungguhan dalam bertindak dan berperilaku.

Disiplin adalah sikap perorangan atau kelompok yang menjamin adanya kebutuhan terhadap perintah-perintah dan berinisiatif untuk melakukan suatu tindakan yang perlu seandainya tidak ada perintah.

Sedangkan menurut Mirriam S. Arif (2005:18), disiplin adalah ketaatan, kesungguhan, kekuatan, dan keterampilan sikap dan tingkah laku serta hormat pada segala ketentuan perjanjian, atau berdasarkan tawar-menawar, tertulis peraturan dan ketentuan hukum atau kebiasaan.

Dari kedua definisi di atas, maka dapat dijelaskan disiplin adalah suatu tingkah laku perorangan atau kelompok yang sesuai dengan peraturan-peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang menekankan pada kepatuhan dan inisiatif. Jadi disiplin timbul sebagai realisasi dari berbagai macam bentuk perjanjian yang menuntut kepatuhan, ketaatan, dan sebagainya. Disiplin juga dapat merupakan tiang utama yang menguatkan suatu instansi, akan tetapi dalam kenyataannyasangat sulit untuk menegakkan disiplin karena menyangkut aspek tingkah laku manusia, akan tetapi disiplin harus tetap ditegakkan dalam suatu instansi. Cara yang paling baik untuk menerapkan disiplin itu adalah dengan menumbuhkan suatu kesadaran dalam diri masing-masing orang.

Menurut Westra Pariatra (2006:131), disiplin adalah suatu keadaan tertib, dimana orang-orang yang tergabung dalam organisasi tunduk kepada peraturan yang telah ada dengan senang hati.

Dari pendapat diatas, dapat dikatakan bahwa disiplin merupakan sikap tertib seseorang yang menunjukkan kepatuhan atau ketaatan kepada peraturan ketentuan yang telah ada dengan senang hati dan tanpa paksaan. Untuk membentuk dan membina disiplin itu perlu adanya peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang dimaksudkan sebagai pedoman atau acuan dalam

bertindak, berperilaku, dan bersikap yang diharapkan dapat menjadi suatu kebiasaan atau sesuatu yang wajar dengan senang hati.

Menurut Soegoeng Prijodarminto (2004:23), disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Karena sudah menyatu dalam dirinya, maka sikap dan perbuatan yang dilakukan bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia berbuat selayaknya.

Menurut Alex Nitisemito (2002:199) bahwa :

a. Kedisiplinan merupakan suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan baik tertulis maupun tidak tertulis.

b. Disiplin waktu adalah suatu sikap kegiatan yang ditunjukkan oleh karyawan terhadap berbagai peraturan tentang jam masuk dan jam pulang kantor, serta pemanfaatan jam-jam kerja. Sedangkan disiplin tugas adalah suatu sikap ketaatan yang ditunjukkan oleh pegawai terhadap berbagai ketentuan yang berhubungan denga tugas, seperti memenuhi ketentuan dalam menyelesaikan tugas tepat pada waktu yang telah ditentukan oleh atasannya.

c. Disiplin tingkah laku adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh pegawai terhadap norma-norma yang berlaku baik di kantor maupun di luar kantor, terutama sekali dalam melayani masyarakat yang bergitu terlihat tata krama dan sopan santunya.

Lebih lanjut Liang Gie (2002:119) mengatakan bahwa disiplin merupakan suatau keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam organisasi tunduk pada peraturan – peraturan yang telah ada dengan senang hati.

Bagi pegawai negeri sipil, pelaksanaan kerja pegawai berarti mematuhi semua peraturan dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh instansi yang

bersangkutan, para pegawai yang taat dan patuh pada peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh kantor berarti pegawainya telah melaksanakan disiplin kerja yang telah ditetapkan tersebut. Semua pegawai kantor harus merupakan dan atau menjadi suri tauladan bagi masyarakat sekitarnya. Sebagai pegawai kantor yang baik tentunya harus menaati peraturan-peraturan yang sudah ditentukan dengan baik, pegawai tersebut dapat melaksanakan tata tertib yang berlaku pada kantor tersebut.

Disiplin adalah suatu tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari kantor baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan yang telh ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik apabila para pegawainya tidak memiliki disiplin kerja yang baik pula. Untuk itu perlu ditingkatkan disiplin kerja pada pegawai negeri sipil agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

2.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Disiplin

Dalam setiap organisasi atau instansi baik swasta maupun pemerintahan pada dasarnya mengharapkan pegawai-pegawai yang mempunyai disiplin yang tinggi dalam melaksanakan tugas-tugas kedinasan. Dengan kedisiplinan tersebut pegawai diharapkan dapat mempunyai kinerja yang baik, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Menurut Harahap, Sofyan Syarif (2003:39) dalam pembentukan disiplin pegawai perlu diperhatikan beberapa faktor, antara lain:

a. Kepemimpinan b. Pemberian motivasi c. Pendidikan dan latihan d. Kesejahteraan

e. Penegakan disiplin melalui hokum

Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dari pimpinan, dimana pimpinan harus ikut berperan aktif dalam membentuk disiplin bawahannya. Dalam hal ini, pimpinan melakukan pengawasan administratif di bidang kepegawaian (personal) dengan melakukan pemantauan secara personal terhadap bawahannya yang berkaitan dengan faktor-faktor tersebut, misalnya dengan memberikan motivasi yang tinggi terhadap bawahan, mengadakan pelatihan dan latihan, memperhatikan kesejahteraan pegawainya dan memberikan sanksi terhadap pegawai yang melanggar ketentuan yang berlaku. Semuanya itu merupakan suatu pengawasan dibidang kepegawaian agar pegawai memiliki disiplin kerja yang tinggi.

Selain kelima faktor-faktor penting dalam pembentukan disiplin tersebut diatas, ada faktor-faktor lain yang mendukung supaya disiplin kerja pegawai terwujud dalam suatu instansi formal pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban antara lain:

a. Sikap Keteladanan Pimpinan

Keteladanan seorang pimpinan akan membawa pengaruh sangat besar bagi organisasi khususnya dalam menegakkan kedisiplinan, karena seorang pimpinan merupakan panutan dari bawahannya. Apabila seorang pimpinan sudah memiliki disiplin yang tinggi, sudah barang tentu bawahan juga harus mengikuti sikap disiplin atasannya.

b. Tanggung Jawab Pimpinan Selaku Atasan

Pimpinan organisasi ataupun atasan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan disiplin kerja bawahannya dalam rangka melaksanakan tugas mencapai tujuan organisasi. Adapun tanggung

jawab pimpinan selaku atasan untuk meningkatkan disiplin kerja pegawai adalah sebagai berikut:

1. Penujukkan dan penempatan pegawai sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh pegawai tersebut.

2. Pemberian tanda jasa penghargaan atas jasa atau perbuatan terpuji yang dilakukan pegawai

3. Memberikan rangsangan kepada pegawai sehingga dapat menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan

4. Meningkatkan pengetahuan dan keahlian pegawai yang melakukan kelalaian sehingga meningkatkan kecakapan pegawai tersebut.

5. Menciptakan hubungan komunikatif yang dua arah sehingga tanggung jawab, rasa sungkan diantara pegawai tidak menjadi hambatan

c. Komunikasi yang Efektif diantara Pimpinan dengan Bawahan

Dalam proses pelaksanaan pekerjaan, hendaknya terjalin komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan, tidak hanya pimpinan yang selalu memberi perintah, tetapi seorang bawahan pun berhak untuk mengemukakan pendapatnya, sehingga pegawai tersebut merasa nyaman dan senang dalam melakukan pekerjaannya.

d. Penempatan Pegawai

Penempatan pegawai dalam suatu jabatan harus berdasarkan keahlian dan kecakapan yang dimiliki dan berdasarkan tingkat pendidikan, jangan sampai salah dalam menempatkan pegawai, hal ini dapat dilakukan melalui analisis jabatan dan uraian jabatan, sehingga didapat pegawai yang tepat dengan jabatan yang akan didudukinya.

2.3 Disiplin Bagi Pegawai Negeri

Disiplin kerja bagi aparatur pemerintah atau pegawai negeri merupakan sesuatu yang harus diperhatikan, karena dilihat dari kedudukannya pegawai negeri sebagai unsur aparatur Negara yang mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas Negara, Pemerintahan dan Pembangunan.

Pelaksanaan kerja pegawai bagi para Pegawai Negeri Sipil berarti mematuhi semua peraturan dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. Bagi para pegawai yang taat dan patuh pada peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh kantor berarti pegawainya telah melaksanakan disiplin kerja berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan. Semua pegawai kantor yang baik tentunya harus mentaati peraturan-peraturan dan melaksanakan tata tertib yang berlaku dan yang sudah ditentukan dengan baik.

Tata tertib yang sudah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintahan pada dasarnya bukan hanya untuk pelengkap sebuah kantor, tetapi sebagi bagian dari kehidupan pegawai kantor. Setiap pegawai yang telah terikat akan disiplin dan tata tertib di dalam melakukan pekerjaannya agar mencapai tujuan yang sudah direncanakan oleh pemerintah. Menurut Martono dalam Kusnadi (2007:16), pelaksanaan disiplin kerja pegawai yaitu:

1. Mentaati semua peraturan disiplin kerja pegawai

2. Melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan dengan baik 3. Menyadari akan tugas dan tanggung jawab masing-masing 4. Mentaati ketentuan jam kerja pegawai yang sudah ditetapkan

5. Dapat menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik 6. Meningkatkan ketelitian dan kerajinan kerja pegawai

Kedudukan Pegawai Negeri Sipil di dalam pemerintahan mengenai disiplin kerja pegawai juga diatur di dalam Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 yang isinya menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur Negara, abdi Negara dan abdi masyarakat yang penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, Undang-Undang Dsar 1945, Negara Pemerintah dan menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa secara umum disiplin bagi pegawai negeri adalah tidak semata-mata hanya mentaati tata tertib yang di buat di kantor tetapi juga harus mematuhi tata tertib yang telah di atur di dalam Pancasila, Undang-Undang dasar 1945, Negara dan Pemerintah.

2.4 Peraturan Disiplin Pegawai Negeri

Untuk membina pegawai negeri sipil yang demikian, maka diperlukan adanya peraturan disiplin yang memuat pokok-pokok kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati. Aturan tersebut diatas terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010, yaitu:

a. Peraturan Pemerintah Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil

1. Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang undangan dan/atau peraturan

kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.

2. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah PNS Pusat dan PNS Daerah.

3. Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang tidak menaati kewajiban dan/atau melanggar larangan ketentuan disiplin PNS, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. 4. Hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada PNS

karena melanggar peraturan disiplin PNS.

5. Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat, Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi, dan Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota adalah sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur wewenang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS.

6. Upaya administratif adalah prosedur yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan kepadanya berupa keberatan atau banding administratif.

7. Keberatan adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum.

8. Banding administratif adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS yang dijatuhkan oleh

pejabat yang berwenang menghukum, kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian.

b. Kewajiban Setiap PNS

1. Mengucapkan sumpah/janji PNS; 2. Mengucapkan sumpah/janji jabatan;

3. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah;

4. Menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan;

5. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian, kesadaran,dan tanggung jawab;

6. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS; 7. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,

seseorang, dan/atau golongan;

8. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan;

9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara;

10. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil;

11. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja; 12. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;

13. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-baiknya;

15. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;

16. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier;

17. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.

c. Larangan Setiap PNS :

1. Menyalahgunakan wewenang;

2. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain;

3. Tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lai dan/atau lembaga atau organisasi internasional;

4. Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya masyarakat asing;

5. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah;

6. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara;

7. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan;

8. Menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya;

10. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani;

11. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;

12. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

13. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden

14. Memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan Tanda Penduduk sesuai peraturan perundang-undangan

15. Memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah

Dengan telah diaturnya segala peraturan disiplin, kewajiban dan larangan di dalam Peraturan pemerintah maka sangat jelas bahwa kewajiban harus ditaati dan larangan tidak boleh dilanggar. Selain itu, Peraturan pemerintah tersebut juga mengatur tentang cara pemeriksaan, tata cara penjatuhan dan penyampaian hukuman disiplin, serta tata cara pengajuan keberatan apabila Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman disiplin itu merasa keberatan atas hukuman disiplin yang dijatuhkan kepadanya.

Tujuan dengan adanya hukuman disiplin adalah untuk memperbaiki dan mendidik Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, setiap pejabat yang berwenang menghukum seharusnya wajib memeriksa

terlebih dahulu dengan seksama kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin tersebut.

Hukuman disiplin yang diberikan haruslah setimpal dengan pelanggaran disiplin yang dilakukan, sehingga hukuman disiplin itu dapat diterima dengan rasa keadilan. Untuk tingkat dan jenis hukuman disiplin kerja PNS terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu :

1. Hukuman disiplin ringan, terdiri dari : a. Teguran lisan

b. Teguran tertulis

c. Pernyataan tidak puas secara tertulis 2. Hukuman didplin sedang terdiri dari :

a. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun b. Penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling

lama 1 (satu tahun)

c. Penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun 3. Hukuman disiplin berta terdiri dari :

a. Penurunan pangkat untuk pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun

b. Pembebasan dari jabatan

c. Pemberhentian dengan hormat atau permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil

F. Hipotesis

Dari permasalahan diatas, penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut : “Bagaimanakah Pengaruh Absensi Elektronik Hand Geometry terhadap Disiplin Kerja Pegawai Di Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara Medan”.

G. Definisi Konsep

Berdasarkan teori, pendapat, atau gagasan-gagasan seperti yang dikemukakan sebelumnya, penulis merumuskan konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut:

1. Hand Geometry adalah struktur geometri tangan seseorang. Struktur ini termasuk lebar jari tangan, lebar telapak tangan, ketebalan telapak tangan, panjang jari tangan dan lainnya.

2. Disiplin kerja pegawai adalah perwujudan sikap dan tindakan para pegawai yang sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku dalam rangka pelaksanaan tugas.

H. Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel bebas (X) Hand Geometry, dengan indikator sebagai berikut:

a) Kebutuhan Absensi Elektronik Hand Geometry untuk mencatat kehadiran pegawai

b) Kesesuaian Prosedur penggunaan Absensi Elektronik Hand Geometry c) Ketepatan fungsi Absensi Eletronik Hand Geometry

d) Ketelitian Absensi Elektronik Hand Geometry

e) Keunggulan perekaman data Absensi Elektronik Hand Geometry f) Keamanan Penggunaan Absensi Elektronik Hand Geometry

g) Kemudahan Penggunaan dan Pelaporan Absensi Elektronik Hand Geometry

2. Variabel terikat (Y) Disiplin Kerja Pegawai, dengan indikator sebagai berikut: a) Ketaatan dalam menjalankan semua peraturan disiplin kerja pegawai b) Pelaksanaan tugas – tugas yang dibebankan dengan baik

c) Kesadaran akan tugas dan tanggung jawab d) Ketaatan ketentuan jam kerja

e) Pemeliharaan suasana kerja yang baik f) Ketelitian dan kerajinan kerja pegawai g) Penggunaan barang – barang milik negara h) Pemberian pelayanan yang sebaik - baiknya

I. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, hipotesis, definisi konsep, definisi operasional, dan sistematika penulisan

BAB II : METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang bentuk penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik pengukuran data, dan teknik analisa data.

BAB III : GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Dalam bab ini dikemukakan tentang sejarah berdirinya organisasi, kedudukan dan tugas organisasi, struktur organisasi, tugas pokok dan uraian tugas dari organisasi.

BAB IV : PENYAJIAN DATA

Bab ini berisikan pembahasan secara mendalam tentang hasil-hasil penelitian, setelah data-data yang ada disajikan dan diverifikasi. Di sini pula diuji apakah terbukti atau tidak hipotesis.

BAB V : ANALISA DATA DAN INTERPRTASI DATA BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran yang membangun objek penelitian.

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

A. Bentuk Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis membahas masalah yang bersifat asosiatif yakni menghubungkan dua variabel yang bersifat timbal balik dan saling mempengaruhi.

Bentuk penelitian yang digunakan korelasional, yakni mencari hubungan antar variabel dengan pendekatan kuantitatif.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara Medan yang beralamatkan di Jalan TB. Simatupang No.124 Medan.

C. Populasi dan Sampel

Sebelum penelitian dilaksanakan, maka penulis harus menentukan terlebih dahulu populasi yang akan diteliti. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2001:57).

Peneliti meneliti pengaruh elektronik biometrik yang menggunakan hand geometric terhadap disiplin kerja pegawai yang dilaksanakan di Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara Medan. Berpedoman pada judul dan tujuan penelitian ini serta kerangka teori yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai yang ada di Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara Medan yaitu sebanyak 129 orang.

Menurut Hidayat (2002:2) sampel adalah kelompok kecil yang kita amati dan merupakan bagian dari populasi sehingga karakteristik populasi juga dimiliki oleh sampel.

Dengan berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto (2006:140) yang mengatakan bahwa jika populasi kurang dari 100 orang, maka jumlah sampelnya diambil keseluruhan tetapi jika populasinya lebih besar dari 100 orang maka bias diambil 10-15% atau 15-25% dari jumlah populasinya. Maka dalam penelitian ini penulis mengambil sampel 25% dari jumlah pegawai sebanyak 129 orang yaitu sebanyak 32 orang secara acak.

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data dan informasi, keterangan-keterangan atau fakta-fakta yang diperlukan, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Pengumpulan data primer, yaitu data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian

yang langsung terjun ke lokasi penelitian untuk mencari data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Penelitian data ini diperoleh dengan cara:

a. Kuesioner yaitu pengumpulan data dengan cara menyebarkan angket kepada objek penelitian

b. Observasi yaitu pengumpulan data dengan cara mengamati, mencatat gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian

2. Pengumpulan data sekunder yaitu kegiatan penelitian yang menelaah buku-buku

Dokumen terkait