• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 PEMBAHASAN

6.1.3. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan status gizi dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.5. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Status Gizi di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.5. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis berdasarkan status gizi tertinggi yaitu kondisi gizi baik 38,2% dan terendah yaitu kondisi gizi buruk 30,4%.

Faktor penjamu (host) yang mempengaruhi terjadinya penyakit meningitis adalah daya tahan tubuh yang kurang, status gizi yang kurang baik (malnutrisi), atau didapat dari respons penjamu terhadap infeksi yang merupakan predisposisi penyakit meningitis bakteri.16

6.1.4. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Riwayat Penyakit Sebelumnya

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.6. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Riwayat Penyakit Sebelumnya di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.6. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya tertinggi yaitu Tb Paru 56,9%, Pneumonia 19,6%, Otitis Media 10,8%, Sinusitis 6,9%, dan lain-lain 5,9%. Meningitis pada umumnya, sebagai akibat dari penyebaran penyakit lain. Bakteri menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit faringitis, tonsilitis, pneumonia, dan lain-lain.

Penyebaran bakteri dapat pula secara perkontinum dari peradangan organ atau jaringan yang ada didekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, sinusitis, dan lain-lain. Penyebaran bakteri bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi bedah otak.14

Pada meningitis serosa dengan penyebab virus terutama menyerang anak-anak dan dewasa muda (12-18 tahun). Meningitis ini dapat terjadi pada saat menderita campak, gondongan (mumps) atau penyakit infeksi virus lainnya. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa.25

Meningitis tuberkulosa (TB) adalah radang selaput otak yang merupakan salah satu komplikasi TB primer. Fokus primer biasanya di tempat lain dan yang terbanyak adalah di paru.Komplikasi meningitis TB terjadi pada setiap 300 kasus TB primer yang tidak mendapat pengobatan.Morbiditas dan mortalitas penyakit ini tinggi dan prognosisnya buruk. Kejadian meningitis TB bervariasi tergantung pada tingkat sosio-ekonomi, kesehatan masyarakat, umur, status gizi dan faktor genetik yang menentukan respon imun seseorang.36

6.1.5. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Keadaan Sewaktu Datang

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan keadaan sewaktu datang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.7. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Keadaan Sewaktu Datang di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.7. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis yang datang berobat lebih banyak datang dalam keadaan tidak sadar 92,2% dan yang tidak sadar 7,8%. Penderita yang tidak sadar menunjukkan penderita mencari pengobatan dalam keadaan yang sudah parah.

Biasanya radang selaput otak akan disertai panas mendadak mual, muntah, anoreksia, fotofobia, dan kaku kuduk. Bila infeksi memberat, timbul peradangan korteks dan edema otak dengan gejala-gejala penurunan tingkat kesadaran, koma,

kejang-kejang, kelumpuhan saraf otak yang bersifat sementara atau menetap, dan pada bayi fontanella mencembung. 3

6.1.6. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Asal Rujukan

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan asal rujukan dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.8. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Asal Rujukan di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.8. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis anak berdasarkan asal rujukan yang lebih tinggi yaitu rujukan 75,5% sedangkan yang bukan rujukan 22,5%. Proporsi jenis rujukan penderita meningitis anak yang tertinggi yaitu dari rumah sakit 75,5% dan terendah yaitu klinik 2%. Hal ini menunjukkan RSUP H. Adam Malik merupakan pusat rujukan sehingga banyak pasien dari dalam maupun luar Kota Medan yang di rujuk ke rumah sakit ini.

6.1.7. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Klasifikasi Meningitis

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan klasifikasi Meningitis dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.9. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Klasifikasi Meningitis di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.9. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis anak berdasarkan klasifikasi meningitis tertinggi adalah meningitis serosa 56,9% dan terendah yaitu meningitis purulenta 43,1%.

Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, meningitis dibagi menjadi dua golongan yaitu meningitis purulenta dan meningitis serosa. Meningitis purulenta adalah radang bernanah arakhnoid dan pia mater yang meliputi otak dan medulla spinalis. Meningitis serosa adalah radang selaput otak arakhnoid dan pia mater yang disertai cairan otak yang jernih. Pada meningitis serosa dengan penyebab virus terutama menyerang anak-anak dan dewasa muda

(12-18 tahun). Meningitis ini dapat terjadi pada saat menderita campak, gondongan (mumps) atau penyakit infeksi virus lainnya. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa.25 Menurut Harsono (2003) Meningitis serosa akibat TB Paru banyak ditemukan di negara berkembang dimana prevalensi TB Paru juga masih tinggi.34

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sitorus, D., (2005) di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan dengan desain case series yang menemukan bahwa proporsi penderita meningitis berdasarkan jenis meningitis yang tertinggi yaitu meningitis serosa sebesar 75,4%.35

6.1.8. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Gejala Subjektif

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan gejala subjektif dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.10. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Gejala Subjektif di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.10. dapat dilihat bahwa proporsi gejala subjektif pada penderita meningitis anak tertinggi yaitu demam 100%, kejang 92,2%, muntah 56,9%. , dan sakit kepala pada usia ≥5 tahun 27,5%. Meningitis biasanya

ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas mendadak, nyeri kepala, kejang, muntah, mual,berat badan menurun, nyeri otot, nyeri punggung, dan kurang nafsu makan.14 Gejala demam tinggi merupakan salah satu gejala akut meningitis.36

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian retrospektif yang dilakukan oleh H.Erleena Nur dkk (2001-2005) di UMMC Kuala Lumpur Malaysia yang menemukan bahwa proporsi penderita meningitis berdasarkan gejala subjektif terbesar yaitu demam 82,1%.24

6.1.9. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Gejala Objektif

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan gejala objektif dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.11. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Gejala Objektif <5 Tahun di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.11. dapat dilihat sensitivitas bahwa proporsi gejala objektif pada penderita meningitis anak <5 tahun tertinggi yaitu letargi 95%, yang berarti dari setiap 100 penderita meningitis anak <5 tahun terdapat 95 anak yang mengalami letargi. Sensitivitas Kernig(+) 80%, menunjukkan dari setiap 100 penderita meningitis anak <5 tahun terdapat 80 anak yang mengalami Kernig(+). Sensitivitas Brudzinski(+) 78,3%, yang menunjukkan dari setiap 100 penderita meningitis anak <5 tahun terdapat 78 anak yang mengalami tanda Brudzinski(+). Sensitivitas kaku kuduk(+) 71,7%, menunjukkan dari setiap 100 penderita meningitis anak <5 tahun terdapat 71 anak yang mengalami kaku kuduk(+).

Sensitivitas fontanella mencembung 33,3%, menunjukkan dari setiap 100 penderita meningitis anak <5 tahun terdapat 33 anak yang mengalami fontanella mencembung.

Gambar 6.12. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Gejala Objektif ≥5 Tahun di RSUP H.Adam

Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.12. dapat dilihat sensitivitas bahwa proporsi gejala objektif pada penderita meningitis anak ≥5 tahun tertinggi yaitu letargi 92,9%,

yang berarti dari setiap 100 penderita meningitis anak ≥5 tahun terdapat 93 anak

yang mengalami letargi. Sensitivitas Brudzinski(+) 88,1% menunjukkan dari setiap 100 penderita meningitis anak ≥5 tahun terdapat 88 anak yang mengalami

tanda Brudzinski(+). Sensitivitas kaku kuduk(+) 85,7% menunjukkan dari dari setiap 100 penderita meningitis anak ≥5 terdapat 85 penderita mengalami kaku

kuduk(+). Sensitivitas Kernig(+) 81%, menunjukkan dari setiap 100 penderita meningitis anak ≥5 tahun terdapat 81 anak yang mengalami tanda Kernig(+).

Tanda-tanda rangsangan meningeal pada penderita meningitis yaitu kaku kuduk dan timbul epistotonus, ubun-ubun menonjol, Kernig(+), Brudzinski(+), dan pada keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi penurunan kesadaran (letargi) sampai koma.21

6.1.10. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Sumber Biaya

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan sumber biaya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.13. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Sumber Biaya di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.13 dapat dilihat bahwa proporsi penderita sumber biaya tertinggi penderita meningitis anak adalah pengguna Jamkesmas yaitu 59,8%, dengan biaya sendiri 30,4%, dan Askes 9,8%.

Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan adalah rumah sakit pemerintah kota medan yang melayani pasien dengan asuransi jaminan kesehatan

(Askes dan Jamkesmas) dan juga pasien umum. Tingginya pasien yang berobat dengan Jamkesmas dapat dikaitkan dengan mayoritas penderita yang datang berobat berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang rendah. Menurut Harsono (2003) penyakit infeksi termasuk meningitis banyak ditemukan dikalangan sosial ekonomi rendah, lingkungan kumuh dan padat, serta tidak mendapat imunisasi.34

6.1.11. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Lama Rawatan Rata-rata

Lama rawatan rata-rata penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan adalah 13,58 hari, SD=15,33 hari, minimum lama rawatan adalah 1 hari dan maksimum adalah 75 hari. Karakteristik penderita yang lama rawatannya 1 hari ada 10 orang (9,8%). Karakteristik penderita yang lama rawatannya 1 hari adalah umur 1 tahun dua orang, 3 tahun dua orang, 4 tahun, 6,5 tahun, 7 tahun dua orang, 11 tahun, dan 13 tahun dengan jenis kelamin laki-laki 8 orang dan perempuan 2 orang, jenis meningitis purulenta 50% dan meningitis serosa 50%, pulang atas permintaan sendiri 1 orang dan pulang meninggal 8 orang. Sedangkan penderita yang memiliki lama rawatan rata-rata 75 hari yaitu 1 orang, umur 11 tahun, laki-laki, jenis meningitis serosa dan pulang berobat jalan.

Penderita yang pulang meninggal dengan lama rawatan 1 hari berhubungan dengan kondisi pasien yang sudah dalam keadaan parah ketika dibawa untuk pengobatan. Faktor yang mempengaruhi prognosa adalah usia pasien, bakterimia, kecepatan terapi, komplikasi dan keadaan umum dari pasien sendiri. Angka mortalitas yang tinggi didapatkan pada infant, pasien dewasa dengan keadaan umum yang buruk, dan pasien dengan perdarahan adneral yang extensive.17

6.1.12. Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang

Proporsi penderita meningitis anak yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 berdasarkan keadaan sewaktu pulang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.14. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.14. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis anak lebih banyak yang pulang meninggal dengan proporsi 42,2% dan yang paling rendah yaitu pulang atas permintaan sendiri 23,5%. Penderita yang pulang meninggal menunjukkan penderita atau keluarga mencari pengobatan setelah dalam keadaan parah, karena gejala meningitis tidak spesifik tetapi mirip dengan gejala flu biasa sehingga terlambat didiagnosa dan mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. Penderita yang pulang berobat jalan akan melanjutkan pengobatan setelah keluar dari rumah sakit untuk pemulihan kondisi penderita. Penderita yang pulang atas permintaan sendiri, menghentikan pengobatan di rumah sakit. CFR sebesar 42%.

Menurut Juwono (1993) penderita meningitis yang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan yang buruk menyebabkan resiko kematian cukup tinggi yaitu mencapai 50%.30 Penelitian yang dilakukan Sitorus,D.,(2005) di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan dengan desain case series menemukan bahwa proporsi penderita meningitis berdasarkan keadaan sewaktu pulang yang tertinggi yaitu pulang meninggal dunia sebesar 28,5%.35

6.2. Analisa Statistik

6.2.1. Umur Berdasarkan Klasifikasi Meningitis

Proporsi umur penderita meningitis anak berdasarkan klasifikasi meningitis yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.15. Diagram Bar Distribusi Proporsi Umur Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Klasifikasi Meningitis di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.14. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis purulenta lebih tinggi pada kelompok umur <5 tahun 56,8% dan terendah pada kelompok umur <5 tahun 43,2%. Proporsi penderita meningitis serosa yang tertinggi yaitu pada kelompok umur <5 tahun 60,3% dan terendah pada kelompok umur ≥5 tahun 39,7%.

Dari hasil analisa statistik uji chi square diperoleh nilai p=0,720. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara proporsi umur berdasarkan klasifikasi meningitis.

6.2.2. Jenis Kelamin Berdasarkan Klasifikasi Meningitis

Proporsi jenis kelamin penderita meningitis anak berdasarkan klasifikasi meningitis yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.16. Diagram Bar Distribusi Proporsi Jenis Kelamin Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Klasifikasi Meningitis di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.14. dapat dilihat bahwa proporsi penderita meningitis purulenta lebih tinggi pada laki-laki 68,2% dan terendah pada kelompok perempuan 31,8%. Proporsi penderita meningitis serosa yang tertinggi yaitu pada laki-laki 58,6% dan terendah pada perempuan 41,4%.

Dari hasil analisa statistik uji chi square diperoleh nilai p=0,323. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara proporsi umur berdasarkan klasifikasi meningitis.

6.2.3. Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Klasifikasi Meningitis

Lama rawatan rata-rata penderita meningitis anak berdasarkan klasifikasi meningitis yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.17. Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Klasifikasi Meningitis Anak di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.14.dapat dilihat bahwa penderita meningitis serosa memiliki lama rawatan rata-rata 16,48 hari. Penderita meningitis purulenta memiliki lama rawatan rata-rata 9,75 hari. Lebih lamanya masa rawatan penderita meningitis serosa, berkaitan dengan infeksi bakteri tuberkulosa penyebab dari meningitis serosa.

Lama rawatan yang lebih lama tersebut dikarenakan lamanya masa pengobatan pada penderita untuk meringankan kondisi penderita yang mengalami gizi kurang/buruk maupun penyakit seperti infeksi tuberkulosis yang menjadi predisposisi terhadap penyakit meningitis yang diderita anak tersebut.

Faktor penjamu (host) yang mempengaruhi terjadinya penyakit meningitis adalah daya tahan tubuh yang kurang, status gizi yang kurang baik (malnutrisi),

atau didapat dari respons penjamu terhadap infeksi yang merupakan predisposisi penyakit meningitis bakteri.16

Menurut Ainur Rofiq (2000) Infeksi Tuberkulosis (Tb) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar. Angka kesakitan dan kematian akibat Tb setiap tahun selalu meningkat. Biasanya penyebab kematian akibat penyakit ini adalah infeksi Tb berat yang salah satunya adalah Meningitis Tb. Meningitis Tb merupakan penyakit yang berbahaya, terutama pada bayi dan anak dengan Resiko kematian pada penderita sangat tinggi.27 Upaya penyembuhan meningitis, dilakukan dengan pemberian terapi yang tepat untuk mengurangi atau menghilangkan infeksi dari penyebaran bakteri dari penyakit utama penyebab meningitis.

Menurut Markam (1992), perawatan meningitis purulenta adalah seperti perawatan koma yang rata-rata pengobatannya 10 hari atau minimal 7 hari dan meningitis serosa karena kebanyakan penyebabnya adalah kuman Tuberkulosa, maka pengobatannya dilakukan dengan tuberkulostatika selama berbulan-bulan.2

Dari hasil analisa statistik uji t-test diperoleh nilai p=0,027. Lama rawatan rata-rata meningitis serosa secara bermakna lebih lama dari meningitis purulenta.

6.2.4. Keadaaan Sewaktu Pulang Berdasarkan Klasifikasi Meningitis

Proporsi Umur penderita meningitis anak berdasarkan klasifikasi meningitis yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.18. Diagram Bar Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Klasifikasi Meningitis di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.14. dapat dilihat bahwa pada penderita meningitis purulenta, proporsi yang tertinggi yaitu pulang meninggal dunia 61,4%. Pada penderita meningitis serosa, proporsi yang lebih tinggi yaitu pulang berobat jalan 48,3%. CFR meningitis purulenta 61,4% dan meningitis serosa 27,6%. Pulang meninggal menunjukkan penderita meningitis purulenta banyak yang datang dalam keadaan buruk sehingga terlambat untuk ditangani. Pulang berobat jalan, penderita akan melanjutkan pengobatannya setelah pulang dari rumah sakit sedangkan pulang atas permintaan sendiri, penderita menghentikan pengobatan di rumah sakit dan meminta untuk diijinkan pulang.

Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, dan protozoa. Penyebab paling sering adalah virus dan bakteri. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat. Meningitis yang disebabkan oleh virus mempunyai prognosis yang lebih baik, cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri.4

Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis meningitis, dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus, anak-anak, dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin jelek, yaitu dapat menyebabkan cacat berat dan kematian.21

Dari hasil analisa statistik uji chi square diperoleh nilai p=0,001. Meningitis purulenta secara bermakna lebih banyak pulang meningggal dunia dari PAPS, dan PBJ, meningitis serosa secara bermakna lebih banyak pulang berobat jalan (PBJ) dari meninggal dan PAPS.

6.2.5. Keadaan Sewaktu Datang Berdasarkan Asal Rujukan

Proporsi keadaan sewaktu datang penderita meningitis anak berdasarkan asal rujukan yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.19. Diagram Bar Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Datang Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Asal Rujukan di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan gambar 6.14. dapat dilihat bahwa pada penderita yang langsung (datang sendiri) dan yang rujukan lebih banyak datang dalam keadaan tidak sadar dengan proporsi masing-masing 100% dan 89,9%. Penderita yang tidak sadar lebih sulit untuk diberikan pengobatan yang cepat daripada penderita yang datang dalam keadaan yang sadar.

Dari hasil analisa statistik uji chi square diperoleh nilai p=0,112. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang bermakna antara proporsi keadaan sewaktu datang berdasarkan asal rujukan.

6.2.6. Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang

Proporsi keadaan sewaktu pulang penderita meningitis anak berdasarkan lama rawatan rata-rata yang di rawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2006-2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 6.20. Diagram Bar Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Meningitis Anak Berdasarkan Lama Rawatan Rata-rata di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2006-2010

Berdasarkan uji Kruskal Wallis diperoleh p=0,000, terdapat perbedaan bermakna lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang. Lama rawatan rata-rata penderita meningitis yang pulang berobat jalan secara bermakna lebih lama dari pulang atas permintaan sendiri dan pulang meninggal dunia.

Penderita yang pulang berobat jalan memerlukan perawatan yang lebih lama untuk pemulihan kondisinya sebelum diizinkan pulang dan akan melanjutkan pengobatan dengan berobat jalan. Pulang atas permintaan sendiri dapat menunjukkan penderita menghentikan pengobatan di rumah sakit. Penderita yang meninggal dapat menunjukkan bahwa kondisi penderita sudah parah dan tidak dapat ditangani lagi. Lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu

pulang dipengaruhi oleh kondisi pasien yang lebih banyak datang dalam keadaan tidak sadar atau dalam keadaan yang sudah parah.

Dokumen terkait