BAB IV: DESKRIPSI DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN
C. Diskusi Hasil Penelitian
1. Penggunaan Komunikasi Getok Tular Sebagai Metode Kontak Dakwah
Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Tulungagung memandang bahwa dakwah merupakan sebuah kewajiban. Oleh karena itu, di disamping
membina diri dengan tsaqofah Islam, maka langkah selanjutnya adalah
141
anggota. Ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawab mereka sebagai umat muslim, yaitu menyampaikan kebenaran.
HTI DPD II Tulungagung menetapkan semua masyarakat Tulungagung secara keseluaruhan sebagai target kontak dakwah mereka, baik dari kalangan pemerintah, ulama’, pelajar, tukang becak bahkan masyarakat
awam sekalipun. Mereka menyebut ini dengan istilah digribik46, yaitu
mengepung atau memasang dari segala sisi. Namun demikian, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dahulu, ada skala prioritas dalam kontak dakwah yaitu orang-orang terdekat dan pemegang simpul kekuatan masyarakat seperti ulama, penguasa, militer bahkan pemerintah.
Pemilihan simpul kekuatan dalam skala prioritas target dakwah HTI DPD II Tulungagung cukup bisa dipahami, hal ini disebabkan karena dengan
menguasi simpul-simpul tersebut, komunikasi getok tular akan dengan
mudah beredar secara sendirinya di masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh
Rudi Harjanto dan Deddy Mulyana bahwa, aktifitas komunikasi getok tular
dalam komunikasi pemasaran berkembang layaknya sebuah aktifitas teaterikal secara alami. Para pemasar menggunakan pendekatan satu persatu melalui pertukaran informasi secara pribadi kepada para tokoh panutan dan mempengaruhinya. Pengaruh yang telah tertanam pada para tokoh dengan sendirinya menciptakan kampanye lisan yang canggih, sehingga para
46
Istilah digribik biasanya sering digunkan oleh orang yang mencari ikan, yaitu memasang jaring
142
khalayak di sekitarnya ikut tercakup sebagai bagian para tokoh dan dengan
sepenuh hati menyebarkan informasi kepada orang-orang terdekat.47
Hal ini juga diungkapkan oleh Steeven A. Beebe bahwa Dalam komunikasi interpersonal terdapat dimensi power yang sangat berpengaruh terhadap kepercayaan seorang. Power (kekuasaan) merupakan kemampuan untuk mengarahkan orang lain ke arah yang diinginkan. Banyak sumber kekuasaan yang mampu digunakan dalam komunikasi interpersonal antara
lain coercive power (kekuatan yang bersifat memaksa), reward power
(kekuatan imbalan), legitimate power (kekuatan ligimitatif), referent power
(kekuasaan panutan) dan expert power (kekuasaan karena keahlian).48
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa pemilihan simpul kekuatan merupakan langkah yang rasional dalam usaha mereka untuk memperoleh simpati yang lebih luas dari masyarakat atau calon anggota.
Dakwah dengan menggunakan komunikasi getok tular merupakan
metode penyampaian pesan-pesan dakwah berantai dari mulut ke mulut yang
melibatkan kedekatan personal antara da’i dan mad’u. Sebagaimana
dijelaskan pada bab II bahwa syarat utama komunikasi interpersonal adalah terjadinya pertemuan dan respon secara langsung dari pengirim pesan dan
penerimanya. Berdasarkan hasil penelitian, komunikasi getok tular yang
digunakan dalam proses dakwah HTI DPD II Tulungagung diterapkan dalam dua tahap, yaitu tahap pengenalan ide dan pengkaderan.
47
Rudi Harjanto dan Deddy Mulyana, Komunikasi Getok Tular Pengantar Popularitas Merk.
Jurnal: Mediator, Vol.9 No.2 Desember 2008.
48
Steveen A. Beebe and Susan A. Beebe, Interpersonal Comminication: Relating to Others,
143
Kedua penerapan komunikasi getok tular tersebut akan dianalisa
secara konprehensif pada sub bab berikut;
a. Getok Tular Sebagai Metode Pengenalan Ide
Berdasarkan observasi peneliti, sosialisasi ide melalui komunikasi
getok tular yang dilakukan HTI DPD II Tulungagung dilakukan secara
konvensional dan secara elektronik. Getok tular konvensional merupakan
komunikasi berantai yang beredar secara konvensional tatap muka, tanpa menggunakan bantuan elektronik dalam menyampaikan pesannya.
Sementara getok tular elektronik merupakan pengembangan dari getok
tular konvensional, yang menggunakan bantuan media sosial sebagai perantaranya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Hafied Cangara bahwa pada awalanya syarat utama komunikasi interpersonal yang terjadi antara dua orang atau lebih adalah terjadi secara tatap muka. Tetapi seiring perkembangan zaman yang memungkinkan sesorang berinteraksi melalui jaringan seluler dan media sosial, maka komunikasi interpersonal juga dapat terjadi meskipun hanya melalui media. Sebagaimana pendapat Mc-Croskey memutuskan peralatan komunikasi yang menggunakan gelombang udara dan cahaya seperti halnya telephone dan sejensisnya
sebagai saluran komunikasi antarpribadi.49 Pesan yang disampaikan bisa
melalui media telephone maupun pesan elektronik, seperti email, BBM, What Apps, Line, Facebook dan lain-lain.
49
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Edisi kedua (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
144
Tujuan utama dari proses dakwah dengan menggunakan
komunikasi getok tular konvensional adalah dalam rangka menjalin
kedekatan dan menarik minat calon anggota terhadap ide-ide HTI. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa HTI DPD II Tulungagung menyadari jika kontak dakwah yang mereka lakukan adalah dalam rangka ibadah menyampaikan kewajiban. Filosofinya adalah tanpa melihat hasil yang dicapai, tapi jika ada kesepakatan, hal itu merupakan proses.
Tahap ini merupakan tahap inisiasi pertemuan. Artinya, pertemuan hanya diawali dengan obrolan sederhana baik melalui pesan- pesan verbal maupun nonverbal. Menurut Brant D Ruben dan Lea P. Steward Pada tahap ini, seorang atau beberapa orang memperhatikan dan menyesuaikan perilaku satu dengan yang lainnya. Seringkali pesan-pesan awal yang dipakai adalah nonverbal. Jika hubungan berlanjut, akan muncul proses pesan timbal balik secara progresif. Salah seorang menunjukkaan tindakan, posisi, penampilan dan gerak tubuh. Orang kedua bereaksi dan reaksinya mendapat reaksi dari orang pertama dan
seterusnya.50 Proses yang terjadi adalah proses persepsi dan kebiasaan
komunikasi yang mereka bawa dari pengalaman sebelumnya.
Jika terjadi kesepemahaman ide, tahap selanjutnya adalah calon anggota akan diundang untuk mengikuti acara yang masih bersifat umum tentang HTI. Berdasarkan penuturan beberapa anggota HTI DPD II
50
Brant D Ruben dan Lea P. Steward, Komunikasi dan Perilaku Manusia, Terj. Ibnu Hamad
145
Tulungagung, mereka memang direkomendasikan untuk mengikuti agenda yang lebih mendalam tentang HTI oleh teman atau orang-orang yang dikenalnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi potensi dan mengusahakan kemungkinan untuk berabung dengan HTI dikemudian hari.
Tahap ini dalam istilah Jalaludin Rahmad dikenal sebagai tahap eksplorasi, yaitu tahap yang dilakukan segera setelah inisiasi
berlangsung. Peserta mulai mengeksplorasi potensi dan
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan untuk melanjutkan hubungan di masa yang akan datang. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, fase kontak yang permulaan, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila
mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses
mengungkapkan diri.51
Pada praktiknya anggota Hizbut Tahrir mengajak orang-orang terdekatnya, baik kedekatan secara biologis seperti saudara, orang tua dan lain sebagainya, maupun kedekatan yang disebabkan oleh faktor- faktor lain, seperti teman sekantor, teman sekolah, ataupun orang yang membutuhkan informasi untuk mengikuti kajian HTI yang masih bersifat umum. Biasanya acara-acara tersebut dikemas dalam bentuk diskusi
51
146
bersama. Mereka menyebutnya dengan istilah jalsah munah. Ajakan dari
orang-orang terdekat, memberikan efek yang sangat signifikan terhadap
kemauan calon anggota mengikuti jalsah munah. Hal ini sesuai dengan
pendat Harjanto dan Mulyana bahwa, komunikan menganggap rekomendasi pribadi seperti suami atau pasangan, teman, rekan kerja, lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan pesan yang disampaikan melalui media tradisional. Saling kenal antara sumber pesan dan penerima pesan menumbuhkan saling percaya dan menghargai. Keduanya akan berusaha untuk saling menjaga demi kebaikan mereka
sendiri.52
Jalsah munah merupakan kajian yang diselenggarakan setiap sebulan sekali. Kajian tersebut bersifat umum, artinya siapapun boleh untuk bergabung, baik dari kalangan intelektual, akademisi maupun masyarakat awam. Acara ini tidak terpusat pada satu tempat, artinya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Biasanya
diselenggarakan di rumah atau mushollah syabab HTI DPD II
Tulungagung.53
Sebagai tahap awal memperkenalkan ide-ide HTI, di dalam jalsah
munah, masyarakat (baik syabab maupun masyarakat umum) diajak membahas isu-isu terkini dan kemudian dianalsis dalam perspektif Islam. Berdasarkan observasi peneliti, forum tersebut dipimpin oleh seorang manajar forum. Pada prosesnya, manajer forum memaparkan realitas
52
Harjanto dan Mulyana, Komunikasi Getok Tular...
53
147
sosial terkini dengan didukung oleh data-data yang akurat. Pada saat itu tema yang dibahas adalah tentang menghawatirkannya keadaan Negara Indonesia karena kapitalisme dan imperialism. Manajer forum juga memaparkan bahwa kekacauan kondisi Indonesia diperparah dengan ketidakberpihakan pemerintah kepada masyarakat. Hal ini terbukti dengan semakin meroketnya harga kebutuhan pokok, dinaikkannya tarif
dasar listrik dan pajak kendaraan bermotor.54
Dari hasil observasi tersebut dapat digambarkan bahwa manajer forum ingin mengajak masyarakat untuk turut merasakan ketimpangan kondisi sosial yang ada. Hal ini yang disebut Jalaludin Rahmad sebagi memunculkan empati. Empati merupakan kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada peranan atau posisi orang lain. Definisi terakhir empati dikontraskan dengan pengertian simpati. Dalam simpati,
seorang menempatkan dirinya secara imajinatif pada posisi orang lain.55
Dalam arti bahwa seseorang secara emosional maupun intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami orang lain. Dengan empati, seseorang berusaha melihat dan merasakan orang lain.
Setelah dianggap cukup, manajer forum mempersilahkan para hadirin untuk memberikan pandangan dalam perspektif mereka masing-
masing.56 Hal tersebut membuktikan bahwa manajemen forum berjalan
dengan sangat baik, di mana setiap peserta diberikan hak yang sama untuk mengutarakan pendapat masing-masing. Kebebasan mengutarakan
54
Observasi Peneliti pada tanggal, 29 Januari 2017.
55
Rahmad, Psikologi…, 130.
56
148
pendapat ini menjadi salah satu faktor kunci dalam efektifitas komunikasi.
Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Joseph DeVito bahwa, untuk mencapai efektifitas komunikasi, seseorang harus memiliki sifat yang berorientasi pada orang lain. Artinya, komunikator yang berorientasi pada orang lain melihat situasi dan interaksi dari sudut pandang lawan bicara dan menghargai perbedaan pandangan lawan bicara. Untuk mewujudkan empati, orang yang berorientasi kepada lawan bicara mendengarkan dengan penuh perhatian dan memperlihatkan
perhatian ini baik secara verbal maupun nonverbal.57
Pada akhir pertemuan, pimpinan forum memberi closing statemen
pentingnya menerapkan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari serta
menegakkan daulah khilafah Islamiyah di Indonesia. Jika di antara calon
anggota baru merasa tertarik untuk memperdalam tentang syari’at Islam
dan sistem daulah khilafah Islamiyah, maka diperkenankan untuk
mendaftarkan diri dan mengikuti pengakaderan HTI DPD II
Tulungagung.58
Selain karena kedekatan, terkadang HTI DPD II Tulungagung melakukan pendekatan kepada calon anggota baru berdasarkan referensi atau rekomendasi dari syabab-syabab HTI yang telah bergabung sebelumnya. Rekomendasi dari syabab kemudian ditindaklajuti oleh
pengurus atau syabab yang lebih berpengalaman untuk menjelaskan ide
57
Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, Terj. Agus Maulana(Jakarta: Profesional Books,
1997),, 267.
58
149
HTI kepada mereka. Hal ini dilakukan agar calon anggota merasa yakin untuk bergabung karena yang merekomendasikan adalah orang yang memilki kemampuan dibidangnya. Sesuai dengan yang dikatakan George Boeree bahwa, orang-orang yang memiliki kemampuan pada suatu bidang (professional atau non profesional) lebih mudah dipercaya dan mendapatkan simpati dari orang lain. Seorang pimpinan lebih memilih menugasi seorang yang berpengalaman atau memiliki pendidikan sesuai
dengan bidangnya.59
Di samping penggunaan getok tular konvensional tatap muka, HTI
Tulungagung juga menggunakan media elektronik sebagai medium penyampaian pesan-pesan dakwah. Pesan yang disebarkan tidak hanya
diberikan kepada syabab dakwah yang telah secara resmi menjadi
anggota HTI Tulungagung, tetapi diberikan secara bebas kepada semua kaum muslimin khususnya yang memiliki kedekatan personal dengan penyebar pesan atau minimal telah mengenalnya meskipun hanya beberapa saat saja.
Hasil penelitian memperoleh gambaran bahwa, penerapan
komunikasi getok tular elektronik hampir sama dengan komunikasi
konvensional, yaitu bertujuan untuk mencerahkan dan memperkenalkan
ide-ide HTI. Getok tular yang menggunakan media sosial (e-WoM) tidak
dalam format yang sifatnya instruktif koordinatif. Tapi lebih berupa
mencerahkan, mengkristalkan ghirah, menyuplai materi-materi inspirasi
59
150
dan lain sebagainya. Titik perbedaanya terletak pada respon penerima pesan yang tidak dapat terkontrol dan dikendalikan secara psikologis. Hal ini disebabkan, pengirim pesan tidak dapat melihat secara langsung bagaimana reaksi dan petunjuk-petunjuk eksternal penerima pesan. Padahal, Jalaludin Rahmat mejelaskan bahwa faktor situasional dapat mempengaruhi persepsi interpersonal setiap individu. Individu menduga
karakteristik seseorang melalui petunjuk-petunjuk eksternal (external
cue) yang bisa diamati. Petunjuk-petunjuk itu berupa deskripsi verbal,
petunjuk proksemik, kinesik, wajah, paralinguitik dan artifaktual.60
Di samping itu, ketika seseorang membaca uraian yang cukup panjang di media sosial WA misalnya, mereka belum tentu bisa menangkap secara utuh pesan yang diuraikan, sekalipun pesa dari WA itu berisi materi-materi inspirasi yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah. Hal ini disebabkan karena uraian-uraian tersebut masih membutuhkan hal-hal yang lain yang mendorong seseorang bisa menginternalisasi pesan.
Faktor lain yang menyebabkan getok tular elektronik kurang efektif
adalah peredaran pesan di media sosial tidak hanya diperbicangkan oleh mereka yang memilki kedekatan personal dengan pengirim pesan saja, tetapi juga bisa sampai kepada komunitas lain yang bahkan belum saling mengenal sama sekali. Sebagaimana yang diutarakan oleh Gruen, yang
mendefinisikan e-WOM sebagai sebuah media komunikasi untuk saling
60
151
berbagi informasi mengenai suatu produk atau jasa yang telah dikonsumsi antar konsumen yang tidak saling mengenal dan bertemu
sebelumnya.61
Meskipun ada banyak pesan dakwah yang diterima dan kemudian
disebarkan oleh syabab HTI DPD II Tulungagung, tidak semua pesan itu
secara langsung disebarkan kepada calon anggota. Ada semacam seleksi
calon penerima pesan yang menjadi pertimbangan para syabab. Salah
satu faktor yang menjadi pertimbangannya adalah kesamaan pengalaman
antara syabab dan calon penerima pesan, seperti nilai, sikap, perilaku
pengalaman dan lain sebagainya. Hal ini menguatkan pendapat DeVito bahwa komunikasi antarpribadi umumnya akan lebih efektif apabila para pelakunya mempunyai nilai, sikap, perilaku dan pengalaman yang sama.62
Dengan demikian, baik dakwah dengan pendekatan getok tular
konvensional maupun elektronik dilakukan dalam rangka ingin mengkomunikasikan ide-ide HTI DPD II Tulungagung. Dari proses komuikasi yang terjalin, diharapkan calon anggota dapat mendukung dan terpengaruh untuk merasa, berpikir atau bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh HTI DPD II Tulungagung yaitu bergabung dan mengikuti pengkaderan resmi. Hal ini sesuai dengan pendapat Thomas M. Scheidel sebagaimana dikutip oleh Deddy Mulyana mengatakan
61
Gruen,T.W., Osmonbekov,T. ,Czaplewski, A.J, E-WOM: The Impact of Customer to Customer
Online Know-How Exchange On Customer Value And Loyalty, Journal of Business Research,
59(4), 2006, 449-456.
62
152
bahwa komunikasi bertujuan untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, membangun kontak sosial dengan orang sekitar dan untuk mempengaruhi orang lain agar merasa, berpikir atau bertindak seperti yang diinginkan. Namun tujuan berkomunikasi adalah untuk
mengendalikan lingkungan fisik dan psikologi.63
b. Getok Tular Sebagai Metode Pengkaderan
Setelah melalui proses panjang dengan mengikuti pengajian atau kegiatan awal. Masyarakat yang memiliki niat seruis untuk mengkaji Islam dan sistem daulah khilafah Islamiyah, diajak untuk mengikuti
kajian halaqah secara intensif setiap seminggu sekali. Halaqah menjadi
unit yang paling penting di dalam dakwah HTI DPD II Tulungagung. Seorang yang telah menyatakan diri bergabung dengan HTI, harus
komitemen mengikuti halaqah dalam waktu yang telah ditentukan. Brant
D Ruben dan Lea P. Steward menyebut fase semacam ini sebagai fase intensifikasi hubungan. Peserta tiba pada satu keputusan bahwa meraka ingin melanjutkan hubungan. Jika hubungan berlanjut, mereka harus mendapatkan cukup banyak pengetahuan satu dengan yang lainnya. Pada
tahap ini orang sering menganggap diri mereka sebagai teman dekat.64
Orang yang telah masuk pada tahap ini cenderung lebih terbuka mengenai rahasia-rahasia yang meraka miliki, mengembangkan simbol- simbol dan bahkan menyematkan nama-nama julukan yang lebih
63
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Satu Pengantar (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), 4.
64
153
mengakrabkan mereka. Seperti nama ustad Fajar Afifudin yang lebih akrab disapa dengan ustad Abu Inas dan ustad Edi Sutrisno yang lebih dengan nama Abdurrohim.
HTI DPD II Tulungagung memahami bahwa untuk memperoleh kader-kader yang militan maka pola pengakderan harus tertata dengan baik. Oleh karena itu, salah satu cara yang diterapkan dalam pola pengakaderan HTI DPD II Tulungagung adalah dengan menggunakan
halaqah atau diskusi yang menerapkan sistem komunkasi getok tular.
Adapun klasifikasi dan pembagian kelas halaqoh yang dimaksud
adalah didasarkan pada kajian kitab yang dipelajarinya. Setidaknya ada
23 kitab yang mutabannat di HTI. Artinya 23 kitab tersebut wajib dikaji
bagi siapa saja yang berdakwah bersama HTI. Di antara kitab-kitab
tersebut adaalah Nizhamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam),
Nizhamul Hukmi fil Islam (Sistem Pemerintahan dalam Islam), Nizhamul Iqtishadi fil Islam (Sistem Ekonomi dalam Islam) hingga Muqaddimatu ad-Dustur (Pengantar Undang-undang Dasar Negara Islam).
Pada praktiknya, halaqah dilaksanakan rutin dalam setiap
seminggu sekali dan memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. Di dalam
setiap perhalaqohan dipimpin oleh satu orang musyrif65 dan
beranggotakan 5 sampai 10 orang. Kemudian, 10 orang yang bertindak
sebagai anggota dan pada gilirannya juga menjadi musyrif bagi 5-10
orang syabab pada kelas halaqoh berbeda dan seterusnya. Sehingga
65
154
dengan demikian, seorang musyrif memiliki peran ganda. Di satu sisi dia
menjadi guru bagi para syabab, tetapi di sisi lain dia juga menjadi syabab
jika dia mengikuti halaqah atau mengkaji kitab kepada musyrif pada
level kitab kajian yang lebih tinggi. Hal sesuai dengan pendapat Rudi Harjanto dan Deddy Mulyana yang menyatakan bahwa dalam proses
komunikasi getok tular, komunikator menyampaikan pesan secara
langsung kepada khalayak sasaran yang umumnya sebuah komunitas. Anggota komunitas pada gilirannya juga menjadi komunikator yang
menyampaikan pesan kepada komunitas yang lainya dan seterusnya.66
Pembagain kelas bedasarkan kajian kitab yang dipelajari tersebut membentuk satu hirarkis pengkaderan yang sangat sitematis dan terstruktur. Bahkan, misalkan HTI DPD II Tulungagung mengadakan
halal-bihalal internal dan mengundang semua syabab, mereka bisa
dengan mudah mendeteksi apakah dia seorang anggota atau bukan. Kenggotaan tersebut dapat terdeteksi dari musrif, ke musrif bawahnya, ke musrif bawahnya ke musrif bawahnya dan setersusnya.
Sebagai gambaran, setiap kelas halaqah dipimpin oleh seorang
musyrif dan beranggotakan 5 sampai dengan 10 orang. Dilaksanakan secara terus menerus setiap seminggu sekali, pada waktu yang disepakati bersama serta posisi duduk melingkar dan tidak terlalu formal. Masing- masing dari mereka membawa kitab kajian yang hendak dibahas secara bersama-sama. Kajian dilakukan secara intensif dengan mengkaji kitab
66
155
paragraf demi paragraf. Pada umumnya, setiap sekali pertemuan hanya dibatasi satu hingga dua paragraph saja, kemudian didiskusikan secara intensif selama kurang lebih dua jam.
Penjelasan tersebut mengambarkan bahwa di dalam setiap
perhalaqah terjadi interaksi timbal balik yang baik antara musyrif dan
syababnya. Dari hasil penelitian tersebut dapat dideskripsikan bahwa
musyrif menjadi manajer forum yang menjadi pemegang kendali
halahah, menjadi penengah dan memberikan closing stateman. Meskipun
demikian, syabab tetap diberi hak untuk menyampaikan pendapatnya.
Hal ini menjadi bukti bahwa aktifitas komunikasi yang dibangun pada
kelas halaqah berjalan sangat efektif, dimana setiap komponen yang
terlibat di dalamnya tidak merasa diabaikan. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat DeVito yang menyatakan bahwa, komunikator yang efektif mengendalikan interaksi kedua belah pihak. Dalam menejeman interaksi yang efektif, tidak seorangpun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh penting. Masing masing pihak berkontribusi dalam keseluruhan
komunikasi.67 Hal ini ditunjukkan dengan mengatur isi, kelancaran dan
arah pembicaraan secara konsisten.
Di samping itu, berdasarkan observasi lapangan, para peserta
halaqah duduk saling berdekatan, dalam keadaan tidak formal. Posisi duduk yang seperti ini menunjukkan seberapa dekat hubungan yang mereka bangun di antara mereka. Hubungan mereka lebih dari sekedar
67
156
teman biasa. Edward T Hall menyebut ini sebagai petunjuk proksemik
yaitu studi tentang penggunaan jarak dalam menyampaikan pesan. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya dengan orang lain menunjukkan
tingkat keakraban di antara mereka.68 Lebih jauh Hall mendeskripsikan,
anggapan kita tentang orang lain berdasarkan jarak yang dibuat orang itu
dengan orang lain.69 Seorang menyimpulkan keakraban seorang dengan
yang lainnya berdasarkan jarak mereka. Bila musyrif selalu menjaga jarak
dengan syabab, kita menduga bahwa mereka tidak saling menyukai atau
kurang akrab. Tapi bila di antara mereka sering duduk berdampingan, kita bisa menyimpulkan bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat.
Pemahaman terhadap isi kitab menjadi prioritas dalam dikusi
halaqah, oleh karena itu, dalam waktu kurang lebih 2 jam pembahasan
hanya dibatasi satu hingga dua paragraph saja. Hal ini dilakukan karena
di lain kesempatan syabab pada kelas ini juga akan bertindak sebagai