• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 METODE PENELITIAN

5.2 Pembahasan

5.2.3 Distribusi ukuran hasil tangkapan ikan layang

Panjang cagak ikan yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 13 – 44 cm. Adapun panjang cagak yang dominan tertangkap berkisar antara 23 – 38 cm dengan jumlah 325 ekor. Ikan layang yang berukuran besar dengan kisaran panjang cagak 23 – 43 cm saat tertangkap pada jaring rampus cenderung tertangkap secara terpuntal pada semua jaring rampus dengan menggunakan berbagai ukuran mata jaring. Ukuran mata jaring 1,75 inci merupakan ukuran mata jaring terkecil pada penelitian ini dibandingkan dengan ukuran mata jaring

lainnya. Holst (2000) mengatakan bahwa ukuran mata jaring merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan ukuran hasil tangkapan, semakin kecil ukuran mata jaring maka ikan yang tertangkap cenderung lebih banyak. Perbedaan ukuran mata jaring yang digunakan secara signifikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran hasil tangkapan ikan layang.

Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci ukuran ikan layang yang dominan tertangkap berada pada panjang cagak dengan kisaran 23 – 28 cm. Adapun jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2, 2,5, dan 3 inci ukuran ikan layang yang dominan tertangkap pada masing-masing berada pada kisaran 28 – 33 cm, 28 – 33 cm, dan 28 – 38 cm. Berdasarkan uji Friedman terhadap panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda menunjukkan nilai Asymp.Sig dengan nilai probabilitas 0,000 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap ukuran panjang cagak ikan layang. Heikinheimo, et al. (2006) menyatakan bahwa ukuran mata jaring yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran hasil tangkapan. Park, et al. (2010) juga memperoleh hasil bahwa gillnet dengan ukuran mata jaring 6,1, 7,9, 10,1, dan 13 cm memberikan perbedaan yang nyata terhadap ukuran ikan korean flounder (Glyptocephalus stelleri). Pada penelitian ini perbedaan ukuran mata jaring mempengaruhi ukuran hasil tangkapan ikan layang. Hal ini diduga karena pada ikan layang memiliki struktur morfologi berupa dorsal fin disekeliling badan ikan yang mengakibatkan ikan layang mudah terpuntal saat tertangkap pada jaring rampus, sehingga perbedaan ukuran mata jaring dapat berakibat pada perbedaan ukuran ikan yang tertangkap. Ozekinci (2007) memperoleh hasil bahwa ukuran mata jaring berpengaruh nyata terhadap ukuran ikan european chub (Leuciscus cephalus). Struktur morfologi ikan layang dengan Leuciscus cephalus hampir mirip dimana pada keliling badan ikan memiliki sirip dorsal yang digunakan untuk berenang. Walus (2001) juga berpendapat bahwa perbedaan ukuran mata jaring mengakibatkan perbedaan yang nyata terhadap ukuran ikan cakalang, yang memiliki kondisi morfologi hampir sama dengan ikan layang, dimana ikan akan mudah terjerat pada ukuran mata jaring yang rendah.

Ikan layang yang layak tangkap pada penelitian ini berjumlah 329 ekor atau 93,73 % dari total hasil tangkapan ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus selama penelitian. Ikan layak tangkap yang dimaksud adalah ikan yang layak tangkap secara biologi, dimana ikan sudah matang gonad dengan ukuran panjang cagak mulai dari 23 cm (Nontji, 2002). Secara keseluruhan ikan layang yang tertangkap pada penelitian ini hampir semua layak tangkap. Namun jumlah ikan yang tertangkap secara keseluruhan relatif sedikit. Hal ini diduga karena penelitian dilaksanakan pada saat akhir musim puncak ikan layang di Perairan Cisolok yaitu pada bulan April 2011. Nontji (2002) mengatakan bahwa musim ikan layang dibedakan menjadi dua yaitu musim Timur dan musim Barat. Adapun pada musim Timur berlangsung mulai dari bulan Juni sampai bulan September, dan musim Barat mulai dari bulan Januari sampai bulan April.

Girth operculum ikan layang yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 3 – 28 cm. adapun ukuran girth operculum yang dominan tertangkap pada kisaran antara 13 – 23 cm sebanyak 318 ekor atau 90,60 % dari total hasil tangkapan ikan layang selama penelitian. Berdasarkan uji Friedman terhadap girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda menunjukkan nilai Asymp.Sig dengan nilai probabilitas 0,003 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap ukuran girth operculum ikan layang. Reis dan Pawson (1998) menyebutkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring pada gillnet memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran girth empat spesies ikan yang berbeda yakni ikan whitemouth croaker (Micropogonias furnieri), southern kingcroaker (Menticirrhus americanus), Mugil platanus, dan argentine menhaden (Brevoortia pectinata).

Menurut Spare and Venema (1999) cara tertangkap ikan pada gillnet dapat dibedakan menjadi snaged, gilled, wedged dan entangled. Pada penelitian ini ikan layang yang tertangkap secara entangled lebih dominan dibandingkan yang tertangkap dengan cara lain yaitu sebanyak 269 ekor, sedangkan yang tertangkap dengan cara wedged sebanyak 55 ekor dan yang tertangkap secara gilled sebanyak 27 ekor dari total hasil tangkapan. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap ikan layang dengan cara terpuntal (entangled) lebih banyak

dibandingkan dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Hal ini diduga karena beberapa faktor, yakni Rosmiyanti (2002) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikan tertangkap secara terpuntal karena diduga ikan yang tertangkap memiliki tingkah laku yang apabila terhadang atau terjerat oleh jaring maka ikan akan semakin terus berusaha untuk menerobos jaring sehingga tubuhnya akan semakin terpuntal, dan faktor lainnya yaitu ketegangan rentangan jaring yang tidak terlalu tegang, sehingga pada saat terdorong oleh arus ataupun ikan yang berusaha untuk menerobos, maka jaring akan membentuk kantong. Ikan yang tertangkap dengan cara terjerat akan memiliki perbandingan yang tetap antara ukuran mata jaring gillnet dengan ukuran ikan. Apabila ukuran ikan bertambah sebesar konstanta k maka ukuran mata jaring yang diperlukan untuk dapat menangkap ikan tersebut juga bertambah sebesar konstanta k (Baranov, 1976) diacu dalam Samaranayaka, 1997). Sebaliknya ikan yang tertangkap dengan cara terpuntal seringkali tidak memiliki perbandingan yang tetap antara ukuran mata jaring dengan ukuran ikan yang tertangkap.

Gambar 47 Cara tertangkap ikan layang secara entangled

Berdasarkan uji Chi Square terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus dengan hanging ratio yang berbeda diperoleh nilai 32,40 dengan probabilitas 0,003. Hal ini berarti bahwa perbedaan ukuran mata jaring berpengaruh sangat signifikan terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus. Rosmiyanti (2002) memperoleh hasil bahwa perbedaan ukuran mata jaring mempengaruhi secara nyata terhadap cara tertangkapnya ikan.

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

1. Komposisi spesies hasil tangkapan pada semua ukuran mata jaring didominasi oleh ikan layang (Decapterus kurroides). Berdasarkan indeks Shannon Wiener, jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci memiliki nilai terbesar dengan nilai 1,4725, sedangkan nilai indeks terkecil diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 dengan nilai 0,7817. 2. Perbedaan ukuran mata jaring rampus berpengaruh secara signifikan terhadap

jumlah ikan layang yang tertangkap. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci secara signifikan menangkap ikan layang dengan jumlah paling banyak.

3. Penggunaan ukuran mata jaring rampus yang berbeda secara signifikan memberikan perbedaan ukuran ikan layang yang tertangkap.

4. Penggunaan mata jaring rampus yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus.

Dokumen terkait