Dalam suatu studi distribusi pendapatan, maka sebaiknya perlu terlebih
dahulu memahami mengenai pendapatan serta pemilihan konsep pendapatan yang
secara teoritis dapat diterima dan diterapkan secara praktis. Ilmu ekonomi mikro
dan makro telah banyak mengupas konsep-konsep dasar mengenai pendapatan,
baik itu pendapatan individu, perusahaan dan pemerintah untuk mengetahui aliran
ke tiga pendapatan tersebut, maka dapat ditelusuri melalui arus perputaran
kegiatan ekonomi (circulair flow of economic activity) lihat Gambar 18.
Gambar 18 menunjukkan bagaimana arus perputaran pendapatan itu
terjadi dalam suatu perekonomian. Rumahtangga menerima pendapatan dari
perusahaan atas penawaran faktor-faktor produksinya, kemudian rumahtangga
akan mengeluarkan pendapatannya untuk belanja barang dan jasa, untuk ditabung
dan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Selain pendapatan faktor-faktor
produksi, terdapat transfer pemerintah, yaitu pendapatan rumahtangga yang
berasal dari pemerintah.
Belanja barang dan jasa yang dilakukan rumahtangga dan pemerintah,
merupakan pendapatan bagi perusahaan. Selanjutnya perusahaan akan
mengeluarkan pendapatannya tersebut untuk membayar penggunaan faktor-faktor
produksi, membayar pajak pada pemerintah dan untuk dana investasi. Pemerintah
memperoleh pendapatan dari rumahtangga dan perusahaan atas pembayaran
pajak. Pendapatan pemerintah tersebut kemudian dikeluarkan sebagian untuk
membeli barang dan jasa, serta untuk transfer ke rumahtangga, jika pengeluaran
pemerintah ternyata lebih banyak dari pendapatan, pemerintah akan meminjam
Pasar untuk faktor produksi
Pasar Keuangan
Pemerintah
Pasar untuk barang dan jasa
Rumahtangga Perusahaan
Pendapatan Pembayaran
Tabungan
rumahtangga Investasi swasta
Pajak Transfer pemerintah Pembayaran Pembayaran Defisit pemerintah Sumber : Mankiw (2000)
Gambar 18. Arus Uang Melalui Perekonomian
Bigstein (1992) dalam Varina (2000) menyatakan bahwa berdasarkan
claims concept (konsep tuntutan) dari Hicks, pendapatan sama dengan jumlah uang yang dapat dibelanjakan oleh seseorang atau satu keluarga selama kurun
waktu tertentu, sementara nilai kekayaannya tetap utuh. Jumlah ini harus sama
dengan jumlah penerimaan, keuntungan dari penjualan aktiva, nilai tunjangan
tambahan dan produksi untuk konsumsi keluarga dan sewa yang diperoleh.
Gemmell (1994) menyebutkan bahwa dalam prakteknya untuk mengukur
pendapatan, paling tidak harus ada tiga pendekatan yaitu (1) pendapatan bruto, (2)
pendapatan sesudah dipotong pajak, kemana transfer dapat ditambahkan, dan (3)
Setelah konsep pendapatan ditetapkan, berikutnya akan dibahas mengenai
distribusi pendapatan. Pembahasan mengenai distribusi pendapatan pada dasarnya
dapat digolongkan menjadi dua, yakni distribusi pendapatan fungsional atau
distribusi balas jasa dan distribusi pendapatan antarrumahtangga. Konsep
distribusi pendapatan fungsional berusaha menjelaskan pembagian pendapatan
yang diterima oleh masing-masing faktor produksi, misalnya antara pendapatan
yang diterima pekerja, pemilik modal dan kekayaan. Konsep ini mengacu pada
teori keseimbangan neo klasik, yang diturunkan dari solusi pasar persaingan
sempurna (Yotopoulus dan Nuggent, 1976). Pada prinsipnya distribusi pendapatan
dengan pendekatan fungsional dapat dijabarkan dengan menggunakan fungsi
produksi, contohnya sebagai berikut.
Y = f (K , L) ... (33)
dimana:
Y = output fisik, K = kapital L = tenaga kerja.
Melalui derivasi persamaan (1) kita akan memperoleh produk marginal
faktor produksi tenaga kerja (MPL) dan produk marginal faktor produksi kapital
(MPK ). Dengan mengetahui besamya MPL dan MPK
Anggaplah sekarang hanya ada dua faktor produksi, yaitu modal dan
tenaga kerja. Dengan kurva penawaran tenaga kerja neo klasik (S
akan dapat ditentukan
pembagian pendapatan atau output fisik yang dihasilkan oleh masing-masing
faktor produksi menurut harga pasar. Pada Gambar 19 memberikan suatu ilustrasi
yang sederhana mengenai distribusi pendapatan dengan pendekatan fungsional.
L) dan kurva
kerja adalah sebesar OW dan tingkat pekerjaan sebesar OL. Jumlah output
nasional digambarkan dengan daerah OREL. Pendapatan nasional ini kemudian
dibagi dalam dua bagian, yaitu OWEL untuk tenaga kerja dalam bentuk upah dan
WRE merupakan keuntungan pemiliki modal. Disini kelihatan bagaimana
pendapatan nasional itu dibagi-bagi menurut fungsi upah dan modal.
Tingkat Upah
Sumber : Todaro (2000)
Gambar 19. Distribusi Pendapatan dengan Pendekatan Fungsional
Kelemahan yang sering dijumpai dengan pendekatan ini terletak pada
asumsi yang menyertainya. Misalnya, asumsi adanya pasar persaingan sempuma,
motif mendapatkan keuntungan maksimum, penalaran dan informasi sempuma.
Asumsi-asumsi tersebut sangat mudah diungkapkan dalam teori, namun dalam
kenyataannya sangat sulit dijumpai (Insukrindo, 1990).
Berikutnya adalah distribusi pendapatan rumahtangga, distribusi
pendapatan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu distribusi pendapatan absolut L SL DL = MPL Keuntungan bagi pemilik modal
Penghasilan upah bagi tenaga kerja R W O E Tingkat Pekerjaan
atau mutlak dan distribusi pendapatan relatif. Konsep yang disebut pertama
berkaitan dengan proporsi jumlah rumahtangga yang pendapatannya dapat
mencapai suatu tingkat tertentu atau lebih kecil dari itu, dan biasanya dikaitkan
dengan jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (relatif atau
absolut). Sedangkan distribusi pendapatan relatif menunjukkan perbandingan
pendapatan yang diterima oleh berbagai kelas penerima pendapatan. Pada
umumnya pembicaraan mengenai distribusi pendapatan lebih ditekankan pada
pengertian atau konsep distribusi pendapatan relatif. Misalkan, 40% penduduk
berpendapatan rendah menerima 17% dari jumlah pendapatan, baik itu jumlah
pendapatan yang diterima maupun jumlah penduduk, kedua-duanya dinyatakan
dalam bentuk persentase (Esmara, 1996).
Selain distribusi pendapatan antarrumahtangga, distribusi pendapatan
relatif dapat juga dikaji dengan tolok ukur lain, misalnya distribusi menurut
sumber pendapatan, menurut kelompok, menurut klasifikasi pekerjaan atau
menurut jenis pekerjaan. Meskipun distribusi antarperorangan atau rumahtangga
adalah salah satu yang terpenting ditinjau dari segi kesejahteraan, klasifikasi lain
mungkin lebih penting ditinjau dari segi kebijakan (Gemmell, 1994).
Kakwani (1987) dalam studinya tentang distribusi pendapatan di Australia
membedakan unit penerima pendapatan menjadi tiga yaitu individu, keluarga dan
rumahtangga. Menurut Sutomo dan Sulistini (1987) penerimaan individu maupun
rumahtangga dapat bersumber dari (1) pendapatan dari faktor produksi tenaga
kerja berupa upah, gaji dan keuntungan, yaitu keuntungan yang diperoleh dari
usaha rumahtangga yang tidak berbadan hukum, (2) pendapatan yang bersumber
yang meliputi bunga, sewa dan deviden, dan (3) transfer (hibah) yang diperoleh
dari rumahtangga lain, perusahaan pemerintah dan luar negeri. Pendapatan yang
diperoleh individu dan rumahtangga atau keluarga dapat berupa pendapatan yang
diperoleh dari pasar kerja (earning), transfer, warisan, hadiah dan lain sebagainya.
Pendapatan yang diperoleh ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan guna
memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya.
Menurut Gittelman dan Joyce (1999) pendapatan yang terbesar diperoleh
individu atau keluarga adalah pendapatan yang diperoleh dari pasar kerja.
Pendapatan yang diperoleh dari pasar kerja antara satu individu dengan individu
yang lain akan berbeda-beda. Besarnya tingkat pendapatan ini dipengaruhi oleh
produktivitas tenaga kerja tersebut.
Pemahaman mengenai distribusi pendapatan ini sangat penting, terutama
bila ingin mengkaji keberhasilan suatu pembangunan ekonomi. Untuk melihat
berhasil atau tidaknya suatu pembangunan ekonomi, tidak dapat hanya diukur
berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pendapatan per kapita saja.
Apalah artinya jika pertumbuhan ekonomi tinggi dan pendapatan per kapita
meningkat, sedangkan distribusi pendapatan yang terjadi sangat timpang dimana
penduduk kaya yang berjumlah sedikit lebih banyak menikmati kenaikan
pendapatan tersebut, sementara penduduk miskin yang jumlahnya lebih banyak
hanya sedikit mengalami perbaikan pendapatan. Dengan kata lain, dalam kondisi
ketimpangan semacam itu penduduk yang merasakan kenaikan pertumbuhan
ekonomi dan pendapatan per kapita tersebut, hanyalah penduduk kaya yang
jumlahnya sedikit saja, sementara penduduk miskin yang jumlah lebih banyak
Dalam teori ekonomi distribusi pendapatan dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu: (1) distribusi pendaptan institusional atau distribusi pendapatan personal,
adalah distribusi pendapatan yang terjadi antarinstitusi maupun antarkelompok
rumahtangga, dan (2) distribusi pendapatan fungsional atau distribusi pendapatan
faktorial, adalah distribusi pendapatan yang diterima oleh masing-masing faktor
produksi yang digunakan dalam proses produksi (Semaoen, 1992)
3.8.1. Distribusi Pendapatan Personal atau Institusional
Distribusi pendapatan personal atau institusional adalah merupakan ukuran
yang paling umum digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini hanya berkaitan
dengan masing-masing individu atau satu kelompok masyarakat dan jumlah
penghasilan yang mereka terima. Besarnya pendapatan personal yang diterima
oleh masing-masing individu atau kelompok masyarakat, sangat tergantung dari
kepemilikan faktor produksi. Individu dapat memberikan jasa tenaga kerja,
keterampilan (manajemen), dan modal yang dimilikinya dalam suatu proses
produksi. Imbalan terhadap digunakannya faktor produksi milik individu atau
kelompok masyarakat itulah yang diterima sebagai pendapatan personal
(Semaoen, 1992).
Imbalan yang diterima oleh setiap individu atau kelompok masyarakat,
dapat berupa: (1) upah atau gaji, sebagai balas jasa atas penggunaan faktor
produksi dalam suatu proses produksi, (2) laba, deviden, bunga, sewa dan lain
sebagainya, atas imbalan penggunaan modal atau kapital, dan (3) pendapatan lain,
atas imbalan yang dibayarkan untuk kepemilikan faktor produksi lainnya.
Selanjutnya Todaro (1991) dan Yotopolus dan Nugent (1976),
pendapatan. Kurva Lorenz dapat menjelaskan distribusi pendapatan secara grafis,
sedangkan Koefisien Gini mengukur ketimpangan pendapatan yang terjadi dengan
melihat hubungan antara jumlah penduduk dengan distribusi pendapatan dalam
bentuk persentase komulatif.
3.8.2. Distribusi Pendapatan Fungsional atau Faktorial
Distribusi pendapatan fungsional atau distribusi pendapatan faktorial ini
menjelaskan distribusi pendapatan yang diterima oleh masing-masing faktor
produksi yang digunakan dalam proses produksi. Besarnya kecilnya pendapatan
ini tergantung dari seberapa besar atau seberapa banyak faktor produksi yang
digunakan, selain juga ditentukan oleh faktor harga pada faktor produksi.
Dalam melakukan analisis distribusi pendapatan faktorial ini, produksi
total dibagi habis dalam faktor produksi yang digunakan. Dalam konteks analisis
SAM, ada dua faktor produksi yang digunakan yaitu modal dan tenaga kerja.
Perubahan dalam pemakaian faktor produksi akan menyebabkan perubahan dalam
distribusi pendapatan faktorial atau fungsional. Selanjutnya, pendapatan yang
diterimakan kepada masing-masing faktor produksi tersebut akan diterima oleh
pemilik faktor produksi.
Semaoen (1992) mengatakan bahwa pengukuran distribusi pendapatan
dapat dilakukan dengan metode akuntansi dan dengan menggunakan fungsi
produksi guna memperoleh andil faktor (factor share) dari setiap faktor produksi
yang digunakan. Metode akuntansi dalam menghitung andil faktor setiap masukan
(faktor produksi) memerlukan data mengenai jumlah faktor produksi yang
digunakan dalam proses produksi dan balas jasa yang diterima oleh setiap faktor
Gambar 20. Distribusi Pendapatan Fungsional, Distribusi Pendapatan Personal, dan Golongan Penduduk Pedesaan di Indonesia 75 Tanah yang diolah
Sektor Non Pertanian
Gol. masyarakat pendapatan menengah Petani: Pemilik penyekap dan penyewa Pertani dan keluarganya Management
Keluarga non pertanian Pemilik lahan Modal tetap selain tanah Gol. masyarakat pendapatan tinggi Tuan Tanah Gol. Penduduk Perdesaan Pemilik Faktor Produksi
Lahan Pertanian