• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskusi Hasil Penelitian 1. Batu Bata

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-34)

 Indikator Penyebab Terjadinya Sisa Material Batu Bata

Berdasarkan hasil uji penelitian dengan metode analisa faktor maka didapatkan tiga faktor penyebab terjadinya sisa material batu bata yaitu, faktor pengadaan material, faktor sumber daya manusia (SDM) dan faktor metode di lapangan. Hasil penelitian ini sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gavilan dan Bernold (1994) yang menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya limbah konstruksi adalah kesalahan dalam pembelian material.

Misalnya salah dalam hal pemesanan dan pengiriman material. Kesalahan ini bisa terjadi karena tiga hal yaitu, pengiriman yang berlebihan, pengiriman yang kurang dan salah pengiriman. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya komunikasi antara pihak kontraktor dengan pihak supplier atau vendor. Faktor lainnya yang dinyatakan oleh Gavilan dan Bernold (1994) adalah akibat adanya human error yang disebabkan oleh tukang atau pekerja konstruksi.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Intan, S. (2005) yang menyatakan salah satu faktor penyebab terjadinya sisa material adalah karena adanya kelebihan material pada akhir pekerjaan karena adanya penekanan waktu.

Sama halnya dengan penelitian yang diakukan oleh Urio dan Brent (2006) yang faktornya berbeda dengan peneliti menyatakan faktor penyebab terjadinya limbah konstruksi adalah faktor desain, faktor pembelian, faktor penanganan material,

57

Universitas Kristen Petra

faktor operasional, faktor residual dan faktor lainnya seperti kerusakan dan pencurian.

 Solusi Pencegahan Terjadinya Sisa Material Batu Bata

Dari hasil uji penelitian di dapat ada empat faktor yang terbentuk untuk mencegah terjadinya sisa material batu bata. Diantaranya adalah faktor manajemen perusahaan konstruksi, faktor pengendalian desain dan perencanaan, faktor pengendalian tahap perencanaan di lapangan dan faktor penanganan dan kontrol material batu bata. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Urio dan Brent (2006) yang merekomendasikan beberapa faktor untuk mencegah terjadinya sisa material konstruksi. Diantaranya adalah pengiriman material yang terencana, sistem keamanan di lokasi proyek, penanganan dan penggunaan material, faktor pendidikan, adanya administrasi di lapangan dan kebijakan pengendalian limbah.

Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Gavilan dan Bernold (1994), upaya untuk mencegah terjadinya limbah konstruksi bergantung pada perencanaan konstruksi secara terperinci dan perencanaan material yang lebih detail.

4.6.2. Besi Tulangan

 Indikator Penyebab Terjadinya Sisa Material Besi Tulangan

Hasil uji penelitian dengan metode analisa faktor menyatakan terdapat dua faktor penyebab terjadinya sisa material besi tulangan. Yaitu faktor kontrol/pengawasan dan faktor pelaksanaan di lapangan. Hal ini berbeda dengan yang dikemukakan oleh Sabry (2013), faktor perubahan desain dapat berpengaruh terhadap terjadinya sisa material besi tulangan dikarenakan penyesuaian dengan kondisi di lapangan atau terkadang dari pihak konsultan perencana mengirimkan perubahan desain. Selain itu tidak adanya bar bending schedule sehingga terjadi kesalahan pada pabrikasi pembesian yang meliputi pembengkokan, pemotongan dan perakitan. Sama halnya juga seperti yang dikemukakan oleh Intan, S. (2005) desain dengan pendetailan gambar yang rumit dan informasi gambar yang kurang dapat menyebabkan terjadinya sisa material besi tulangan.

Untuk penyebab terjadinya sisa material besi tulangan yang dikemukakan oleh Intan, S. (2005) dan Formoso et al (2002), peneliti mengelompokkan menjadi

58

Universitas Kristen Petra

faktor pelaksanaan yang terdiri dari potongan besi yang tidak dapat digunakan lagi karena terlalu pendek, material besi yang susah dipabrikasi karena diameter tulangannya terlalu besar dan pemotongan besi tulangan yang terlalu panjang.

 Solusi Pencegahan Terjadinya Sisa Material Besi Tulangan

Untuk solusi pencegahan terjadinya sisa material besi tulangan dibagi menjadi tiga faktor. Faktor pertama dikemukakan oleh Formoso et al (2002) dan Vivian (2007) dimana peneliti mengelompokkan menjadi faktor pengendalian dari pihak perusahaan yang terdiri dari penyortiran di lapangan antara material konstruksi dengan material sisa bongkaran, pendidikan dan pelatihan dari pihak perusahaan dan peningkatan sistem kontrol dari perusahaan konstruksi agar mudah menghilangkan limbah konstruksi.

Sama halnya dengan faktor kedua peneliti mengelompokkan berdasarkan penelitian yang dikemukakan oleh Formoso et al (2002) dan Vivian (2007) menjadi faktor tahap desain dan perencanaan di lapangan. Perencanaan site layout sangat perlu dilaksanakan karena sangat berpengaruh terhadap kelancaran suatu proyek selama proses konstruksi berlangsung agar proses mobilisasi material maupun pekerja tidak terganggu. Penggunaan material prefabrikasi dan tersedianya area penyimpanan dan pemotongan material besi juga sangat diperlukan. Agar dapat mengurangi sisa-sisa potongan besi tulangan dan besi tulangan tidak mudah berkarat, kotor dan tidak mengganggu aktifitas proyek yang lain akibat besi yang berserakan.

Faktor ketiga adalah metode pelaksanaan dan kontrol material. Peneliti juga mengelompokkan berdasarkan hasil penelitian dari Formoso et al (2002) dan Vivian (2007). Metode pelaksanaannya adalah mengoptimalkan sisa potongan besi tulangan yang masih bisa digunakan lagi agar tidak terbuang atau berserakan, kemudian diusahakan agar tidak memproduksi material besi tulangan di lokasi proyek agar bisa meminimalisir terjadinya salah pemotongan, pembengkokan maupun salah dalam perakitan. Dan yang terakhir merencanakan, mengkoordinasikan dan mengontrol pembelian material besi tulangan agar material yang dibeli sesuai dengan spesifikasi perencana dan tidak terjadi salah pembelian atau kelebihan dalam pemesanan material.

59

Universitas Kristen Petra

4.6.3. Kayu

 Indikator Penyebab Terjadinya Sisa Material Kayu

Berdasarkan hasil penelitian penyebab terjadinya sisa material kayu dibagi menjadi tiga faktor. Faktor pertama adalah faktor pelaksanaan di lapangan yang merupakan hasil dari pengelompokkan peneliti berdasarkan hasil penelitian dari Lau dan Whyte (2007) di Sarawak dan Kofoworola dan Gheewala (2009) di Thailand, yang terdiri dari pemotongan material kayu yang salah, penumpukan dan penyimpanan material kayu secara sembarangan dan kurangnya pengawasan dari pihak kontraktor. Hal ini disebabkan karena kecerobohan dari para pekerja pada saat pembuatan bekisting, pembuatan perancah atau scaffolding dan pengerjaan rangka atap yang berbahan dari kayu.

Faktor kedua adalah faktor penanganan dan desain. Peneliti mengelompokkan berdasarkan penelitian yang dikemukakan oleh Gavilan dan Bernold (1994) yang dikutip oleh Formoso et al (2002) di United States dan Kofoworola dan Gheewala (2009) di Thailand. Penyebab terjadinya sisa material kayu dikarenakan kemasan dan penggunaan material kayu yang tidak tepat, material kayu hanya merupakan bahan yang membantu proses konstruksi sehingga tidak berakhir sebagai bagian bangunan contohnya bekisting dan scaffolding dan kurangnya pengetahuan tentang konstruksi yang menggunakan material kayu selama proses desain.

Faktor ketiga adalah faktor mutu material. Peneliti mengelompokkan berdasarkan penelitian yang telah dikemukakan oleh Ahmad et al (2014) di Malaysia dan Lachimpadi et al (2012) di Malaysia. Material kayu yang kualitasnya kurang baik hanya bisa digunakan 2-3 kali pemakaian saja terutama untuk pekerjaan bekisting dan sifat material kayu yang mudah membusuk, kedua hal ini yang menyebabkan kayu menjadi limbah konstruksi pada suatu proyek konstruksi.

 Solusi Pencegahan Terjadinya Sisa Material Kayu

Pencegahan terjadinya sisa material kayu dibagi menjadi tiga faktor.

Faktor pertama adalah faktor mutu material kayu. Peneliti mengelompokkan berdasarkan penelitian yang telah dikemukakan oleh Vivian (2007), Lachimpadi

60

Universitas Kristen Petra

et al (2012) di Malaysia dan Kofoworola dan Gheewala (2009) di Thailand.

Penggunaan bekisting dari material baja sangat disarankan dalam hal ini karena bisa digunakan beberapa kali dan dapat mengurangi sisa material kayu akibat adanya pekerjaan bekisting. Selain itu dengan cara memberikan edukasi kepada stakeholders tentang pentingnya pengelolaan limbah konstruksi sehingga dapat mengurangi sisa material kayu

Faktor kedua adalah faktor penanganan sisa material kayu. Faktor ini merupakan pengelompokkan dari penelitian yang dilakukan oleh Treloar et al (2003) dan Ahmad et al (2014) di Malaysia. Penggunaan kembali material bekas dan pengoptimalan pembelian material kayu selama pembangunan gedung merupakan penanganan yang tepat untuk mengurangi terjadinya sisa material kayu di lokasi proyek.

Faktor ketiga adalah faktor pengendalian dari pihak perusahaan. Peneliti mengelompokkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lau dan Whyte (2007) di Sarawak dan Kofoworola dan Gheewala (2009) di Thailand. Dalam hal ini pihak perusahaan diharapkan untuk menyediakan fasilitas untuk daur ulang limbah konstruksi dan perusahaan harus secara total dalam pelaksanaan pengelolaan limbah dan daur ulang limbah konstruksi agar tidak hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

4.7. Implementasi Pencegahan Terjadinya Sisa Material Batu Bata, Besi

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-34)

Dokumen terkait