BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Distribusi pasien yang mendapat peresepan OAINS
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini didapatkan 166 sampel data rekam medis yang telah memenuhi kriteria. Kriteria diagnosis dan pilihan penatalaksanaan didasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama dan disesuaikan dengan beberapa literatur lain yang menunjang.
4.1 Distribusi pasien yang mendapat peresepan OAINS
4.1.1 Berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4.1 Distribusi Pasien Rawat Jalan yang Mendapat Peresepan OAINS di Puskesmas Pondok Cabe Ilir pada Bulan Januari-Maret 2019 Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Kasus Persentase
Laki-Laki 74 44,6% Perempuan 92 55,4%
Total 166 100%
Distribusi pasien yang mendapatkan peresepan OAINS berdasarkan jenis kelamin (tabel 4.1) pada bulan Januari-Maret yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 92 orang (55,4%), sedangkan laki-laki berjumlah 74 orang (45,6%). Hal ini serupa dengan penelitian Latifah Ramadani dkk (2015) bahwa jumlah penerima peresepan OAINS berjenis kelamin perempuan adalah 79 orang (52,3%) dan laki-laki sejumlah 72 orang (42,7%).26 Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Kornela Mira Pratiwi P. (2018) bahwa kejadian nyeri pada pasien geriatri yang menerima OAINS berjenis kelamin perempuan sebanyak 29 orang (60 %) dan 19 orang (40%) lainnya adalah laki-laki.27 Hal ini menunjukkan bahwa penderita nyeri yang menerima OAINS berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sensitisasi nyeri dan risiko terjadinya gejala nyeri pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, namun etiologi yang mendasari belum diketahui secara pasti.
Kondisi genetik, biologi, dan psikososial dapat menjadi faktor risiko yang memengaruhi terjadinya nyeri tersebut.28
4.1.2 Berdasarkan usia
Tabel 4.2 Distribusi Pasien Rawat Jalan yang Mendapat Peresepan OAINS di Puskesmas Pondok Cabe Ilir pada Bulan Januari-Maret 2019 Berdasarkan Klasifikasi Usia Menurut Departemen Kesehatan RI Tahun 2009
No Kategori Usia Jumlah Persentase
1 Kanak-kanak 6 – 11 tahun 4 2,4% 2 Remaja awal 12 – 16 tahun 5 3,0% 3 Remaja akhir 17 – 25 tahun 16 9,6% 4 Dewasa awal 26 – 35 tahun 20 12,0% 5 Dewasa akhir 36 – 45 tahun 30 18,1% 6 Lansia awal 46 – 55 tahun 34 20,5% 7 Lansia akhir 56 – 65 tahun 32 19,3% 8 Manula >65 tahun 25 15,1%
Total 166 100%
Distribusi pasien yang mendapat peresepan OAINS berdasarkan pembagian usia menurut Departemen Kesehatan 2009 (tabel 4.2) terbanyak pada golongan lanjut usia awal (46-55 tahun) sejumlah 34 orang (20,5%), sedangkan pada usia kanak-kanak (6-11 tahun) paling sedikit yaitu sejumlah 4 orang (2,4%). Latifah Ramadhani dkk (2015) dalam penelitiannya menunjukkan pasien berusia 46-55 tahun paling banyak mendapat peresepan OAINS sejumlah 34 orang (22,5%).26 Kisaran usia tersebut juga didapatkan pada penelitian Khairani Azian K. dkk (2016) bahwa rata-rata usia pasien yang mendapat peresepan OAINS adalah 45,5 tahun.29 Sedangkan penelitian Kornela Mira Pratiwi Pernois (2018) yang dilakukan khusus pada pasien lanjut usia (>60 tahun) menunjukkan rentang usia paling banyak menerima peresepan OAINS adalah 60-69 tahun dengan jumlah 29 orang (60,4%)27 Beberapa pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peresepan OAINS paling banyak diberikan pada pasien lanjut usia, sesuai dengan karakteristiknya berupa perubahan tanda dan gejala penyakit yang klasik dan terganggunya status fungsional.26,27 Umumnya, pasien lanjut usia merupakan geriatri yaitu memiliki multi penyakit dan/atau gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang membutuhkan pelayanan terpadu.30
37
4.1.3 Berdasarkan diagnosis atau keluhan
Tabel 4.3 Distribusi Pasien Rawat Jalan yang Mendapat Peresepan OAINS di Puskesmas Pondok Cabe Ilir pada Bulan Januari-Maret 2019 Berdasarkan Diagnosis atau Keluhan
Diagnosis Jumlah (n=kasus) Persentase
Penyakit Muskuloskeletal 117 70,5%
Penyakit Kulit 9 5,4%
Penyakit Saluran Pernapasan 17 10,2% Penyakit Saluran Pencernaan 5 3,0% Penyakit Kardiovaskular 8 4.8% Penyakit Neurologi 6 3.6%
Lainnya 4 2.4%
Total 166 100.0%
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa peresepan OAINS banyak diberikan pada pasien dengan diagnosis atau keluhan penyakit muskuloskeletal yaitu sebanyak 117 kasus (70,5%). Keluhan paling sering yang dituliskan pada rekam medis adalah nyeri. Rasa nyeri merupakan salah satu dari tanda inflamasi yang dapat disebabkan oleh trauma, prosedur invasif, maupun penyakit tertentu.26,31 Sedangkan jenis diagnosis penyakit muskuloskeletal yang ditemukan di Puskesmas Pondok Cabe Ilir diantaranya adalah osteoartritis, low back pain, mialgia, dan paronikia. Sesuai dengan keterangan Steven D. Stovitz, MD dan Robert J. Johnson, MD, OAINS adalah obat yang sering diresepkan untuk trauma muskuloskeletal karena fungsinya dapat mengatasi inflamasi. OAINS umumnya diresepkan untuk tata laksana gangguan muskuloskeletal seperti trauma otot, tendon, low back pain, dan osteoartritis.32 Terapi farmakologi yang direkomendasikan sebagai terapi awal osteoartritis adalah asetaminofen/parasetamol, OAINS oral dan topikal, tramadol, injeksi intraartikular, injeksi hialuronat, duloksetin, dan opioid.33,34 Hal tersebut menunjukkan bahwa OAINS merupakan terapi yang direkomendasikan untuk beberapa penyakit muskuloskeletal.
Penyakit saluran pernapasan yang diberikan peresepan OAINS pada penelitian ini diantaranya adalah faringitis akut, tonsilitis akut, dan batuk pilek. Hal ini sesuai dengan pedoman pemberian OAINS untuk penyakit saluran pernapasan seperti ibuprofen sebagai analgesik dan antipiretik.35 Sedangkan
penyakit kardiovaskular yang dimaksud adalah penyakit hipertensi. Pemberian OAINS pada pasien hipertensi sebenarnya tidak dianjurkan karena dapat memperburuk kondisi tekanan darah pasien. Dua meta-analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa OAINS dapat meningkatkan tekanan arteri rerata (mean arterial pressure) sebesar 3,3 mmHg dan 5 mmHg pada pasien hipertensi. Bahkan pada pasien hipertensi yang mengonsumsi dua obat antihipertensi, OAINS dapat meningkatkan tekanan arteri rerata sebesar 6 mmHg.36 Hal itu menunjukkan bahwa pemberian OAINS pada pasien yang mengonsumsi obat antihipertensi dapat menurunkan efektivitas obat antihipertensi tersebut.
Diagnosis lainnya yang tercantum dalam tabel 4.3 di atas adalah artritis gout, blefaritis, dan limfadenitis. Pemberian OAINS pada diagnosis blefaritis dan limfadenitis tidak direkomendasikan pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Tata laksana pada blefaritis bergantung pada penyebabnya, baik virus maupun bakteri. Apabila terdapat ulkus pada kelopak mata, dapat diberikan salep atau tetes mata antibiotik sampai gejala blefaritis menghilang. Tata laksana limfadenitis juga bergantung pada penyebabnya, akan tetapi untuk membantu mengurangi rasa sakit dapat menggunakan cara dikompres hangat.35