• Tidak ada hasil yang ditemukan

Distribusi Pendapatan

Dalam dokumen III. TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 34-42)

Dalam suatu studi distribusi pendapatan, maka sebaiknya perlu terlebih

dahulu memahami mengenai pendapatan serta pemilihan konsep pendapatan yang

secara teoritis dapat diterima dan diterapkan secara praktis. Ilmu ekonomi mikro

dan makro telah banyak mengupas konsep-konsep dasar mengenai pendapatan,

baik itu pendapatan individu, perusahaan dan pemerintah untuk mengetahui aliran

ke tiga pendapatan tersebut, maka dapat ditelusuri melalui arus perputaran

kegiatan ekonomi (circulair flow of economic activity) lihat Gambar 18.

Gambar 18 menunjukkan bagaimana arus perputaran pendapatan itu

terjadi dalam suatu perekonomian. Rumahtangga menerima pendapatan dari

perusahaan atas penawaran faktor-faktor produksinya, kemudian rumahtangga

akan mengeluarkan pendapatannya untuk belanja barang dan jasa, untuk ditabung

dan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Selain pendapatan faktor-faktor

produksi, terdapat transfer pemerintah, yaitu pendapatan rumahtangga yang

berasal dari pemerintah.

Belanja barang dan jasa yang dilakukan rumahtangga dan pemerintah,

merupakan pendapatan bagi perusahaan. Selanjutnya perusahaan akan

mengeluarkan pendapatannya tersebut untuk membayar penggunaan faktor-faktor

produksi, membayar pajak pada pemerintah dan untuk dana investasi. Pemerintah

memperoleh pendapatan dari rumahtangga dan perusahaan atas pembayaran

pajak. Pendapatan pemerintah tersebut kemudian dikeluarkan sebagian untuk

membeli barang dan jasa, serta untuk transfer ke rumahtangga, jika pengeluaran

pemerintah ternyata lebih banyak dari pendapatan, pemerintah akan meminjam

Pasar untuk faktor produksi

Pasar Keuangan

Pemerintah

Pasar untuk barang dan jasa

Rumahtangga Perusahaan

Pendapatan Pembayaran

Tabungan

rumahtangga Investasi swasta

Pajak Transfer pemerintah Pembayaran Pembayaran Defisit pemerintah Sumber : Mankiw (2000)

Gambar 18. Arus Uang Melalui Perekonomian

Bigstein (1992) dalam Varina (2000) menyatakan bahwa berdasarkan

claims concept (konsep tuntutan) dari Hicks, pendapatan sama dengan jumlah uang yang dapat dibelanjakan oleh seseorang atau satu keluarga selama kurun

waktu tertentu, sementara nilai kekayaannya tetap utuh. Jumlah ini harus sama

dengan jumlah penerimaan, keuntungan dari penjualan aktiva, nilai tunjangan

tambahan dan produksi untuk konsumsi keluarga dan sewa yang diperoleh.

Gemmell (1994) menyebutkan bahwa dalam prakteknya untuk mengukur

pendapatan, paling tidak harus ada tiga pendekatan yaitu (1) pendapatan bruto, (2)

pendapatan sesudah dipotong pajak, kemana transfer dapat ditambahkan, dan (3)

Setelah konsep pendapatan ditetapkan, berikutnya akan dibahas mengenai

distribusi pendapatan. Pembahasan mengenai distribusi pendapatan pada dasarnya

dapat digolongkan menjadi dua, yakni distribusi pendapatan fungsional atau

distribusi balas jasa dan distribusi pendapatan antarrumahtangga. Konsep

distribusi pendapatan fungsional berusaha menjelaskan pembagian pendapatan

yang diterima oleh masing-masing faktor produksi, misalnya antara pendapatan

yang diterima pekerja, pemilik modal dan kekayaan. Konsep ini mengacu pada

teori keseimbangan neo klasik, yang diturunkan dari solusi pasar persaingan

sempurna (Yotopoulus dan Nuggent, 1976). Pada prinsipnya distribusi pendapatan

dengan pendekatan fungsional dapat dijabarkan dengan menggunakan fungsi

produksi, contohnya sebagai berikut.

Y = f (K , L) ... (33)

dimana:

Y = output fisik, K = kapital L = tenaga kerja.

Melalui derivasi persamaan (1) kita akan memperoleh produk marginal

faktor produksi tenaga kerja (MPL) dan produk marginal faktor produksi kapital

(MPK ). Dengan mengetahui besamya MPL dan MPK

Anggaplah sekarang hanya ada dua faktor produksi, yaitu modal dan

tenaga kerja. Dengan kurva penawaran tenaga kerja neo klasik (S

akan dapat ditentukan

pembagian pendapatan atau output fisik yang dihasilkan oleh masing-masing

faktor produksi menurut harga pasar. Pada Gambar 19 memberikan suatu ilustrasi

yang sederhana mengenai distribusi pendapatan dengan pendekatan fungsional.

L) dan kurva

kerja adalah sebesar OW dan tingkat pekerjaan sebesar OL. Jumlah output

nasional digambarkan dengan daerah OREL. Pendapatan nasional ini kemudian

dibagi dalam dua bagian, yaitu OWEL untuk tenaga kerja dalam bentuk upah dan

WRE merupakan keuntungan pemiliki modal. Disini kelihatan bagaimana

pendapatan nasional itu dibagi-bagi menurut fungsi upah dan modal.

Tingkat Upah

Sumber : Todaro (2000)

Gambar 19. Distribusi Pendapatan dengan Pendekatan Fungsional

Kelemahan yang sering dijumpai dengan pendekatan ini terletak pada

asumsi yang menyertainya. Misalnya, asumsi adanya pasar persaingan sempuma,

motif mendapatkan keuntungan maksimum, penalaran dan informasi sempuma.

Asumsi-asumsi tersebut sangat mudah diungkapkan dalam teori, namun dalam

kenyataannya sangat sulit dijumpai (Insukrindo, 1990).

Berikutnya adalah distribusi pendapatan rumahtangga, distribusi

pendapatan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu distribusi pendapatan absolut L SL DL = MPL Keuntungan bagi pemilik modal

Penghasilan upah bagi tenaga kerja R W O E Tingkat Pekerjaan

atau mutlak dan distribusi pendapatan relatif. Konsep yang disebut pertama

berkaitan dengan proporsi jumlah rumahtangga yang pendapatannya dapat

mencapai suatu tingkat tertentu atau lebih kecil dari itu, dan biasanya dikaitkan

dengan jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (relatif atau

absolut). Sedangkan distribusi pendapatan relatif menunjukkan perbandingan

pendapatan yang diterima oleh berbagai kelas penerima pendapatan. Pada

umumnya pembicaraan mengenai distribusi pendapatan lebih ditekankan pada

pengertian atau konsep distribusi pendapatan relatif. Misalkan, 40% penduduk

berpendapatan rendah menerima 17% dari jumlah pendapatan, baik itu jumlah

pendapatan yang diterima maupun jumlah penduduk, kedua-duanya dinyatakan

dalam bentuk persentase (Esmara, 1996).

Selain distribusi pendapatan antarrumahtangga, distribusi pendapatan

relatif dapat juga dikaji dengan tolok ukur lain, misalnya distribusi menurut

sumber pendapatan, menurut kelompok, menurut klasifikasi pekerjaan atau

menurut jenis pekerjaan. Meskipun distribusi antarperorangan atau rumahtangga

adalah salah satu yang terpenting ditinjau dari segi kesejahteraan, klasifikasi lain

mungkin lebih penting ditinjau dari segi kebijakan (Gemmell, 1994).

Kakwani (1987) dalam studinya tentang distribusi pendapatan di Australia

membedakan unit penerima pendapatan menjadi tiga yaitu individu, keluarga dan

rumahtangga. Menurut Sutomo dan Sulistini (1987) penerimaan individu maupun

rumahtangga dapat bersumber dari (1) pendapatan dari faktor produksi tenaga

kerja berupa upah, gaji dan keuntungan, yaitu keuntungan yang diperoleh dari

usaha rumahtangga yang tidak berbadan hukum, (2) pendapatan yang bersumber

yang meliputi bunga, sewa dan deviden, dan (3) transfer (hibah) yang diperoleh

dari rumahtangga lain, perusahaan pemerintah dan luar negeri. Pendapatan yang

diperoleh individu dan rumahtangga atau keluarga dapat berupa pendapatan yang

diperoleh dari pasar kerja (earning), transfer, warisan, hadiah dan lain sebagainya.

Pendapatan yang diperoleh ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan guna

memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya.

Menurut Gittelman dan Joyce (1999) pendapatan yang terbesar diperoleh

individu atau keluarga adalah pendapatan yang diperoleh dari pasar kerja.

Pendapatan yang diperoleh dari pasar kerja antara satu individu dengan individu

yang lain akan berbeda-beda. Besarnya tingkat pendapatan ini dipengaruhi oleh

produktivitas tenaga kerja tersebut.

Pemahaman mengenai distribusi pendapatan ini sangat penting, terutama

bila ingin mengkaji keberhasilan suatu pembangunan ekonomi. Untuk melihat

berhasil atau tidaknya suatu pembangunan ekonomi, tidak dapat hanya diukur

berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan per kapita saja.

Apalah artinya jika pertumbuhan ekonomi tinggi dan pendapatan per kapita

meningkat, sedangkan distribusi pendapatan yang terjadi sangat timpang dimana

penduduk kaya yang berjumlah sedikit lebih banyak menikmati kenaikan

pendapatan tersebut, sementara penduduk miskin yang jumlahnya lebih banyak

hanya sedikit mengalami perbaikan pendapatan. Dengan kata lain, dalam kondisi

ketimpangan semacam itu penduduk yang merasakan kenaikan pertumbuhan

ekonomi dan pendapatan per kapita tersebut, hanyalah penduduk kaya yang

jumlahnya sedikit saja, sementara penduduk miskin yang jumlah lebih banyak

Dalam teori ekonomi distribusi pendapatan dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu: (1) distribusi pendaptan institusional atau distribusi pendapatan personal,

adalah distribusi pendapatan yang terjadi antarinstitusi maupun antarkelompok

rumahtangga, dan (2) distribusi pendapatan fungsional atau distribusi pendapatan

faktorial, adalah distribusi pendapatan yang diterima oleh masing-masing faktor

produksi yang digunakan dalam proses produksi (Semaoen, 1992)

3.8.1. Distribusi Pendapatan Personal atau Institusional

Distribusi pendapatan personal atau institusional adalah merupakan ukuran

yang paling umum digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini hanya berkaitan

dengan masing-masing individu atau satu kelompok masyarakat dan jumlah

penghasilan yang mereka terima. Besarnya pendapatan personal yang diterima

oleh masing-masing individu atau kelompok masyarakat, sangat tergantung dari

kepemilikan faktor produksi. Individu dapat memberikan jasa tenaga kerja,

keterampilan (manajemen), dan modal yang dimilikinya dalam suatu proses

produksi. Imbalan terhadap digunakannya faktor produksi milik individu atau

kelompok masyarakat itulah yang diterima sebagai pendapatan personal

(Semaoen, 1992).

Imbalan yang diterima oleh setiap individu atau kelompok masyarakat,

dapat berupa: (1) upah atau gaji, sebagai balas jasa atas penggunaan faktor

produksi dalam suatu proses produksi, (2) laba, deviden, bunga, sewa dan lain

sebagainya, atas imbalan penggunaan modal atau kapital, dan (3) pendapatan lain,

atas imbalan yang dibayarkan untuk kepemilikan faktor produksi lainnya.

Selanjutnya Todaro (1991) dan Yotopolus dan Nugent (1976),

pendapatan. Kurva Lorenz dapat menjelaskan distribusi pendapatan secara grafis,

sedangkan Koefisien Gini mengukur ketimpangan pendapatan yang terjadi dengan

melihat hubungan antara jumlah penduduk dengan distribusi pendapatan dalam

bentuk persentase komulatif.

3.8.2. Distribusi Pendapatan Fungsional atau Faktorial

Distribusi pendapatan fungsional atau distribusi pendapatan faktorial ini

menjelaskan distribusi pendapatan yang diterima oleh masing-masing faktor

produksi yang digunakan dalam proses produksi. Besarnya kecilnya pendapatan

ini tergantung dari seberapa besar atau seberapa banyak faktor produksi yang

digunakan, selain juga ditentukan oleh faktor harga pada faktor produksi.

Dalam melakukan analisis distribusi pendapatan faktorial ini, produksi

total dibagi habis dalam faktor produksi yang digunakan. Dalam konteks analisis

SAM, ada dua faktor produksi yang digunakan yaitu modal dan tenaga kerja.

Perubahan dalam pemakaian faktor produksi akan menyebabkan perubahan dalam

distribusi pendapatan faktorial atau fungsional. Selanjutnya, pendapatan yang

diterimakan kepada masing-masing faktor produksi tersebut akan diterima oleh

pemilik faktor produksi.

Semaoen (1992) mengatakan bahwa pengukuran distribusi pendapatan

dapat dilakukan dengan metode akuntansi dan dengan menggunakan fungsi

produksi guna memperoleh andil faktor (factor share) dari setiap faktor produksi

yang digunakan. Metode akuntansi dalam menghitung andil faktor setiap masukan

(faktor produksi) memerlukan data mengenai jumlah faktor produksi yang

digunakan dalam proses produksi dan balas jasa yang diterima oleh setiap faktor

Gambar 20. Distribusi Pendapatan Fungsional, Distribusi Pendapatan Personal, dan Golongan Penduduk Pedesaan di Indonesia 75 Tanah yang diolah

Sektor Non Pertanian

Gol. masyarakat pendapatan menengah Petani: Pemilik penyekap dan penyewa Pertani dan keluarganya Management

Keluarga non pertanian Pemilik lahan Modal tetap selain tanah Gol. masyarakat pendapatan tinggi Tuan Tanah Gol. Penduduk Perdesaan Pemilik Faktor Produksi

Lahan Pertanian

Produksi

Dalam dokumen III. TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 34-42)

Dokumen terkait