A. Bagaimanakah prosedur anti-SLAPP baik dalam perdata dan pidana nanti?
• Prof. Hartiwiningsih:
Jadi memang, menurut pendapat saya SLAPP ini harus disaring sejak awal;
menerima masakan yang sudah hampir jadi. Tapi yang menyiapkannya di ranah penyelidikan dan penyidikan, menurut saya di sini adalah POLRI sebagai garda terdepan, harus dibantu, tentu harus dipersiapkan sumber daya yang bagus untuk SLAPP. Kemudian dibantu dengan ahli, dan kalau kita melakukan studi komparasi, di tahap penyelidikan, sudah ada hakim komisaris, yang mengawasi tindakan-tindakan yang sewenang-wenang terhadap tersangka. Sehingga kasus yang masuk ke peradilan, sudah fix. Karena kalau saat ini kita melakukan analisis dari kasus yang ada, APH tidak cenderung melihat adanya latar belakang terjadinya suatu tindakan yang diduga sebagai bentuk tindakan kriminal, contohnya kasus di Mataram, misalnya ada pelemparan batu oleh warga, itu adalah bentuk frustrasi yang dirasakan warga dari adanya aktivitas lingkungan yang merugikan. Di tahap proses awal inilah yang perlu digodok secara matang, sehingga tidak terjadi lagi kesalahan.
Di situ lah peran hakim komisaris, ahli, dan POLRI; orang-orang yang sudah ditatar, bukan yang tidak paham mengenai lingkungan. Kemudian mengenai pidana tambahan, hasil penelitian dari mahasiswa doktor kami di UNS, dan dia melakukan identifikasi terhadap 300 kasus, yang kemudian hanya ada 30 kasus yang bisa diidentifikasi menggunakan pidana tambahan; namun dari sisa kasus lainnya tidak ada putusan perdatanya, itulah hasil temuan kami.
• I Gusti Agung Wardana:
Saya masih melihat ruang-ruang di UU PPLH, nah bagaimana prosedurnya, tentu saja, dalam bayangan saya yang perlu pematangan lebih lanjut, bahwa betul yang disampaikan bahwa perlu ada identifikasi dari awal, dari proses penyelidikan dan penyidikan. Nah di sinilah konsepsi mengenai anti-SLAPP perlu dilakukan secara sistematis, dengan cara pendekatan substantif, hal ini lebih mudah. Kemudian, dilakukan koordinasi antara penyidik dan KLHK. Di level kementerian sendiri, perlu dibentuk analisis kasus SLAPP, hasil dari analisis ini digunakan kemudian untuk menentukan bentuk tindakannya. Keterkaitannya dengan kasus perdata, betul sekali yang terjadi, hakim cenderung mengisolasi kasus dengan tidak menghubungkan dengan latar belakang adanya kasus pencemaran dan kerusakan.
Diskusi Pemaparan
34 |
B. Jika sudah banyak konvensi internasional yang menjamin partisipasi publik, mengapa SLAPP yang mereduksi partisipasi publik terus terjadi?
• Laode Muhammad Syarif:
UU PPLH bahkan sebenarnya sudah mengakui, tapi mengapa masih banyak SLAPP?
Ya mungkin inilah kutukan kita di Indonesia, pemerintah kita tidak pernah serius, kalau sudah diatur dalam konstitusi, seharusnya APH sudah langsung bertindak, tanpa perlu juklak juknis, seharusnya bisa. Ada pertanyaan yang banyak dari Ibu Nani misalnya, pengadilan tidak bisa menolak, tapi kalau sudah sampe di pengadilan, hakim di Indonesia itu jauh lebih bebas dari hakim di negara common law, hakim Indonesia hakim Belanda itu bebas untuk menggali kebenaran materiil, beda sekali dengan yang adversarial. Secara praktik bisa dilakukan, yang penting niat. Yang berikutnya lagi adalah Pak Marsudi yang sekaligus juga ditanyakan oleh Ibu Nani, di UU kita, harus dilakukan secara hukum, jadi apakah protes itu? Protes itu kan diakui juga, tapi apakah boleh anarki? Itulah tugas para hakim yang bisa menggali kasus-kasus di pengadilan. Kemudian Pak Marsudi pertanyaannya,
“bagaimana kalau ada udang di balik batu?” Saya pikir itu bisa juga diselidiki kalau sudah sampai di pengadilan. Memang, baik itu di Eropa, Amerika, diharapkan SLAPP ini harus semua diselesaikan di pengadilan, nah itu biayanya bisa mahal sekali karena sangat lama prosesnya.
Jadi memang, ini seharusnya diatur dimana ya yang pas? Menurut saya, harusnya bisa diatur dalam peraturan pemerintah, supaya bisa dipakai crossed field, karena SLAPP tidak selalu kasus LH, bisa jadi kasus lain. Saya tidak punya harapan 30 tahun lagi pemerintah mau melakukan itu. Tapi saya ingat, di KPK tidak ada satu kasus pun yang ditangani oleh KPK dalam kasus pidana korporasi untuk isu LH. Itu baik sekali, diikuti oleh polisi, jaksa, jadi saya advokasikan kalau bisa hari ini, untuk MA ditingkatkan menjadi Peraturan MA, agar semua yang berurusan dengan SLAPP dapat ditangani dengan baik.
• Peserta:
Apakah SLAPP bisa disamakan dengan alasan pemaaf pidana? Menurut saya tidak, karena alasan pemaaf pidana bisa terjadi kalau suatu tindak pidana sudah terbukti terjadi. Sedangkan SLAPP ini adalah kriminalisasi.
Tidak hanya anarkis atau melawan hukum, tapi juga diteliti apakah mereka melakukan penyerangan karena dipekerjakan oleh pihak perusahaan?
Prosiding Webinar:
Penguatan Mekanisme Anti-SLAPP Dalam Sistem Hukum Indonesia
|35
• Laode Muhammad Syarif:
Menurut saya ini layak untuk diteliti di pengadilan, sama seperti jawaban saya untuk Pak Marsudi.
• Prof. Andri Gunawan Wibisana:
Kalau menurut saya pemahaman aparat yang cenderung mengikuti apa yang dikehendaki oleh orang yang punya kepentingan, sementara menurut saya pengadilan ini kan di akhir, menurut saya kita perlu membedakan perdata dan pidana. Kemudian, banyak juga perspektif yang legalistik, padahal sebenarnya SLAPP ini kan, apabila ada seseorang yang berdalil bahwa hak dia telah terlanggar, karena ini bukan hanya mencocokkan dengan pasal yang didakwakan, jadi tidak hanya soal layak atau bukan. Jadi, kalau ditolak SLAPP-nya, harus ada argumennya.
Dari pencerdasan tadi sebenarnya ada penjelasan, persoalan ini adalah persoalan politik awalnya, ada orang-orang yang protes mempertahankan haknya, diubah menjadi persoalan sekedar pribadi, dengan menghubungkan persoalan hukum pribadi dia gitu. Nah, bagaimana cara alternatif yang bisa kita ajukan adalah membongkar itu, jadi masalah yang tadinya hanya masalah politik, jadi masalah legal. Jadi, orang-orang hukum yang terlibat di sini, maka aparat punya kewajiban untuk benar-benar melihat itu, di sinilah perlu dilihat lagi bahwa ini bukan persoalan hukum. Pertama, ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh tergugat atau terdakwa pada kasus awalnya, jadi coba gali itunya, betul ga ini ada kasus tambang yang mendahului, legitimate tidak mereka protes. Kalau dalam SLAPP menurut Pring adalah isu personalnya, misalnya Budi Pego, seolah-olah yang protes sendirian, padahal ada masyarakat di belakangnya. Mengambil satu pihak untuk dikriminalisasi atas kepentingan publik adalah salah satu tanda SLAPP. Mungkin kalau udah masuk pengadilan, pengadilan harus memutus sedini mungkin, menurut saya di putusan sela. Nah, bagaimana persoalannya jika ini di kejaksaan, kepolisian, ada perkara digantung. Tentu saja SKK MA tidak bisa menjangkau itu. Perlu tentunya ada peraturan yang mengatur terkait itu. Bagaimana supaya penjelasan Pasal 66 menjangkau kepolisian, coba kita bayangkan bahwa apa yang dibayangkan oleh masyarakat adalah mempertahankan lingkungan, mungkin kita bisa membahas mengenai “penegakan hukum” oleh masyarakat, yang kemudian tunduk kepada putusan MA. Sehingga maksud saya adalah, kalau ada tuduhan SLAPP, apakah orang bisa mengajukan itu ke KLHK? Jadi, buat saya, landasan hukum KLHK bisa menjangkau kepolisian, dengan alasan itu, agak sulit untuk mengatur peraturan yang bisa menjangkau kejaksaan dan kepolisian. Filter untuk menentukan SLAPP atau bukan, bisa belajar dari Pring dan Canan adalah dengan melihat latar belakangnya. Jadi bukan hanya itu, yang muncul ke permukaan, APH harus mau melihat itu.
Diskusi Pemaparan
36 |
C. Apakah cukup memperkuat pejuang LH saja karena pada sisi lain banyak juga kasus yang digunakan untuk kriminalisasi masyarakat seperti UU ITE dan KUHP?
• Laode Muhammad Syarif:
Dari beberapa kasus tadi, menurut saya kita bisa mencari cara yang tepat apa.
Apakah ada mekanisme menggugat balik pejabat publik akibat dia melakukan kriminalisasi silencing the people. Saya pikir bisa kita diskusikan lebih jauh.
• I Gusti Agung Wardana:
Memang betul kriminalisasi yang dilakukan itu sangat beragam ya, bisa di KUHP dan UU ITE. Kemudian UU Minerba juga seperti itu, frasa “menghalang-halangi”
sangat bermasalah. Apakah cukup solusinya hanya di ranah lingkungan? Menurut saya tidak, perundang-undangan dalam sektor lingkungan tidak memadai, UU ITE banyak sekali yang menjadi korban; kemudian bagaimana kita juga harus mengubah UU Minerba kita, UU Perkebunan untuk membungkam, jadi ada pekerjaan di sektor-sektor itu. Menurut saya tawaran Bang Andri kemudian menjadi tawaran yang feasible, dengan asumsi mengenai koordinasi dengan KLHK, saya juga cukup skeptis apakah KLHK bisa menjangkau, tapi menurut saya segala upaya perlu kita lakukan. Itu yang bisa saya sampaikan.
D. Bagaimana keterkaitan politik hukum saat ini dengan SLAPP yang tinggi?
• I Gusti Agung Wardana:
Kenaikan kasus disebabkan karena adanya kebijakan ekstraktif yang mereduksi ruang-ruang hidup masyarakat. Ini termanifestasi dengan digunakannya hukum pidana untuk membungkam. Hal ini yang perlu dilakukan untuk melihat lebih jauh.
Kemudian mengenai SLAPP Back, penguatan ini menjadi penting, untuk men-discourage perusahaan atau publik yang menggugat pembela lingkungan, maka perusahaan yang menjadi penggugat ini yang perlu mempertimbangkan ulang. Itu salah satu tawaran, tentu saja ada juga mekanisme SLAPP Back untuk meminta kompensasi, ini juga bisa termasuk ke dalam upaya untuk men-discourage SLAPP oleh perusahaan.
Prosiding Webinar:
Penguatan Mekanisme Anti-SLAPP Dalam Sistem Hukum Indonesia
|37 E. Apakah pasal 66 frasanya tidak dapat diputus secara pidana? Apakah SLAPP bisa
dikatakan sebagai alasan pemaaf, pembenar, atau bagaimana?
• Prof. Hartiwiningsih:
Dalam alasan pembenar seorang yang melakukan perbuatan melawan hukum, namun karena keadaan tertentu menjadi dibenarkan, misalnya pembelaan darurat, melaksanakan perintah undang-undang dari kuasa yang sah. Kemudian, untuk alasan pemaaf, juga berkaitan dengan orang yang melakukan perbuatannya, misalnya tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban; pembelaan terpaksa yang melampaui batas. Mungkin kalau daya paksa, konsepnya begitu. Untuk alasan pembenar, bisa masuk ke dalam melaksanakan perintah UU, jadi mereka melakukan pembelaan dari adanya tindakan yang merusak lingkungan sebagaimana yang dilindungi dalam undang-undang.
Indonesian Center
for Environmental Law Indonesian Center
for Environmental Law
@ICEL_indo
@icel_indo icel.or.id