• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

B. DISKUSI

Dalam penelitian ini, diketahui bahwa meskipun pada masa kecil partisipan I mendapat larangan untuk merasakan bangku pendidikan dan dipaksa bekerja oleh ayah tirinya, ia tetap berkeinginan kuat untuk bersekolah dan mencapai prestasi. Hal ini sesuai dengan teori kebutuhan (theory of needs) McClelland yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki tiga kebutuhan khusus yakni achievement, affiliation, dan power. Kebutuhan khusus tersebut diperoleh sepanjang waktu dan dibentuk oleh pengalaman hidup setiap orang. Motivasi seseorang dan efektivitas dalam pekerjaan tertentu dipengaruhi

oleh tiga kebutuhan tersebut. Individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi (high nAch) mencoba untuk menjadi unggul diantara individu lainnya.

Cichetti dan Toth (dalam Hetherington dan Parke, 1999) menyatakan bahwa abuse dapat menurunkan perkembangan intelektual dan menyebabkan masalah psikososial. Pada anak yang telah bersekolah, tidak hanya menunjukkan masalah dalam hubungan antara teman sebaya, guru, dan pengasuh, namun juga masalah akademik dan self esteem rendah, menunjukkan masalah perilaku, dan menjadi depresi serta menyendiri. Hal ini dialami oleh partisipan I yang menyatakan bahwa dirinya merasa berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Ia merasa bahwa dirinya seorang yang paling miskin dan menderita di dunia. Namun begitu, partisipan I tidak berusaha menarik diri dari kelompok teman sebayanya. Malahan ia selalu mendapat kepercayaan untuk menjadi pemimpin dalam kelompok mereka dan selalu mendapat prestasi di kelas. Lain halnya dengan partisipan II, ia merasa sangat malu dengan para tetangga dan teman-teman akrabnya yang mengetahui percekcokan diantara kedua orang tuanya. Ia menjadi enggan menjalin hubungan dekat dengan tetangga dan memiliki sahabat.

Karen Horney (dalam Feist, 2002) mengemukakan bahwa anak jarang mengekspresikan hostility yang mereka rasakan dengan marah atau terang- terangan memusuhi orang tua. Hostility ini sering terpaksa di-repress karena anak merasa sangat membutuhkan orang tua. Mereka takut ditinggalkan dan menjadi tidak berdaya tanpa orang tua. Kondisi ini disebut sebagai basic anxiety, yaitu kondisi dimana anak merasa tidak berdaya, terisolasi, dan menganggap dunia memusuhinya. Kedua partisipan tidak pernah melakukan perlawanan terhadap

kekerasan yang diterima dari ayah. Partisipan I memilih diam dan menuruti segala perintah ayah. Pukulan, tendangan, dan cambukan ia terima dengan berdiam diri. Pada partisipan II, memilih untuk bersikap acuh terhadap perkataan dan pukulan dari ayah, ia merasa perlakuan kasar tersebut tidak perlu diberi respon dan tidak akan ada gunanya. Pukulan yang pernah dijatuhkan pada ayahnya semata-mata karena ia tidak tega melihat ibunya yang teraniaya.

Basic anxiety ini menjadi masalah terbesar bagi anak yang mengalami abuse. Anak terpaksa harus menemukan solusi seorang diri agar dapat bertahan

hidup. Hal ini juga tampak dialami oleh kedua partisipan. Partisipan I harus mengatur sendiri keperluannya seperti makan, membersihkan diri, membuat tugas sekolah, dan tidur. Ayah dan ibunya tidak pernah menanyakan atau mengatur kebutuhannya. Ibunya pergi bekerja ke pasar dari subuh hingga petang. Ayahnya sama sekali tidak pernah khawatir dengan keadaannya. Pada partisipan II, terkadang dalam memenuhi kebutuhannya seperti makan dan berpakaian telah disiapkan oleh ibu. Namun begitu, saat hubungan kedua orang tua renggang dan memaksa ibu untuk memeras keringat, partisipan II terpaksa mencari penghasilan sendiri demi memenuhi kebutuhannya.

Berns (2004) menyatakan bahwa kurangnya pengasuhan yang normal selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan individu mengganti kebutuhannya akan cinta dan rasa aman yang hilang dengan obat-obatan terlarang, alkohol, makanan, objek material, seks, dan judi. Santrock (1998) juga menyatakan bahwa remaja delikuen pada umumnya berasal dari keluarga yang ortunya sedikit sekali memberikan dukungan, pengawasan, dan pemberian disiplin yang tidak efektif.

Pengaruh teman sebaya memicu remaja menjadi delikuen. Teman adalah orang yang paling penting dalam kehidupan remaja dan remaja cenderung mencari teman yang sama dengan dirinya, serta cenderung conform agar dapat diterima oleh teman sebayanya (Santrock, 1998). Ini dialami oleh partisipan II. Saat keharmonisan dalam keluarga dirasa sangat minim, partisipan II yang mulai beranjak remaja mulai mencari aktivitas yang dapat membuatnya melupakan masalah-masalah dalam keluarganya. Ia pun conform dengan kelompok teman sebaya yang merupakan pengguna dan pengedar narkoba. Menurut partisipan II, menggunakan narkoba dapat membuat pikirannya tenang dan lupa dengan apa yang terjadi dalam keluarganya. Ditambah lagi, penghasilan dari menjual narkoba dirasa lebih dari cukup untuk biaya hidupnya sehari-hari saat jauh dari rumah dan menumpang dengan orang lain

Lahey (2004) menjelaskan bahwa individu yang mengalami stres akan melakukan suatu usaha untuk mengatasi sumber stres dan/atau mengontrol reaksi terhadap stres atau disebut juga dengan coping stres. Coping stres yang dilakukan dapat berupa coping yang efektif dan tidak efektif. Coping efektif mengarah kepada solusi stres sedangkan coping tidak efektif hanya bersifat sementara dan hanya memperoleh ketenangan bagi keadaan individu. Selain itu, terdapat dua jenis coping stress lainnya yaitu problem focused coping yaitu aktivitas tertentu yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah dan emotional focused coping yaitu aktivitas tertentu yang dilakukan untuk membuat perasaan lebih nyaman terkait dengan suatu masalah (Greenberg, 2002). Pada partisipan I, coping yang dilakukan adalah pergi dari kampung halamannya dan tidak berkeinginan lagi

untuk diasuh bersama ayah tiri yang melakukan child abuse padanya. Coping ini termasuk dalam coping yang tidak efektif dan merupakan emotional focused

coping. Begitu pula halnya dengan partisipan II yang menghindar untuk

melakukan kontak dan komunikasi dengan ayah (abuser).

Hasil dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa partisipan I menerapkan pola pengasuhan demokratis pada kelima orang anaknya. Partisipan I tidak pernah memberi perlakuan keras seperti yang pernah ia dapat semasa kecil kepada anak-anaknya. Hal ini membantah teori Heyman dan Slep (2002) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa kekerasan menjadi seperti lingkaran atau disebut cycle of violence, dimana individu yang mengalami child abuse semasa kecilnya akan menjadi abuser di masa dewasa terhadap anak ataupun pasangannya.

Egeland & Sroufe menyatakan bahwa korban child abuse yang menjadi

nonabusing parents biasanya memiliki seseorang yang dapat membantunya,

menjalani terapi, dan memiliki hubungan pernikahan atau hubungan percintaan yang baik (dalam Papalia, 2004). Hal ini tampak pada partisipan I yang membina hubungan pernikahan dengan istri yang sangat mendukungnya sejak dua puluh satu tahun yang lalu hingga sekarang. Partisipan I percaya bahwa istrinya, Nisa, akan setia menjalani rumah tangga bersamanya baik dalam keadaan susah ataupun senang. Nisa juga merupakan wanita mandiri yang selalu membantunya menjalankan usaha.

Dokumen terkait