• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PENERAPAN LIFE SKILL EDUCATION DALAM AKTIFITAS SANTRI

LAND ASAN TEORI

B. Diskripsi Pesantren 1. Pengertian Pesantren

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Sesuatu yang unik pada dunia pesantren akan begitu banyak memberikan variasi antara satu pesantren dengan pesantren yang lainnya.

Pesantren sejak lahirnya merupakan institusi yang berbasis pada ajaran- ajaran istilah, terutama untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, pesantren itu sendiri muncul di Indonesia sudah beberapa abad yang lalu. Kemunculan pesantren ini tidak ada yang valid, untuk dijadikan patokan dan referensi tentang

kapan munculnya pesantren atau pesantren apa yang pertama kali muncul dan dikenal di bumi Nusantara ini. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi pengakuan para pakar dan tokoh tentang keberadaan pesantren dan peran yang dimainkan sejak kemunculan pesantren bersamaan dengan kedatangan Islam di Indonesia pada abad ke 7 Masehi dan pada tahun 674 Masehi sudah ada pemukiman orang- orang Arab di pantai barat Sumatera.

Pengertian dasar dari pesantren adalah tempat belajar para santri untuk mengaji berbagai masalah keagamaan, sosial kemasyarakatan dan sebagainya. Pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe- di depan dan akhiran -an yang menunjukkan tempat tinggal para santri.33 Pendapat lain mengatakan bahwa tempat tinggal santri merupakan gabungan dari kata sant yang berarti manusia baik dan suku kata tra yang berarti suka menolong sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik.34 Dalam pandangan Nurcholis Masjid asal kata santri dapat dilihat dari dua pendapat.35 Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri ” berasal dari perkataan santri, sebuah kata dari sansekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini didasarkan atas kaum santri adalah kelas Literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami dan memahami agama melalui kitab-kitab bertuliskan dan berbahasa Arab, hal ini diasumsikan bahwa menjadi seorang santri juga menjadi tahu agama (melalui kitab-kitab tersebut). Atau paling tidak seorang santri bisa baca Al Qur’an yang dengan sendirinya membawa pada sikap lebih serius dalam memandang agama.

33 Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesatren, Jakarta, 1994, him. 1 7 -1 8

34 Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Gema Insani Press, Jakarta 1997, him. 70 35 Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren, Paramadina, Jakarta 1997, him. 1 9 -2 0

22

Kedua, adalah pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, persisnya dari kata “cantrik ” artinya seseorang yang selalu mengikuti seorang guru ke mana ia menetapkan. Kata santri ini ada yang berpendapat berasal dari bahasa tamil yang berarti guru mengaji dan juga mengatakan berasal dari bahasa India Shastri yang artinya buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.36

Pendirian pesantren pada umumnya dipelopori oleh seorang kiai yang memiliki pengetahuan serta keinginan kokoh dalam penyebaran agama Islam. Pada awalnya mereka hanya mengajar beberapa murid saja dalam tempat tertentu (surau atau masjid) setelah ada pengakuan dari masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmunya maka lama kelamaan banyak masyarakat yang menuntut ilmu padanya dan merekapun diangkat sebagai guru (kiai). Kiai inilah yang akan memegang segala urusan yang ada di pesantren dan ia sekaligus bertindak sebagai pengasuh. Keberadaan pesantren ini sangat tergantung pada pengasuh sebagai elemen yang paling esensial dan pemegang otoritas di pesantren. Karena itu, segala arah taktik, strategi, sistem dan organisasi pendidikan dalam pesantren sangat dipengaruhi oleh pengasuh.36 37

Keberadaan pesantren juga sangat dipengaruhi oleh budaya-budaya asli Indonesia. Karena kemunculan pesantren berada di tengah-tengah berkembangnya tradisi-tradisi Hindu Budha yang telah lama ada sebelum

36 Zamaksyari Dhofier, Op-Cit, him 18

datangnya Islam di Indonesia.38 Lembaga-lembaga yang sejenis dengan pesantren ini sejak masa Hindu Budha sebenarnya sudah ada. Sehingga pesantren ini tidak terlalu sulit dalam perkembangannya yaitu tinggal melanjutkan sistem yang sudah ada disertai dengan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalamnya. Dari hal tersebut Nurchalis Masjid berpendapat bahwa pesantren dari segi historis tidak hanya identik dengan masa keislaman tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia.39

Pondok pesantren memiliki peran yang sangat besar pada perubahan masyarakat serta lebih memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat pada masyarakat sebagai sebuah lembaga pendidikan, lembaga penyiaran ilmu- ilmu agama serta lembaga yang bergerak di bidang sosial keagamaan. Selain itu, pesantren memiliki peran strategis sebagai pengembang pendidikan serta pengembang sosial ekonomi masyarakat. Dan tidak kalah pentingnya yaitu pesantren memberikan bekal keterampilan hidup pada santrinya agar mereka memiliki kecakapan atau keahlian keterampilan tertentu sebagai bekal dalam hidup di masyarakat.

2. Ciri-Ciri Umum Pesantren

Secara umum keberadaan pesantren didukung oleh lima elemen dasar yang mana kelima elemen ini saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Adapun elemen-elemen itu adalah pondok, masjid, santri, kiai dan pengajaran kitab-kitab klasik. Kemudian untuk menjelaskan lebih lanjut bagaimana potret pesantren, satu persatu elemen- elemen tersebut akan penulis bahas dalam paragraf berikut:

38 Nurcholis Madjid, hhn. 2 39 Nurcholis Madjid, him. 3

24

a. Kiai

Kiai merupakan cendikiawan agama (ulama) yang merupakan elemen paling esensial dalam pesantren. Elemen ini tidak dapat dipisahkan dari eksistensinya pondok pesantren karena lazimnya pesantren muncul dimulai dari pesan kian. Posisinya sangat menentukan ke mana arah perjalanan pesantren (kebijakan dan orientasi program) ditentukan oleh kiai. Sebagai salah satu unsur yang dominan dalam kehidupan sebuah pesantren kiai mengatur irama perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren dengan keahlian, kedalaman ilmu, kharismatik dan keterampilannya.40

Kewibawaan dan kedalaman ilmu kiai adalah modal utama bagi keberlangsungan semua wewenang yang dijalankan. Ia dikenal sebagai tokoh kunci yang terpenting, kata-kata dan keputusan yang dikeluarkan oleh kiai (Fatwa kiai) dipegang teguh oleh para santri. Dapat juga dikatakan sebagai tokoh non formal, segala perlakuannya akan dijadikan sebagai suri tauladan (uswatun khasanah) tidak hanya bagi santri tetapi juga untuk seluruh komunikasi di sekitar pesantren.

Dalam hal ini kiai berperan sebagai pemimpin masyarakat, pengasuh pesantren dan sekaligus sebagai ulama. Dalam masyarakat Jawa kepemimpinan sangatlah dominan, perkataan kiai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda :

1) Sebagai gelar kehormatan bagi orang-orang yang dianggap keramat 2) Gelar kehormatan orang-orang tua pada umumnya

3) Gelar diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam atau pemimpin pesantren dan mengajar kitab klasik pada santrinya.41

Dalam sektor sosial kehidupan di masyarakat seorang kiai menempati kedudukan yang terhormat serta memiliki pengaruh yang sangat kuat. Sehingga segala macam kesalahan yang timbul selalu kedepankan dalam mengatasi masalah. Peran kiai sangat fenomenal dan siginifikan dalam keberlangsungan atau eksistensi sebuah pesantren sehingga keberadaannya laksana jantung bagi kehidupan manusia.42 b. Santri

Asal usul perkataan “santri” itu ada dua pendapat. Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa “santri” dari bahasa sansekerta yang berarti melek huruf. Kedua, adalah pendapat yang menyatakan bahwa perkataan “santri” berasal dari bahasa Jawa yang artinya seseorang yang selalu mengikuti seorang guru ke manapun guru itu menetap. Santri menempati peran yang sangat strategis sebab di samping sebagai subyek, santri juga berperan sebagai obyek. Keberadaan santri dalam sebuah pesantren juga tidak bisa dikatakan sepele, karena sebuah lembaga pendidikan yang tidak mempunyai siswa tidak akan beijalan, dalam kegiatan belajar mengajar siswa tidak akan beijalan, dalam kegiatan belajar mengajar harus ada guru dan murid. Jika kedua unsur tersebut tidak terpenuhi maka tidak akan ada pembelajaran yang berlangsung.

41 Zamaksyari Dhofier, Op-Cit, him 55 42 Yasmadi, Op-Cit, him 63

26

Santri yang dimaksud di sini adalah para pelajar yang ingin memperdalam pengetahuan keagamaan “a student in a religions school called a pondok or pesantren” santri sebagai pelajar yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama Islam, biasanya terdiri dari dua kelompok. Pertama, santri mukim ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren. Kedua, santri kalong yaitu santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren. Mereka pulang ke rumah masing-masing selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren. Untuk memperoleh ilmu pengetahuan mereka “ngelaju ” dari rumah.43 44

Predikat “santri” adalah predikat yang luar biasa dan mempunyai nilai yang lebih (surplus value). Tidak seperti halnya predikat “siswa” sekolah umum yang lain. Predikat santri akan terus dipakai walaupun sudah pulang dan teijun dalam masyarakat. Sebab menjadi santri lebih mempunyai tanggung jawab baik secara vertikal maupun horizontal. Santri akan dihadapkan pada tanggung jawab moral. Ia harus mengetahui apa visi, aplikasi dan creativity yang harus dilakukan di masyarakat, serta wawasan global dan progresif. Oleh karena itu, santri harus selalu bermental subyektif bukan obyektif, sebagai dasar dari seorang leader.u c. Masjid

Dalam struktur pesantren, keberadaan masjid menjadi elemen dasar yang harus dimiliki pesantren. Masjid merupakan tempat yang strategis untuk mendidik para santri. Selain sebagai tempat ibadah juga berfungsi

43 Yasmadi, Op-Cit, him 66

sebagai tempat mendidik dan melatih para santri terutama dalam mengeijakan tata cara beribadah, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan kegiatan masyarakat lainnya.45

Masjid pada hakekatnya merupakan sentral kegiatan kaum muslim baik dalam dimensi ukhrowi maupun duniawi dalam ajaran Islam, karena pengertian yang lebih luas dan maknawi, masjid memberikan indikasi sebagai perbuatan seorang hamba dalam mengabdian kepada Allah yang disimbulkan dengan adanya masjid (tempat sujud). Atas dasar pemikiran itu dapat dipahami bahwa masjid tidak hanya terbatas pada pandangan materialistic, melainkan pemikiran immaterialistik mengarah kepada kebedaan masjid. Masjid sebagai suatu bangunan yang dapat ditangkap oleh mata sebagai tempat sujud.

Dalam perspektif sejarah Islam, masjid bukan hanya sekedar sarana kegiatan peribadatan belaka, lebih dari itu masjid menjadi pusat segenap aktivitas Rasul dalam berinteraksi dengan umat dapat juga dikatakan sebagai tempat pertama pusat pendidikan, aktifitas administrasi dan kultural.46 Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan tradisional. Dengan kata lain kesinambungan sistem pendidikan Islam yang berpusat pada masjid sejak masjid di Qubba didirikan deka Madinah pada masa Nabi Muhammad tetap terpancar dalam sistem pesantren.

45 Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam, Ihtiar Baru Van Voeve, Jakarta 1994, him 103 46 Zamaksyari Dhofier, Op-Cit, him 51

28

Pendirian masjid ini tidak lepas dari peran kiai serta masyarakat yang secara sukarela selalu membantu. Karena sudah mengakar pada keyakinan mereka bahwa hal ini merupakan bentuk awal ibadah,

d. Pondok

Pengertian pondok memiliki arti lebih luas yaitu rumah sementara untuk merendahkan diri, tempat tinggal beberapa keluarga madrasah atau asrama (tempat mengaji, belajar agama Islam dan sebagainya).47 Sementara yang dimaksud pondok di sini dalam artikan tempat menginap santri. Tetapi yang sering digunakan adalah pondok pesantren yang merupakan gabungan antara pondok dan pesantren untuk mewakili semuanya karena yang namanya pondok didalamnya terdapat masjid sebagai tempat ibadah, asrama santri, tempat tinggal kiai serta ruangan- ruangan lain yang digunakan untuk kegiatan santri. Semua itu bergabung menjadi sebuah kompleks pesantren.

Kompleks pesantren ini pada awalnya merupakan milik kiai sebagai pelapor berdirinya pesantren. Akan tetapi, seiring kemajuan zaman status kepemilikan kompleks pesantren sudah berubah. Hal ini seiring dengan pendapat Zamalehsari Dhofier yaitu perubahan sistem kepemilikan pesantren ini disebabkan dua hal yang pertama, perubahan waktu yaitu dulu pesantren tidak memerlukan biaya yang besar, baik karena jumlah santrinya sedikit, maupun jumlah sarana prasarana yang kecil. Kedua, baik kiai maupun pendidik yang membantunya merupakan kelompok mampu di pedesaan, dari apa yang dibutuhkan di pesantren.48

47 Poerwadarminto, Op-Cit, him 764 48 Zamaksyari Dhofier, Op-Cit, him 45

Pembangunan pondok pesantren ini antara yang satu dengan yang lainnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Dalam pembangunan sarana prasarana ini sangat tergantung dari banyak sedikitnya santri. Terutama adalah santri yang menetap dalam waktu lama yang berasal dari tempat-tempat jauh. Keberadaan sebuah pesantren ada pondok yang diperuntukkan khusus untuk laki-laki dan pondok untuk perempuan.49

Apabila dalam sebuah pesantren itu santrinya ada laki-laki dan perempuan maka kedua kelompok ini dipisahkan atau dibuat beijauhan antara satu dengan yang lain. Keberadaan pondok bukan menjadi fokus tempat berlangsungnya kegiatan para santri atau bagi pesantren yang santrinya banyak, pondok ini hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan baju dan buku saja. Karena kebanyakan kamarnya sempit, tidak ada peralatan seperti dipan, almari pakaian, meja dan kursi.50 Meskipun demikian, pondok bukan saja menjadi elemen yang paling penting dalam sebuah pesantren tetapi juga merupakan penopang utama bagi pesantren untuk dapat terus berkembang.51

e. Pengajaran kitab-kitab klasik

Sistem pendidikan pesantren lebih berorientasi pada pengajaran kitab-kitab klasik dalam kurikulumnya. Hal ini yang membedakannya dengan lembaga pendidikan lainnya sehingga pengajaran kitab-kitab klasik ini lebih menjadi karakteristik yang merupakan ciri-ciri dari proses pembelajaran di pesantren. Secara keseluruhan kitab-kitab klasik yang

49 Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam, Ihtiar Baru Van Voeve, Jakarta 1994, him 103 50 Nurcholis Madjid, Op-Cit, him 91

30

diajarkan di pesantren dapat digolongkan menjadi delapan kelompok yaitu nahwu (syintak), shorof, morfologi, fiqih, usul fiqih, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, cabang-cabang lain.52

Dalam mempelajari kitab-kitab klasik oleh seorang santri kepada kiainya menurut Nurcholis Masjid ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu sistem weton dan sarogan.53 Weton adalah penguji yang inisiatifnya berasal dari kiainya sendiri, baik tempat, waktu maupun kitabnya. Sedangkan sarogan adalah pengajian yang merupakan permintaan seseorang atau beberapa santri pada kiainya.

Kitab-kitab klasik ini sebenarnya kitab yang di karang oleh para ulama terdahulu yang bentuk tulisannya adalah tulisan huruf Arab akan tetapi tidak berharakaf {pegon). Dan biasanya dicetak di atas kertas yang berwarna kuning sehingga disebut kitab kuning. Kitab kuning sebagai salah satu unsur dari proses belajar mengajar di pesantren yang sangat penting dalam membentuk kecerdasan intelektual dan moralitas kesalahan (keberagaman) pada diri santri.54

3. Jiwa Pesantren

Dalam lingkungan pondok pesantren telah tertanam berbagai macam tatanan nilai, yang hal tersebut tidak terdapat dalam sistem pendidikan yang lain atau aspek lainnya. Aspek metode, kurikulum dan manajemen merupakan conditioning nilai-nilai yang telah paripurna.55 Meskipun tanpa standarisasi nilai yang jelas. Beberapa pesantren juga telah melahirkan jiw a pesantren yang merupakan karakteristik mereka.

52 Zamaksyari Dhofier, Op-Cit, him 50 53 Nurcholis Madjid, Op-Cit, hhn 28 54 Yasmadi, Op-Cid, hhn 68

Jiwa pesantren ini melekat erat pada diri para santri maupun para ustad serta seluruh komponen didalamnya. Dari jiwa yang dimiliki inilah yang menjadi kunci bagi kalangan pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman serta tantangan yang lainnya. Menurut Suwandi jiwa pesantren yaitu jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan tapi agung, jiwa ukhuwah Islamiyyah yang demokratis, jiwa kemandirian, jiwa bebas dalam memilih alternatif jalan hidup dan menentukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimis menghadapi problem hidup.56 a. Jiwa kesederhanaan tapi agung

Kesederhanaan bukan berarti pasif, mlarat, nerimo dan miskin, tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketaatan hati, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesakitan. Kesederhanaan ini selalu melekat pada diri setiap santri yang ada di pesantren merupakan ciri paling khas. Kesederhanaan ini meliputi tempat tinggal, pakaian, makanan, dan lain-lain. Dari kesederhanaan ini muncul sikap sahaja yaitu menerima pemberian Allah dengan ikhlas. Kesederhanaan ini pada prinsipnya adalah merasa cukup akan segala hal dan semua itu sesuai dengan kebutuhan.

b. Jiwa ukhuwah Islamiyah yang demokratis

Dalam komunitas pesantren ukhuwah Islamiyah diantara santri sangatlah erat. Perbedaan suku, ras, kultur, kekayaan dan asal usul santri tidaklah menjadi penghalang dalam menjalani ukhuwah Islamiyah. Apabila mereka sudah sama-sama berada dalam pesantren, maka mereka seakan-akan sudah, menjadi saudara, sehingga akan muncul rasa senasib dan sepenanggungan di antara mereka.

56

32

c. Jiwa bebas dalam memilih alternatif jalan hidup dan menentukan masa depan

Jiwa inilah yang mendasari konsep pendidikan life skill yang diajarkan di pesantren yaitu mempersiapkan para santri agar memiliki ketrampilan dalam kehidupan dan memilih jalan hidupnya masing- masing. Dan mampu menghadapi masalah-masalah yang timbul serta mampu mencari jalan keluarnya. Dari inilah nantinya para santri setelah lulus dapat hidup di tengah-tengah masyarakat secara proporsional.

d. Jiwa keikhlasan

Jiwa yang senantiasa hanya beribadah untuk mencari ridha Allah yaitu tidak mengharapkan imbalan apapun dari orang lain setiap sikap dan tindakan. Para santri pun memiliki semboyan sepi ing pamrih, rame ing gawe, yaitu suatu keyakinan bahwa setiap amal itu pasti di balas oleh Allah. Kalau amal perbuatan itu baik pasti akan di balas dengan yang baik pula dan bahkan lebih baik. Sedangkan amal yang jelek pasti akan di balas dengan jelek pula, sehingga balasan yang diterima tergantung amalnya.

e. Jiwa kemandirian

Kemandirian adalah suatu hal yang merupakan salah satu yang dimiliki oleh para santri sebagaimana kemandirian pesantren yaitu kesanggupan membentuk kondisi pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang mandiri dan tidak menggantungkan diri pada bantuan dan belas kasihan pihak lain.

Dari jiw a kemandirian ini diharapkan para santri sejak dini harus berusaha mengenali bakat minat dan kemampuan serta mampu memilih di bidang keahlian yang sesuai dengan dirinya. Hal ini akan lebih sempurna apabila mereka membekali diri dengan pengetahuan dan ketrampilan hidup (life skill) melalui lembaga yang mereka tempati maupun praktek langsung dengan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

4. Kekuatan Pesantren

Adapun kekuatan yang dimiliki pesantren selain kelima elemen dasar yang ada juga dapat dilihat dari beberapa hal dari sistem pendidikan serta potensi sosial kultural yang merupakan modal besar untuk kemajuan pesantren. Sistem pendidikan di pesantren ini melestarikan ciri-ciri khas dalam interaksi sosial antara lain57 :

a. Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan Kyai serta taat dan hormatnya pada Kyai yang merupakan figure kharismatik yang penuh kebaikan. b. Semangat menolong diri sendiri dan mencintai diri sendiri dengan berwira

swasta.

c. Jiwa dan sikap tolong menolong kesetiakawanan, suasana kebersamaan dan persaudaraan.

d. Disiplin waktu dalam melaksanakan pendidikan dan beribadah. e. Hidup hemat dan sederhana.

f. Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan, seperti tirakat, shalat tahajud di waktu malam, i’titaf di masjid untuk merenungkan kebesaran dan kesucian Allah SWT.

g. Merintis sikap jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.

34

5. Kelemahan Pesantren

Setiap pesantren mempunyai ragam masalah yang bervariasi. Dari persoalan SDM sampai sumber dana, untuk mendeteksi masalah yang ada perlu upaya identifikasi masalah identifikasi dibutuhkan untuk mencari solusi penyesalan yang paling tepat

Secara umum permasalahan yang terdapat di pesantren, menurut Engking Soewarman Hasan yaitu58:

a. Sumber daya manusia yang kebanyakan berasal dari masyarakat perdesaan. Pembekalan yang dimiliki tak cukup sehingga berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia pesantren.

b. Sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki pesantren sangat tergantung pada perputaran modal dan lokasi usaha. Karena pesantren terletak di desa sementara pertumbuhan ekonominya agak lambat sehingga kualitas sarana dan prasarananya pun tidak memadai.

c. Akses komunikasi kelembagaan luas sangatlah sulit karena tidak memiliki alat komunikasi yang memadai. Sehingga pesantren terisolasi oleh lingkungan dan tata bisa berkembang.

d. Tradisi pesantren yang terlalu kaku sehingga membelenggu kreativitas dan inovasi santri.

e. Sumber daya pembiayaan pesantren yang tidak menentu sehingga menghambat kegiatan pendidikan di pesantren.

5*

Dokumen terkait