• Tidak ada hasil yang ditemukan

NARASUMBER:

JP – Jane Patton

RGD – Dr. Ir. Retno Gumilang Dewi, M. Env. Eng. Sc RGS – Raynaldo G. Sembiring

Apakah Anda mengetahui proses litigasi terhadap industri petrokimia di Amerika Serikat dan bagaimana hasilnya?

JP: Sebagian besar proses litigasi di Amerika Serikat fokus pada izin individual untuk situs/fasilitas individu. Kami telah berhasil menggugat beberapa dari izin tersebut di pengadilan tentang bagaimana cara izin diberikan atau terkait substansi izin mereka. Beberapa izin dikeluarkan oleh pemerintah lokal, beberapa dikeluarkan oleh pemerintah federal, jadi kami menggugat mereka dengan alasan yang berbeda tergantung pada tingkatan pemerintah yang mengeluarkan izin mereka. Misalnya, plastik formosa memiliki dua izin, satu dari pemerintah federal dan satu dari pemerintah lokal dan kami telah berhasil menggugat keduanya di pengadilan. Kasus-kasus itu belum diputus tetapi izin federal mereka sekarang ditangguhkan karena suatu cacat yang kami temukan dalam permohonan izin.

Apakah sudah ada atau sudah mulai memasukan isu pengurangan plastik dalam Paris Agreement? Apakah sudah ada substitusi dari plastik?

JP: Saya belum melihat atau mendengar diskusi tentang plastik dalam Perjanjian Paris. Ada percakapan dan saya percaya ada acara sampingan atau semacamnya di COP iklim, tetapi itu masih merupakan percakapan yang relatif baru untuk iklim. Ini bukan bagian dari Perjanjian Paris. Seperti yang saya sebutkan, kami mencoba untuk mendapatkan perjanjian yang khusus hanya untuk plastik, mengikat secara hukum. Kami mendorongnya di PBB dan jika Anda ingin terlibat, kami ingin siapa pun berpartisipasi, silakan hubungi saya melalui email.

Untuk pertanyaan kedua, saya harap ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan itu. Alternatif terbaik adalah tidak menggunakan plastik sekali pakai. Jika Anda bertanya kepada saya, mana yang lebih baik kantong plastik atau kantong kertas? jawabannya adalah tas yang dapat digunakan kembali. Saya juga tahu apa yang saya minta orang lakukan ketika saya mengatakan "Bawa saja tas Anda sendiri dan gunakan kembali". Anda bisa melakukannya untuk tas, tetapi Anda tidak bisa melakukannya untuk sampo, sabun, dan

Diskusi Pemaparan

26 |

makanan karena banyak sekali yang dikemas dalam kemasan plastik sekali pakai. Kami bekerja sama dengan perusahaan seperti Nestle, Coca-Cola dan Break Free dari plastik mendorong perusahaan-perusahaan ini untuk mendesain ulang produk mereka melalui extended producer responsibility (EPR). Saya tahu bahwa itu mungkin dilakukan oleh kita, tetapi itu membutuhkan banyak kerja dan inovasi. Saya sangat optimis kita akan sampai di sana. Yang kita butuhkan adalah inovasi untuk benar-benar mengetahui rantai pasokan global dalam ekonomi global yang tidak memerlukan plastik sekali pakai. Untuk kertas, pohon dapat diperbarui sedangkan minyak tidak. Pada akhirnya, kita harus mencari cara untuk memanfaatkan sumber daya kita sebaik mungkin dan jawaban dari hal tersebut bersifat kolektif.

Sebenarnya bagaimana mengadvokasikan perusahaan petrokimia atau asosiasinya untuk memiliki komitmen untuk menurunkan emisi yang sejalan dengan Paris Agreement? Dikaitkan juga dengan gugatan yang diajukan terhadap Shell.

JP: Saya pikir gugatan terhadap Shell akan bergema di industri minyak, gas, dan petrokimia dengan cara yang belum bisa kita lihat. Saya pikir mereka sekarang menyadari bahwa mereka memiliki risiko atas perilaku buruk mereka dan untuk karbon yang mereka buang ke atmosfer. Saya tidak berpikir itu akan secara otomatis meluas ke plastik dan petrokimia kecuali kita membuatnya demikian. Kita harus fokus pada advokasi dan litigasi yang independen dan terpisah dari pembicaraan minyak dan gas. Kita dapat berbicara tentang plastik sebagai krisis iklim tetapi saya juga khawatir bahwa jika kita tidak fokus pada plastik secara holistik, kita akan berakhir di tempat di mana mereka membuat plastik dari jagung dan menyebutnya bioplastik, menempatkan CCS, dan menggunakan solusi palsu ini. Jika demikian, Pada akhirnya kita tidak akan mencapai masalah holistik dengan plastik. Mereka memiliki aditif yang beracun, pembuatan plastik membutuhkan banyak energi panas dan air. Bahkan membuat plastik dari jagung, tidak menghentikan kebutuhan aditif yang merupakan hasil dari petrokimia itu sendiri. Membuat plastik dari jagung bukan solusi. Kita harus mengurangi produksi, menghentikan pembangunan fasilitas petrokimia, dan mencari alternatif. Saya pikir ini penting untuk melihat kemajuan perjanjian plastik di UNEA. Ada tonggak sejarah di Februari 2022 ketika UNEA akan mengadakan pertemuan tahunannya. Jadi, kita harus berhenti membuat plastik sebelum kita terus fokus pada cara membersihkannya.

Sebenarnya apakah bahan bakar yang digunakan oleh industri petrokimia di Louisiana?

JP: Di Louisiana, kami memiliki minyak tetapi kami juga memiliki gas metana. Di sini mereka menyebutnya gas alam bawah tanah. Kami memiliki deposit dari tempat mereka melakukan fracking (mereka menyuntikkan air dalam jumlah besar yang terbuat dari bahan beracun dan tekanan tinggi). Tapi apa yang paling menarik dari Louisiana ialah ia sangat dekat dengan rantai pasokan global dan memiliki pasokan air tawar yang sangat mudah diakses. Apa yang sebenarnya dibangun di Louisiana sebenarnya merupakan kapasitas penyulingan, mereka menarik minyak dan gas dari Texas, menggunakan pipa atau kapal dan menyulingnya di sini kemudian mengubahnya menjadi plastik di sini dan mengirimkannya ke luar negeri. Mereka juga menyimpan gas alam di sini. Kami tidak memiliki batu bara di sini, kami memiliki tenaga nuklir di sini, tetapi itu bukan minyak dan gas. Kami mencoba mendorong mereka ke energi matahari dan angin.

Saat ini apakah sudah ada regulasi yang mengatur tentang baku mutu biji plastik dan mikroplastik sehingga kita bisa melakukan advokasi lebih lanjut tentang industri pertrokimia?

RGD: Isu mikroplastik juga menjadi pembahasan tetapi regulasi untuk menangani itu belum ada, yang ada regulasi pencegahan pencemaran oleh industri penghasil plastik. Baik air pollution, water pollution dan land pollution. Terus pemanfaatan berapa kali recycle itu sifatnya acuan. Apakah ada larangan? Tidak tapi untuk daur ulang plastik, impor limbah plastik termasuk bagian dari red notice untuk impor. Kalau pembatasan penggunaan biji plastik tidak ada larangannya. Kalau standar kualitas untuk biji plastik itu ada namun regulasi tapi standar.

RGS: Sebenernya sama, kalau membicarakan regulasi belum ada yang ada hanya beberapa standar. Jika kita berbicara soal regulasi khusus yang kita bisa enforce dari segi lingkungan, kita hanya bisa menggunakan dengan UUPPLH. Isu ini tidak baru, namun sistem atau mekanismenya belum settle.

Diskusi Pemaparan

28 |

Sejauh ini bagaimana keberpihakan pemerintah Indonesia dalam isu ini? Terutama di sektor-sektor industri yang produknya banyak menggunakan plastik.

RGD: Di industri hulu, intermediate, dan hilirnya sebetulnya sudah tertata dengan baik sehingga pencemaran lingkungan bisa dikurangi, kalau ada masalah sedikit saja bisa terlihat karena besar dan global. Namun yang justru dikhawatirkan adalah end usenya, jadi pada saat end use mengolah dimolding dan sebagainya, contohnya PVC sampai menjadi pipa, prosesnya cukup banyak dan toksisitas yang bisa dikeluarkan juga banyak dan juga pada saat dibakar, sebelum dibakar direcycle dulu sebanyak mungkin untuk produk yan bagus untuk menjadi biji plastik. Proses daur ulang biji plastik banyak yang bisa lihat, di Bandung itu ada pengolahan biji plastik dipress dan dipanaskan. Waktu itu dihitung klorin ambien, di Bandung ada klorin padahal tidak ada laut sehingga itu berasal dari plastik. Kandungan klorin di Bandung cukup tinggi yang berasal dari biji plastik. Kita harus sadari kontribusi cukup besar pada GDP dan pendapatan daerah, sehingga kalau dihapus perlu dipertimbangkan juga. Namun kita punya kebijakan di plastik yang paling penting kebijakan pemerintah kapan mengarah ke bio-based dan penyediaan bahan bakunya.

RGS: Kalau petrokimia menurut saya dari berbagai macam kita bisa mencari bahwa pemerintah justru mendorong stimulus. Kita punya tax holiday dan kalau dilihat dari konteks regulasinya itu ingin mendorong industri termasuk petrokimia untuk lebih berkembang. Kalau keberpihakannya pasti ke sana karena konteksnya ekonomi yang didorong dari UU No. 3 Tahun 2014 dan kebijakan saat ini. Yang penting itu adalah bagaimana sebenarnya sistem atau mekanisme yang jelas memaksa industri ini untuk pertama tidak impor karena kalau membicara impor, kita sulit membahas pembatasan di hilir karena toh masuk terus. Kita membicarakan bagaimana kita menghasilkan produk. Bagaimana caranya menghentikan hilir kalau di hulunya terus diproduksi? Kedua, bagaimana punya mekanisme untuk memastikan jadi ketika berbicara biji plastik, perlu melihat bahwa kualitas ekosistem di sekitarnya tidak tercemar karena ada kecenderungan kebocoran walaupun saya juga gak ngerti tapi banyak kebocoran terjadi dan mungkin sistem itu yang perlu diperketat supaya mekanisme atau kasus seperti di formosa tidak terjadi. kalau kita melihat dari kasus formosa itukan salah satu kesepakatan perdamaiannya adalah akuntabilitas dan akses informasi. Perlu ada edukasi dan pemberian informasi yang cukup bagi masyarakat agar tahu. Ada pemantauan yang dipublikasikan, ada laporan dan ada data-data tidak ada kebocoran, kondisi lingkungan aman. Ini sebenenarnya penting untuk dilakukan dan rasanya tidak sulit untuk dilakukan.

Apakah plastik dapat didaur ulang secara utuh hanya bisa didown cycling? Kira-kira jenis plastik apa saja yang dapat didaur ulang? Apakah sachet bisa didaur ulang?

RGD: Untuk proses daur ulang ada tujuh tipe terutama PET itu paling mahal yang bisa didaur ulang karena sifatnya yang berulang kali, bisa dibentuk dsb. Atau daur ulangnya jangan yang seperti itu botol plastik menjadi botol plastik tetapi menjadi monomerisasi kemudian polimerisasi yang dilakukan di Thailand sehingga kualitas polimernya lebih baik. Kemudian untuk tadi, proses mana saja yang bisa didaur ulang bisa dilihat saja apakah bisa didaur ulang atau tidak. Bahkan bekas infus itu bisa didaur ulang karena harganya mahal namun reuse yang kita harus hati-hati. Jadi botol minuman yang seharusnya didaur ulang malah diisi lagi, kekhawatirannya nanti ada yang lepas dan masuk ke dalam tubuh kita. Kemudian biji plastiknya juga ada jenis tertentu. Ke depan dimulai juga oleh pemerintah bahwa yang namanya recycle itu dijadikan monomer terus polimer harus ada insentif untuk mengurangi sampah plastik. Sayangnya kondisi sampah plastik kita sudah jelek, kalau masuk landfill akan dibakar. Sachet dan kantong kresek itu paling susah didaur ulang. Itu disarankan tidak digunakan dan dikurangi. Jadi yang diatur bukan industrinya tapi end usenya. Dulu ada usulan mi instan baik kemasan dan bumbunya tidak menggunakan sachet tetapi yang bisa langsung dicelupkan.

Penggunaan plastik tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari. namun dalam pengurangan terhadap limbah plastik, selama ini pemerintah hanya mengeluarkan kebijakan dengan membebankan kepada masyarakat untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai serta memberikan sanksi terhadap pelanggaran tersebut. kebijakan tersebut juga masih berlaku di masing-masing daerah belum berlaku secara nasional. Bagaimana caranya supaya organisasi lingkungan hidup mendorong pemerintah untuk mengeluarkan peraturan agar perusahaan penghasil plastik juga bertanggungjawab terhadap plastik yang dihasilkan?

RGS: Kalau dibilang, ketika bicara kekurangan itu, kuncinya ada di daerah. Konteks Pemerintah pusat justru mendorong dan mensupervisi pemerintah daerah karena kalau kita lihatkan semuanya itu perkada di Bali dan Kalsel bahkan Banjarmasin, Bali, Bogor. Jadi kalau bisa dilihat kenapa Perkada berarti ada respon cepat dari kepala daerah untuk mengatasi masalah ini. Kalau saya lihat sih, bentuk produknya kenapa harus Perkada tetapi dalam konteks tahapan awal memang seperti itu. Memang peran OLH ialah agar setiap peraturan jelas pencapaiannya, beberapa Banjarmasin, pernah melaporkan berapa capaian

Diskusi Pemaparan

30 |

dan ada pengurangan yang cukup signifikan. Sekarang pekerjaannya bagaimana mengkonsolidasikan data yang ada ini dan menjadikannya satu capaian bersama.

Organisasi lingkungan sebenarnya mendorong untuk mengurangi sampah, kedua mengukur capaiannya dan dipublikasikan agar masyarakat tau dan yang terpenting lagi, OLH juga aktif dalam mendefense peraturan perkada (pergub) Bali yang sempat digugat oleh asosiasi lewat uji materil. Jadi tidak hanya dalam konteks asistensi, tetapi juga bisa lewat amicus curiae dan defense di pilkada. puji syukur perkadanya tidak dianggap bermasalah. Tapi, ini jangan sampai membebankan masyarakat saja tapi harus ada solusi di mana produsen juga disasar, yang di tahap hilir harus melakukan tahap signifikan seperti redesign, peta jalan yang jelas dan accessible bagi publik sehingga kita bisa melihat setiap produsen memiliki rencana yang jelas.

03

Dokumen terkait