BAB 6 PEMBAHASAN
6.1.1. Distribusi Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan umur di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.1. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Umur di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.1 di atas diketahui proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan umur tertinggi terdapat pada kelompok umur >40 tahun yaitu 63,4% dan terendah terdapat pada kelompok umur ≤40 tahun yaitu 36.6%.
Umur terendah terdapat pada umur 12 tahun (1 orang) dan tertinggi terdapat pada umur 83 tahun (2 orang). Usia >40 tahun merupakan usia faktor risiko terkena
kolelitiasis dan risiko ini akan bertambah seiring dengan pertambahan usia. Hal ini terjadi karena batu empedu sangat jarang mengalami disolusi spontan, meningkatnya sekresi kolesterol ke dalam empedu sesuai dengan bertambahnya usia, empedu menjadi semakin litogenik bila usia semakin bertambah.40
b. Jenis Kelamin
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan jenis kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.2. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.2 di atas diketahui proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki yaitu 55,4% dan terendah adalah perempuan yaitu 44,6%. Secara teori, faktor risiko kolelitiasis adalah jenis kelamin
perempuan. Hal ini terjadi karena hormon estrogen yang berpengaruh terhadap peningkatan ekskresi kolesterol oleh kandung empedu.42
Pada gambar di atas, jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki. Hal ini terjadi bukan karena jenis kelamin laki-laki lebih berisiko untuk menderita kolelitiasis namun karena penderita yang berobat ke rumah sakir Santa Elisabeth Medan lebih banyak laki-laki.
c. Suku
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan suku di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.3. Diagram Bar Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Suku di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.3 di atas diketahui proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan suku tertinggi adalah suku Batak yaitu 83,1% dan terendah adalah suku
Manado yaitu 2,0%. Hal ini terjadi bukan karena suku Batak lebih berisiko untuk menderita kolelitiasis namun karena penderita yang berobat ke rumah sakir Santa Elisabeth Medan lebih banyak suku Batak.
d. Agama
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan agama di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.4. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Agama di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.4 di atas diketahui proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan agama tertinggi adalah agama Kristen Protestan yaitu 64,4% dan terendah adalah agama Islam dan Katolik dengan masing-masing proporsi 17,8%. Hal ini terjadi bukan karena agama Kristen Protestan lebih berisiko untuk menderita
kolelitiasis namun karena penderita yang berobat ke rumah sakir Santa Elisabeth Medan lebih banyak agama Kristen Protestan.
e. Pekerjaan
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan pekerjaan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.5. Diagram Bar Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Pekerjaan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010- 2011
Berdasarkan gambar 6.5 di atas diketahui proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan pekerjaan terbanyak adalah karyawan swasta yaitu 21,8% dan terendah adalah pegawai negeri yaitu 12,9% sedangkan yang tidak tercatat di status adalah 6,9%. Hal ini bukan indikasi adanya keterkaitan antara pekerjaan dengan kejadian
kolelitiasis namun karena penderita kolelitiasis yang berobat ke rumah sakit Santa Elisabeth Medan mayoritas karyawan swasta.
f. Tempat Tinggal
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan tempat tinggal di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.6. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Tempat Tinggal di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.6 di atas diketahui proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan tempat tinggal terbanyak adalah dari kota Medan yaitu 53,5% dan 46,5% berasal dari luar kota Medan. Hal ini disebabkan karena rumah sakit Santa Elisabeth merupakan rumah sakit yang melayani masyarakat kota Medan dan menerima rujukan sehingga memungkinkan penderita tidak hanya datang dari kota Medan tetapi juga dari luar kota Medan. Penderita yang berasal dari luar kota Medan
adalah yang dirujuk dari rumah sakit Pematang Siantar, Sibolga, Brastagi, Deli Serdang, Lubuk Pakam, Kisaran, Labuhan Batu, Tarutung, Langkat, Gunung Sitoli, Rantau Prapat, Tapanuli Utara, Samosir, Siborong-borong, Kabanjahe, Toba Samosir,dan Dairi.
6.1.2. Keluhan Utama
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan keluhan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.7. Diagram Bar Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Keluhan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Dari gambar 6.7 di atas dapat dilihat bahwa proporsi keluhan penderita yang terbanyak adalah kolik empedu (nyeri kolik yang berat pada perut atas bagian kanan) yaitu 37,6% dan yang paling sedikit adalah perut terasa kembung yaitu 4,0%.
Batu empedu mungkin tidak menimbulkan gejala selama berpuluh tahun. Gejalanya mencolok, yaitu nyeri saluran empedu yang cenderung hebat, baik menetap maupun seperti kolik bilier (nyeri kolik yang berat pada perut atas bagian kanan) jika ductus sistikus tersumbat oleh batu, sehingga timbul rasa sakit perut yang berat dan menjalar ke punggung atau bahu. Mual dan muntah sering kali berkaitan dengan serangan kolik biliaris. Sekali serangan kolik biliaris dimulai, serangan ini cenderung makin meningkat frekuensi dan intensitasnya. Gejala yang lain seperti demam, nyeri seluruh permukaan perut, perut terasa melilit, perut terasa kembung, dan lain-lain.16,23
6.1.3. Ukuran Batu Empedu
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan ukuran batu empedu di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.8. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Ukuran Batu Empedu di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Dari gambar 6.8 di atas dapat dilihat bahwa proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan ukuran batu empedu yang terbanyak adalah ukuran batu empedu dengan diameter ≤2cm yaitu 41,6% dan terendah adalah diameter >2cm yaitu 9,9% sedangkan yang tidak tercatat di status adalah 48,5%. Hal ini kemungkinan disebabkan karena dengan ukuran batu empedu ≤2cm, penderita sudah merasakan keluhan di bagian perut sehingga mendorong penderita untuk mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.
Batu empedu tidak menyebabkan keluhan penderita selama batu tidak masuk ke dalam duktus sistikus atau duktus koledokus. Bilamana batu itu masuk ke dalam ujung duktus sistikus barulah dapat menyebabkan keluhan penderita. Apabila batu itu kecil, ada kemungkinan batu dengan mudah dapat melewati duktus koledokus dan masuk ke duodenum.4
6.1.4. Lama Rawatan Rata-rata
Lama rawatan rata-rata penderita kolelitiasis adalah 5,67 hari (6 hari) Standard Deviation 4,077 hari. Lama rawatan penderita kolelitiasis bervariasi dimana lama rawatan minimum 1 hari dan maksimum 19 hari. Lama rawatan penderita kolelitiasis sebanyak 1 hari ada 9 orang dan lama rawatan penderita kolelitiasis sebanyak 19 hari ada 2 orang.
Lama dirawat menunjukkan berapa hari lamanya seorang pasien dirawat inap pada satu episode perawatan. Satuan untuk lama dirawat (LD) adalah “hari”. Cara menghitung LD yaitu dengan menghitung selisih antara tanggal pulang (keluar dari RS, hidup maupun mati) dengan tanggal masuk RS. Dalam hal ini, untuk pasien yang masuk dan keluar pada hari yang sama, LD nya dihitung 1 hari.51
ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat) menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration”. ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).52 6.1.5. Penatalaksanaan Medis
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan penatalaksanaan medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.9. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Penatalaksanaan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Dari gambar 6.9 di atas dapat dilihat bahwa proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan penatalaksanaan medis yang terbanyak adalah penatalaksanaan medis non bedah yaitu 65,3% dan terendah adalah penatalaksanaan medis bedah yaitu 34,7%. Penatalaksanaan medis untuk penderita kolelitiasis ada 2, yaitu bedah dan non bedah. Penatalaksanaan medis bedah dilakukan bila simtomatik, adanya keluhan bilier yang mengganggu atau semakin sering atau berat, adanya komplikasi, dan ukuran batu empedu >2cm.3,7
Penatalaksanaan medis bedah dibagi menjadi dua, yaitu kolesistektomi laparaskopik dan kolesistektomi terbuka. Pada pembedahan kolesistektomi laparaskopik, kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Keuntungan jenis pembedahan ini adalah dapat mengurangi rasa sakit setelah pembedahan serta memperpendek masa perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan operasi terbuka.53 Kolesistektomi laparoskopik telah menjadi prosedur baku untuk pengangkatan batu kandung empedu simtomatik. Kelebihan yang diperoleh pasien dengan teknik ini meliputi luka operasi kecil (2-10 mm) sehingga nyeri pasca bedah minimal.48 Dari 35 penderita kolelitiasis yang mendapatkan penatalaksanaan medis bedah dioperasi dengan Kolesistektomi laparoskopik.
Pada gambar di atas, penatalaksanaan medis non bedah lebih banyak kemungkinan disebabkan karena lebih banyak penderita kolelitiasis yang mempunyai ukuran batu empedu <2cm.
6.1.6. Penatalaksanaan Medis Non Bedah
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan penatalaksanaan medis non bedah di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.10. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Penatalaksanaan Medis Non Bedah di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Dari gambar 6.10 di atas dapat dilihat bahwa proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan penatalaksanaan medis non bedah yang terbanyak adalah disolusi medis yaitu 74,2% sedangkan ERCP adalah 25,8%. Tindakan ERCP dilakukan hanya pada penderita kolelitiasis yang mempunyai batu di saluran empedu. Jika batu hanya terdapat di kandung empedu, tindakan ERCP tidak dapat dilakukan.48 Disolusi medis dilakukan jika memenuhi kriteria terapi non operatif diantaranya batu kolesterol diameternya <20mm dan batu kurang dari 4 batu, fungsi kandung empedu baik, dan duktus sistik paten.8
Pada gambar di atas penatalaksanaan non medis dengan disolusi medis lebih banyak dan ERCP lebih sedikit. Hal ini kemungkinan disebabkan karena penderita kolelitiasis lebih sedikit yang memiliki batu yang hanya terdapat di dalam saluran empedu saja.
6.1.7. Keadaan Sewaktu Pulang
Distribusi proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan keadaan sewaktu pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.11. Diagram Pie Proporsi Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Dari gambar 6.11 di atas dapat dilihat bahwa proporsi penderita kolelitiasis berdasarkan keadaan sewaktu pulang yang terbanyak adalah pulang berobat jalan (PBJ) yaitu 54,4% dan terendah adalah pulang atas permintaan sendiri yaitu 14,9%. Hal ini disebabkan karena kondisi pasien sudah mulai membaik namun perlu dilakukan berobat jalan untuk memastikan kesembuhan pasien.Penderita yang pulang
atas permintaan sendiri disebabkan karena keluarga ingin merawat pasien di rumah saja dan biaya rumah sakit yang mahal.
6.2. Analisa Statistik
6.2.1. Umur Berdasarkan Ukuran Batu Empedu
Proporsi umur berdasarkan ukuran batu empedu penderita kolelitiasis yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.12. Diagram Batang Umur Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Ukuran Batu Empedu di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.12 di atas diketahui bahwa dari seluruh penderita kolelitiasis dengan ukuran batu empedu ≤2 cm, proporsi tertinggi adalah kelompok umur >40 tahun 54,8% dan 45,2% pada kelompok umur ≤40 tahun. Demikian juga dari seluruh penderita kolelitiasis dengan ukuran batu empedu >2cm, proporsi tertinggi adalah kelompok umur >40 tahun 80% dan 20% pada kelompok umur ≤40
tahun. Ukuran batu empedu ≤2 cm dan >2 cm lebih banyak pada umur >40 tahun kemungkinan disebabkan karena umur >40 tahun merupakan faktor risiko terkena kolelitiasis dan semakin meningkat usia, batu empedu semakin membesar. Analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 1 sel (25%) yang mempunyai expected count <5.
6.2.2. Ukuran Batu Empedu Berdasarkan Penatalaksanaan Medis
Proporsi ukuran batu empedu berdasarkan penatalaksanaan medis penderita kolelitiasis yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010- 2011 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.13. Diagram Batang Ukuran Batu Empedu Berdasarkan Penatalaksanaan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010-2011
Berdasarkan gambar 6.13 di atas diketahui bahwa dari seluruh penderita kolelitiasis dengan penatalaksanaan medis bedah, proporsi tertinggi adalah ukuran
batu empedu ≤2 cm 56,5% dan 43,5% pada ukuran batu empedu >2cm. Demikian juga dari seluruh penderita kolelitiasis dengan penatalaksanaan medis non bedah, proporsi tertinggi adalah ukuran batu empedu ≤2 cm dengan proporsi 100%.
Penatalaksanaan medis non bedah dilakukan jika ukuran batu empedu ≤2 cm dan penatalaksanaan medis bedah dilakukan bila simtomatik, adanya keluhan bilier yang mengganggu atau semakin sering atau berat, adanya komplikasi, dan ukuran batu empedu >2cm.3,7 Pada gambar di atas penatalaksanaan medis bedah lebih banyak dilakukan pada penderita kolelitiasis dengan ukuran batu empedu ≤2 cm karena disamping mempunyai ukuran batu empedu ≤2 cm, penderita selalu merasakan serangan nyeri berulang (simtomatik) dan pada saat operasi didapati jumlah batu empedu yang banyak pada kandung empedu penderita.
Analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 1 sel (25%) yang mempunyai expected count <5.