BAB II : PENDIDIKAN KARAKTER DISIPLIN PADA SISWA
3. Disiplin
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “disiplin”
diartikan sebagai ketaatan kepada ketentuan atau tata tertib.17 Menurut Syamsul Kurniawan disiplin didefinisikan sebagai kondisi yang terbentuk dan tercipta melalui sebuah proses serta
15Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Strategi Membangun…, hlm.
33.
16Muclas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Surabaya: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 43.
17Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indoneia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 268.
11
rangkaian perilaku yang menunjukkan kepada nilai kepatuhan, ketaatan, keteraturan, kesetiaan serta ketertiban.18 Sedangkan menurut Agus Wibowo, disiplin adalah perilaku yang menampilkan sikap tertib serta patuh terhadap berbagai macam peraturan dan ketentuan.19
Senada dengan hal itu, Tulus Tu’u berpendapat mengenai arti disiplin sebagai bentuk kesadaran diri yang muncul dari dalam diri seseorang untuk mentaati dan mengikuti segala macam peraturan, nilai-nilai, dan hukum yang diberlakukan dalam sebuah lingkungan tertentu.20
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa disiplin merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap segala tata tertib atau aturan-aturan yang berlaku dan sudah menjadi ketetapan.
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian studi lapangan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini memiliki karakter permasalahan yang
18Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter: Konsepsi &
Implementasinya Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi, & Masyarakat, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm.
136.
19Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Strategi Membangun…, hlm.
43.
20Tulus Tu’u, Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, (Jakarta: PT Grasindo, 2004), hlm. viii.
12
berkaitan dengan latar belakang dan kondisi dari subjek yang diteliti serta hal-hal yang bersifat interaksi dengan lingkungan.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam memperoleh data, tempat yang dipilih dalam penelitian ini adalah di Madrasah Tsanawiyah Fathul Hidayah Pangean Maduran Lamongan. Kemudian waktu penelitian dilaksanakan selama 30 hari, yaitu dimulai dari tanggal 2 April - 1 Mei 2021.
3. Sumber Data
Sumber data merupakan subjek dari mana data itu diperoleh.
Sumber data dalam penelitian memiliki peran yang penting untuk mempertimbangkan dan menentukan metode penulisan data.21 Dalam hal ini data diperoleh dari dua sumber, yaitu data primer dan data sekunder.
a. Sumber data primer atau pokok yang dibutuhkan dalam penelitian ini berasal dari kepala sekolah, waka kurikulum, guru dan siswa.
b. Sumber data sekunder atau pelengkap dalam penelitian ini berasal informan lainnya, yaitu dari staf sekolah dan pendukung lain yang dibutuhkan.
4. Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada metode-metode yang diterapkan dalam pendidikan karakter disiplin pada siswa di MTs
21Etta Mamang Sangadji dan Sopiah, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dalam Penelitian, (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2010), hlm. 149.
13
Fathul Hidayah Maduran Lamongan serta faktor yang berpengaruh, pendukung dan penghambatnya.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini untuk pengumpulan datanya menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi merupakan suatu proses pengamatan dan pencatatan yang dilakukan secara sistematis mengenai gejala yang tampak dalam objek penelitian.22 Dalam hal ini peneliti turun langsung ke lokasi penelitian untuk melakukan pengamatan guna mendapatkan data yang diperlukan. Teknik ini digunakan peneliti untuk mengetahui secara langsung pendidikan karakter disiplin pada siswa di MTs Fathul Hidayah Pangean Maduran Lamongan.
b. Wawancara
Wawancara merupakan interaksi antara seseorang dengan lainnya dengan tujuan yang spesifik dalam pikirannya.23 Pada panalitian ini, peneliti melakukan wawancara kepada beberapa pihak terkait, yakni kepala sekolah, waka kurikulum, guru dan peserta didik untuk mendapatkan data mengenai pendidikan karakter disiplin pada siswa di MTs Fathul Hidayah Pangean Maduran Lamongan.
22Margono, Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Renika Cipta, 2007), hlm 158.
23Restu Kartiko Widi, Asas Metodologi Penelitian, (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2010), hlm. 241.
14 c. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode yang digunakan untuk penyelidikan terhadap benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, catatan harian, notulen rapat, dan lain sebagainya.24 Metode ini dilakukan untuk mencari data yang berupa catatan, transkip, buku dan sebagainya apabila dibutuhkan serta mengambil gambar atau foto terkait objek penelitian di lapangan sebagai dokumentasi penelitian.
6. Uji Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menguji keabsahan data menggunakan tringaluasi data. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini memliki arti pengecekan data yang diperoleh dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu. Dengan demikian, terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu.25
7. Teknik Analisis Data
Setelah melaksanakan proses pengumpulan data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan lainnya, proses selanjutnya yang dilakukan adalah analisis data. Analisis data merupakan proses penyusunan data supaya mampu untuk ditafsirkan. Penyusunan data berarti menggolongkan pola, tema,
24Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian…, hlm. 149.
25Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 273.
15
atau kategori. Analisis merupakan proses analisa dari data yang telah dikumpulkan peneliti melalui perangkat metodologi tertentu.26
Miles and Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung seecara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data diantaranya:
reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion).27
Dalam proses analisis data ini, langkah-langkah yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, serta dicari tema dan polanya.28 Jadi, setelah data mengenai penelitian terkumpul, maka data dipilih dan difokuskan pada pokok yang sekiranya dibutuhkan, serta membuang data yang tidak dibutuhkan sehingga data-data tersebut dapat disajikan dan mudah untuk dipahami.
26Rahmat Krianto, Teknis Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm 36.
27Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif…, hlm 246.
28Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif…, hlm 247.
16 b. Penyajian Data
Langkah kedua setelah data direduksi adalah penyajian data. dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan dalam memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.29 Data yang disajikan merupakan data yang diperoleh dari hasil reduksi data dimana data sudah dipilih dan sesuai dengan masalah penelitian, selanjutnya data tersebut disajikan.
c. Penarikan Kesimpulan
Setelah melakukan reduksi data dan penyajian data, langkah selanjutnya yaitu penarikan kesimpulan, dimana peneliti akan mengartikan data yang ditampilkan sesuai dengan pemahaman peneliti, didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten sehingga kesimpulan yang dihasilkan adalah kesimpulan yang kredibel.30 Setelah data disimpulkan terdapat hasil penelitian berupa temuan-temuan baru berupa deskripsi, sehingga permasalahan dalam penelitian menjadi lebih jelas.
29Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif…, hlm. 249.
30Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif..., hlm. 252.
17 G. Sistematika Pembahasan
Bab I berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II berisi landasan teori yang terkait dengan tema penelitian, diantaranya mengenai pengertian pendidikan, karakter, disiplin, pendidikan karakter disiplin, metode pembentukan karakter disiplin, indikator karakter disiplin, faktor yang mempengaruhi pendidikan karekter disiplin, tujuan disiplin siswa dan urgensi disiplin siswa.
Bab III berisi pembahasan dari pertanyaan penelitian yang pertama, yaitu mengenai metode-metode yang diterapkan dalam pendidikan karakter disiplin pada siswa.
Bab IV berisi pembahasan dari pertanyaan penelitian kedua, yaitu membahas tentang faktor-faktor yang berpengaruh serta pendukung dan penghambat pendidikan karakter disiplin pada siswa.
Bab V merupakan bab terakhir yang berisi tentang simpulan dan saran.
18 BAB II
PENDIDIKAN KARAKTER DISIPLIN PADA SISWA A. Pendidikan Karakter Disiplin
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut Fuad Ihsan didefinisikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.1 Sedangkan pendidikan menurut Nurani Soyomukti dimaknai segala sesuatu dalam kehidupan yang dapat mempengaruhi pembentukan berfikir dan bertindak individu.2
Dalam UU No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia.3
Dari pengertian pendidikan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembentukan kepribadian dan kemampuan anak agar tumbuh berkembang menjadi manusia
1H Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan: Komponen MKDK, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), hlm. 1-2.
2Nurani Soyomukti, Teori-Teori Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 29.
3UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Sinar Grafika, 2001), hlm. 1.
19
yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, dan berakhlak mulia sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat.
2. Pengertian Karakter
Kata “karakter” dalam bahasa Indonesia memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, tabiat, akhlak atau budi pekerti yang dapat membedakan manusia antara satu dengan lainnya. Seseorang yang memiliki karakter yaitu orang yang berperilaku, bersifat, berwatak, bertabiat dan berkepribadian serta dengan semua itu bisa membedakan setiap individu dengan individu lainnya.4 Menurut Suyanto, karakter adalah cara berpikir dan bertindak yang menjadikan ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.5
Sedangkan Muchlas Samani memaknai karakter sebagai nilai dasar yang membentuk pribadi seseorang, baik sebab pengaruh hereditas maupun dari lingkungan, sehingga bisa membedakan seseorang antara satu dengan yang lainnya, serta diwujudkan dalam perilaku dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari.6
Menurut Greik sebagaimana yang dikutip oleh Zubaedi, mendifinisikan karakter sebagai paduan dari semua tabiat
4Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 4.
5Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 33.
6Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Surabaya: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 43.
20
manusia yang bersifat tetap, sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan antara orang yang satu dengan lainnya.
Batasan ini memberi petunjuk bahwa karakter merupakan identitas yang dimiliki seseorang yang bersifat menetap dan menjadikannya berbeda dengan yang lain.7
Secara leksikal, karakter memiliki makna sebagai suatu sifat yang khas dan melekat pada diri sesuatu atau seseorang sehingga menjadikannya berbeda dengan yang lain. Dengan demikian, karakter adalah sesuatu yang menjadikan sesuatu atau seseorang itu khas, unik atau berbeda, baik membedakan maupun dibedakan.8
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, bisa memberikan kesimpulan dalam memaknai karakter. Karakter merupakan sifat-sifat, tabiat, akhlak, atau budi pekerti yang ada pada diri manusia yang terbentuk karena pengaruh hereditas maupun pengaruh dari lingkungan dan menjadi ciri khas seseorang sehingga bisa membedakan setiap individu dengan individu lainnya.
3. Pengertian Disiplin
Menurut Agus Wibowo, disiplin adalah perilaku yang menampilkan sikap tertib serta patuh terhadap berbagai macam
7Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 9.
8Mahfud Junaedi, Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media Group, 2019), hlm 207.
21
peraturan dan ketentuan.9 Sedangkan menurut pendapat lain sebagaimana yang dikemukakan Chaerul Rohman, disiplin didefinisikan sebagai suatu bentuk kepatuhan atau ketaatan terhadap seluruh ketentuan serta tatanan yang dijunjung tinggi oleh warga masyarakat.10
Senada dengan hal itu, Tulus Tu’u memaknai disiplin sebagai bentuk kesadaran diri yang muncul dari dalam diri seseorang untuk mentaati dan mengikuti segala macam peraturan, nilai-nilai, dan hukum yang diberlakukan dalam sebuah lingkungan tertentu.11
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa disiplin merupakan bentuk perilaku ketaatan, keteraturan, dan kepatuhan dari dalam diri seseorang terhadap segala tata tertib atau aturan-aturan berlaku yang sudah menjadi sebuah ketetapan di lingkungan tertentu.
Penerapan disiplin sangat dianjurkan oleh ajaran agama Islam kepada pemeluknya. Hal tersebut tercantum dalam firman Allah SWT dalam surat al-Nisa’ ayat 59 yang berbunyi:
ٰۤ يٰۤ أٰۤ ي
9Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Strategi…, hlm. 43.
10Chaerul Rochman dan Edi Warsidi, Membangun Disiplin dalam Mendidik, (Jakarta: CV. Putra Setia, 2011), hlm. 9.
11Tulus Tu’u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa, (Jakarta: PT Grasindo, 2004), hlm. viii.
22
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulul amri (pemimpin) di antara kamu… (Q.S.
yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya dan kepada orang-orang yang memegang” orang-orang yang memiliki
) ٰۤ مٰۤ ر ٰۤ لا
( “urusan”, yakni para penguasaٰۤ م) ٰۤ ك ٰۤ مٰۤ ن
( “ di antara kamu” apabila mereka menyuruhmu menaati Allah dan rasul-Nya.13Ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah SWT memerintahkan kepada semua manusia untuk taat dan patuh kepada-Nya, rasul-Nya dan para pemimpin. Kepatuhan dan ketaatan merupakan bagian dari nilai disiplin. Maka dari itu, secara tidak langsung sikap disiplin harus dilakukan oleh setiap manusia, hal ini sebagai bentuk dari sebuah ketaatan dan kepatuhan dari segala apa yang menjadi aturan dan ketetapan.
Selain terdapat di dalam al-Quran, penjelasan terkait berperilaku disiplin juga dijelaskan di dalam hadis Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi sebagai berikut:
12Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya, (Surabaya: CV. Duta Ilmu, 2009), hlm. 115.
13Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mahalli dan Al-Imam Jalalluddin Abdirrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Tafsir Jalalain terj. Najib Junaidi, (Surabaya: PT. Elba Fitrah Mandiri Sejahtera, 2015), hlm. 356.
23
Telah menceritakan kepada kami Musaddad: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Said dari Ubaidillah: Telah menceritakan kepadaku Nafi’, dari Abdullah r.a dari Nabi SAW, beliau bersabda: Mendengar dan taat kepada seorang (pemimpin) muslim berlaku dalam hal yang disukai dan tidak disukai, selama pemimpin itu tidak menyuruh melakukan kemaksiatan. Apabila dia menyuruh kemaksiatan maka tidak boleh didengar dan ditaati.
(HR. Bukhari).
Hadis terkait mendengar dan taat kepada imam selama bukan dalam kemaksiatan, Imam Bukhari mengaitkannya dengan kata
“imam” (pemimpin tertinggi) meski dalam hadis-hadis yang serupa terdapat perintah taat untuk setiap pemimpin walau bukan imam, karena letak perintah taat kepada pemimpin adalah hendaknya perintah itu datang dari imam (pemimpin). Bentuk ketaatan terhadapnya itu wajib baik dalam hal yang disukai ataupun sebaliknya selagi tidak memerintahkan dalam perbuatan kemaksiatan. Maka ketika seorang pemimpin tersebut memerintahkan kepada kemaksiatan maka haram untuk
14Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Baardizbah Ju’fi Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Riyadh: Baitut al-Ifkar al-Dauliyah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1998), hlm. 1363.
24
mengikutinya. Maksudnya, tidak wajib mendengar dan taat, bahkan haram bagi siapa yang mampu untuk melakukannya.15
Hadis di atas dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad saw.
menjelaskan perihal sikap ketaatan terhadap seorang pemimpin (muslim), walaupun pemimpin tersebut disukai atau tidak disukai. Selagi tidak menyuruh dalam kemaksiatan, maka ketaatan terhadapnya wajib dilakukan dan apa yang menjadi perintahnya harus dilaksanakan. Sedangkan apabila sebaliknya, pemimpin menyuruh kepada perbuatan kemaksiatan, maka jangan sesekali didengar maupun ditaati. Ketaatan adalah indikasi dari sikap disiplin. Maka dari itu, hadis di atas secara tidak langsung mengandung penjelasan mengenai perintah untuk berprilaku disiplin.