1. Prosedur Pencatatan Perkawinan Beda Agama di Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa prosedur atau tata cara pencatatan perkawinan beda agama di Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta adalah sebagai berikut :
a. Pemohon dengan membawa semua persyaratan permohonan pencatatan perkawinan beda agama datang ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta bagian Pencatatan Perkawinan.
b. Kepala Seksi Pencatatan Perkawinan memeriksa berkas permohonan untuk meneliti apakah sudah lengkap atau berlum.
c. Setelah berkas diterima dan dinyatakan lengkap, diatur jadwal pencatatan perkawinan dan ditemtukan tempat perncatatakan akan dilakukan.
d. Pencatatan dilakukan dengan dihadiri oleh kedua mempelai, dua orang saksi, kedua orang tua mempelai apabila usia calon suami/isteri belum mencapai 21 tahun dan 2 orang pejabat pencatat perkawinan.
e. Dalam waktu maksimal 14 hari dibuatkan kutipan akta perkawinan.
Suatu perkawinan dikatakan sah dan diakui oleh hukum Negara apabila perkawinan tersebut dilakukan secara sah secara hukum masing-masing agamanya dan dicatat oleh Petugas Pencatat Perkawinan.
Perkawinan menurut hukum masing-masing agamanya berdasarkan Pasal 2 ayat (1) adalah merupakan “peristiwa hukum”. Peristiwa hukum tidak dapat dianulir oleh adanya “peristiwa penting” yang ditentukan dalam Pasal 2 ayat (2), bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan Pasal 2. “Dengan perumusan pada Pasal 2 ayat (1) ini, tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, sesuai dengan UUD 1945. Yang dimaksud dengan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya aitu termasuk ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-undang ini”. Bagi orang Islam adalah hukum agama yang sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 1 UU No. 1 tahun 1974 jo Pasal 29 ayat (1) UUD 1945, sedangkan pencatatan perkawinan hanya sebagai kewajiban administrasi belaka.54
Jadi, jelas bahwa “pencatatan perkawinan” menurut UU No. 1 tahun 1974 adalah sebagai pencatatan “peristiwa penting”, bukan “peristiwa hukum”. Hal ini dapat dilihat lebih jelas lagi dalam Penjelasan Umum angka 4 huruf b UU Perkawinan: “dalam undang-undang ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akta yang juga dimuat dalam daftar pencatatan.
Menurut Bagir Manan dalam Neng Djubaidah, dalam memahami status hukum perkawinan antar orang Islam di Indonesia, harus diketahui terlebih dahulu asas legalitas yang mendasari keberlakuan Hukum Perkawinan bagi orang Islam di Indonesia. Asas legalitas berarti setiap perbuatan hukum harus atau wajib mempunyai dasar hukum tertentu yang telah ada sebelum perbuatan hukum itu dilakukan.55
54Ibid, hlm 214.
55 Ibid, hlm 215.
Suatu perbuatan hukum yang sah, menurut Bagir Manan, mengandung makna bahwa hubungan hukum dan akibat hukum menjadi sah pula. Dalam perbuatan hukum yang sah sehubungan dengan dilakukannya perkawinan yang sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan menunjukkan bahwa pasangan suami istri tersebut adalah sah, demikian pula dengan akibat hukum lainnya, misalnya terjadinya hubungan kekeluargaan yang berakibat timbulnya larangan perkawinan, dan juga terhadap harta kekayaan, maupun anak yang dilahirkan akibat perkawinan tersebut.
Bagir Manan selanjutnya mengemukakan bahwa perkawinan yang sah adalah perkawinan yang memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan, yaitu sah menurut agama, yang mempunyai akibat hukum yang sah pula.
Pencatatan perkawinan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat(2) UU Perkawinan, tidak menunjukkan kualifikasi sederajat yang bermakna sahnya perkainan menurut agama adalah sama dengan pencatatan perkawinan, sehingga yang satu dapat menganulir yang lain. Menurutnya, perkawinan menurut masing-masing agama (syarat-syarat agama) merupakan syarat tunggal sahnya suatu perkawinan, dengan alasan:
Pertama, Pasal 2 ayat (1) dengan tegas menyebutkan:”suatu perkawinan sah apabila dilakukan menurut masing-masing agama”. Suatu rumusan yang sangat jelas (plain meaning), sehingga tidak mungkin ditafsirkan, ditambah atau dikurangi”.
Kedua, ….penjelasan Pasal 2 ayat (2) menyebutkan:”Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran dan kematian.56
Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan, tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu pencatatan perkawinan sangatlah penting untuk diperhatikan, karena akan menjamin sahnya menurut hukum agama dan akan memperoleh kepastian serta perlindungan hukum.
56 Ibid, hlm 216
Pencatatan perkawinan dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) sebagaimana dimaksud pada UU No. 32 tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk. Sedangkan tata cara pencaatatannya berpedoman pada PP No. 9 tahun 1975, Pasal 10 ayat (3) menentukan bahwa:”perkawinan dilaksanakan di hadapan Pegawai Pencatat yang dihadiri oleh dua orang saksi”. Dan Pasal 11 ayat (1) dan ayat (3) dinyatakan bahwa sesaat sesudah perkawinan dilangsungkan, kedua mempelai menandatangai akta perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat tersebut.57
Dalam proses pencatatan perkawinan khususnya bagi umat Islam di Indonesia harus dihadiri dan disaksikan oleh petugas pencatat nikah (PPN) dari Kantor Urusan Agama, maka hal tersebut berbeda dengan proses pencatatan perkawinan beda agama di kantor catatan Sipil kota Surakarta. Karena proses pencatatan perkawinan beda agama di Kantor Catatan Sipil Petugas Pencatat Perkawinan hanya berwenang untuk mencatatkan perkawinan tesebut tanpa menghadiri atau mengetahui apakah pasangan tersebut sudah melangsungkan akad nikah secara hukum agama atau tidak. Asalkan kedua mempelai sudah mempunyai surat penetapan dari Pengadilan Negeri maka perkawinan tersebut bisa dicatatkan. Sehingga apabila perkawinan beda agama tersebut belum mendapatkan penetapan dari Pengadilan Negeri maka perkawinan tersebut tidak bisa dicatatkan di Kantor Catatan Sipil.
Berdasarkan prosedur yang telah dilakukan dalam pencatatan perkawinan beda agama tersebut menunjukkan bahwa pegawai pencatat perkawinan tidak menyaksikan berlangsungnya perkawinan sebagaimana disyaratkan dalam UU Perkawinan dan PP No. 9 tahun 1975 yaitu bahwa perkawinan dilangsungkan di depan pegawai pencatat perkawinan. Petugas pencatat perkawinan hanya mencatatkan perkawinan beda agama setelah mendapatkan penetapan dari Pengadilan Negeri bahwa permohonan perkawinan bed agama dari kedua calon mempelai dikabulkan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya perkawinan antara kedua calon mempelai belum berlangsung atau sudah pegawai pencatat tidak
57 H.M. Anshary, Hukum Perkawinan di Indonesia, Masalah-masalah Krusial, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm 19-20.
menyaksikan secara langsung. Padahal untuk dapat sahnya perkawinan berdasarkan UU Perkawinan Pasal 2 ayat (1) harus dilaksanakan sesuai dengan hukum agama dan kepercayaannya masing-masing, barulah perkawinan dapat dicatatkan.
2. Implikasi Yuridis UU Admindo terhadap Legalitas Perkawinan Beda Agama
Menurut ketentuan UU Administrasi Kependudukan Pasal 35 menentukan bahwa: “Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 berlaku pula bagi:
a. perkawinan yang ditetapkan oleh Pengadilan; dan
b. perkawinan Warga Negara Asing yang dilakukan di Indonesia atas permintaan Warga Negara Asing yang bersangkutan.”
Kemudian dalam penjelasan Pasal 35 huruf a dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Perkawinan yang ditetapkan oleh Pengadilan” adalah perkawinan yang dilakukan antarumat yang berbeda agama”.
Dari ketentuan tersebut maka Pegawai Pencatat Perkawinan di Kantor Catatan Sipil mempunyai kewenangan untuk mencatatkan perkawinan beda agama setelah mendapatkan penetapan dari Pengadilan. Pencatatan yang dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan merupakan tindakan adminstrasi negara. Dalam hal ini merupakan bagian dari ketetapan Tata Usaha Negara.
Berdasarkan Pasal 1 angka 3 UU No. 5 tahun 1986, ketetapan didefinisikan sebagai, ”suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata”.
Berdasarkan definisi di atas tampak bahwa KTUN memiliki unsur-unsur antara lain:58
g. Penetapan tertulis;
58 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2006) , hlm 150-162
h. Dikeluarkan oleh Badan/pejabat TUN;
i. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
j. Bersifat konkret, individual dan final;
k. Menimbulkan akibat hukum;
l. Seseorang atau badan hukum perdata.
Penetapan tertulis yang dilakukan oleh petugas pencatat perkawinan merupakan penetapan tertulis yaitu dengan dikeluarkannya akta perkawinan yang merupakan akta otentik. Akta tersebut dikeluarkan oleh badan/pejabat tata usaha negara yaitu pejabat/petugas pencatat perkawinan.
Dasar yang digunakan untuk mengeluarkan akta tersebut hanya mengacu kepada UU Administrasi Kependudukan tanpa memperhatikan peraturan perundang-undangan yang lain yang justru lebih spesifik mengatur mengenai perkawinan dan pencatatannya, yaitu UU Perkawinan dan PP No. 9 Tahun 1975.
Penetapan tersebut bersifat konkret, yaitu ketetapan tersebut dituangkan dalam bentuk akta perkawinan, individual artinya ditujukan kepada para pemohon saja yaitu calon suami dan calon isteri dan bersifat final artinya sudah limitative sehingga dengan dikeluarkannya akta perkawinan tersebut perkawinan beda agama menjadi sah secara hukum negara karena telah tercatat.
Tindakan yang dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan menimbulkan akibat hukum bagi para pihak, akibat hukum yang dimaksud adalah dengan dicatatnya perkawinan yang dilakukan oleh kedua mempelai, maka perkawinan mereka menjadi sah secara hukum negara sehingga menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing suami dan isteri serta akibat hukum lainnya dalam lapanga hukum keluarga, meskipun proses perkawinan yang dilakukan tidak sah secara hukum agama.
Sebagaimana yang disyaratkan dalam UU Perkawinan Pasal 2 ayat (1), perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu. Mengingat sahnya perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaanya maka perkawinan beda agama seharusnya dilakukan oleh dua agama yang berbeda. Apabila mempelai beragama Islam dan Nasrani, semestinya perkawinan dilakukan menurut hukum
Agama Islam dan Hukum Agama Nasrani. Akan tetapi Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 40 huruf c dan Pasal 44 secara eksplisit mengatur tentang larangan perkawinan antara laki-laki muslim dengan wanita non-muslim dan wanita muslim dengan laki-laki non-muslim.
Keputusan Fatwa MUI Nomor : 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 Tentang Perkawinan Beda Agama59 Menetapkan : Fatwa Tentang Perkawinan Beda Agama:
3) Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah.
4) Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah.
Dalam agama Kristen (Protestan) perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan. Alasan apapun yang mendasarinya, dalam agama ini perkawinan beda agama dilarang. 60
Pada prinsipnya agama Protestan menghendaki agar penganutnya kawin dengan orang yang seagama, karena tujuan utama perkawinan untuk mencapai kebahagiaan sehingga akan sulit tercapai kalau suami istri tidak seiman.
Dalam hal terjadi perkawinan antara seseorang yang beragama Protestan dengan pihak yang menganut agama lain, menurut Pdt. Dr. Fridolin Ukur maka:
mereka dianjurkan untuk menikah secara sipil di mana kedua belah pihak tetap menganut agama masing-masing. Kepada mereka diadakan pengembalaan khusus.
Pada umumnya gereja tidak memberkati perkawinan mereka.
Ada gereja-gereja tertentu yang memberkati perkawinan campur ini beda agama ini, setelah pihak yang bukan protestan membuat pernyataan bahwa ia bersedia ikut agama Protestan. Keterbukaan ini dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa pasangan yang tidak seiman itu dikuduskan oleh suami atau isteri yang beriman. Ada pula gereja tertentu yang bukan hanya tidak memberkati, malah anggota gereja yang kawin dengan orang yang tidak seagama itu dikeluarkan dari
59 http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=135, diakses 30 Juli 2013
60 www.vhrmedia.com/peernikahan-beda-agama-konsultasi420.html, diakses tanggal 28 Juli 2013
gereja. 61 Dengan demikian bagaimana perkawinan mereka dapat sah apabila menurut agama mereka masing-masing tidak dapat dilakukan. Sehingga pencatatan perkawinan yang dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan menurut ketetapan TUN menjadi tidak sah. Hal ini disebabkan karena tidak memenuhi syarat materiel ketetapan TUN.
Syarat-syarat material ketetapan tata usaha negara adalah sebagai berikut62 :
e) Organ pemerintahan yang membuat ketetapan harus berwenang;
Agar suatu keputusan dinyatakan sebgai keputusan yang sah, keputusan tersebut harus dibuat oleh orang atau organ atau badan atau pejabat yang berwenang membuatnya.63
Menurut Pasal 53 ayat (2) UU No. 5 tahun 1986, apabila suatu keputusan ternyata dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang tidak berwenang, maka keputusan tersebut dapat dinyatakan sebagai keputusan yang “bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Perbuatan dan penerbitan ketetapan harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku atau harus didasarkan pada wewenang pemerintahan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. Tanpa dasar kewenangan, pemerintah atau tata usaha negara tidak dapat membuat dan menerbitkan ketetapan atau ketetapan itu menjadi tidak sah.
Penerbitan akta perkawinan beda agama oleh Kantor Catatan Sipil kota Surakarta didasarkan pada Pasal 34 dan 35 huruf a UU Administrasi Kependudukan. Artinya pejabat administrasi negara tersebut mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan ketetapan.
f) Karena ketetapan itu suatu pernyataan kehendak, ketetapan tidak boleh mengandung kekurangan-kekurangan yuridis, seperti penipuan, paksaan atau suap, dan kesesatan;
61 http://zaldym.wordpress.com/2008/07/15/perkawinan-beda-agama-dalam-perspektif-agama-agama/, diakses tanggal 2 September 2013
62 Ridwan HR, Hukum Administrasi ………. , hlm 169
63 S.F. Marbun, Hukum Administrasi Negara I (Yogjakarta: H UII Press, 2012), hlm 193
Keputusan yang dikeluarkan yang mengandung unsur-unsur penipuan, paksaan, sogokan, kesesatan atau kekeliruan (khilaf) dapat berakibat “batal atau dibatalkan”.64
Dalam hal ini ketetapan yang dikeluarkan oleh pejabat pencatat perkawinan tidak mengandung unsur-unsur penipuan, paksaan atau sogokan.
Akan tetapi untuk unsur kesesatan atau kekeliruan (kekhilafan) terdapat dalam hal penerbitan akta perkawinan beda agama seyogyanya tetap mengacu kepada UU Perkawinan dan PP No. 9 Tahun 1975 yang menentukan bahwa untuk dapat dicatatkan perkawinan tersebut harus sah secara agama, dan pencatatan dilakukan pada saat dilangsungkannya perkawinan di hadapan pegawai pencatat perkawinan. Pegawai pencatat perkawinan tidak mengindahkan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan. Pegawai pencatat hanya mengacu pada UU Admindo dimana pencatatan dapat dilakukan setelah ada penetapan dari pengadilan.
g) Ketetapan harus berdasarkan suatu keadaan tertentu; dalam hal ini keadaan yang dimaksud adalah permohonan untuk mencatatkan perkawinan beda agama.
h) Ketetapan harus dapat dilaksanakan dan tanpa melanggar peraturan-peraturan lain, serta isi tujuan ketetapan itu harus sesuai dengan isi tujuan peraturan dasarnya.
Suatu keputusan harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya serta harus langsung terarah pada sasaran yang menjadi tujuannya, sehingga benar-benar cermat dan efisien. Apabila suatu keputusan dirumuskan tidak sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya, maka keputusan demikian dapat dinyatakan sebagai keputusan yang mengandung unsur de tournament de pouvoir.65
Dalam hal ini ketetapan TUN yang dikeluarkan oleh pegawai pencatat perkawinan telah melanggar ketentuan UU Perkawinan khususnya Pasal 2 ayat (1) di mana perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
64 Ibid, hlm 196
65 Ibid, hlm 196-197
masing-masing agamanya dan kepercayaanya dan PP No. 9 tahun 1975.
Pencatatan baru dapat dilakukan apabila perkawinan yang dilakukan telah sah menurut hukum agamanya. Dan pelanggaran yang dilakukan terhadap PP No.
9 tahun 1975 adalah Pasal 10 ayat (3) menyatakan bahwa dengan mengindahkan tata cara perkawinan menurut masing-masing agamnya dan kepercayaanya itu, perkawinan dilakukan di hadapan Pegawai Pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi. Pegawai pencatat perkawinan hanya mencatatakan perkawinan beda agama berdasar penetapan pengadilan, padahal di pengadilan juga belum dilangsungkan perkawinan antara kedua calon mempelai. Pengadilan bukan merupakan lembaga yang mempunyai kewenangan untuk melangsungkan perkawinan, hanya memberikan penetapan permohonan perkawinan beda agama. Jadi para calon mempelai tetap harus melangsungkan perkawinan beda agama sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing-masing sebagaimana yang telah ditentukan di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan.
Dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugas, pemerintah harus tunduk pada asas legalitas. Esensi asas legalitas adalah wewenang yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu. Wewenang adalah keseluruhan aturan yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan wewenang-wewenang pemerintahan oleh subyek hukum publik di dalam hubungan hukum publik.
Mekanisme atau prosedur pencatatan perkawinan yang telah dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kota Surakarta mengenai perkawinan beda agama merupakan tindakan administrasi belaka. Artinya bahwa perkawinan merupakan suatu perbuatan hukum dan pencatatan merupakan perbuatan administrasi. Namun demikian suatu perbuatan adiministrasi yang menghasilkan suatu akta perkawinan yang merupakan akta otentik seharusnya menjamin adanya kepastian huku. Kepastian hukum yang dimaksud adalah adanya jaminan bahwa perkawinan yang dilakukan telah sah dan dapat dibutktikan dengan akta otentik. Akan tetapi pada kenyataanya tindakan administrasi yang dilakukan tidak menjamin adanya kepastian hukum, karena
tidak didasarkan atas perbuatan hukum yaitu perkawinan beda agama yang telah dilangsungkan oleh masing-masing agama dan baru dinyatakan sah.
Penerbitan akta perkawinan beda agama hanya didasarkan pada ketentuan UU Administrasi Kependudukan yaitu Pasal 34 dan Pasal 35 huruf a, dimana pencatatan sipil diberikan kewenangan untuk mencatatkan perkawinan beda agama yang telah ditetapkan oleh pengadilan negeri. Padahal untuk mencatatkan perkawinan ada ketentuan khusus yang mengaturnya yaitu PP No. 9 tahun 1975 khususnya di Pasal 10 ayat (3), di samping harus memenuhi pula keabsahannya di dalam UU Perkawinan khusunya Pasal 2 ayat (1). Dengan demikian ketentuan di dalam UU Administrasi Kependudukan, khususnya mengenai pencatatan perkawinan menjadi tidak sinkron dengan PP No. 9 tahun 1975.
Apabila syarat material dan syarat formal ini telah terpenuhi, ketetapan itu sah menurut hukum. Sebaliknya, apabila satu atau beberapa persyaratan tidak dipenuhi, ketetapan itu mengandung kekurangan dan menjadi tidak sah atau batal demi hukum. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencatatan perkawinan yang dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan di Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta menjadi tidak sah atau batal demi hukum.
Meskipun suatu ketetapan itu dianggap sah dan akan menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata, ketetapan yang sah itu tidak dengan sendirinya berlaku karena untuk berlakunya suatu ketetapan harus memperhatikan tiga hal sebagai berikut: 66
a. Jika berdasarkan peraturan dasarnya terhadap ketetapan itu tidak memberi kemungkinan mengajukan permohonan banding bagi yang dikenai ketetapan, ketetapan itu mulai berlaku sejak saat diterbitkan.
b. Jika berdasarkan peraturan dasarnya terdapat kemungkinan untuk mengajukan banding terhadap ketetapan yang bersangkutan, keberlakuan ketetapan itu tergantung dari proses banding itu.
c. Jika ketetapan itu memerlukan pengesahan dari organ atau instansi pemerintahan yang lebih tinggi, ketetapan itu mulai berlaku setelah mendapatkan pengesahan.
66 Ibid, hlm 171-173
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini. Simpulan tersebut antara lain:
1. Prosedur atau mekanisme pencatatan perkawinan beda agama yang dilakukan oleh Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta belum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Meskipun UU No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan memberikan kewenangan kepada Kantor Catatan Sipil untuk mencatatkan perkawinan beda agama yang telah mendapatkan penetapan dari Pengadilan Negeri, akan tetapi prosedur pencatatan perkawinan harus tetap mengacu kepada UU Perkawinan dan PP No. 9 tahun 1975, bahwa pencatatan perkawinan harus dilakukan di depan pegawai pencatat perkawinan.
2. Menurut ajaran hukum administrasi negara, dalam penerbitan akta perkawinan dalam hal ini merupakan Ketatapan Tata Usaha Negara, sehingga untuk dapat menerbitkan ketetapan TUN harus memenuhi syarat materiel maupun formil. Akta perkawinan yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta tidak memenuhi syarat materiel karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yaitu UU Perkawinan dan PP Np. 9 tahun 1975.
B. SARAN DAN REKOMENDASI Saran-Saran
1. Para pihak yang akan melakukan perkawinan untuk memikirkan kembali tentang sahnya perkawina yang didasarkan pada hukum agama.
2. Untuk dapat dicatatakan, seharusnya pegawai pencatat perkawinan memperhatikan apakah telah dilangsungkaannya perkawinan antara kedua mempelai.
Rekomendasi
1. Seyogyanya setiap penerbitan peraturan perundang-undangan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang lain sehingga tidak saling tumpang tindih.
2. Agar tidak menimbulkan penafsiran yang ganda, kalau memang perkawinan beda agama tidak dilarang oleh hukum di Indonesia, semestinya pemerintah dan DPR segera merevisi UU Perkawinan mengenai sah tidaknya perkawinan dan kewajiban pencatatan perkawinan.
DAFTAR PUSTAKA
Djubaidah, Neng, Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan tidak Dicatat menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2012.
Flora Lamandasa, Raimond, Perkawinan Beda Agama Di Indonesia
http://www.scrtd.com/Raimond%20flon%20lamandasa,%20my%20publised%20fi les, diakses tanggal 13 Februari 2013
Hadikusumo, Hilman, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan Hukum Adat dan Hukum Agama, Bandung: Mandar Maju, 1990.
HR, Ridwan , Hukum Administrasi Negara , Jakarta: PT Grafindo Persada, 2006.
Ibrahim, Johnny, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang:
Bayumedia Publising, 2006.
Mahmud Marzuki, Peter, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana prenada Media group, 2008.
Manan, H. Abdul, Aneka Masalah Hukum perdata Islam di Indonesia, Prenada Media Group, Jakarta, 2008.
Marbun, S.F, Hukum Administrasi Negara I, Yogjakarta: H UII Press, 2012 MK, Anshary, Hukum Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2010.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: Rajawali Press, 1990.
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
Syahrani, Riduan, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Bandung: Alumni, 1992.
Trisnaningsih, Mudiarti, Relevansi Kepastian Hukum dalam Mengatur Perkawinan Beda Agama di Indonesia, CV Utomo, Bandung, 2007.
Wignyosoebroto, Soetandyo, Ragam-ragam Penelitian Hukum dalam Metode Penelitan Hukum, Konstelasi dan Refleksi, editor. Sulistyowati Irianto dan Shidarta, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009.