• Tidak ada hasil yang ditemukan

Distribusi Frekuensi Berdasarkan Golongan Obat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian

4.2.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Golongan Obat

penelitian sebagai berikut:

Tabel 4.4. Distribusi frekuensi karakteristik subjek penelitian berdasarkan golongan obat penyebab erupsi obat.

Tabel diatas menunjukkan bahwa golongan obat penyebab erupsi obat paling sering terjadi adalah golongan antibiotik (38,8%) dari total 49 orang yang diketahui obat penyebabnya di RSUP Haji Adam Malik,. Diantara semua antibiotik, sefadroksil merupakan obat golongan antibiotik yang sering menimbulkan erupsi obat pada pasien di RSUP Haji Adam Malik.

Penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, didapatkan golongan antibiotik sebagai penyebab tersering (Damayanti et al., 2017). Penelitian di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Arifin Achmad Malang juga didapatkan golongan antibiotik (21,65%) sebagai penyebab paling sering dan tersering kedua adalah NSAID sebanyak 4,56% (Makmur et al., 2018). Penelitian di Pakistan didapatkan golongan obat yang paling sering menyebabkan erupsi obat adalah antibiotik (Kotrimoksazol) (Mahboob & Haroon, 2008). Penelitian ini sejalan dengan penelitian lain dimana antibiotik sebagai golongan yang paling sering menyebabkan erupsi obat.

Akan tetapi, di suatu penelitian di India, didapatkan obat golongan anti mikroba sebagai obat terbanyak menyebabkan erupsi obat sebanyak 56% yang diikuti dengan obat NSAID sebanyak 17,6% (Verma et al., 2014). Ini diduga karena perbedaan negara menyebabkan perbedaan epidemiologi sehingga peresepan obat tertentu menjadi lebih sering oleh dokter kepada pasien.

Antibiotik merupakan golongan obat yang paling sering dipakai sehari-hari.

Perkiraan data di Indonesia didapatkan sebanyak 30,94 – 36,26 per 1000 penduduk mengonsumsi antibiotik setiap harinya (European Center for Disease Prevention and Control, 2017). Inilah yang diduga menyebabkan tingkat kejadian erupsi obat akibat golongan antibiotik menempati posisi pertama.

4.2.5 DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN NAMA ANTIBIOTIK Berdasarkan jenis antibiotik didapatkan sebaran subjek penelitian sebagai berikut:

Tabel 4.5. Distribusi frekuensi karakteristik subjek penelitian berdasarkan nama antibiotik

No. Nama Antibiotik Jumlah

(Orang)

Tabel di atas menunjukkan bahwa obat antibiotik yang tersering menyebabkan erupsi obat adalah sefadroksil sebanyak 10 kasus (52,5%) dan tersering kedua menyebabkan erupsi obat adalah Amoksisilin dan Kotrimoksazol.

Berdasarkan penelitian di Surabaya, didapatkan Amoksisilin sebagai obat antibiotik tersering yang menyebabkan erupsi obat sebanyak 23 orang. Obat antibiotik kedua tersering adalah Sefadroksil sebanyak 17 orang (Anggarini &

Prakoeswa, 2015). Penelitian di Malang, didapatkan obat antibiotik tersering adalah kotrimoksazol sebanyak 7 kasus, tersering kedua adalah sulfa dengan 4 kasus dan tersering ketiga adalah sefadroksil sebanyak 2 kasus dari total 20 kasus akibat golongan antibiotik (Purwanti & Hidayat, 2016). Pada penelitian di Yogyakarta, obat antibiotik tersering adalah sefadroksil sebanyak 61,11% dan juga parasetamol dengan presentase yang sama. Obat kedua tersering adalah amoksisilin sebanyak 22,2% (Huriyah et al., 2014). Sefadroksil sebagai obat yang paling sering menyebabkan erupsi obat di RSUP Haji Adam Malik diduga karena di rumah sakit tsb lebih sering menggunakan sefadroksil dibandingkan antibiotik lainnya.

BAB V

golongan antibiotik, NSAID, analgesik, kortikosteroid, antivirus, anti TB, kemoterapi dan golongan lain.

2. Insidensi erupsi obat di RSUP Haji Adam Malik Medan periode tahun 2017 adalah sejumlah 49 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3. Berdasarkan data rekam medis diketahui bahwa kelompok usia anak (0-18 tahun) pada pasien erupsi obat di RSUP Haji Adam Malik adalah sebanyak 4 orang (8,2%), kelompok usia dewasa (19-45 tahun) sebanyak 27 orang (55,1%) dan kelompok lanjut usia (>45 tahun) sebanyak 18 orang (36,7%).

4. Berdasarkan data rekam medis diketahui bahwa pasien erupsi obat perempuan sebanyak 25 orang (51,1%) dan laki-laki sebanyak 24 orang (48,9%).

5. Berdasarkan data rekam medis diketahui bahwa rute administrasi oral sebanyak 34 orang (69,4%), injeksi sebanyak 12 orang (24,5%) dan topical sebanyak 3 orang (6,1%).

6. Golongan obat yang paling sering menyebabkan erupsi obat adalah golongan antibiotik sebanyak 19 orang (38,8%) sedangkan yang paling jarang adalah golongan analgesik (2,0 %).

Berdasarkan data rekam medis didapatkan bahwa obat antibiotik yang paling sering menyebabkan erupsi obat adalah sefadroksil sebanyak 10 orang (52,5%) dan kedua tersering adalah amoksisilin dan kotrimoksazol.

6.2 SARAN

Dari hasil penelitian ini, adapun saran yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

1. Disarankan kepada pihak rumah sakit agar hasil penelitian ini dapat dijadikan data epidemiologi RSUP Haji Adam Malik.

2. Disarankan kepada pihak yang bertanggung jawab dalam kelengkapan data rekam medis RSUP Haji Adam Malik, seperti dokter dan paramedik untuk melengkapi data rekam medis.

3. Diharapkan kepada dokter dan paramedik untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai erupsi obat dan agar tidak sembarangan mengonsumsi obat diluar resep dokter.

4. Kepada dokter yang menangani pasien erupsi obat untuk mencari lebih lanjut mengenai obat penyebabnya dan juga rute administrasinya, misalnya meminta pasien untuk membawa obat yang sedang dikonsumsi di pertemuan berikutnya demi kebaikan pasien dan juga agar kelak dokter dapat lebih berhati-hati meresepkan obat tsb ke pasien lain.

DAFTAR PUSTAKA

Anggarini, D.R. & Prakoeswa, C.R.S., 2015. Penatalaksanaan Pasien Erupsi Obat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya : Studi Retrospektif, 27.

Anon., 2018. Drug-Induced Eruption of Skin. [Online] Available at:

www.dovemed.com/diseases-conditions/drug-induced-eruption-skin/

[Accessed 14 April 2018].

A, H. & Oakley, A., 2016. Drug Eruptions. [Online] Available at:

www.dermnetnz.org/topics/drug-eruptions/ [Accessed 14 April 2018].

Barlianto, W., 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Keparahan Erupsi Obat pada Anak. 26.

Damayanti et al., 2016. Studi Epidemiologi: Erupsi Obat Berat.

European Center for Disease Prevention and Control, 2017. Summary of The Latest Data on Antibiotic Consumption in The European Union.

Hamzah, M., 2007. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Jakarta:

Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hunter, J., Savin, J. & Dahl, M., 2002. Clinical Dermatology Third Edition.

pp.310-12.

Huriyah, S. et al., 2014. Drug Hypersensitivity Syndrome (DHS) di RSUP Dr Sardjito.

Kooken, A.R. & Tomecki, K.J., 2012. Drug Eruptions. [Online] Available at:

www.clevelandclinicmeded.com [Accessed 14 April 2018].

Mahboob, A. & Haroon, T.S., 2008. International Journal of Dermatology.

[Online] Available at: www.doi.org/10.1046/j.1365-4362.1998.00451.x [Accessed 12 October 2018].

Makmur, O., Anggraini, Y.E. & Nugraha, D.P., 2018. Erupsi Obat Alergi di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Arifin Achmad (2011-2015).

Menaldi, S.L.S., 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Meta, V., Wineini, R.B. & Intannia, D., 2015. Peresepan Antibiotik pada Pasien Anak Rawat Jalan di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura: Prevalensi dan Pola Peresepan Obat. Prosiding Seminar Nasional & Workshop "Perkembangan Terkini Sains Farmasi & Klinik 5".

Nayak, S. & Acharjya, B., 2008. Adverse Cutaneous Drug Reaction. [Online]

Available at: www.ncbi.nlm.gov/pmc/articles [Accessed 14 April 2018].

Primadiarti, P. & Hutomo, M., 2013. Bullous Fixed Drug Eruption.

Purwanti, S. & Hidayat, T., 2016. Penelitian Retrospektif Erupsi Kulit Akibat Obat Di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. 43.

Riedl, M.A. & Casillas, A.M., 2003. Adverse Drug Reactions: Types and Treatment Options. [Online] Available at: www.aafp.org/afp [Accessed 14 April 2018].

Septiyana, R., Padmanegara, H.S. & Amrillah, Z.K., 2015. Gambaran Penggunaan Antibiotik di Puskesmas Kendal. Farmasetis, 4, p.62.

Siew-Eng, C. & Nai-Ming, L., 2012. An epidemiological and clinical analysis of cutaneous drug eruptions seen in a tertiary hospital in Johor, Malaysia.

[Online] Available at: www.ijdvl.com/text.asp?2012/78/6/734/102367 [Accessed 12 October 2018].

Susanti, 2015. Laporan Kasus Kulit Fixed Drug Eruption.

Thomas, L., 2016. Drug Eruptions. [Online] Available at: www.news-medical.net [Accessed 14 Arpil 2018].

Utama, H.W. & Kurniawan, D., 2007. Erupsi Alergi Obat.

Verma, R., Tiwari, S., Gupta, C. & Verma, N., 2014. Cutaneous Adverse Drug Reactions-A Study of Clinical Patterns, Causality, Severity &

Preventability. 13, pp.102-09.

Wolff, K., Johnson, R.A. & Suurmond, D., 2007. In Fitzpatrick's The Color Atlas

& Synopsis of Clinical Dermatology. The McGraw-Hill Companies.

LAMPIRAN A. DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Jessica

NIM : 150100102

Tempat / Tanggal Lahir : Medan / 15 Mei 1997

Agama : Buddha

Nama Ayah : Andry Ang

Nama Ibu : Lie Tjan

Alamat : Jl. Mujahir no.4, Medan Riwayat Pendidikan :

1. PG-TK Swasta Sutomo 1 Medan (2000-2003) 2. SD Swasta Sutomo 1 Medan (2003-2009) 3. SMP Swasta Sutomo 1 Medan (2009-2012) 4. SMA Swasta Sutomo 1 Medan (2012-2015) 5. Fakultas Kedokteran USU (2014-sekarang) Riwayat Pelatihan :

1. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU tahun 2015 2. Peserta LKMM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen

Mahasiswa) FK USU tahun 2015

3. Peserta Seminar Ilmiah Anti-Aging Update tahun 2015

4. Peserta Seminar “Dokter Keluarga dan Workshop Sirkumsisi”

SCOPH PEMA FK USU tahun 2016

5. Peserta Seminar dan Workshop “Basic Life Support and

6. Peserta Simposium “Clinical Updates and Holistic Management of Neurology Disease” SRF FK USU tahun 2016

Riwayat Organisasi :

1. Anggota Kesenian OSIS tahun 2012-2013 2. Anggota KMB USU tahun 2015-sekarang

3. Anggota Kerohanian MIND FK USU tahun 2016

4. Anggota Divisi Pengembangan Masyarakat (PM) SCORA PEMA FK USU tahun 2016-2017

5. Anggota Dept. Mahasiswa Internasional (MI) PEMA FK USU tahun 2016

6. Anggota Dept. Mahasiswa Internasional (MI) PEMA FK USU tahun 2017

7. Ketua Divisi Pengembangan Masyarakat (PM) SCORA PEMA FK USU tahun 2017-2018

Riwayat Kepanitiaan :

1. Panitia Catur Pekan Prestasi Sutomo 1 (P2S1) tahun 2013 2. Anggota Dekorasi dan Hiburan SRF FK USU tahun 2016 3. Anggota Kompetisi PEMA Medical Olympiad (PMO) FK USU

tahun 2016

4. Anggota Acara Pengabdian Masyarakat (PM) Akbar FK USU tahun 2016

5. Anggota Konsumsi Perayaan Hari Tri Suci Waisak MIND FK USU tahun 2016

6. Koordinator Pubdok dan Adm. Kesek PEMA Debating Championship (PDC) FK USU tahun 2016

7. Anggota Adm. Kesek Perayaan Hari Suci Asadha MIND FK USU tahun 2016

8. Koordinator Publikasi dan Dokumentasi Asadha KMB USU tahun 2016

9. Anggota Medis Umum Bakti Sosial MIND FK USU tahun 2016

10. Anggota Acara Manajemen Mahasiswa Baru (MMB) FK USU tahun 2016

11. Anggota Peralatan dan Tempat dari “Seminar dan Workshop Kanker Serviks dan Kanker Payudara” SCORA PEMA FK USU tahun 2016

12. Anggota Acara PM Akbar II PEMA FK USU tahun 2016

13. Anggota Publikasi dan Dokumentasi Bakti Sosial KMB USU tahun 2016

14. Anggota Publikasi dan Dokumentasi Perayaan Sangha Dana Kathina Kala MIND FK USU tahun 2016

15. Koordinator Acara Pengabdian Masyarakat SCORA PEMA FK USU tahun 2017

16. Sekretaris PEMA Debating Championship (PDC) FK USU 2017 17. Steering Committee PDC FK USU tahun 2017

18. Anggota Publikasi dan Dokumentasi PM Akbar PEMA FK USU tahun 2017

19. Tim Medis Bakti Sosial Pengobatan Gratis Umum dan Gigi Vihara ITBC tahun 2017

20. Anggota Acara Waisak MIND FK USU tahun 2017 21. Anggota Konsumsi Asadha MIND FK USU tahun 2017 22. Ketua Panitia Sekolah Binaan SCORA PEMA FK USU tahun

2017

23. Steering Committee Pengabdian Masyarakat SCORA PEMA FK USU tahun 2018

24. Koordinator Kompetisi International Medical Olympiad tahun 2017

25 Panitia TEMILNAS II “Biomedical Science on Environment and Human Diseases” tahun 2017

26. Anggota Medis Obat Bakti Sosial MIND FK USU tahun 2018

LAMPIRAN B. HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

LAMPIRAN C. LEMBAR PERSETUJUAN KOMISI ETIK

LEMBAR D. SURAT IZIN SURVEI AWAL PENELITIAN

LEMBAR E. SURAT IZIN PENELITIAN

LEMBAR F. DATA INDUK PASIEN

No. Nama Umur

(tahun) Jenis Kelamin Golongan Obat Rute Administrasi

1 TS 24 Laki-laki Antibiotik Oral

38 SMS 27 Laki-laki NSAID Oral

39 VS 36 Perempuan Antivirus Oral

40 HRAM 44 Laki-laki Kortikosteroid Injeksi

41 Z 29 Perempuan Antibiotik Oral

42 N 42 Perempuan Antibiotik Oral

43 RSD 32 Perempuan Golongan lain Oral

44 TEP 50 Laki-laki Antibiotik Injeksi

45 PS 63 Perempuan Antibiotik Injeksi

46 GSHH 43 Laki-laki Antibiotik Oral

47 DA 25 Laki-laki Golongan lain Topikal

48 SM 42 Perempuan Kortikosteroid Oral

49 SH 61 Perempuan Analgesik Injeksi

LEMBAR G. OUTPUT SPSS

Rute_Adm

Dokumen terkait