• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disparitas Pembangunan Banten Utara dan Banten Selatan

102 ketergantungan sedang yaitu Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, satu

6.3.2.3. Disparitas Pembangunan Banten Utara dan Banten Selatan

Tanggal 4 Oktober 2020 lalu, Provinsi Banten genap berusia 20 tahun, di usia tersebut Banten belum dapat keluar dari persoalan ekonomi dan sosial. Salah satu persoalan tersebut adalah disparitas pembangunan yang terjadi antara Banten utara dan Banten selatan. Wilayah Banten utara terdiri dari enam kabupaten/kota yaitu Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan. Sedangkan wilayah Banten Selatan terdiri dari Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Berikut beberapa data terkait disparitas pembangunan Banten Utara dan Banten Selatan.

a. Distribusi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB)

Distribusi PDRB antara Banten Utara dan Banten Selatan terlihat sangat jauh berbeda. Secara rata-rata distibusi PDRB Banten Selatan dalam kurun waktu 2015-2019 hanya menyumbang 8,58

persen dari total PDRB Banten, sedangkan

sumbangan Banten Utara mencapai 91,42 persen. Apabila dilihat dari distribusi PDRB

berdasarkan kabupaten/kota, terlihat Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak yang merupakan wilayah Banten Selatan memiliki porsi yang paling kecil dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Banten dalam kurun waktu 2014-2019.

Tabel VI.6

Perbandingan Distribusi PDRB Banten Selatan dan Utara 2015-2019 (Persen)

Kab / Kota Rata-rata

2015 2016 2017 2018 2019

Kab Pandeglang 4.25 4.27 4.27 4.27 4.23 4.26 Kab Lebak 4.32 4.34 4.33 4.31 4.32 4.32

Total 8.57 8.61 8.60 8.58 8.55 8.58 Kab / Kota Rata-rata

2015 2016 2017 2018 2019 Kab Tangerang 21.23 21.1 21.03 21.01 21.08 21.09 Kab Serang 11.74 11.74 11.65 11.55 11.49 11.63 Kota Tangerang 26.04 26.27 26.33 26.40 26.18 26.24 Kota Cilegon 16.10 15.81 15.71 15.64 15.57 15.77 Kota Serang 4.58 4.64 4.67 4.69 4.75 4.67 Kota Tangsel 11.75 11.83 12.01 12.15 12.38 12.02 Total 91.44 91.39 91.40 91.44 91.45 91.42 Distribusi PDRB Banten Selatan

Distribusi PDRB Banten Utara

103

b. PDRB Per Kapita

Besaran PDRB antara Banten Utara dan Banten Selatan terlihat sangat jauh berbeda. Rata-rata besaran PDRB Per Kapita Banten Selatan dalam kurun waktu 2015-2019 sebesar Rp39,28 juta, sedangkan rata-rata besaran PDRB Banten Utara dalam kurun waktu tersebut sebesar Rp439,99

juta. Apabila dilihat dari besaran PDRB berdasarkan kabupaten/kota, terlihat Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak yang merupakan wilayah Banten Selatan memiliki nilai PDRB Per Kapita paling kecil dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Banten dalam kurun waktu 2015-2019.

c. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Nilai IPM antara wilayah Banten Utara dan Banten Selatan dalam kurun waktu 2016-2020 terlihat jauh berbeda, secara rata-rata IPM Banten Selatan sebesar 63,84 poin, sedangkan IPM Banten

Utara sebesar 73,38 poin. Apabila dilihat besaran IPM berdasarkan kabupaten/kota, terlihat kabupaten yang berlokasi di Banten Selatan yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak memiliki nilai IPM terendah dibanding Kabupaten/Kota lain yang berlokasi di Banten Utara.

Sumber : BPS

Tabel VI.6

Perbandingan PDRB Per Kapita Banten Selatan dan Utara 2015-2019 (Jutaan)

Kab / Kota Rata-rata

2015 2016 2017 2018 2019

Kab Pandeglang 17,028 18,442 20,065 21,841 23,371 20,149 Kab Lebak 16,280 17,572 19,009 20,587 22,200 19,130

Total 33,308 36,014 39,074 42,428 45,571 39,279

Kab / Kota Rata-rata

2015 2016 2017 2018 2019 Kab Tangerang 30,161 31,459 33,194 35,215 37,121 33,430 Kab Serang 38,124 41,004 44,125 47,624 51,010 44,377 Kota Tangerang 60,891 65,004 69,632 74,776 78,585 69,778 Kota Cilegon 186,986 195,731 209,059 224,424 238,444 210,929 Kota Serang 34,058 36,725 39,683 42,862 46,130 39,892 Kota Tangsel 36,442 38,462 41,328 44,329 47,394 41,591 Total 386,662 408,385 437,021 469,230 498,684 439,996 PDRB per Kapita Banten Selatan

PDRB per Kapita Banten Utara Sumber : BPS Banten

Tabel VI.7.

Perbandingan IPM Banten Selatan dan Utara 2016-2020

Kab / Kota Rata-rata

2016 2017 2018 2019 2020

Kab Pandeglang 63.40 63.82 64.34 64.91 65.00 64.29 Kab Lebak 62.78 62.95 63.37 63.88 63.91 63.38

Rata-Rata 63.09 63.39 63.86 64.40 64.46 63.84

Kab / Kota Rata-rata

2016 2017 2018 2019 2020 Kab Tangerang 70.44 70.97 71.59 71.93 71.92 71.37 Kab Serang 65.12 65.60 65.93 66.38 66.70 65.95 Kota Tangerang 76.81 77.01 77.92 78.43 78.25 77.68 Kota Cilegon 72.04 72.29 72.65 73.01 73.05 72.61 Kota Serang 71.09 71.31 71.68 72.10 72.16 71.67 Kota Tangsel 80.11 80.84 81.17 81.48 81.36 80.99 Rata-Rata 72.60 73.00 73.49 73.89 73.91 73.38 Indeks Pembangunan Manusia Banten Selatan

104

d. Persentase Penduduk Miskin

Persentase penduduk miskin antara wilayah Banten Utara dan Banten Selatan dalam kurun waktu 2015-2019 terlihat jauh berbeda. Rata-rata persentase penduduk miskin di wilayah Banten Utara sebesar 9,29 persen, sedangkan di wilayah Banten Selatan sebesar 4,25 persen. Apabila dilihat persentase penduduk miskin berdasarkan kabupaten/kota, terlihat kabupaten yang berlokasi di Banten Selatan yaitu Kabupaten

Pandeglang dan Kabupaten Lebak memiliki persentase penduduk miskin

tertinggi dibanding Kabupaten/Kota lain yang berlokasi di Banten Utara.

Berdasarkan empat indikator diatas yaitu distibusi PDRB, PDRB per kapita, IPM dan persentase penduduk miskin, maka tidak dapat dipungkiri memang terdapat disparitas pembangunan antara wilayah Banten Utara dan Banten Selatan. Wilayah Banten Utara berkembang pesat sedangkan Banten Selatan berkembang lambat. Untuk itu perlu intervensi dan peranan pemerintah untuk mengurangi disparitas tersebut. Peranan pemerintah yang tercermin melalui pengeluaran pemerintah merupakan faktor penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan agregat. Semakin besar pengeluaran pemerintah akan berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi pada daerah tersebut. Pengeluaran pemerintah dapat menjadi suntikkan perekonomian melalui program-program atau kegiatan untuk mendorong produktivitas sumber daya yang ada, sehingga akan mengurangi tingkat ketimpangan pembangunan yang terjadi dalam suatu wilayah.

Tabel VI.8.

Perbandingan Persentase Penduduk Miskin Banten Selatan dan Utara, 2015 – 2019 (persen) Kab/Kota 2015 2016 2017 2018 2019 Rata-rata Kab Pandeglang 10.19 9,67 9,74 9,61 9,42 9,77 Kab Lebak 9,97 8,71 8,64 8,41 8,30 8,81 Rata-Rata 10,20 9,19 9,19 9,01 8,86 9,29 Kab/Kota 2015 2016 2017 2018 2019 Rata-rata Kab Tangerang 5,71 5,29 5,39 5,18 5,14 5,34 Kab Serang 5,09 4,58 4,63 4,30 4,08 4,54 Kota Tangerang 5,04 4,94 4,95 4,76 4,43 4,82 Kota Cilegon 4,10 3,57 3,52 3,25 3,03 3,49 Kota Serang 6,28 5,58 5,57 5,36 5,28 5,61 Kota Tangsel 1,69 1,67 1,76 1,68 1,68 1,70 Rata-Rata 4,65 4,27 4,30 4,09 3,94 4,25

Persentase Penduduk Miskin Banten Selatan

Persentase Penduduk Miskin Banten Utara

105

Mengutip pernyataan Menteri Keuangan bahwa dalam rangka pengamanan dan antisipasi dampak pandemi Covid-19, pemerintah mengambil tiga langkah kebijakan, salah satunya refocusing atau realokasi anggaran K/L dan Pemda. Refocusing APBD TA 2020 untuk penanganan pandemi dan dampak Covid-19 berpedoman pada Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Nomor 119/2813/SJ dan 117/KMK.07/2020 tentang Percepatan Penyesuaian APBD Tahun 2020 Dalam Rangka Penanganan Covid-19, serta Pengamanan Daya Beli Masyarakat dan Perekonomian Nasional, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 35/PMK.07/2020 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa TA 2020 Dalam Rangka Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional. Pelaksanaan refocusing anggaran dilakukan dengan cara menunda atau membatalkan kegiatan-kegiatan yang dianggap tidak relevan lagi atau tidak dalam koridor prioritas.

Refocusing APBD Provinsi Banten TA 2020 untuk percepatan penanganan

dampak pandemi Covid-19 dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama

berdasarkan Peraturan Gubernur Banten nomor 9 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 45 Tahun 2019 tentang Penjabaran APBD Provinsi Banten TA 2020. Realokasi tahap pertama melalui APBD TA 2020 sebesar Rp1,22 trilyun digunakan untuk bantuan kepada sekitar 670 ribu kepala keluarga miskin yang terdampak pandemi Covid-19. Untuk refocusing tahap kedua dilaksanakan melalui Peraturan Gubernur Banten nomor 14 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Gubernur nomor 45 Tahun 2019 tentang Penjabaran APBD Provinsi Banten TA 2020, yang ditetapkan pada tanggal 9 April 2020. Kemudian refocusing tahap ketiga melalui Peraturan Gubernur Banten tanggal 30 April 2020 nomor 20 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Gubernur nomor 45 Tahun 2019 tentang Penjabaran APBD Provinsi Banten TA 2020.

106

Pemerintah Provinsi Banten melakukan pergeseran atau refocusing APBD tahap ketiga

untuk penangangan pandemi Covid-19 sebesar Rp2,134 trilyun0F

1 yang akan digunakan

untuk menangani empat sektor, antara lain : 1. Kesehatan sebesar Rp266,9 miliar.

2. Pemulihan ekonomi sebesar Rp245,5 miliar.

3. Jaring Pengaman Sosial/JPS (Social Safety Net) sebesar 1,182 trilyun.

Data Dinas Sosial Provinsi Banten menyebutkan bahwa penyaluran JPS diperuntukkan bagi 421.177 keluarga penerima manfaat/kepala keluarga yang tersebar di wilayah Provinsi Banten. Salah satu bentuk JPS berupa bantuan sebesar Rp600 ribu di wilayah Tangerang Raya (Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kab Tangerang) yang memberlakukan PSBB dan Rp500 ribu bagi Kab/Kota lainnya selama tiga bulan. Di ibu kota Provinsi Banten yaitu Kota Serang ditujukan kepada 30.200 KK, Kota Cilegon sebanyak 20.375 KK, Kabupaten Serang sebanyak 56.100 KK, kemudian Kabupaten Pandeglang sebanyak 44.673 KK, dan Kabupaten Lebak sebanyak 11.655 KK. Sedangkan untuk wilayah Tangerang Raya dialokasikan untuk 149.133 KK di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang sebanyak 86.783 KK, dan Kota Tangerang Selatan sebanyak 22.258 KK.

4. Bantuan Keuangan kepada delapan Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten dengan total sebesar Rp440 milyar. Alokasi tiap-tiap Kab/Kota berdasarkan SK Gubernur Banten tanggal 9 April 2020 nomor 978/Kep.135-Huk/2020 tentang Pemberian Bantuan yang bersifat Khusus kepada kabupaten / Kota se-Provinsi Banten TA 2020 untuk menangani Covid-19, yaitu :

1) Kabupaten Pandeglang Rp55 miliar 2) Kota Serang Rp45 miliar

3) Kabupaten Tangerang Rp60 miliar 4) Kota Cilegon Rp45 miliar

5) Kota Tangerang Selatan Rp45 miliar 6) Kabupaten Serang Rp80 miliar 7) Kota Tangerang Rp45 miliar 8) Kabupaten Lebak Rp65 miliar

107

Pada lampiran I Pergub nomor 20 Tahun 2020, Pemerintah Provinsi Banten melakukan

refocusing dan realokasi APBD TA 2020 tahap ketiga antara lain pada pos Belanja Tidak

Terduga (BTT) yang semula berjumlah Rp45 milyar bertambah 3.746,70 persen menjadi Rp1.686.015.513.095,00 dan menganggarkan pos baru yaitu Belanja Barang Untuk Diserahkan Kepada Masyarakat sebesar Rp8.502.057.813,00. Sementara Pos Belanja Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Daerah/Kabupaten/Kota tidak mengalami perubahan nominal yakni sebesar Rp440 milyar.

Realisasi belanja untuk pencegahan dan/atau penanganan Covid-19 TA 2020 hasil

refocusing APBD Provinsi Banten TA 2020 mencapai Rp577.392.668.168,00 dengan

rincian sebagai berikut :

1. Belanja Bidang Kesehatan dan Lain-lain Terkait Kesehatan Dalam Rangka Pencegahan dan/atau Penanganan Covid-19 sebesar Rp157.037.234.703,00.

2. Penyediaan Jaring Pengaman Sosial sebesar Rp406.068.100.000,00. 3. Penanganan Dampak Ekonomi sebesar Rp13.201.242.765,00.

4. Kebencanaan sebesar Rp1.086.090.700,00.

Secara kumulatif realisasi APBD Provinsi Banten TA 2020 mencapai 93,86 persen dimana realisasi Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Lainnya tercapai di atas 95 persen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja realisasi belanja pencegahan dan/atau penanganan dampak Covid-19 pada APBD Provinsi Banten TA 2020 termasuk berhasil.

Refocusing atau realokasi APBD pada tahun 2020 juga dilakukan oleh semua

Pemerintah Kabupaten/Kota di Banten karena sesuai SKB Mendagri dan Menkeu terdapat sanksi pemotongan DAU apabila tidak menyampaikan laporan realokasi anggaran. Sanksi pemotongan DAU untuk memastikan bahwa daerah memiliki komitmen dan kapasitas dalam penanggulangan dampak Covid-19.

Pemerintah Kota Serang dalam me-relokasi atau refocusing APBD TA 2020

ditetapkan dengan Peraturan Walikota Serang nomor 4 Tahun 2020 tentang Perubahan atas lampiran Peraturan Walikota nomor 58 Tahun 2019 tentang Penjabaran APBD TA 2020. Refocusing program untuk penanganan Covid-19 pada APBD Kota Serang TA 2020 berjumlah Rp91.595.966.500,00 yang terbagi atas :

1) Belanja Bidang Kesehatan dan hal-hal lain terkait Kesehatan dalam rangka pencegahan dan/atau penanganan Covid-19 sebesar Rp46.853.164.700,00.

108

3) Penanganan dampak ekonomi sebesar Rp9.274.023.000,00.

Sasaran penyaluran dana hasil refocusing APBD TA 2020 Kota Serang salah satunya untuk bantuan stimulus kepada 10.008 pelaku UMKM terdampak Covid-19. Berdasarkan keputusan Walikota Serang No. 510/Kep.193-Huk/2020 tanggal 3 Agustus 2020 tentang penetapan penerima bantuan stimulus UMKM terdampak Covid-19, per pelaku usaha mikro mendapatkan bantuan senilai Rp 500 ribu. Hasil refocusing APBD seperti kebanyakan dilakukan oleh Pemda di Provinsi Banten dialokasikan pada obyek Belanja Tidak Terduga (BTT), selanjutnya digunakan untuk menangani dampak pandemi Covid-19 oleh Organisasi Perangkat daerah (OPD). Hasil realokasi APBD Kota Serang TA 2020 pos BTT sebesar Rp93.851.414.840,00 dengan capaian realisasi sesuai data LRA mencapai 90,40 persen atau Rp84.599.823.912,00.

Refocusing APBD Kab Lebak TA 2020 yang ditujukan untuk penanganan dampak

pandemi Covid-19 sebesar Rp161.088.357.000,00. Dari besaran tersebut sebesar

Rp48.706.792.000,00 dialokasikan untuk Belanja Bidang Kesehatan dan hal-hal lain terkait Kesehatan dalam rangka pencegahan dan/atau penanganan Covid-19. Sedangkan anggaran untuk JPS sebesar Rp108.640.565.000,00 dan untuk penanganan dampak ekonomi sebesar Rp3.741.000.000,00. Sasaran refocusing dialokasikan dalam bentuk bantuan sosial tunai bagi 32.370 keluarga penerima manfaat selama tiga bulan dan bantuan biaya hidup masyarakat terdampak Covid-19 di luar DTKS sejumlah 98.310 penerima. Data KPM penerima bansos tunai yang bersumber dari APBD Kabupaten/Kota merupakan masyarakat terdampak virus korona yang belum masuk ke dalam data penerima bantuan dari provinsi, kemensos, DTKS, BPNT, Jamsosratu dan PKH.

Realisasi belanja bidang kesehatan mencapai 75,52 persen atau Rp36.782.058.788,00 antara lain digunakan untuk pengadaan APD, masker dan lain-lain, sedangkan realisasi JPS sebesar Rp99.139.406.606,00 atau 91,25 persen. Adapun realisasi belanja untuk penanganan dampak ekonomi mencapai persentase yang paling tinggi yaitu 96,82 persen.

Realisasi dana hasil refocusing APDB TA 2020 Kota Tangerang Selatan untuk

tujuan jaring pengaman sosial (JPS) merupakan yang paling sedikit di banding Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Banten. Jumlah realokasi APBD Kota Tangsel TA 2020 untuk belanja JPS sebesar Rp90 juta habis direalisasikan dalam bentuk bantuan sosial tunai kepada 724 lansia terlantar atau disabilitas. Kuota penerima bantuan sosial tunai atas beban APBD Kota Tangerang Selatan sebesar 40.500 KK tetapi karena telah

109

ditanggulangi melalui kuota dari sumber Kementerian Sosial sebanyak 75.916 KPM dan Pemerintah Provinsi Banten sebanyak 10.924 KK maka hanya dapat direalisasikan 724 penerima saja. Sesuai ketentuan pada tiap-tiap Surat Keputusan bantuan sosial bahwa setiap penerima bantuan sosial hanya menerima bantuan dari satu sumber dana bantuan sosial saja.

Untuk anggaran penanganan dampak ekonomi terealisasi 37,13 persen dari alokasi sebesar Rp138.838.235.000,00. Sementara itu belanja bidang kesehatan dan lain-lain terkait kesehatan dari alokasi Rp101.665.244.168,00 (termasuk di dalamnya untuk keperluan belanja pegawai) terealisasi sebesar Rp96.921.485.942,00.

Kabupaten Pandeglang melakukan refocusing APBD TA 2020 untuk penanganan

dampak pandemi Covid-19 sebesar Rp72.292.973.710,00 dengan realisasi mencapai 97,36 persen atau senilai Rp70.385.266.237,00. Untuk belanja penanganan Kesehatan, dilaksanakan oleh OPD berupa kegiatan penanganan Covid-19 di 35 Kecamatan dan pengadaan paket alat kesehatan. Alokasi belanja Kesehatan untuk penanganan Covid-19 mencapai Rp45.318.913.610,00 yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kegiatan penanganan selain pembelian alat kesehatan sebesar Rp12.320.206.610,00 dengan realisasi Rp11.923.512.070,00 dan pengadaan alat-alat kesehatan yang dimasukkan pos Belanja Tidak terduga sebesar Rp32.998.707.000,00. Realisasi belanja alkes dilaksanakan oleh RSUD Berkah Pandeglang, Dinas Kesehatan, dan BPBD mencapai 95,96 persen atau Rp31.665.344.267,00.

Untuk belanja Jaring Pengaman Sosial dialokasikan sebesar Rp24.058.060.100,00 diantaranya berupa bantuan sosial tunai yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial kepada 7.250 penerima sebesar Rp500 ribu tiap bulan selama tiga bulan. Realisasi belanja JPS sampai dengan akhir tahun 2020 mencapai 99,26 persen atau sebesar Rp23.880.409.900,00. Sedangkan belanja penanganan terhadap dampak ekonomi terealisasi seratus persen dari alokasi Rp2.916.000.000,00. Sasaran belanja penanganan dampak ekonomi ini sebagian besar berupa bantuan permodalan ekonomi untuk 275 UMK yang dilaksanakan oleh Dinas KUKM dan 123 KUBE oleh Dinas Sosial. Bantuan sosial hasil refocusing APBD Kabupaten Serang TA 2020 yang dikelompokkan dalam Belanja Jaring Pengaman Sosial (JPS) diberikan dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok dengan target 48.800 keluarga. Alokasi belanja JPS sebesar Rp50.112.150.000,00,00 bersumber dari bantuan keuangan Provinsi sebesar Rp42 milyar dan sisanya dari APBD Kabupaten Serang. Realisasi belanja JPS bantuan

110

kebutuhan pokok mencapai 92,52 persen atau senilai Rp46.361.853.330,00 dengan penyaluran sekitar 140.874 paket selama waktu tiga bulan.

Adapun alokasi refocusing belanja untuk penanganan dampak ekonomi berjumlah Rp15.054.237.500,00 diantaranya untuk pemberdayaan masyarakat terdampak Covid-19 berupa pelatihan menjahit dan pembuatan face shield dengan sasaran lebih dari 352 orang. Kemudian bantuan modal pembelian bahan baku bagi 100 IKM, bantuan modal bagi lebih dari 906 pelaku UMKM, dan pembelian 18.000 paket sembako untuk operasi pasar strategis di 26 Kecamatan. Realisasi belanja penanganan dampak ekonomi sebesar Rp14.511.212.068,00 atau 96,39 persen.

Belanja Bidang Kesehatan dialokasikan sebesar Rp39.235.329.212,00 yang digunakan selain untuk belanja pegawai, porsi terbesar diperuntukan bagi pengadaan alkes seperti alat kedokteran, alat keperawatan, dan alat Pheumatic Tube dengan realisasi hanya mencapai 75,85 persen. Secara akumulatif realokasi APBD Kabupaten Serang TA 2020 untuk penangangan Covid-19 sebesar Rp104.401.716.712,00 dengan capaian realisasi sebesar 86,81 persen atau senilai Rp90.634.808.735,00.

Realokasi anggaran dan refocusing program penanggulangan Covid-19 APBD TA 2020 Kota Cilegon dimasukkan dalam Belanja Tidak Terduga (BTT) pada APBD awal

sebesar Rp2 milyar menjadi Rp77.072.002.534,00 atau bertambah 3.753,60 persen pada APBD Perubahan. Sasaran refocusing yang ditujukan untuk penanganan dampak ekonomi antara lain bantuan stimulus kepada 90 IKM pembuat masker, bantuan kepada 1,475 mitra binaan UPT PDB (Pengelolaan Dana Bergulir), bantuan stimulus kepada 489 PKL, bantuan untuk 460 KK petani dan nelayan sebesar Rp500 ribu selama dua bulan, dan bantuan tenaga sektor formal terdampak PHK/dirumahkan sekitar 500 orang dengan bantuan sebesar Rp500 ribu selama dua bulan, serta bantuan kepada kurang lebih 900 ojeg online, 1.300 ojeg pangkalan, dan 959 sopir angkot.

Hasil refocusing untuk belanja bidang kesehatan digunakan untuk biaya pemeriksaan PCR 2.000 tenaga kesehatan, belanja 12 paket alat kesehatan, dan belanja 4 paket bahan habis pakai untuk rumah sakit. Sedangkan sasaran JPS antara lain penyediaan paket sembako lebih dari 18.740 paket dan penambahan 13.347 keluarga sasaran jaminan sosial cilegon mandiri (KSJSCM).

Realisasi belanja penanganan dampak Covid-19 hasil refocusing pada pos Belanja Tidak Terduga (BTT) berdasarkan LRA hanya mencapai 50 persen. Rendahnya realisasi anggaran penangangan Covid-19 pada pos BTT karena rendahnya serapan bantuan keluarga sasaran KSJSCM sebesar nol persen dari alokasi Rp16,7 milyar, bantuan tunai

111

untuk tukang ojeg dan sopir angkot yang hanya mencapai 59 persen dari alokasi lebih dari Rp2 milyar dan bantuan stimulus modal usaha binaan UPT PDB yang hanya 55,73 persen dari alokasi lebih dari Rp1,6 milyar.

Kuota penerima bantuan sosial tunai di wilayah Kabupaten Tangerang tahun 2020 berjumlah 335.193 penerima dengan rincian yang sumber pendanaannya berasal dari Pemerintah Pusat sebanyak 102.727 penerima, Provinsi sebanyak 149.133 penerima,

dan yang bersumber dari APBD Kabupaten Tangerang TA 2020 berjumlah 83.333

penerima. Pemerintah Kabupaten Tangerang telah merealisasikan bantuan sosial tunai untuk 83.333 penerima dengan nilai sebesar Rp149.999.400.000,00 dari alokasi JPS sebesar Rp150 milyar. Realokasi untuk belanja Kesehatan sebesar Rp128.555.302.656,00 direalisasikan untuk belanja obat dan bahan medis pakai habis, alat kesehatan, dan dua unit ambulan. Sedangkan realokasi untuk belanja penanganan dampak ekonomi sebesar Rp60.020.000.000,00 digunakan untuk stimultan lebih dari 2.100 usaha mikro (bengkel, fashion, kuliner), dan bantuan kepada lebih dari 400 nelayan yang berupa freezer, operasional melaut, pembelian hasil budi daya ikan dan produk hasil pengolahan perikanan. Realisasi realokasi anggaran dan refocusing program penanggulangan Covid-19 Kabupaten Tangerang pada tahun 2020 mencapai 88,30 persen.

Realokasi APBD-P TA 2020 Kota Tangerang pos Belanja Tidak Tetap (BTT) yang

akan digunakan untuk percepatan penanganan dampak Covid-19 mencapai Rp174.356.872.386,00 termasuk didalamnya bantuan keuangan dari Provinsi Banten sebesar Rp45 milyar. Sasaran refocusing belanja pemulihan dampak ekonomi diantaranya berupa bantuan stimulus modal usaha mikro kepada 14.039 pelaku UMKM.

Refocusing belanja penyediaan JPS berupa bansos tunai Rp600 ribu selama tiga bulan

untuk sekitar 2.800 KK, dan bantuan beras untuk lumbung warga. Realisasi BTT sesuai Laporan Realisasi Anggaran Kota Tangerang 2020 hanya mencapai 47,72 persen dari alokasi Rp174,3 milyar. Rendahnya penyerapan karena adanya donatur untuk belanja penanganan belanja sehingga yang sudah dianggarkan tidak direalisasikan. Padahal menurut data Kementerian Dalam Negeri per tanggal 16 April 2020, Kota Tangerang menempati nomor urut kelima 5 dari Kab/Kota terbesar yang mengalokasikan anggaran penanganan Covid-19.

Menurut SKB Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Nomor 119/2813/SJ dan 117/KMK.07/2020, selisih penyesuaian belanja dan pendapatan daerah agar digunakan unutk mendanai :

112

a. Belanja Kesehatan dan hal-hal lain terkait kesehatan dalam rangka pencegahan

dan penanganan pandemi Covid-19.

b. Penyediaan Jring Pengaman Sosial (JPS) atau Social Safety Net. dan, c. Penanganan dampak ekonomi.

Penentuan porsi realokasi ketiga belanja tersebut didasarkan pada kebutuhan riil serta berpedoman pada Instruksi Mendagri nomor 1 Tahun 2020 sehingga proporsi ketiganya dapat berbeda antar wilayah.

Porsi realokasi untuk penanganan Covid-19 pada APBD TA 2020 tiap-tiap Pemerintah Daerah di Banten tentu sudah

disesuaikan dengan kebutuhan riil di masing-masing wilayah. Seperti di Kota Tangerang dan Kota

Tangerang Selatan yang

merelokasi untuk belanja JPS berupa bantuan sosial tunai hanya sebesar nol dan 0,04 persen didasari pertimbangan agar tidak terjadi tumpang tindih sasaran. Sumber realokasi penanganan Covid-19 Kabupaten/Kota selain berasal dari APBD juga dari Bantuan Keuangan yang bersifat khusus dari Provinsi Banten yang ditetapkan dengan SK Gubernur Banten nomor nomor 978/Kep.135-Huk/2020. Rambu-rambu pergeseran atau penyesuaian belanja daerah pada APBD antara lain melalui :

1) Rasionalisasi Belanja Pegawai;

2) Rasionalisasi Belanja Barang/Jasa sekurang-kurangnya 50 persen; dan, 3) Rasionalisasi Belanja Modal sekurang-kurangnya 50 persen;

Tabel VII.1. Porsi Belanja Penanganan Covid-19 sesuai SKB Mendagri dan Menkeu

Sumber : Laporan Pemda ke Kanwil

Sumber : Bappeda Provinsi Banten

Gambar VII.1. Porsi Bantuan Keuangan dari Provinsi Banten (persen)

113

Sesuai SK Gubernur Banten bahwa bantuan keuangan kepada Kab/Kota bersifat khusus yaitu untuk penangan Covid-19 sehingga Kab/Kota wajib menyampaikan usulan Rencana Kerja Belanja penggunaan Bantuan Keuangan tersebut. Realisasi bantuan keuangan secara agregat oleh semua Kab/Kota hanya mencapai 85,52 persen, sementara anggaran bantuan keuangan tersebut telah direalisasikan dari kas daerah Provinsi kepada kas daerah Kab/Kota sebesar 100 persen.

Tabel 7.2.

Realisasi Bantuan Keuangan Provinsi Banten kepada Kab/Kota

Sumber : Bappeda Provinsi Banten

Esensi tujuan SKB Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan yaitu penanganan corona virus Covid-19 dan pengamanan daya beli. Parameter untuk mengukur penanganan corona virus Covid-19 menurut SKB tersebut adalah Pemerintah Daerah sudah atau belum menyampaikan laporan penyesuaian atau realokasi APBD untuk penanganan pandemi virus-19. Dengan indikator tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pemerintah daerah di Provinsi Banten telah memiliki komitmen dan kapasitas untuk menangani pandemi virus Covid-19.

Terkait tujuan realokasi APBD untuk pengamanan daya beli masyarakat dapat dilihat dari tren perbaikan konsumsi rumat tangga selama tahun 2020. Realisasi refocusing APBD bersama dengan penyaluran program penanganan dampak Covid-19 lainnya seperti PC-PEN terbukti mampu menjaga daya beli masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh

Dokumen terkait