DISKUSI DAN KESIMPULAN
5.1 Diskusi
Hipersensitif dentin merupakan masalah yang sering terjadi. Dokter gigi harus mengetahui dengan jelas faktor penyebab yang berperan termasuk lokasi dan gejala awal hipersensitif dentin. Pemeriksaan dengan teliti atau skrining sangat penting untuk mengidentifikasi hipersensitif dentin. Hal tersebut bermanfaat dalam menentukan rencana perawatan yang tepat. Saat pasien menunjukkan gejala hipersensitif dentin, pasien harus diperiksa dan dijelaskan pilihan terapi yang dibutuhkan untuk merawat hipersensitif dentin. Perawatan hipersensitif dentin harus dilakukan secara aktif oleh pasien di rumah dan dokter gigi di praktek. Dengan kata lain, keberhasilan perawatan hipersensitif dentin, bukan hanya peranan dokter gigi saja, tetapi juga melibatkan pasien. Selain perawatan, pengetahuan atau edukasi mengenai waktu dan teknik menyikat gigi harus diberikan juga oleh dokter gigi kepada pasien.
Selain itu, indeks nyeri yang universal sangat dibutuhkan untuk menentukan diagnosa dan rencana perawatan hipersensitif dentin yang tepat. Indeks nyeri tersebut membantu dokter gigi untuk memeriksa dan mengukur keparahan hipersensitif dentin. Hal ini dikarenakan respon terhadap rangsangan bervariasi pada setiap pasien. Faktor yang menyebabkan respon pasien terhadap rangsangan bervariasi adalah toleransi pasien terhadap rasa sakit, tingkat emosi pasien, dan lingkungan.
23
Walaupun perawatan hipersensitif dentin bervariasi saat ini, namun perawatan dengan pasta desensitisasi dianjurkan sebagai perawatan awal. Selain itu, setelah perawatan hipersensitif dentin juga diperlukan follow up. Hal ini perlu dilakukan karena dengan melakukan follow up maka dapat diketahui apakah perawatan yang telah dilakukan berhasil atau tidak. Dan dengan follow up juga dapat diketahui apakah perawatan yang telah dilakukan akan dilanjutkan ataupun diganti dengan perawatan yang lain.
5.2 Kesimpulan
Hipersensitif dentin digambarkan sebagai rasa sakit yang berlangsung pendek dan tajam akibat adanya rangsangan terhadap dentin yang terpapar sehingga menimbulkan pergerakan cairan tubulus dentin. Rangsangan tersebut antara lain taktil atau sentuhan, uap, kimiawi dan rangsangan panas. Selain itu, hipersensitif dentin tidak dihubungkan dengan keadaan patologis gigi. Terbukanya dentin disebabkan hilangnya enamel akibat dari proses atrisi, abrasi, erosi, atau abfraksi serta rangsangan terhadap permukaan akar yang tersingkap akibat dari resesi gingiva atau perawatan periodontal. Untuk menentukan diagnosa yang tepat, seorang dokter gigi harus memeriksa pasien dengan hati-hati dan teliti, termasuk frekuensi minum jus atau minuman asam lainnya, makanan, obat-obatan, riwayat medis (contoh muntah ataupun gangguan pola makan seperti anoreksia dan bulimia nervosa).
Ada dua prinsip terapi hipersensitif dentin, yakni mencegah aliran cairan tubulus dentin dengan menutup tubulus dentin dan mengurangi rangsangan terhadap syaraf. Berdasarkan berat ringan dilakukannya, terapi hipersensitif dentin dapat
24
bersifat invasif dan non invasif. Terapi hipersensitif dentin yang bersifat invasif antara lain bedah mukogingival, resin dan pulpektomi serta laser. Sedangkan terapi yang bersifat non invasif antara lain pasta desensitisasi dan bahan topikal.
25
DAFTAR RUJUKAN
1. Orchardson R and Gillam DG. Managing dentin hypersensitivity. J Am Dent Assoc 2006; 137: 990-8
2. Karen Cristina Kazue. Low level laser therapy for dentine hypersensitivity. Cienc Odontol Bras 2003 ; 6 (4): 17-24.
3. Carini F dkk. Effects of a ferric oxalate dentin desensitizier: SEM analysis. Research Journal of Biological Sciences 2007; 2(2): 147-9.
4. Kielbassa AM. Dentine hypersensitivity: Simple steps for everyday diagnosis and management. International Dental Journal 2002; 52: 394–6.
5. Ladalardo dkk. Laser therapy in the treatment of dentine hypersensitivity. Braz Dent J 2004; 15(2): 144-50.
6. Aldo B Jr. Laser therapy in the treatment of Dental hypersensitivity. http://www.walt.nu , 2002 (12): 16-21.
7. Wikipedia, the free encyclopedia. Dentine hypersensitivity. http://en.wikipedia.org/wiki/Dentine_hypersensitivity 2009.
8. Camila dkk. Efficacy of Gluma Desensitizer® on dentin hypersensitivity in periodontally treated patients. Braz Oral Res 2006; 20(3): 252-6.
9. Bamise CT, Olusile AO, Oginni AO. An Analysis of the Etiological and Predisposing Factors Related to Dentin Hypersensitivity. J Contemp Dent Pract Juli 2008; (9)5:052-9.
10. Schiff T, He T, Sagel L, Baker R. Efficacy and Safety of a Novel Stabilized Stannous Fluoride and Sodium Hexametaphosphate Dentifrice for Dentinal Hypersensitivity. J Contemp Dent Pract Mei 2006;(7)2:001-8.
11. Jacobsen PL, Bruce G. Clinical Dentin Hypersensitivity: Understanding the Causes and Prescribing a Treatment. J Contemp Dent Pract 2001; 2 (1): 1-8. 12. Ricarte JM dkk. Dentinal sensitivity:Concept and methodology for its objective
evaluation. Med Oral Patol Oral Cir Bucal Maret 2008; 13(3): E201-6.
26
13. Deiab H, EL-Soudany K. Comparative study of the clinical effectiveness between Nd: Yag laser and gluma desensitizer in the treatment of dentin hypersensitivity. Cairo Dental Journal Mei 2007; 23 (II): 193:200.
14. Drisko CH. Dentine hypersensitivity – dental hygiene and periodontal considerations. International Dental Journal 2002; 52: 385–393.
15. Pesevska S dkk. Dentinal hypersensitivity following scaling and root planing: comparison of low-level laser and topical fluoride treatment. Lasers Med Sci Juni 2009: 1007-10.
16. Santiago SL, Pereira JC, Martineli ACBF. Effect of Commercially Available and Experimental Potassium Oxalate-Based Dentin Desensitizing Agents in Dentin Permeability: Influence of Time and Filtration System. Braz Dent J 2006; 17(4): 300-5
17. Ritter AV dkk. Treating cervical dentin hypersensitivity with fluoride varnish: A randomized clinical study. J Am Dent Assoc 2006;137;1013-20.
18. Birang R dkk. Evaluation on Nd: Yag laser on partial oxygen saturation of pulpal blood in anterior hypersensitive teeth. Lasers Med Sci 2008; 23: 291-4. 19. Olusile AO, Bamise CT, Oginni AO, Dosumu OO. Short-term Clinical
Evaluation of Four Desensitizing Agents. J Contemp Dent Pract Januari 2008; (9)1:022-9.
20. Marvin K. Bright, White, and Sensitive: An Overview of Tooth Whitening and Dentin Hypersensitivity. http://www.dentistrytoday.com 2008.
21. Chonishvili K, Chonishvili V. Tooth sensitivity and whitening. Annals Of Biomedical Research And Education Oktober/Desember 2005; 5(4): 269-70. 22. Walters PA. Dentinal Hypersensitivity: A Review. J Contemp Dent Pract Mei
2005; (6)2: 107-17.
23. Kielbassa A. In vivo study on the effectiveness of a lacquer containing CaF2/NaF in treating dentine hypersensitivity. Clin Oral Invest 1997; 1: 95-9.
24. Gandara BK. Diagnosis and Management of Dental Erosion. J Contemp Dent Pract 1999; 1(1): 1-17.
27
25. Kassab MM, Cohen RE. The etiology and prevalence of gingival recession. J Am Dent Assoc 2003;134;220-5.
26. Litonjua LA dkk. Noncarious cervical lesions and abfractions. J Am Dent Assoc 2003;134:845-50.
27. Haywood VB. Dentine hypersensitivity: bleaching and restorative considerations for successful management. International Dental Journal 2002; 52: 7–10.
28. Sauro S. The influence of soft acidic drinks in exposing dentinal tubules after non-surgical periodontal treatment: A SEM investigation on the protective effects of oxalate-containing phytocomplex. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. Nov 2007 1;12(7): E542-8.
29. Dina Al-Tayeb. Management of root-dentine hypersensitivity following non-surgical periodontal therapy: Clinical and scanning electron microscopic study. E.D.J, 2008: 54(3): 1-12.
30. Jalalian E, Meraji N, Mirzaei M. A Comparison of the Efficacy of Potassium Nitrate and Gluma Desensitizer® in the Reduction of Hypersensitivity in Teeth with Full-crown Preparations. J Contemp Dent Pract Januari 2009; (10)1: 066-73.
31. von Troil B, Needleman I, Sanz M. A systematic review of the prevalence of root sensitivity following periodontal therapy. J Clin Periodontol 2002; 29(Suppl. 3): S173–7.
32. Beer R. Pocket Atlas of Endodontics. Stuttgart, Germany: Georg Thieme Verlag, 2006: 40-1.
33. American academy of pediatric dentistry. Guideline on Pulp Therapy for Primary and Young Permanent Teeth. Clinical guidelines 2004:170-4.
34. Strassler HE, Drisko CL, Alexander DC. Features Dentin Hypersensitivity. http://www.insidedentalassisting.com (17 Februari 2010)
28