Oadate berasal dan kata : ”Owa furu” dan ”Date” Owa furu berarti orang yang tidak tahu apa-apa / pengembara. Sedangkan ”date” berarti sekelompok orang di darat. Secara harfiah, Oadate berarti ikatan orang-orang darat. Sebutan orang-orang darat lebih berkonotasi pada pembedaan orang-orang waropen pesisir dengan orang-orang yang mendiami daerah dataran di daratan waropen. Namun perlu dicatat bahwa dalam pandangan masyarakat adat oadate, prinsipnya semua orang berasal dari darat yang kemudian sebagian dari mereka pergi ke pesisir.
Distrik Oadate terdiri dari 5 kampung dengan jumlah penduduk kurang lebih 1984 jiwa. Di distrik Oadate terdapat kurang lebih 18 suku, namun dalam penelitian ini hanya diwakili oleh 4 suku, yaitu : 1) Suku
11 Hasil wawancara dengan Gharak Rumabin Anthonius Rumboisano (Kepala Suku Besar Sawai)
Demisa; 2) Suku Choria/Oa; 3) Suku Sapuni/Kuriye; dan Suku Nubuai (suku Kai Barat)
Di kalangan masyarakat adat suku Demisa, otoritas Dewan Adat dipimpin oleh seorang kepala adat suku besar yang disebut ”Date Teadiya” Kepala suku besar dibantu oleh panglima tertinggi adat, mahkamah tinggi adat dan komandan perang lapangan. Di kalangan suku Demisa, berlaku suatu ketentuan bahwa seorang anak laki-laki, sebelum melangsungkan perkawinan, ia wajib untuk menuntut ilmu dalam sekolah adat. Sekolah adat dapat pada masa lalu, lamanya sampai 12 tahun dan kemudian berubah menjadi 6 tahun, kemudian berubah menjadi 3 tahun, berubah lagi menjadi 1 tahun. Sekarang sekolah adat hanya berlangsung selama 3 bulan, karena di kalangan suku demisa ada kekhawatiran aktivitas sekolah adat ini bisa dicurigai sebagai kegiatan yang melanggar aturan. Selesainya yang bersangkutan menjalankan kewajiban belajar di sekolah adat menjadi tolok ukur bahwa seseorang telah dewasa (”basire”). Bagi mereka yang belum mengenyam pendidikan sekolah adat disebut ”boose”.
Sekolah adat di kalangan suku demisa, mengajarkan berbagai keterampilan seperti : ilmu perang/strategi taktik serang, mengenali musuh12, adaptasi dengan alam/lingkungan sampai kemampuan untuk berubah wujud menjadi binatang seperti : tikus, buaya ataupun burung kaswari dan juga kemampuan untuk memanggil binatang-binatang tertentu13 Apabila dikaji dari penjelasan tersebut di atas, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa sekolah adat tersebut sebenarnya berkaitan erat
12 Strategi perang yang dipergunakan oleh suku Demisa adalah menyerang pada waktu malam hari. Untuk mengenal lawan dan kawan, ”bokoraho” (memasang jamur pada jidat yang menyala di malam hari) merupakan sarana yang ampuh untuk mengenal kawan.
13 Rangkuman wawancara dengan Simon Didam dan Saul Didat sebagai kepala suku Demisa.
dengan situasi dan kondisi pada saat itu, dimana seseorang anggota suku harus dapat mempertahankan hidup dan kehidupannya, baik bertahan dari serangan lawan maupun upaya bagaimana mereka dapat mempertahankan hidup dengan memiliki keterampilan berburu dengan cara memanggil binatang yang akan menjadi sasaran bidikannya.
Di kalangan suku-suku di distrik Oadate, tidak dikenal istilah-istilah untuk menyebutkan suatu perbuatan sebagai delik/pelanggaran adat. Hanya saja dalam sebutan yang telah umum diterima, istilah ”Kaowamero” dipakai sebagai sebutan bagi pelanggaran-pelanggaran norma adat, baik itu untuk pelanggaran berupa pencurian, penganiayaan maupun pembunuhan. Di kalangan suku Oa/Choria pelanggaran norma adat disebut ”Birimdate” atau ”Datefiyae” yang berarti orang tidak baik. Pada masa lalu, pelanggaran-pelanggaran adat selalu diancam dengan hukuman mati sebagai putusan dari kepala suku yang sifatnya mutlak. Kepala suku (”Oa”) dalam melaksanakan kewenangannya dibantu oleh ”Oedate” atau ”Oweidate” sebagai wakil dan juga ”Kumambe” (masyarakat perang) dan ”Oboadamo” (masyarakat umum). Suku ini juga mengenal sekolah adat, hanya saja berbeda dalam kurun waktu pelaksanaannya dibandingkan dengan suku Demisa. Sekolah adat di kalangan suku Oa/Choria hanya berlangsung 1 tahun, kemudian dirubah menjadi 6 bulan. Dan setelah masuknya agama dan pemerintahan, sekolah adat hanya berlangsung selama 7 hari (1 minggu). Namun yang sama adalah materi yang diajarkan di sekolah adat, sama dengan apa yang diajarkan dalam sekolah adat suku Demisa. Orang-orang yang termasuk dalam suku Oa/Choria, menyebut pelanggaran adat sebagai ”Dilimdamo” yang berarti salahi aturan adat.
Yang menarik, adalah ditemukan 2 cara perdamaian adat dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran adat, yang disebut ”Sarohe” atau pisang perdamaian adat. Dalam ritual ini, pisang sarohe dibakar beramai-ramai (antara mereka yang terlibat konflik). Setelah pisang matang, semua mengambil posisi berdiri dan kepala suku mulai berbicara, kemudian disusul dengan pengucapan sumpah bersama untuk tidak melakukan konflik. Kemudian, pisang dipatahkan dan sisanya dibagikan kepada masing-masing warga.
Di kalangan suku Oa/Choria, juga dikenal cara perdamaian yang disebut dengan istilah ”Atayumero” (penukaran perdamaian). Pola penyelesaian ini biasanya dilakukan terhadap kasus-kasus perkawinan ataupun perkelahian. Caranya adalah dengan cara penukaran sarana-sarana tertentu, yang pada masa lalu biasanya dalam bentuk ”wemo” (anjing), ”jubi” (anak panah).
6. DELIK ADAT DAN PERADILAN DI DAERAH OTONOMI KHUSUS
Pada masa kolonial ada dua bentuk peradilan untuk orang pribumi yaitu ”Peradilan Adat” dan ”Peradilan Desa”. Antara kedua badan peradilan ini, sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsipiil. Peradilan Desa umumnya terdapat hampir di seluruh Nusantara pada masyarakat hukum adat yang bersifat teritorial. Namum peradilan adat ditemukan pada masyarakat yang bersifat teritorial maupun geneologis. Akan tetapi yang jelas kedua peradilan dimaksud terkait dengan fungsi dari suatu masyarakat hukum adat (adatrechtgemeenschap) yang ditemukan diberbagai masyarakat adat di Nusantara. Namun tidak semua masyarakat adat mengenal adanya peradilan adat atau peradilan desa, karena mereka hanya mengenal adanya suatu mekanisme penyelesaian sengketa menurut hukum adat setempat.
Ketika pemerintah menetapkan Undang-undang Darurat No. 1 Drt Tahun 1951 tentang Tindakan-tindakan Sementara untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan, Kekuasaan dan Acara Pengadilan, Pengadilan Sipil (LN. 1951 No. 9) pada tanggal 13 Januari 1951 pemerintah secara tegas sudah menentukan sikap mengenai keberadaan peradilan adat dan kedudukan peradilan desa. Pada pokoknya Undang-undang Darurat No. 1 Drt Tahun 1951 berisi 4 hal yaitu :
1. Penghapusan beberapa pengadilan yang tidak lagi sesuai dengan suasana negara kesatuan.
2. Penghapusan secara berangsur-angsur pengadilan swapraja di beberapa daerah tertentu dan semua pengadilan adat.
3. Pelanjutan peradilan agama dan peradilan desa; serta
4. Pembentukan pengadilan negeri dan kejaksaan di tempat-tempat di mana dihapuskan Landgerecht atau Pengadilan Negara serta pembentukan Pengadilan Tinggi di Makassar dan pemindahan tempat kedudukan Pengadilan Tinggi Yogya dan Bukit Tinggi masing-masing ke Surabaya dan Medan.
Pasal 1 ayat (1) sub b Undang-undang No. 1 Drt Tahun 1951 menyatakan pada saat yang berangsur-angsur akan ditentukan oleh Menteri Kehakiman, dihapus segala Peradilan Adat (Inheemse Rechtspraak in rechtsreeks bestuurd gebied), kecuali Pengadilan Agama jika pengadilan itu menurut hukum yang hidup merupakan satu bagian tersendiri dari Peradilan Adat. Kemudian dalam ayat (3) disebutkan bahwa ketentuan yang tersebut dalam ayat (1) tidak sedikitpun mengurangi kekuasaan yang sampai saat ini diberikan kepada hakim-hakim perdamaian di desa-desa sebagaimana di maksud dalam Pasal 3a Rechterlijk Organisatie.
Penghapusan Peradilan Adat dimaksud untuk menciptakan adanya kesatuan sistem peradilan melalui suatu Pengadilan Negara. Penghapusan
peradilan swapraja dan peradilan adat tak memungkinkan dijalankan pada saat peraturan ini diundangkan, karena konsekuensinya bagi hakim pada Pengadilan Negeri diperluaskan beban tugasnya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penghapusan peradilan adat dilakukan secara berangsur-angsur menurut kebutuhan dengan memperhatikan kesiapan tenaga-tenaga hakim di pengadilan negeri.
Untuk itu, penghapusan peradilan adat dilakukan melalui beberapa ketentuan seperti:
1. Peraturan Menteri Kehakiman tanggal 21 Agustus 1952 No. J.B.4/3/17 (TLN 276) tentang Penghapusan Pengadilan-pengadilan Swapraja dan Pengadilan Adat di seluruh Sulawesi;
2. Keputusan Menteri Kehakiman tanggal 30 September 1953 No. J.B.4/4/7 (TLN. 462) tentang Penghapusan Pengadilan-pengadilan Adat di seluruh Lombok;
3. Peraturan Menteri Kehakiman tanggal 21 Juni 1954 No. J.B.4/3/2 TLN. 461) jo. Surat Penetapan Menteri Kehakiman tanggal 18 Agustus 1954 No. J.B.A./4/20 (TLN. 642) tentang penghapusan-penghapusan pengadilan-pengadilan swapraja dan Pengadilan Adat di seluruh Propinsi Kalimantan;
4. Peraturan Presiden No. 6 Tahun 1966 tentang Penghapusan Pengadilan Adat/Swapraja dan Pembentukan Pengadilan Negeri di Irian Jaya Barat. (Peraturan Presiden ini dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1969 ditetapkan menjadi Undang-undang). Sebagai pelaksanaan dikeluarkan Keputusan Bersama Gubemur Kepala Daerah Propinsi Irian Barat dan Ketua Pengadilan Tinggi Jayapura No. 11/GIB/1970/BO-11/TV/1970 tentang Penghapusan Pengadilan Adat/Swapraja di daerah Propinsi Irian Barat
Pada zaman orde lama telah dikeluarkan Undang-undang No. 19 Tahun 1964 (LN. 1964 No. 107) tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Dalam Undang-undang ini tidak ada pernyataan yang tegas tentang penghapusan peradilan adat. Di dalamnya hanya ada Pasal 1 ayat (1) yang menyatakan “semua peradilan di selurh wilayah Republik Indonesia adalah peradilan negara yang ditetapkan dengan Undang-undang”. Penjelasan Pasal tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Ada dua Pasal yang secara khusus menyangkut peradilan adat yaitu :
1. Pasal 3 ayat (1) menyatakan “semua peradilan di seluruh wilayah Republik Indonesia adalah Peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. Penjelasan Pasal ini (TLN. 2951) menyatakan pasal ini mengandung arti bahwa di samping peradilan negara, tidak diperkenankan lagi adanya peradilan-peradilan yang dilakukan oleh bukan peradilan negara.
2. Pasal 39 menyebutkan Penghapusan Pengadilan Adat dan Swapraja dilakukan oleh Pemerintah. Sebagian penjelasan pasal mi menyatakan bahwa berdasarkan Undang-Undang No. 1 Drt Tahun 1951 tentang tindakan-tindakan sementara untuk menyelenggarakan kesatuan, susunan kekuasaan dan acara pengadilan sipil Pasal 1 ayat (2) oleh Menteri Kehakiman secara berangsur-angsur telah dilakukan penghapusan pengadilan adat/ swapraja. di seluruh Bali, Propinsi Sulawesi, Lombok, Sumbawa, Timor, Kalimantan, Jambi dan Maluku. Di daerah-daerah (Provinsi) dengan otonomi khusus, persoalan delik adat dan lembaga penyelesaian delik adat, tidaklah menjadi persoalan, sebagai akibat di daerah dengan otonomi khusus, diakui adanya lembaga peradilan di luar peradilan formal, seperti Aceh dan Papua.
A. Peradilan Syari’at di Aceh :
Pemerintahan Aceh adalah pemerintahan subnasional yang setingkat dengan pemerintahan provinsi lainnya di Indonesia. Pemerintahan Aceh adalah kelanjutan dari Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Pemerintahan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pengakuan Negara atas
keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62, TLN 4633). UU Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial, ekonomi, serta politik di Aceh secara berkelanjutan14.
Syari‟at Islam yang dilaksanakan di Aceh meliputi bidang aqidah, syar‟iyah, dan akhlak. Syari‟at Islam tersebut meliputi ibadah, ahwal alsyakhshiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah (hukum pidana), qadha‟ (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syiar, dan pembelaan Islam. Ketentuan pelaksanaan syari‟at Islam diatur dengan Qanun Aceh.
Peradilan syari‟at Islam di Aceh adalah bagian dari sistem peradilan nasional dalam lingkungan peradilan agama yang dilakukan oleh Mahkamah Syar‟iyah yang bebas dari pengaruh pihak mana pun. Mahkamah Syar‟iyah merupakan pengadilan bagi setiap orang yang beragama Islam dan berada di Aceh.Mahkamah Syar‟iyah terdiri atas Mahkamah Syar‟iyah Kabupaten/Kota sebagai pengadilan tingkat pertama dan Mahkamah Syar‟iyah Aceh sebagai pengadilan tingkat banding. Hakim Mahkamah Syar‟iyah diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung15.
14
https://saripedia.wordpress.com/tag/syariat-islam-di-aceh/ 15Ibid
Mahkamah Syar‟iyah berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara yang meliputi bidang Ahwal Al-Syakhsiyah (hukum keluarga), Muamalah (hukum perdata), dan Jinayah (hukum pidana) yang didasarkan atas syari‟at Islam. Ketentuan mengenai bidang Ahwal Al-Syakhsiyah (hukum keluarga), Muamalah (hukum perdata), dan Jinayah (hukum pidana) diatur dengan Qanun Aceh.
Putusan Mahkamah Syar‟iyah Aceh dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung. Hukum acara yang berlaku pada Mahkamah Syar‟iyah adalah hukum acara yang diatur dalam Qanun Aceh. Sengketa wewenang antara Mahkamah Syar‟iyah dan pengadilan dalam lingkungan peradilan lain menjadi wewenang Mahkamah Agung untuk tingkat pertama dan tingkat terakhir. Dalam hal terjadi perbuatan jinayah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama yang di antaranya beragama bukan Islam, pelaku yang beragama bukan Islam dapat memilih dan menundukkan diri secara sukarela pada hukum jinayah.
Setiap orang yang beragama bukan Islam melakukan perbuatan jinayah yang tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau ketentuan pidana di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana berlaku hukum jinayah.